
"Mas kenapa Yanti ada di kamar kita?" Tanya Zantisya pelan sambil menatap Arjuno.
Belum sempat Arjuno menjawab. Yanti sudah mulai beraksi. "Ibu, bapak tadi tiba-tiba nyeret saya kesini." Ucapnya.
Sepertinya Yanto melupakan bahwa rumah ini ada CCTV yang terpasang. Sedangkan yang dipikiran Yanti jelas masih mati lampu tadi sehingga tidak mungkin ada rekaman CCTV. Cetek banget otaknya.
Arjuno melihat Yanti dengan wajah penuh marahnya, namun hanya satu detik saja. Ia langsung memalingkan wajahnya karena baju yanti masih terbuka.
"Dek demi Allah dek. Aku nggak ngelakuin itu." Pikiran Arjuno seketika blank. Sangking takut pada istrinya yang bisa saja salah paham.
Zantisya menatap Arjuno tak berekspresi. Tangannya bergerak mematikan senter ponselnya. Jarinya bergerak entah apa yang ia cari di layar ponselnya. Kakinya melangkah mendekati Yanti.
"Jadi apa yang dilakukan suami saya ke kamu Yanti?" tanya Zantisya pelan.
Yanti jelas memanfaatkan suasana karena menurutnya Zantisya pasti mempercayainya. "Bapak nyeret saya masuk ke dalam kamar ini bu. Bapak mau memper*kosa saya."
"YANTI." Bentak Arjuno.
Baik Zantisya ataupun Yanti jelas terkejut. Terlebih lagi Zantisya tidak pernah melihat raut wajah sang suami dengan penuh amarah seperti saat ini.
Suara hujan yang tidak mengusik rumah itu membuat bi Tami dan bi Siti mendengar suara lantang Arjuno. dua perempuan paruh baya itu langsung cepat menuju lantai atas.
"Diam mas. Terus apa lagi yang dilakukan suami saya ke kamu Yanti?"
"Saya melawan bapak bu. Tapi bapak tetap berusaha membuka kancing baju saya. Bapak benar-benar ingin memper*kosa saya bu." Jelas Yanti berharap Zantisya percaya. Sedangkan bi Tami dan bi Siti jelas Terkejut mendengar penuturan Yanti barusan.
"Kamu berusaha melawan atau pasrah saja saat suami saya akan melakukan hal itu?"
"Saya melawan bu. Saya pukul dada bapak, saya tarik bajunya agar menyingkir dari atas saya bu." Ucap Yanti dengan air matanya yang menggenang.
Zantisya mengangguk dan menatap Yanti tak terbaca. Entah apa yang ada di dalam pikiran Zantisya, namun Yanti merasa kalau Zantisya pasti percaya padanya.
"Ibu percaya sama saya kan bu?" Tanyanya sambil menangis.
Zantisya mengangguk. Ia langsung menjauhi Yanti, melangkah menuju pinggiran sofa. Mendudukkan tubuhnya disana.
"Kamu harus bisa mempertanggung jawabkan ucapan mu Yanti."
__ADS_1
"Saya jujur bu." Ucap Yanti sambil melangkah ingin mendekati Zantisya.
"Stop. Kamu tetap disana dan jangan mendekati saya." Ucap Zantisya menatap Yanti tidak suka.
"Saya merekam semua pengakuan mu tadi Yanti. Jika sampai kamu memfitnah suami saya, maka kamu harus mempertanggung jawabkan ucapan mu sendiri."
Zantisya menatap Yanti yang menatapnya. Ia jelas bingung kenapa Yanti terlihat seyakin itu padanya.
"Jika kamu ditarik paksa suami saya, seharusnya pergelangan tangan kamu memerah karena cengkraman lelaki itu kuat. Kalau memang suami saya ingin melakukan hal bejad padamu, seharusnya baju kamu sobek tak berbentuk bahkan kancing baju kamu bisa saja tercecer dimana-mana. Dan jika kamu memang melawan lelaki yang ingin berbuat hal kurang ajar setidaknya baju lelaki itu koyak akibat perlawanan mu." Ucap Zantisya dengan suaranya yang bergetar.
Jelas saja, karena Zantisya harus mengingat lagi peristiwa yang bahkan tidak pernah ia ingat lagi. Yanti sudah pasti salah orang dalam hal seperti ini.
Zantisya menatap Arjuno dengan tatapan sendunya. Ia tersenyum agar lelakinya itu tahu bahwa dia percaya padanya dan tidak apa-apa untuk mengingat ulang hal yang sudah tak pernah ia ingat. Karena terlalu banyak kebahagiaan yang Arjuno berikan. Membuat Zantisya lupa akan hal-hal yang menyakitkan.
Zantisya menatap Yanti. Membuat Yanti sendiri takut dengan tatapan yang ia terima saat ini. Perempuan yang semua orang ketahui sangat lembut dan penyayang kini menatap Yanti dengan tatapan intimidasi.
