HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 50 MEMBELI BUKU


__ADS_3

Sejak pagi buta Arjuno sudah pergi meninggalkan rumah. Untuk melihat kemajuan pembangunan restorannya bersama dengan Firman.


Perempuan dengan baju serba panjang dan jilbabnya yang tak pernah ia lepas saat keluar dari kamarnya.


"Bi…" panggil Zantisya saat memasuki dapur dan melihat bi Tami sedang berkemas.


"Iya mbak" bi Tami langsung menutup pintu kulkas karena semua sayuran dan buah selesai di tata rapi.


"Bi, tempat yang jual bibit bunga itu jauh nggak?" tanya Zantisya sambil mendaratkan tubuhnya disebuah kursi.


"Deket kok mbak cuma lima menitan naik motor"


"Kesana yuk bi, Tisya mau beli lagi" bi Tami mengangguk. "Tisya izin mas Arjun dulu bi" Zantisya langsung beranjak dan menuju kamarnya.


Perempuan itu langsung mencabut ponselnya yang terhubung dengan listrik karena daya sudah terisi seratus persen. Tak butuh waktu lama Zantisya langsung melakukan panggilan ke nomor ponsel suaminya.


"Sibuk nggak ya?" gumam Zantisya menunggu panggilannya di angkat suaminya.


"Assalamualaikum sayang" salam Arjuno ketika menerima panggilan dari istri tercintanya.


"Waalaikumsalam, Mas…"


"Kenapa dek?"


"Maaf aku ganggu mas kerja"


"Enggak sayang. Kenapa? Kangen ya?" tebak Arjuno super pede dengan senyuman yang terbit diwajahnya membuat Firman yang mendengar hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Nanti dulu kangennya, aku mau izin keluar rumah sebentar boleh nggak?"


"Kemana?"


"Ke tempat yang jual bibit bunga mas, sayang itu masih banyak pot yang nganggur" terang Zantisya berharap mendapat izin.


"Minta tolong pak Edi sayang" ucapan Arjuno terdengar sudah tak mengizinkan istrinya keluar.


"Pak Edi lagi bersihin halaman belakang mas, biar bunganya cepat ketata rapih"


Pak Edi adalah pekerja yang setiap hari membersihkan halaman rumah setiap pagi dan sore harinya.


"Boleh kan mas, jalan kaki sama bi Tami kok"


"Besok aja ya sayang, belinya sama aku ok"


Dan akhirnya Zantisya seharian hanya berdiam diri seharian dirumah. Kini bertambah lagi sikap Arjuno yang mulai disadarinya. Suaminya yang super modus itu kini bertambah posesif terhadapnya.


Zantisya hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam. Bukan kesal dengan suami posesifnya tapi ia kesal dengan diri sendiri karena bingung mau melakukan apa.


Patut disyukuri sebanyak mungkin karena ia memiliki suami yang sangat menyayanginya.


.


.

__ADS_1


.


Sore harinya Mobil Arjuno sudah memasuki halaman rumah. Sengaja mobilnya tidak ia masukkan garasi mobil karena hendak mengajak istrinya keluar.


Arjuno langsung memeluk istrinya saat disambut di ambang pintu. Bi Tami yang melihat Arjuno sudah pulang pun langsung berpamitan karena sejak tadi pak Totok sudah menjemputnya.


Zantisya langsung menuju kamar karena tadi Arjuno lebih dulu ke atas. Senyumnya langsung menghiasi wajah cantiknya saat Arjuno berada dirumah. Terasa seolah jiwanya kembali kedalam raga Zantisya.


"Mas kok belum mandi?" tanya Zantisya saat memasuki kamar dan melihat suaminya masih duduk di sofa dengan pakaian lengkap.


"Adek udah mandi?" pertanyaan yang mulai patut dicurigai.


"Memangnya aku keliatan belum mandi ya mas? Padahal udah wangi gini" ucap Zantisya sambil mencium Aroma tubuhnya sendiri.


"Memangnya tadi pake parfum dek?"


"Pake lah mas, memangnya mas nggak ke cium wanginya ya?" tanya Zantisya heran.


"Enggak"


"Ih hidung mas mampet kali ya" tebak Zantisya asal.


"Enggak ah perasaan. Coba sini aku cium lagi wangi nggak"


Zantisya yang sejak tadi berdiri, kini dengan polosnya menghampiri suaminya dan mempercayai ucapan suami modusnya itu.


Arjuno langsung menarik Zantisya agar duduk di pangkuannya. Perempuan itu sudah biasa dengan perlakuan seperti ini membuatnya tak pernah protes lagi.


"Nggak wangi tuh" ucap Arjuno mencium baju Zantisya.


Arjuno melepas jilbab Zantisya. "Memangnya tadi Parfumnya disemprot di bagian mana aja sayang?"


"Di bagian sini, sini, sini pokonya banyaklah biar wangi kalau mas peluk aku" ucap Zantisya sambil menunjuk bagian leher, ketiak, dada dan punggungnya.


