
Sudah satu bulan usia pernikahan Zantisya dan Bima. Hubungan antara keduanya pun tidak saling membaik malah semakin buruk karena Bima selalu melontarkan cacian pada Zantisya. Gadis itu terkadang hanya diam. Diam karena malas berdebat dengan orang seperti Bima sanjaya. Menilai orang semaunya tanpa tahu kenyataan sebenarnya. Namun sepengetahuan Laras, hubungan antara anak dan menantunya baik-baik saja.
"Enak ma" komentar Bima setelah mengunyah tiga suapan nasi goreng cumi-cumi.
"Mama bilang juga apa. Emang nggak salah pilih mama nikahin kamu sama Tisya" ucap Laras sambil menatap anak dan mantunya.
"Maksud mama?"
"Ini yang masak Tisya" info Laras membuat Bima berhenti mengunyah untuk beberapa detik. Menyesal rasanya memuji masakan yang ternyata olahan perempuan matre. Menurutnya.
"Kenapa diam?" tanya Laras melihat putranya yang tengah berhenti.
"Nggak apa-apa ma" Bima melanjutkan makan. Sedang Zantisya sejak tadi memilih diam dan terus menghabiskan menu sarapannya.
"Nanti malam ajak Tisya makan diluar Bim" perintah Laras.
"Nanti malam aku harus ketemu temen ma" tolak Bima secara halus.
"Batalkan. Kamu setiap pulang kerja ada saja alasan buat keluar rumah lagi atau jangan-jangan kamu masih berhubungan sama Evita perempuan matre itu"
"Ma… Evi nggak kaya yang mama bilang" bela Bima terhadap pacarnya.
"Halah, itu kenyataannya Bim. Mana ada perempuan nggak matre setiap bulan ngabisin duit kamu ratusan juta. Atau jangan-jangan kamu masih berhubungan sama dia.
Deg
"Mama yang minta aku buat nikah sama dia" tunjuk Bima pada Zantisya. Sejak tadi Zantisya memilih diam karena memang bukan haknya mencampuri urusan antara ibu dan anak ini. "Dan mama juga minta aku buat putusin Evita. Aku nurut ma… sekarang mama mau apa lagi? Jangan nuduh aku kalau mama sendiri saksinya aku putusin Evita, bikin dia sedih. Dan aku udah mencoba jadi suami yang baik buat istri pilihan mama"
"Mama mau kalian kasih mama cucu”
Deg
Sekarang bukan hanya Bima yang detak jantungnya bekerja dengan kencang. Tapi juga Zantisya. Gadis itu nampak tegang atas permintaan ibu mertuanya.
"Baik… toh aku dan Zantisya berhubungan sangat baik" ucap Bima sambil menggenggam tangan Zantisya. "Aku juga yakin Zantisya pasti segera hamil dan kalau itu sudah terjadi aku mohon ma jangan campuri urusan pribadi kami. Maaf kalau Bima nggak sopan"
Laras nampak berfikir. "Setuju"
"Pertengkaran jenis apa ini" batin Zantisya. ia jadi berfikir apakah Bima akan benar-benar memenuhi ucapan yang ia janjikan pada Laras.
Bima langsung bergegas pergi ke kantor tanpa berpamitan pada Laras karena amarahnya yang memuncak di pagi hari. Apalagi mamanya menjelekkan nama Evita didepan Zantisya.
Laras menatap Zantisya yang tengah melamun. "Tisya" panggilnya.
"Iya ma"
"Mama nggak akan biarkan pernikahan kalian hancur. Kamu harus yakin setelah kamu hamil Bima pasti akan lebih menyayangi kamu"
"Iya ma…"
__ADS_1
"Ehm… tapi hubungan kalian normal kan kalian…" ucapan Laras terhenti namun ia mulai menyatukan jari telunjuk kiri dan kanannya.
Zantisya mengangguk dengan wajah bersemu merah karena malu. Ia paham apa yang dimaksud Laras dan ini sudah menjadi perkiraan Bima dan Zantisya.
"Syukurlah…"ucap Laras. Ia sangat percaya kalau Bima dan Zantisya melakukan hubungan suami istri pada umumnya seperti pasangan lain yang telah menikah. Meski tak ada cinta, tapi siapa yang bisa menolak jika di hadapkan dengan wajah yang cantik dan rupawan di dalam satu ruangan yang bernama kamar. Toh selama satu bulan ini laras melihat interaksi keduanya nampak baik walau masih nampak sangat kaku dan terkadang nampak saling bermusuhan. Namun Laras sudah sangat percaya dengan ucapan Bima.
.
.
.
Zantisya memasuki Arko Restoran yang cukup mewah, gadis itu memakai baju terusan dan jilbab berwarna peach dan tas Selempang berwarna putih. Yang mengantar Zantisya ke restoran ini adalah sopir laras.