"Saya bukannya tidak tahu saat kamu sering memandangi suami saya. Mencari perhatian suami saya. Saya diam ingin kamu berubah. Saya sudah anggap kamu seperti adik saya. Tapi sepertinya kamu sangat tidak tahu diri sekarang."
Tangan Zantisya bergerak memainkan ponselnya. Ia tersenyum sinis melihat layar ponselnya sendiri. "Apa kamu pikir didalam kamar ini tidak ada CCTVnya?" Tanya Zantisya menatap yanti tidak suka.
Yanti terdiam tidak mampu menjawab sekarang. tubuhnya terasa bergetar. Kakinya terasa lemas ingin sekali ambruk.
Bruk...
Yanti ambruk. Duduk bersimpuh menyadari kekalahannya. "Maafkan saya bu."
"Meminta maaf untuk apa?"
"Karena sudah membohongi ibu."
"Berbohong tentang apa?" Tanya Zantisya dengan penuh penekanan. Baik Arjuno, bi Tami dan bi Siti sama terkejutnya mendengar nada amarah Zantisya yang memuncak.
"Saya sudah memfitnah bapak. Yang saya katakana tadi adalah fitnah karena saya terlalu menyukai bapak."
"Astagfirullah Yanti." Pekik bi Tami dan bi Siti geram.
"Saya sudah memberi hati saya, karena kamu mampu membantu saya menjaga anak kami. Tapi ternyata kamu mengharapkan jantung rumah ini."
__ADS_1
"Maafkan saya bu." Lirih Yanti memelas. "Saya janji akan berubah bu. Saya janji akan bekerja dirumah ini hanya untuk adik Al. saya tidak akan melihat bapak lagi."
Zantisya berdiri mendekati Arjuno. menatap tajam Yanti yang masih bersimpuh.
"Saya tidak mau memperkerjakan orang yang sudah berusaha merusak rumah tangga saya, berusaha merayu dan merebut kehidupan saya dan Al. Saya tidak bisa melihat orang seperti itu berkeliaran didepan mata saya. Silahkan kemasi barang mu dan segera keluar dari rumah ini sekarang juga."
Zantisya langsung menggandeng tangan Arjuno untuk ia ajak keluar dari sana. Namun langkah Zantisya terhenti saat Yanti bersimpuh menggenggam erat baju kurung bagian bawahnya.
"Ibu tolong maafkan saya bu. Kalau saya dipecat saya mau kerja apa bu, bagaimana saya membantu perekonomian keluarga saya. Adik-adik saya bu."
Yanti kini benar-benar menangis. Berharap Zantisya memberi satu kali kesempatan untuknya. Karena bagaimana pun juga. Ia mendapatkan gaji yang besar dari pada umumnya gaji baby sitter. Dan bekerja sangat santai karena Zantisya sendiri yang lebih banyak mengurus Al.
Zantisya menarik bajunya yang digenggam erat Yanti.
"Seharusnya kamu memikirkan keluarga mu sebelum bertindak memalukan seperti ini Yanti. Ini konsekuensi dari tindakan mu sendiri. Jangan berharap lebih dari saya, sebanyak apapun kamu menangis dan meminta maaf, itu tidak akan bisa meluluhkan saya. Kamu sendiri yang merusak kepercayaan yang saya kasih ke kamu."
Zantisya langsung membawa Arjuno berlalu begitu saja. Dan meminta bi Tami dan bi Siti yang mengurus yanti selanjutnya. Agar gadis itu segera keluar dari rumah ini.
Bi Siti yang telah membawa Yanti masuk ke rumah ini benar-benar merasa malu dan tidak enak hati pada majikannya.
Bi Siti langsung menarik Yanti dan membawa gadis itu turun dari lantai dua. Sedangkan bi Tami hanya mengikuti saja, dengan rasa jengkel yang memuncak.
Bi Tami yang tahu bagaimana kisah Arjuno dan Zantisya tentu tidak rela ada orang yang berniat merusak rumah tangga majikannya. Majikan yang menganggapnya seperti keluarga, seperti orang tuanya.
Bi siti langsung melepaskan cengkeramannya saat mereka telah sampai didalam kamar yang biasa ditempati Yanti.
"Bibi sudah pernah ingatin kamu Yanti. Tapi kenapa nggak kamu dengarkan. Apa kamu nggak memikirkan mas Arjun dan mbak Tisya yang sudah membantu kamu, keluarga kamu, adik-adik kamu." Emosi sudah kini bi Siti jadinya.
"Bibi juga sangat menyayangkan tindakan bodoh mu ini Yan. Cepat kemasi barang mu dan cepat keluar dari sini." Usir bi Tami jengkel.
"Tapi ini masih hujan deras bi." Ucap Yanti memelas.
"Aku akan minta scurity memesankan mobil online. Aku yang bayar. Cepat kemasi barang-barang mu." Ucap bi Tami yang langsung berlalu karena tidak mau terus kesal.
Bersambung...
Sungguh diluar kendali aku bisa sampai bab 100π€ padahal rencana awal cerita ini selesai under bab 90 anπ€ kok aku kebablasan π
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan π₯° kasih like dan komennya π tab favorit juga ya β€οΈ