
Malam ini, angin terus berhembus membuat rasa sejuk. Bulan nampak bersinar terang sehingga Zantisya tidak perlu menghidupkan lampu di balkon kamarnya. Zantisya berada di pinggir pagar menatap bulan.
"Kenapa hem?" tanya Arjuno yang baru saja menghampiri Zantisya. Lelaki itu pun langsung mendekap Zantisya dari belakang.
"Mas, kapan ya aku hamilnya?" tanya Zantisya lirih. "Sudah hampir satu tahun tapi aku belum hamil juga"
"Kalau kita memang belum diberikan, itu artinya belum rezeki sayang" ucap Arjuno sambil membelai perut istrinya. "Artinya kita harus usaha lagi" tambah Arjuno lalu mencium pipi Zantisya.
Zantisya mengusap tangan Arjuno yang membelit tubuhnya. "Mau dansa?" tawar Arjuno berbisik.
"Mana bisa aku mas"
"Aku juga kan nggak bisa sayang. Kita ikuti aja alunan musiknya" ucap Arjuno yang langsung mengambil ponsel didalam saku celananya dan melangsung memutar lagu di aplikasi you tube yang berjudul 'All Of Me'.
Akhirnya sepasang suami istri itu bergerak sesuka hati mengikuti alunan lagu yang berputar menemani malam indah ini. Semilir angin yang begitu menyejukkan hati keduanya menambah kesan romantic untuk malam ini.
Saat lagu berhenti berputar Arjuno mengangkat tubuh Zantisya agar duduk dipagar. Arjuno membelitkan tangannya melingkari tubuh Zantisya.
"I love you sayang"
"Love you too mas" tangan Zantisya mengusap wajah Arjuno lalu ia mendaratkan ciuman. Mencecap lembut bibir suaminya. Arjuno yang memang hobby dengan hal-hal seperti ini, ia juga tak mau kalah mengikuti alur kemauan istrinya.
Tangan Zantisya berada di pundak Arjuno dan yang satunya menyusup ke dalam kaos oblong yang di gunakan lelaki itu.
Pada akhirnya bukan hanya Arjuno yang suka menggoda, tapi Zantisya pun lebih mudah meluluhkan pertahanan Arjuno hanya dengan sedikit sentuhan yang di berikan Zantisya.
Zantisya langsung melepas kaos yang digunakan Arjuno dan langsung di lempar ke sembarang arah. Zantisya membelai dada Arjuno pelan-pelan merayap kemana-mana.
"Kenapa senyum?" tanya Arjuno melihat Zantisya yang fokus dengan pergerakan tangannya sendiri.
"Kenapa bisa mas selalu membuat aku nggak bisa berjauhan sama mas"
"Itu ada resiko yang harus kamu tanggung" Arjuno mengusap bibir Zantisya yang membuat candu.
"Hah"
"Karena tanpa izin telah membuat ku jatuh cinta"
"Gombal" cibir Zantisya lalu mendaratkan bibirnya lagi. Tangannya terus membelai tubuh Arjuno yang sudah telanjang dada.
Cukup lama mereka saling mencecap, menyalurkan rasa cinta yang begitu dalam. Zantisya mengakhiri cecapan yang membuat keduanya saling candu.
Perempuan dengan jilbab instannya itu beralih mencium daun telinga Arjuno, perlahan turun hingga mengabsen seluruh leher Arjuno membuat sang empu memejamkan mata dan menikmati sentuhan yang diberikan Zantisya.
"Dek…" rintih Arjuno lirih karena terbuai dengan tindakan istrinya yang resmi tidak polos lagi.
"Ayo mas" Bisik Zantisya sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Arjuno. Nafas hangatnya kini menyapu leher lelaki yang tengah menahan rasa inginnya.
"Kemana sayang?"
"Kita lanjut di kamar" jawab Zantisya dan mendaratkan ciuman dileher Arjuno lagi.
"Tapi malam ini bukan jadwal kita" tumben sekali Arjuno mengingatkan jadwal begituan. Biasanya meski Zantisya sudah mengingatkan Arjuno terus merengek dan akhirnya harus menelan pil pahit.
"Aku ingin loh. Mas nggak mau?" tanya Zantisya yang langsung menatap Arjuno.
