HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 69 SALING MEMAAFKAN


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu. Laras kini berada di kantor polisi bersama dengan pengacara Bima. Senyum wanita paruh baya itu nampak terus berkembang setelah keluar dari persidangan. Sedangkan air matanya sudah tidak mampu terbendung lagi.


Sungguh Laras tidak menyangka jika Arjuno mencabut tuntutannya. Membuat anak satu-satunya bebas dari hukuman yang seharusnya menjerat Bima.


"Mama" panggil Bima saat sudah keluar dari kantor polisi. Ia tadi harus menandatangani beberapa berkas kebebasannya dan pernyataan wajib lapor selama enam bulan ini.


Laras langsung membalas pelukan Bima dengan erat. "Alhamdulillah nak, kamu bebas."


"Alhamdulillah. Evi sama Aurel dimana ma?" Tanya Bima setelah melepaskan pelukannya.


"Kita harus kerumah sakit sekarang."


Bima jadi berprasangka yang tida-tidak. "Siapa yang sakit ma?"


"Aurel sejak dua hari lalu demam tinggi dan harus di rawat dirumah sakit nak?"


"Kita kerumah sakit sekarang ma"


Laras dan Bima pun langsung masuk kedalam mobil. Sekitar hampir satu jam, barulah mobil masuk ke area rumah sakit.


Bima langsung keluar dan lari menuju ruang rawat anaknya setelah diberi tahu laras. Sedangkan laras sendiri memilih membiarkan keluarga kecil anaknya itu membagi waktu bersama meski keadaannya berada di rumah sakit.


Ceklek


Evita langsung beranjak dari duduknya dan melihat siapa yang datang. Saat itu juga bertapa terkejutnya ia melihat Bima berada di imbang pintu.


"Bima" gumam Evita.


Betapa sangat terkejutnya saat ini Evita mendapati Bima berada di depannya dan melangkah mendekati brangkar dimana Aurel yang baru saja terlelap.


Evita langsung mengusap air matanya dan ingin sekali menghampiri Bima dan memeluknya. Tapi Evita urungkan karena ia takut Bima tidak nyaman dengan perlakuannya.


"Anak kita sakit apa Ev?"


Mendengar pertanyaan Bima menggunakan kata 'Anak Kita' membuat hati Evita menghangat.


Dan jangan salahkan jika Evita jadi berharap untuk rumah tangganya agar baik-baik saja.


"Demam tinggi Bim. Aurel manggil kamu terus, mungkin dia kangen sama kamu."


Bima langsung mengusap pucuk kepala anaknya dan menciumi wajah anaknya yang nampak lelap. Syukurnya bocah kecil itu tidak terusik menerima perlakuan Bima yang sangat merindukan anak semata wayangnya ini.


"Apa kamu diberikan izin polisi untuk menemui Aurel?" Tanya Evita penasaran.


Bima menggelengkan kepala menatap mata perempuan yang nampak sembab. "Arjuno mencabut gugatannya."

__ADS_1


"Benarkah?" Tanya Evita belum percaya.


Bima mengangguk. "Kita harus bicara" ucap Bima sambil mengajak duduk Evita berdampingan di sofa yang ada disana.


Hening


Suasana nampak canggung untuk keduanya. Tapi Bima sejak tadi tidak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Evita.


Evita sendiri juga bingung mau mengawali pembicaraan bagaimana. Karena dia juga masih takut salah bicara dan membuat Bima marah padanya.


"Aku minta maaf Evita."


Ucapan Bima sukses membuat kerja jantung Evita seolah lari dengan sangat cepat. Apa lagi kini suara Bima terdengar sangat lembut. Suara yang dulu selalu memanjakan dengan rayuan kasih sayang yang sangat Evita rindukan.


"Aku juga minta maaf Bima."


Meski tanpa membahas apa yang menjadi kesalahan keduanya. Baik Evita maupun Bima jelas paham apa saja yang menjadi masalah mereka berdua. Hingga membuat hubungan keduanya sangan renggang.


"Meski perasaan ku cacat untuk mu. Tapi aku benar-benar ingin memperbaiki semuanya dan melupakan yang harus aku lupakan. Apa kamu mau memberiku kesempatan Ev?"


Air mata Evita berlinang begitu saja. Akhirnya hal yang ia nantikan kini telah menyambutnya. "Aku yang telah membuat semuanya menjadi cacat Bim, jadi tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan. Agar aku menjadi istri yang baik untuk kamu dan ibu yang baik untuk Aurel."


