HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 97 KAMAR SEBELAH


__ADS_3

Meski waktu baru akan menjelang siang. Sepertinya tidak menyurutkan hasrat yang sudah berkobar diantara dua insan yang asik bercecap mesra.


Menyentuh seluruh tubuh dengan saling membelai. Memberikan rasa panas padahal kamar mereka terdapat AC yang menyejukkan.


Arjuno dan Zantisya langsung saling melepaskan saat mereka merasa perlu untuk bernafas dengan normal. Walau rasanya enggan untuk melepaskan, tapi mereka juga harus mengingat bahwa paru-parunya juga butuh udara bebas.


"Kita harus pindah dek." Ucap Arjuno yang langsung menggendong tubuh Zantisya ala-ala bridal style.


Di lantai atas. Memang terdapat empat ruang kamar. Satu ruang kamar utama yang ditempati Arjuno dan Zantisya. dua kamar yang akan menjadi kamar Ruby dan Safir nanti dan satu kamar lagi adalah kamar yang kini menjadi tempat Arjuno dan Zantisya saling memadu.


Mereka sudah tidak pernah lagi bergelut mesra dengan peluh membara diatas ranjang utama mereka. Mana mungkin mereka melakukan hal itu disana. Jika ada Al yang tidur nyenyak. Bisa-bisa anak kembar mereka terbangun akibat terganggu oleh suara kegaduhan mereka.


Kecuali kamar mandi. Setiap kali selesai urusan dikamar sebelah, mereka akan menambah satu ronde lagi di dalam kamar mandi mereka. Sambil bermain air dan hemat pergerakan pasti tidak akan mengeluarkan suara kencang meresahkan jiwa. Yang bisa berakibat mengganggu tidur nyenyak Al.


"Mas, ponsel ku ketinggalan." Ucap Zantisya saat baru saja keluar dari kamar dan menutup pintu. Zantisya langsung membuka handle pintu dengan tetap dalam gendongan Arjuno.


Kamar mereka memang dipasangan sebuah alat yang bisa terhubung ke ponsel Zantisya. jadi setiap kali Al tidur dikamar dan tiba-tiba menangis. Zantisya akan mengetahui anaknya yang terbangun karena ponselnya akan langsung bergetar dan deringan nyaring.


Arjuno langsung mencecap lagi bi*bir Zantisya setelah keluar dan kembali menutup pintu kamar utama mereka.


Arjuno dan Zantisya tidak terfikir akan ada orang yang melihat kemesraan mereka menuju kamar sebelah. Karena baik bi Tami, bi Siti sudah tahu kalau setiap kali Arjuno berada di rumah itu Artinya mereka tidak diperbolehkan keatas. Termasuk juga Yanti yang sudah diberi tahu bi Tami dan bi Siti sejak awal diterima bekerja dirumah ini.


Arjuno langsung merebahkan tubuh Zantisya pelan-pelan diatas ranjang.tak berselang lama Arjuno melepaskan Zantisya. bukan untuk mengakhiri melainkan untuk membuka daster yang menjadi penghalang kulit keduanya.


Arjuno langsung mencecap lagi bi*bir Zantisya setelah mereka sama-sama tak berbenang. Mengunci dan menguasai raga istrinya. Tangannya sudah merayapi setiap jengkal tanpa celah. Sedangkan Zantisya juga tak mau kalah. Tangannya juga sudah berselancar ria kemana-mana. Mengabsen raga lelaki yang membuatnya menjadi wanita sempurna.


Eeehhhh...


Zantisya menggumam tertahan karena ia masih di bekap. Sedangkan tangan aktif Arjuno sudah mulai bermain dengan salah satu pusat nutrisi milik Al.


Arjuno dengan sengaja sedikit menggenggam erat salah satu pusatmya membuat Zantisya ingin bergerak tak tentu arah jalan pulang. Eh...

__ADS_1


Setelah cairan terbaik didunia itu keluar Arjuno langsung meratakan ke bagian pinggir pucuknya. Agar bagian areola menjadi lembab.


Cecapan Arjuno turun mengabsen bagaimana jenjangnya leher sang istri. Memberikan banyak karya yang sudah pasti akan berwarna merona. Membuat Zantisya semakin merintih mesra akibat dari absenan bi*bir Arjuno dan juga tangan yang tiada henti mempermainkannya.


Arjuno menjatuhkan tubuhnya kesamping, membawa Zantisya untuk tidur posisi miring. Lelaki itu langsung bergerak cepat. Seolah menggantika tugas Al yang tidak pernah absen meraup cairan kebutuhan.


"Maaasss..." Rintih Zantisya sambil mencengkram rambut hitam suaminya.


Arjuno bekerja dengan pelan. Namun lama kelamaan lelaki itu menyeruput dengan cukup kuat dan sesekali meninggalkan giigitan nakal. Membuat Zantisya terpekik tak tertahan.


