HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 66 HARUS IKHLAS


__ADS_3

Bima mengambil tespeck milik Zantisya yang ada di dalam saku celananya. Tubuhnya langsung merosot kelantai saat mendengar Arjuno mengatakan kalau mereka kehilangan calon anak mereka. Dan itu terjadi akibat dari ulahnya. Kebodohan akibat ulahnya karena gelap mata mencintai mantan istrinya.


"Maafkan aku Tisya" Lirihnya menatap alat tes kehamilan yang tanda garis duanya sudah mulai memudar.


Laras langsung melangkah lebar mendekati Bima yang sudah tidak berbentuk. Wajah tampan yang banyak lebam dimana-mana.


"Apa benar semua yang di katakana Arjuno Bim?" Tanya Laras dengan suara lantang. Sepertinya tidak ada rasa belas kasih melihat keadaan Bima saat ini.


"Maafkan Bima yang sempat gelap mata ma."


Sedang Evita yang sejak tadi berdiri di tangga menyaksikan amarah Arjuno kini ikut menghampiri Bima yang menangis.


Plak…


Sudah bonyok karena di pukuli Arjuno habis-habisan kini ia mendapat sebuah tamparan dari Laras.


"Mama kecewa sama kamu Bima. Apa kurangnya mama mendidik kamu. Tidakkah kamu ingat mempunyai mama, istri dan anak yang semuanya seorang perempuan. Bagaimana mungkin kamu menyakiti perempuan lain Bima?" Emosi Laras semakin menjadi karena kesal dengan anaknya. Rasanya kepalanya ingin meledak saat ingat seluruh ucapan Arjuno tadi.


"Karena aku ingat Aurel makannya aku tidak melanjutkan hal bejat yang ingin aku lakukan pada Tisya ma. Kalau aku tahu Zantisya hamil sejak awal, aku pasti berhenti sebelum itu ma. Aku memang gelap mata ma, tapi aku nggak mungkin menyakiti wanita hamil. Aku benar-benar mengingat wajah Evi saat mual muntah kala hamil Aurel, mengingat bagaimana bahagianya aku saat tahu Evi hamil. Aku langsung berhenti saat Zantisya mengaku hamil ma" jelas Bima. Bahkan kini rasa penyesalannya memenuhi diri Bima.


Laras menangis mendengar penyesalan anaknya kini. Bagaimana pun ia adalah seorang ibu, bagaimana pun kesalahan anaknya tapi ia tetaplah anak. Yang telah ia besarkan dengan penuh cinta tanpa kurang apapun.


"Pertanggungjawabkan semua kesalahan yang telah kamu lakukan Bima Sanja" ucap Laras yang langsung meninggalkan Bima dan Evita.


Evita membantu Bima berdiri. Meski Evita juga ingin marah pada Bima karena berniat melakukan hal kurang ajar pada Zantisya. Namun ia harus bisa meredam emosinya. Apalagi saat ini keadaan Bima sudah tidak karuan.


Mereka saling diam tanpa mengucapkan kata apapun. Menaiki tangga dengan sangat pelan bersamaan. Evita langsung mengobati luka-luka pada wajah Bima saat mereka sudah berada di dalam kamar.


.


.


.


Sejak tadi Arjuno terus menggenggam tangan Zantisya sambil terus berdoa agar istrinya cepat sadar. Sejak ia menunggu, entah berapa kali Zantisya mengigau ketakutan dengan tindakan Bima.


"Maafin aku sayang" gumam Arjuno menciumi punggung tangan Zantisya.


Malam sudah semakin larut membuat Arjuno yang memang lelah seharian bekerja. Kini tertidur karena rasa kantuk yang tidak bisa ia tahan.


Arjuno menyewa ruang rawat satu lagi untuk Bi Tami dan Amel karena memang masih banyak ruangan yang kosong belum ada pasien yang menempati sedangkan pak Totok nekat pulang setelah Arjuno kembali lagi ke rumah sakit.


Perlahan Zantisya membuka sepasang matanya. Ia melihat langit-langit kamar rawatnya. Zantisya langsung menoleh karena ingin menggerakkan tangannya namun tidak bisa karena digenggam erat Arjuno sedang yang satunya terasang infus.


"Mas…" panggil Zantisya sambil menggerakkan tangannya yang di genggam Arjuno. "Mas…"

__ADS_1


Arjuno yang memang baru terserang kantuk, samar-samar bisa mendengar suara Zantisya yang memanggilnya.


"Dek, kamu sudah sadar sayang?" Arjuno langsung menciumi wajah Zantisya.


Namun hal itu membuat Zantisya menangis tersedu-sedu karena kini ia berada dalam dekapan suaminya. Arjuno jelas tahu istrinya pasti ketakutan. Ia terus menenangkan Zantisya yang semakin erat memeluknya.