"Tentu saja aku mau sayang" ucap Arjuno yang langsung mencecap bibir Zantiysa yang nampak semakin seksi karena aktifitas mereka sejak tadi.
Dan saat itu juga Arjuno langsung menggendong Zantisya dan membawanya masuk kedalam kamar tanpa melepas pagutan yang menghubungkan keduanya.
Arjuno menurunkan Zantisya dan segera melepas apapun yang menjadi penutup tubuh istrinya. Setelah keduanya sudah tanpa sehelai benang. Keduanya langsung saling mencecap lagi sambil merebahkan diri diatas kasur empuk.
"Eh..." Suara Zantisya tertahan karena mulutnya masih bekerja sedangkan di bagian tubuh lainnya mendapatkan perlakuan usil yang memanjakan.
__ADS_1
"Aku rasa mereka sedikit membesar dek" ucap Arjuno sambil menggenggam si kembar yang nampak menantang.
"Masa sih mas"
Padahal Zantisya ingin segara ke permainan yang menyenangkan. Tapi kenapa suaminya ini malah sempat mengajaknya berbincang.
Arjuno melahap salah satunya. Menyesap dengan lebih kuat. Membuat sang pemilik menggeliat merasakan sakit tapi kenapa keenakan.
"Ah... mas. Kuat banget sih" ucap Zantisya saat merasakan Arjuno memberikan gigitan disana.
"Ini juga warnanya lebih gelap. Padahal biasanya warna pink" jelas Arjuno sambil menarik ke dua pucuknya.
Capek Zantisya menuruti obrolan suaminya. Dengan gerakan cepat Zantisya mengubah posisi. Kini ia yang mengambil andil.
"Sampai subuh nggak jadi-jadi nanti mas kalau ngobrol terus"
Arjuno ingin tersenyum karena kini ia dikuasai istrinya. Belum lagi ekspresi Zantisya saat sudah tidak sabar dengannya.
Gagal senyum pun tak masalah bagi Arjuno. Karena kini ia memang sedang di bekap Zantisya. Di kendalikan Zantisya yang terasa lebih bersemangat malam ini.
Ah
Zantisya terus bergerak cepat semangat empat lima setelah berhasil menyatu. Sedangkan Arjuno tinggal santai menunggu hasil. Eh mana mungkin.
Tangan Arjuno sudah pasti tidak tinggal diam. memberikan sentuhan pada setiap inci bagian Zantisya.
"Lebih cepat sayang" Zantisya menurut maunya suaminya. Suara serak Arjuno begitu terdengar sangat menantang.
Arjuno tersenyum melihat dua favoritnya bergerak cepat seirama dengan Zantisya. Membuatnya jadi gemes sendiri.
Arjuno langsung menggenggam erat salah satunya dan satunya ia cecap saat Zantisya mulai slow motion.
"Mau gantian?"
Arjuno mendekatkan wajahnya. Lalu mencecap benda kenyal yang kini semakin pintar menggodanya.
Seketika ruang kamar terasa panas. Karena peluh keduanya menemani malam di dalam ruangan yang di penuhi suara keduanya. Hingga sampai keduanya sama-sama sampai pada puncaknya.
Jika pasangan panas penuh cinta membara itu tengah bermesraan. Berbeda dengan seseorang yang sudah sejak lama mengintai mereka. Bahkan setiap malam ia selalu berada disana untuk melihat betapa bahagianya mereka kini yang membuat orang diluar sana menahan rasa.
Lelaki itu langsung masuk kedalam mobil dan menutup nya dengan cara dibanting untuk melepas amarahnya. Lelaki itu langsung mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Lakukan perintah ku, bergerak dengan hati-hati dan jangan meninggalkan bukti apapun" hanya itu yang diperintahkan lelaki yang kini melajukan mobilnya dengan seringai penuh amarah. "Nikmatilah malam terakhir kalian, karena setelah ini aku akan pastikan kau tidak akan menerimanya menjadi istrimu lagi"
.
.
.
"Dek" panggil Arjuno sambil membelai punggung Zantisya yang masih duduk di pangkuannya. Begitupun Zantisya yang seolah mengeringkan peluh suaminya setelah bekerja keras. Bahkan keduanya sepertinya enggan untuk saling melepaskan diri.
