HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 78 GULA KAPAS


__ADS_3

Hari ini Arjuno menuruti Zantisya menuju alun-alun. Semenjak Zantisya hamil, Arjuno memang lebih sering pulang lebih awal. Menyelesaikan semua pekerjaan dengan teliti.


Senja memang sudah menghiasi sore yang terasa sangat sejuk.


Zantisya dengan semangat mengitari alun-alun sore ini. Sedangkan Arjuno semakin mempererat gandengan tangannya. Seperti takut istrinya akan menghilang jika ia lepaskan. Dasar posesif.


Alun-alun nampak sangat ramai. Tidak hanya muda mudi yang ada disana. Tapi juga sekumpulan keluarga yang mengajak anak-anaknya menunggu senja.


"Mas. Aku mau itu" tunjuk Zantisya.


Ini adalah pertama kalinya Zantisya meminta sesuatu saat hamil. Arjuno langsung mengikuti arah tunjuk Zantisya. Tepat pada anak lelaki yang tengah menikmati jajanan gula kapas yang berbentuk bola.


"Ayo kita beli dek. Itu yang jual gula kapasnya."


"Nggak mau mas. Aku maunya punya anak itu. Ganteng banget lagi itu mas bocah kecil" puji Zantisya.


"Adek mau gula kapasnya atau anaknya?"


"Gula kapas punya anak itu." Rengek Zantisya.


"Tapi itu punya anak itu dek. Kita beli sendiri saja ya."


Arjuno mulai merayu. Lagipula mana mungkin ia meminta milik anak kecil itu. Walaupun ada gantinya, iya kalau mau.


"Aku maunya itu mas" tegas Zantisya nggak bisa ditawar lagi.


Akhirnya Arjuno meminta Zantisya untuk duduk disebuah kursi menunggu Arjuno membeli gula kapas.


Dengan cepat Arjuno lari membeli gula kapas. Namun sayangnya sudah tidak ada gula kapas yang berbentuk bola. Mau tidak mau karena tidak ada pilihan lain Arjuno membeli gula kapas yang ada saja.


Arjuno mendekati seorang anak dan laki-laki yang kisaran umurnya sepuluh tahun atau mungkin lebih, yang ditemani seorang perempuan. Sudah dipastikan itu pasti ibunya.


"Permisi bu" ucap Arjuno pada perempuan yang rambutnya diikat seperti ekor kuda. Sedangkan Zantisya terus menatap gula kapas yang dipegang anak lelaki yang besarnya pasti akan menawan.


"Iya ada apa?"


"Bu maaf, istri saya sedang hamil. Dia ingin sekali gula kapas yang di pegang anak ibu. Kalau boleh saya tukar dengan ini" ucap Arjuno hati-hati.


Perempuan yang semakin nampak dewasa itu langsung menatap anaknya yang sepertinya sudah dengar apa yang diminta Arjuno.


"Zen..."


"Zen nggak mau nda. Ini punya Zen bagus. Zen nggak mau gula kapas kaya gitu. Apa lagi warnanya pink" Zen menolak mentah-mentah gula kapas yang dibawa Arjuno.


"Zen, nda nggak pernah ajari Zen seperti ini ya."


"Kan sama-sama gula kapas nda. Kenapa minta punya Zen?"


"Zen mau adik nggak?" tanyanya yang langsung di angguki Zen dengan sangat cepat. "Itu diperut tante ada adeknya. Adeknya lagi pengen gula kapasnya Zen, kasian nanti kalau nggak dikasih adeknya encesan."


Zen nampak berfikir sesuatu. "Boleh. Tapi ada syaratnya om." Ucap Zen menatap Arjuno.


"Zen nggak baik seperti itu nak."


"Nggak apa-apa bu. Apa syaratnya?" tanya Arjuno yang mulai merasa senang karena sudah mendapatkan lampu hijau dari anak kecil didepannya kini.

__ADS_1


"Karena ayah Zen belum datang kesini. Om harus temani aku lari memutari alun-alun tiga kali. Nggak boleh berhenti ya om."


Betapa terkejutnya Arjuno dengan syarat bocah tengil dihadapannya kini. Hanya demi gula kapas ia harus lari memutari alun-alun. Kalau satu kali mungkin Arjuno langsung menyanggupi. Tapi ini tiga kali.


"Mas" lirih Zantisya.


Arjuno menatap Zantisya yang sudah bersemu bahagia. Wajahnya bahkan sudah nampak sangat menginginkan gula kapas yang ada ditangan Zen.


"Setuju!" Ucap Arjuno yakin.


Arjuno memang menyukai olahraga. Tapi buka lari, ia harus mempersiapkan diri jika nanti di tertawakan anak kecil tengil ini.


"Ini buat tante." Zen memberikan gula kapasnya pada Zantisya.