Laras tidak mempermasalahkan jika bima tidak pulang terlebih dulu untuk menjemput istrinya dan pergi bersama menuju restoran. Yang penting kedua anaknya itu meluangkan waktu bersama.
Zantisya langsung menuju ruangan ViP setelah menelpon Bima bahwa ia sudah berada Arko Restoran. Zantisya mengetuk pintu nomor 05 tak berselang lama nampak Bima membuka pintu.
"Masuk" perintahnya datar.
Zantisya langsung masuk dan betapa kagetnya ia disana bukan hanya ada dirinya dan Bima namun ada seorang perempuan cantik dan seksi dengan rambut blonde nya. Namun ia langsung menormalkan ekspresinya. Ia langsung duduk di hadapan seorang perempuan cantik yang tengah bersandar manja di bahu suaminya.
"Ini" Bima melemparkan sebuah kotak kecil persegi panjang.
"Ini apa kak?" Tanya Zantisya sambil membolak balikkan kotak kecil itu.
"Buka" perintah Bima.
"Itu punya Evita" ucap Bima lalu mencium pipi Evita dengan sangat mesra.
"Sayang" suara evita begitu manja.
Zantisya menundukkan pandangannya. Ia jadi mengira-ngira hubungan mereka seperti apa hingga mereka. Bukan maksudnya perempuan yang bernama Evita ini sampai hamil. Apa mereka sudah menikah secara diam-diam. Atau… Zantisya menggelengkan kepalanya ia tidak ingin menduga-duga.
"Katakan pada mama kalau kamu hamil" Zantisya paham dengan apa yang di perintahkan Bima. Ia tau harus melakukan apa dengan alat ini. "Malam ini jangan pulang ke rumah"
"Terus aku harus kemana kak?"
"Terserah kamu mau kemana. Aku sudah mentransfer uang ke rekening mu. Aktifkan terus hape mu" Zantisya mengangguki semua ucapan Bima. "Keluar" usirnya.
Dasar manusia tidak punya hati, entah kesalahan apa yang telah Zantisya lakukan sehingga ia harus menikah dengan lelaki seperti Bima Sanjaya. Meski belum makan malam Zantisya memilih langsung untuk keluar dari restoran dan duduk di taman yang ada di depan restoran tersebut.
"Dek Kemala" panggil seseorang yang membuyarkan lamunan Zantisya.
Suara yang ia kenal dan wangi khas yang sering ia cium. Zantisya menoleh ke sumber suara. Ia langsung tersenyum saat melihat sosok Arjuno berjalan mendekatinya. "Mas Arjun"
Arjuno duduk di samping Zantisya jarak mereka satu meter. "Ngapain disini?" tanya Arjuno penasaran. "Nggak baik gadis sendirian disini"
"Cuma nggak sengaja lewat mas. Mas arjun ngapain disini?"
__ADS_1
Arjun Nampak berfikir sejenak. "Ketemu temen" Zantisya mengangguk.
"Mas apa kabar?"
"Dek apa kabar?"
Pertanyaan mereka terlontar secara bersamaan. Membuat keduanya terkekeh geli.
"Aku baik mas"
"Aku juga baik. Ngomong-ngomong udah makan belum?"
"Belum mas"
"Mau makan disana" tunjuk Arjuno ke restoran.
Zantisya menggeleng. "Makanan di sana pasti mahal mas"
"Aku yang traktir dek" tawar Arjuno lembut.
"Serius?" Zantisya menatap Arjuno yang entah sejak kapan ternyata Arjuno menatap ke arahnya. Karena sejak tadi ia hanya menatap lurus ke depan.
Arjuno mengangguk. "Ayo" ajak Arjuno yang lebih dulu berdiri.
"Aku nggak mau makan disini mas"
"Kamu punya tempat atau pengen makanan yang lain?" tebak Arjuno hanya mengira-ngira.
Zantisya mengangguk. "Mas yang traktir aku, biar aku yang traktir ongkos jalannya”
Arjuno menautkan alis tebalnya heran. "Ongkos? Buat apa dek?"
"Maksudnya bensinnya nanti aku ganti mas, karna jalannya jauh"
Arjuno langsung terkekeh geli dengan ucapan polos gadis di hadapannya ini. "Tunggu ya aku ambil mobil dulu”
Bersambung...
Evita
Ya pantes aja Bima Cinta banget sama pacarnya orang cantik begini punya calon bini yang nggak direstui.
Yang nggak suka dengan visualnya bisa imajinasikan sendiri ya setiap tokohnya 🥰 dunia hallu adalah milik kita bersama ❤️
Yang mengikuti cerita ini mohon tinggalkan jejak ya 😊 kasih like dan komennya 🥰
__ADS_1
Selamat beraktifitas 💪💪💪