Arjuno mengangguk dengan senyumannya karena merasa lucu melihat ekspresi Zantisya.


"Coba sini aku cium lagi dek" pinta Arjuno dan Zantisya membusungkan badannya agar Arjuno mencium wangi tubuhnya. "Yang dileher sayang"


Zantisya langsung mendekatkan lehernya tanpa rasa curiga dan saat itu juga yang dituju Arjuno bukan leher tapi Bibir. Hadeh...


Zantisya terkejut, bisa-bisanya ia baru sadar kalau sedang dimodusin suaminya. Akhirnya Zantisya memilih menutup mata ikuti cecapan suaminya yang terasa candu untuk nya.


"Mandi lagi Yuk" ajak Arjuno sambil mengedipkan salah satu matanya memberi kode setelah mengakhiri cecapannya.


"Mas nggak capek?" tanya Zantisya sambil mengusap wajah Arjuno.


"Capek ku hilang kalau sudah pulang. Apalagi kalau udah lihat adek senyum menyambut ku" jelas Arjuno sambil membuka kancing baju Zantisya.


"Tunggu apa lagi?" bisik Zantisya. Tangannya pun sudah ikut bergerak membuka kancing baju suaminya.


.


.

__ADS_1


.


Kini Mobil Arjuno sudah memasuki basemen sebuah mall terbesar di kotanya. Setelah makan malam, Arjuno sengaja mengajak istrinya keluar rumah agar ia tidak bosan.


"Adek mau apa?"


"Buku mas"


"Buku apa sayang?" tanya arjuno merangkul Zantisya.


"Apa aja bolehkan mas?"


"Boleh dong sayang, beli sesuka mu"


"Termasuk novel NISSA?"


"Apapun sayang"


Arjuno dan Zantisya memasuki gramed*ia. Zantisya pun langsung berkeliling mencari buku apa saja yang sudah dia list sejak kemarin.


"Dek aku ke toilet sebentar ya"


"Iya mas"


Setelah beberapa menit Arjuno meninggalkan Zantisya. Tiba-tiba Bima datang menghampiri mantan istrinya itu.


Zantisya terkejut melihat Bima disana. Entah sejak kapan Bima membuntuti mereka berdua dan menunggu waktu yang tepat menghampiri Zantisya.


Zantisya abai, dan ingin mengacuhkan keberadaan Bima. Tapi Bima dengan kurang ajarnya mencekal lengan Zantisya.


"Jangan kurang ajar ya kamu" Zantisya menarik paksa cengkraman erat Bima dan menatap sinis mantan suaminya.


"Segini saja sudah kamu anggap kurang ajar, lalu bagaimana kamu yang memadu kasih dengan suami mu itu saat kamu menjadi istriku"


Zantisya tertawa mengejek. Sepertinya lelaki ini memang harus diberi pelajaran agar otaknya nggak tumpul.


"Apa anda tidak berkaca diri tuan? menyalahkan aku karna hal yang tidak akan pernah aku sesali meski aku sadar itu salah" Zantisya tersenyum sinis menatap Bima. "Ingatlah kelakuan diri sendiri, bagaimana hubungan anda dengan pacar anda saat anda sudah memiliki istri? Bahkan tanpa ada rasa sesal saat menyakiti istri anda dulu. Atau menyembunyikan wajah anda saat istri anda memergoki suaminya sedang bercumbu dengan kekasihnya?"


"Tapi pada saat itu kau lah yang menjadi orang ketiga diantara kami?"


Zantisya semakin sinis saja menatap Bima. "Tidak ada seorang istri sah menjadi orang ketiga entah bagaimana pun alasannya, karena memang anda sendiri yang mengambil keputusan dan setuju untuk menikahi gadis muda itu"


Bima tersenyum menatap Zantisya. "Apa dulu kamu cemburu?"


"Cemburu? Bahkan sedetik pun gadis itu tidak merasakan cemburu, bagaimana ia bisa cemburu kalau cinta saja tidak ada"


"Lalu apa yang selama ini kamu lakukan Tisya? Kenapa kau mengurus ku dengan baik bahkan aku berfikir kini kalau kau menaruh hati"


"Itu hanya kenangan tuan. Kenangan yang aku tinggalkan agar suatu saat nanti anda hanya bisa menyesalinya"


"Tunggu Zantisya" Bima langsung menghadang Zantisya yang hendak meninggalkannya. "Bisa saja apa yang kamu lakukan saat ini hanya pelarian karena sakit hatimu. Karena aku tidak memperhatikan mu"


"Bahkan jauh sebelum aku bertemu dengan mama Laras, Jauh sebelum itu semua, aku sudah lebih dulu jatuh cinta pada suami ku" Zantisya mundur satu langkah. "Jadi jangan pernah salah paham dengan kenangan yang kini membuat anda berharap Tuan Bima Sanjaya"

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2