Dengan senang hati dan wajah berbinar bahagia Zantisya menerimanya. "Terimakasih anak ganteng."


Zen mengangguk. "Zen tahu kalau Zen ganteng tante."


Perempuan yang tak lain adalah ndanya Zen langsung tepuk jidat dengan kepedean anaknya yang masuk level akut.


Sedangkan Zantisya malah menahan tawanya karena sikap anak yang bernama Zen ini sama persis seperti Arjuno.


Arjuno langsung memberikan gula kapasnya pada Zen. Zen langsung menerimanya dan langsung memberikan gula kapasnya pada ndanya.


"Kenalan dulu om sama rivalnya" Zen mengulurkan tangannya kehadapan Arjuno.


Lelaki dewasa itu sepertinya ingin menepuk jidatnya sendiri menghadapi anak kecil yang super tengil dan kepedean level akut.


"Zain Dzuhairi Sucipto" ucap Zen setelah tangan Arjuno menjabat tangannya. "Om bisa panggil anak terganteng ini dengan Zen."


"Astaghfirullah Zen..." Ndanya Zen sampai tepuk jidat lagi.


"Ya sudah om. Nggak usah kelamaan ayo kita lari sekarang. ingat nggak boleh istirahat" peringatan Zen yang memang menggunakan atribut joging.


"Yang bikin lama juga kamu sendiri bocah tengil" batin Arjuno. "Ayo. Keburu subuh "


Akhirnya Arjuno dan Zen mulai lari. Menuruti apa yang menjadi persyaratan Zen.


"Sini duduk."


Zantisya pun langsung duduk disamping ibunya Zen.


"Nissa." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Zantisya. Mbak bisa panggil Tisya." Ucap Zantisya sambil menjabat tangan Nissa.


"Hamil anak pertama ya?"


"Iya mbak. Zen anak pertama juga mbak?" Tanya Zantisya.


"Dia anak kedua. Sudah berapa bulan?"


"Mau dua bulan mbak."


Akhirnya dua perempuann itu terus mengobrol sambil menunggu Arjuno dan Zen yang masih lari mengitari Alun-alun.

__ADS_1


Arjuno dan Zen datang dengan nafas tersengal. Keduanya langsung duduk dibawah dengan kaki selonjor kedepan dan dengan mengatur nafasnya yang masih memburu.


"Om kalah."


"Zen yang bikin om kalah ya" Arjuno tidak terima.


Karena tadi seharusnya ia yang menang. Perkara tertipu muslihat akal Zen membuat Arjuno kalah.


"Tetap saja om kalah."


Arjuno mengalah saja dengan bocah tengil disampingnya. Ia lebih memilih menerima uluran air mineral dari Zantisya. Dan secara bersamaan lelaki beda usia itu meneguk air minum sebanyak mungkin.


"Pulang sekarang ya dek." Ajak Arjuno setelah nafasnya sudah teratur.


"Iya. Mbak kita pulang lebih dulu ya."


"Iya. Hati-hati ya."


Zantisya mengangguk. "Bye anak ganteng" ucap Zantisya pada Zen.


"Bye tante cantik, bye om kalah" memang dasarnya Zen super tengil.


Arjuno sangking gemesnya ingin sekali menarilk Zen agar tidak mengalahkan tingkat jahilnya.


"Tante..." teriak Zen lari mendekati Arjuno dan Zantisya.


"Kenapa?" Tanya Zantisya setelah berbalik badan melihat Zen yang mendekat.


"Ini gula kapasnya buat tante. Nanti kalau adeknya perempuan buat Zen ya."


Zantisya langsung menerima gula kapas yang diulurkan Zen. Bocah lelaki itu langsung lari meninggalkan mereka setelah meledek Arjuno yang menatapnya kesal.


"Dikira boneka apa asal diminta-minta." Gerutu Arjuno kesal.


"Mas ini" Zantisya malah menertawakan wajah kesal Arjuno.


Arjuno langsung mengemudikan mobilnya menuju pulang. Sejak tadi ia melirik Zantisya yang hanya memainkan gula kapas milik Zen.


"Kok nggak dimakan dek?" tanya Arjuno heran.


"Nggak pengen dimakan mas" jawab Zantisya santai.


"Terus kalau nggak di makan buat apa sayang?"


"Di pegang" Zantisya menjawab tanpa rasa bersalah.


Arjuno seketika menepuk jidatnya. Bisa-bisanya perjuangannya mendapatkan gula kapas, hingga selelah itu hanya untuk dipegang saja oleh sang istri.


Bersambung...


Nissa dan Zen tokoh dari novel NISSA. Yang sudah baca novel itu pasti tahu ya πŸ₯° yang belum tahu jangan lupa mampir 😌



Jangan lupa juga mampir di novel terbaru ku πŸ₯°

__ADS_1



Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2