"Iya mas"
"Kita kembali keawal lagi ya"
"Apanya?"
"Ya kaya beginian. Sulit banget nahan dua, tiga harian. Lebih asik kapan pun kita mau seperti ini"
Jelas pernyataan Arjuno membuat Zantisya terkejut. Bukan masalah melakukan beginian yang pasti lebih sering. Tapi terkejut karena suaminya sendiri yang membuat aturan dan sekarang lelaki itu sendiri yang membatalkan kemauannya. Terlalu memang lelaki ini.
Kalau boleh jujur sebenarnya Arjuno ketagihan dengan kelihaian Zantisya malam ini.
__ADS_1
"Aku terserah mas saja" ucap Zantisya yang melepas dekapannya dan ingin beranjak. "Mas aku mau ke kamar mandi" ucap Zantisya saat Arjuno menahannya.
"Ngapain?"
"Mandilah. Biar subuh nanti nggak sibuk pake mandi dulu"
"Sekali lagi ya" pinta Arjuno dengan muka dimelas-melasin.
"Mas kita tadi mainnya lama loh. Capek kalau aku lagi yang gerak" jujur Zantisya kewalahan karena Arjuno kelamaan sampai pada puncaknya.
"Aku yang beraksi sayang" ucap Arjuno yang langsung membawa Zantisya pada penjara kedua tangannya.
.
.
.
Setelah waktu subuh Zantisya sudah menuju dapur membuat makanan yang bisa ia santap bersama suaminya.
Sedang Arjuno mengambil ponselnya yang masih tertinggal di meja yang ada di balkon kamarnya.
Arjuno keluar dari kamarnya berniat menghampiri istrinya yang sedang berada di dapur. Jujur saja perutnya pun terasa sangat lapar.
Baru saja kakinya menapaki anak tangga dan baru juga Arjuno menghidupkan layar ponselnya. Matanya terpaku heran karna begitu banyak pesan dari Firman dan Rudi dan juga panggilan tak terjawab yang tidak kalah banyaknya.
Arjuno hendak membaca pesan dari kedua sahabatnya itu, belum sempat dibaca Rudi sudah menelponnya.
"Kenapa Bro?" tanya Arjuno santai sambil terus menuruni anak tangga. Jelas lah santai ini kan masih terlalu pagi.
"Kemana aja bos, dari semalem nggak angkat telpon kita?" Suara rudi bahka terdengar sangat panik dan kesal karena Arjuno sudah sangat sulit dihubungi sejak tengah malam.
"Hape ku ketinggalan di balkon, kemana?” Arjuno masih sangat santai hingga ia sudah sampai menghampiri istrinya yang tengah membuat roti bakar.
"Iseng banget sih mas" ucap Zantisya karena mendapat kecupan di pipi.
"Kita dalam masalah besar nih bos"
"Masalah apaan"
"Restoran yang masih dalam pembangunan, kebakaran total bos"
Bagai disambar petir diwaktu pagi yang masih nampak gelap ini. Arjuno harus mendapatkan kabar yang jelas sangat tidak mengenakkan hati.
"Halo bos… halo…"
"Astagfirullah" Arjuno tersadar dari keterkejutan kabar yang ia terima karena sentuhan Zantisya.
"Ada apa mas?" tanya Zantisya ikut duduk setelah meletakkan roti bakar di atas meja.
"Nggak apa-apa dek"
"Bos segera kesini, aku sama Firman sudah dari semalem disini"
"Iya… aku pasti cepat kesana" Arjuno langsung mematikan sambungan telepon.
"Ada masalah mas?" tanya Zantisya sambil menyuapkan roti pada Arjuno.
Meski sejujurnya rasa laparnya tiba-tiba hilang. Arjuno memaksakan diri untuk menerima suapan yang diberikan Zantisya.
Bersambung...
Maafkan jari ku yang sedikit bar-bar akibat pegal-pegal 😓 aku sungguh nggak bermaksud membuat bab ini 🥲 beneran. serius deh percaya sama aku 😌 tapi entah kenapa otak dan jari ku tidak kompromi 😱 ayolah khilaf bareng-bareng 😂
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️ follow akun author juga ya ❤️