Tangan Bima terulur mengusap air mata yang berlinang membasahi pipi Evita. "Jadi kamu mau memaafkan aku Ev?" tanya Bima yang langsung memeluk Evita.


"Terimakasih Bim. Kamu telah sudi menerima aku kembali."


"Aku juga sangat berterimakasih karena kamu mau menerima lelaki bejat seperti ku."


Evita langsung merenggangkan pelukannya. Dan Bima langsung mengusap Air mata Evita yang berlinang tiada henti.


Setelah mengantar Bima kerumah sakit Laras langsung meluncur menuju kerumah Arjuno dan Zantisya. Namun disana Laras tidak bisa menemui keduanya karena beberapa jam yang lalu Arjuno dan Zantisya sudah menuju ke bandara. Mereka akan terbang menuju Bali.


.


.


.


"Ah lelahnya" keluah Zantisya yang langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang hotel. Hotel yang akan mereka tempati beberapa hari ke depan.


Arjuno tersenyum melihat Zantisya. Mengeluh tapi suaranya terdengar sangat bahagia. Arjuno menepikan koper yang berisi pakaian mereka. Ia langsung menuju pintu balkon dan membukanya.


"Lelah mu akan hilang kalau melihat ini sayang" ucap Arjuno sedikit berteriak agar Istrinya mendengar suaranya.


Zantisya langsung beranjak dari tempat tidur dan lari menuju balkon. "Masya Allah" tak begitu disangka Zantisya kalau hotel yang mereka tempati dapat langsung menikmati keindahan pantai.

__ADS_1


"Kamu senang?" Tanya Arjuno sambil memeluk Zantisya dari belakang.


"Sangat mas" Zantisya langsung berbalik menghadap suaminya dan saat itu juga Ia menarik tengkuk Arjuno dan berjinjit meninggikan tinggi badannya. Sangat sulit memiliki tubuh yang mungil sepertinya.


Arjuno langsung mengangkat tubuh istrinya agar tidak kesulitan melakukan serangan. Kakinya melangkah masuk membawa Zantisya menuju ranjang. Arjuno melepaskan sejenak cecapan mereka untuk melepas penutup kepala istrinya.


Arjuno langsung menerobos bi*bir yang tadi sudah menyerangnya lebih dulu. Sepertinya rasa lelah keduanya langsung menghilang begitu saja. Dikalahkan oleh panasnya keinginan raga yang membakar keduanya.


Tangan Arjuno menurunkan resleting baju yang di kenakan Zantisya. Beruntung Resletingnya berada di depan jadi mempermudah tangannya melakukan pergerakan.


Tapi kalau dipikir lagi, setiap Zantisya membeli baju pasti Arjuno menanyakan resleting atau kancing bajunya ada di belakang atau di depan.


Sunggung pro sekali Arjuno dalam memilih baju untuk menguntungkannya. Yang penting bajunya pantas di gunakan Zantisya.


Ah


Zantisaya menggeliat saat Arjuno mencecapi lehernya. Meninggalkan bercak yang sudah pasti akan lama hilangnya.


"Mas..."


Suara Zantisya semakin menjadi karena Arjuno sudah memainkan mulutnya pada salah satu si kembar favoritnya. Sedangkan tangan satunya semakin gemas dengan pucuk satunya. Tidak akan di biarkan menganggur kalau masalahnya seperti ini.


Arjuno membangunkan tubuh Zantisya agar ia bisa menurunkan baju kurung istrinya. Setelah berhasil di lepas, Arjuno langsung melemparnya secara asal. Lalu menindih tubuh mungil itu untuk memagut Bibir mungil yang kini nampak semakin memerah se*ksi.


"Ah… mas… a… aku."


Cecapan Arjuno turun mengabsen seluruh tubuh Zantisya yang hanya tertutup pakaian dalama bagian bawah. Turun mengeksplor leher, lalu dada. Dan pelan tapi pasti semakin turun turun dan…


Krucuk


Krucuk


Krucuk


Perut Zantisya berdering saat aktifitas Arjuno sampai pada perutnya. Dan saat itu juga Arjuno mengangkat wajahnya. Menatap istrinya yang tersipu malu.


"Aku lapar mas."


Bersambung...


Maaf jika kalian kecewa karena Bima aku bebaskan🙏 untuk alasan kenapa Arjuno memilih mencabut tuntutannya ada di part setelah mereka dari Bali.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


Selamat beraktifitas semuanya 💪💪💪

__ADS_1


__ADS_2