Bukanya menarik rambut Arjuno agar melepaskan pekerjaannya. Nyatanya Zantisya malah menekan kepala lelaki ini agar pekerjaannya semakin dalam.


Secara bergantian Arjuno mengabsen pusat cairan milik Al agar tidak terjadi iri dengki. Sedangkan tangan Arjuno sudah membelai punggung Zantisya dan sesekali tangannya bermain dengan daging kenyal yang ada dibelakang seperti meremas cucian agar airnya keluar. Eh maksudnya apa?.


Arjuno menimpa Zantisya, menguasai perempuan yang telah membuatnya hidup sempurna. Memiliki istri cantik luar dalam dan dua anak kembar yang cantik dan tampan.


Zantisya menunduk. Menatap lelaki yang masih betah menjadi bayi-bayian. Yang membuatnya terus terpekik keras.


Kecupannya turun mengabsen perut Zantisya tanpa celah. Membuat Zantisya bergerak tak karuan.


"Lembab banget dek." Ucap Arjuno yang tengah membelai pelan-pelan jalan utama perjuangan mereka mencetak Al.


"Mas..." Lirih Zantisya memelas. Tubuhnya sudah benar-benar dipenuhi dengan buliran bening tanda khas pertandingan.


Tangan usil Arjuno semakin bergerak cepat. Membuat Zantisya ingin terbangun mencengkram perlakuannya. Ia jelas tidak kuat, bergerak kesana kemari karena dipermainkan dengan suaranya yang sudah teriak meminta ampun.


"Lepaskan sayang. Dan sebut nama lengkap ku." Perintah Arjuno berbisik sensual.


Zantisya yang sudah tidak tahan lagi. Memang sulit menahan apa yang tidak bisa dipertahankan. "Arjuno Andrewiyoko." Lantang Zantisya.


Seketika tubuhnya terasa lemas. Bersamaan dengan itu Arjuno tersenyum menatap tatapan sayunya Zantisya. dan mengakhiri pergerakan tangan menyesatkan.

__ADS_1


"Satu Ronde disini dan aku yang bekerja. Free di kamar mandi dan itu giliran adek." Zantisya mengangguk saja mendengarkan ucapan suaminya. Ia harus hemat suara karena saat menu utama pekerjaan, akan sangat membutuhkan suaranya yang indah.


"Maaasss..." pekik Zantisya tak tanggung-tanggung saat Arjuno tidak ingin memberinya waktu istirahat untuk bernafas normal.


Arjuno mulai bergerak pelan sambil menatap inten Zantisya. sedangkan Zantisya bergerak mmeyeimbangi sang suami. Wajib berderak dan jangan diam saja, nanti dikira gedebok pisang. Hadeh...


"Mau pelan, sedang, Atau cepat sayang?" Tanya Arjuno nakal. Sebenarnya nggak ada yang salah dengan pertanyaan Arjuno barusan. Namun tangan Arjuno tersangkanya. Tangan kanannya menahan tubuhnya sedangkan tangan kirinya bermain bergantian pada dua pucuk meresahkan.


"Eeeuuuhhh..." gumamnya.


"Mas. Aaahhh... A...aku nggak kuat mas." Pekik Zantisya saat tangan Arjuno ikut bermain dibawah sana. (Bawah... bawah... bawah... kolong Eh...)


Pelan tapi pasti. Karena pelan-pelan semakin lama, semakin cepat, semakin kasar karena sudah tidak bisa mengerem pergerakan dan bersemayam semakin dalam.


Ruangan kamar ini benar-benar dipenuhi dengan pertaruangan suara indah diantara keduanya. Membuat mereka berdua semangat bergerak tanpa kenal lelah dan waktu.


Arjuno ambruk memeluk Zantisya yang dalam kuasanya setelah puncak mereka telah sampai.


"I love you dek." Bisik Arjuno dengan suara yang masih berat. Karena nafas keduanya masih belum teratur.


"I love you too mas." Zantiya membelai kepala Arjuno lalu mencium daun telinga lelakinya. Karena suaminya itu masih betah saja menyusupkan wajahnya pada lehernya yang sudah pasti banyak tanda.


Bersambung...


Jangan salahkan aku kalau bab ini aku buat🙏 Suruh siapa komen lanjut-lanjut🙄 Kan aku jadi bertanya-tanya🤔 Lanjut update atau lanjut gini-gini🤭 Sudah tahu aku nakal dan suka khilaf😒 Jadi Dari pada aku bingung ya udah aku buat keduanya😓 Huaaa😭 aku jadi tidak solehah lagi😫 tolong sedekah air sucinya aku benar-benar merinding🤕


Awas aja kalau masih ada yang komen lanjut kamar mandi ya🙄 aku pingsan loh ntar😫


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Selamat pagi dan selamat beraktifitas 💪

__ADS_1


__ADS_2