"Aku takut mas" ucap Zantisya saat mulai tenang dari tangisnya.


"Ada aku sayang, tenanglah" Arjuno terus mempererat pelukannya.


"Dia masuk ke kamar kita mas, dia mau melakukan hal buruk sama aku, aku…" Zantisya menangis lagi saat akan menceritakan dan mengingat kejadian itu.


"Sudah yang penting sekarang sayang aman."


"Mas percaya kan Aku mas, dia ngelepasin aku saat setelah aku bilang kalau aku aku hamil mas. Mas percaya kan?"


"Aku percaya sayang, sudah nggak perlu di bahas ok" Zantisya mengangguk saat melihat wajah Arjuno yang terlihat menenangkan dan mempercayainya.


"Aku mau ke kamar mandi mas" Arjuno langsung membantu Zantisya ke kamar mandi.


"Aku bisa sendiri mas" ucap Zantisya saat Arjuno akan membantunya melepaskan celana yang dikenakannya.


"Biar aku bantu sayang"


Dan saat itu juga Zantisya melihat kalau di pakaian dalamnya terdapat roti tawar yang biasanya ia gunakan saat datang bulan. Membuat dadanya terasa sesak karena melihat darah disana.


Arjuno menatap Zantisya, walau Arjuno sangat menginginkan seorang anak hadir di antara mereka. Namun yang sangat antusias agar segera memiliki anak adalah Zantisya. Dan kini ia melihat wajah istrinya yang sangat sedih dan menahan tangis.


Arjuno mengusap air mata Zantisya. "Kita harus sabar sayang" kata itu kini membuat Zantisya menangis lagi.


Arjuno menenangkan Zantisya. "Sudah nggak apa-apa. Kita harus ikhlas, yang terpenting sayang selamat"


"Maafin aku mas, ini pasti karena aku lari terlalu kencang jadi…"


Cup


Arjuno mengecup bibir Zantisya sejenak. "Aku sudah sangat bersyukur karna adek bisa menyelamatkan diri adek sendiri. Kalau sampai hal buruk terjadi padamu, aku pasti tidak akan memaafkan diriku sendiri." Mata Arjuno sudah memerah menahan air mata. "Kita harus ikhlas, dan yakin setelah ini kita pasti akan cepat mendapatkan gantinya"


.


.


.


Pukul 05.15 WIB, Arjuno baru terbangun. Ia langsung merenggangkan pelukannya karena semalaman Zantisya maunya tidur dengan terus di peluk.

__ADS_1


Arjuno langsung menuju kamar mandi, membersihkan diri sejenak untuk melaksanakan kewajibannya.


Tak lama berselang dari ia selesai melakukan ibadahnya, ponsel Arjuno bergetar tanda ada yang melakukan panggilan di seberang sana.


Arjuno langsung mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan langsung keluar dari ruang rawat karena tidak ingin mengganggu Zantisya tidur yang masih sangat lelap.


"Firman" gumam Arjuno. Ia pun kemudian menggeser tombol warna hijau tanda menerima panggilan. "Ada apa bro"


"Ada kabar mengejutkan bos"


"Apaan?"


"Aku baru dapat kabar dari kantor polisi kalau Bima menyerahkan diri" jelas Firman mengejutkan Arjuno.


Arjuno melihat ponselnya sejenak.


Jam menunjukkan pukul 05.50 WIB. "Sepagi ini?" tanya Arjuno tak percaya.


"Aku saja sampai nggak percaya bos tadi waktu pengacara kasih kabar ke aku."


"Baguslah kalau dia sadar diri" ucap Arjuno santai.


"Tolong kamu urus semuanya ya bro, aku percayakan semuanya sama kamu" tambah Arjuno.


"Kamu nggak berniat menemuinya bos?" tanya Firman hati-hati.


"Yang semalam aku rasa sudah cukup"


Arjuno langsung masuk kembali keruang rawat setelah selesai berbicara dengan. Firman. Ia melihat Zantisya yang hendak turun dari brankar.


"Mau kemana sayang?" tanya Arjuno dengan cepat menghampiri Zantisya.


"Mas dari mana? Kenapa tinggalin aku sendirian?"


"Aku dari depan sayang"


"Ngapain?"


"Tadi Firman telpon, aku nggak mau ganggu tidur kamu yang masih nyenyak. Jadi aku keluar" ucap Arjuno. "Mau ke kamar mandi?"


Bersambung...


Hari ini satu bab dulu ya🙏 stok bab ku menipis akibat kemarin jari-jari kekhilafan ku enggan bekerja di depan laptop 😂


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️

__ADS_1


Semangat beraktivitas 💪💪💪


__ADS_2