HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 92 BERTAHAN UNTUK KAMI


__ADS_3

Hidup dan mati adalah milik sang pencipta. Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berharap di berikan tambahan umur untuk merasakan hal-hal yang membahagiakan yang belum sempat kita rasakan. Namun itu juga hanya sebuah harapan. Sebuah doa yang bisa saja terkabul atau pun tidak.


Zantisya menatap punggung dokter Ani sampai tak berkedip. Ia sampai abaikan tubuhnya yang sedang mendapatkan tindakan karena sedang dalam proses pengeluaran plasenta.


Matanya memerah menatap nanar tindakan sang dokter. Nafasnya terasa berhenti karena tidak siap jika apa yang menjadi ketakutan Zantisya saat ini akan terjadi. Hatinya terus berucap memohon agar memberikannya waktu untuk bisa membesarkan kedua anaknya.


Sedangkan Arjuno menundukkan wajahnya. Matanya terpejam karena tidak sanggup menyaksikan semua tindakan yang sedang dilakukan dokter Ani pada anak kedua mereka.


Satu menit mencekam zantisya dan juga Arjuno. Mereka benar-benar terasa dicekik karena menunggu keberhasilan tindakan dokter Ani saat ini.


"Owek... owek..." bayi kedua Zantisya dan Arjuno menangis menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan persalinan.


"Alhamdulillah." Ucap syukur semua orang yang ada disana secara bersamaan.


Karena sejak tadi bukan hanya Arjuno dan Zantisya yang tegang melihat tindakan dokter Ani. Tapi juga tenaga medis yang sedang melanjutkan tindakan pada Zantisya.


Seketika nafas Arjuno dan Zantisya melega. Detak jantung mereka langsung bekerja normal karena hal mencekam sudah terlewati. Sekarang mereka tinggal mengetahui kesehatan kedua anaknya bagaimana.


Bagaimana pun Arjuno harus was-was mengingat kedua anaknya lahir dalam usia kandungan 34 minggu. Belum genap 9 bulan. Meski keterangan dokter Ani hal seperti ini wajar terjadi pada kehamilan kembar.


"Selamat ya pak, bu. Anak keduanya laki-laki."


"Alhamdulillah." Ucap syukur Arjuno dan Zantisya bersamaan.


"Silahkan di Adzani dulu pak anaknya. Setelah ini kami harus membawa kedua anak bapak keruang bayi untuk mendapatkan perawatan selanjutnya."


"Baik bu."


Satu jam sudah berlalu. Kini Zantisya sudah dipindahkan keruang perawatan. Arjuno duduk di kursi sambil mencium tangan Zantisya yang berada dalam genggamannya.


"Terimakasih ya dek. Sudah berjuang dan bertahan untuk kedua anak kita."


"Terimakasih mas, karena sudah selalu ada buat aku. Nemani aku bagaimana putra putri kita lahir."


Benar apa yang dikatakan orang-orang. Suami akan bertambah sayang dan cinta saat menyaksikan bagaiman perjuangan istrinya melahirkan buah hati mereka.


Dan saat ini juga yang sedang dialami Arjuno. Hingga ia sendiri tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan isi hatinya. Debaran yang ia rasakan kini semakin besar.


Arjuno membungkuk dan langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Zantisya. Menempelkan hidungnya pada ujung hidung Zantisya. Lalu kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


"I love you dek." Mungkin hanya kata itu yang bisa mewakili bagaimana rasa hati Arjuno yang semakin menjadi pada istrinya saat ini.


Zantisya tersenyum. "I love you too mas."


Keduanya seperti lupa waktu. Lupa keadaan dan lupa tempat. Melupakan bahwa Zantisya baru saja melahirkan. Arjuno yang memulai kini Zantisya yang memperjelas tindakan.


Karena tangan Zantisya yang tiba-tiba menarik tengkuk Arjuno untuk saling berperang bi*bir. Mencecep pelan dan sangat menikmati suasana yang tiba-tiba terasa romantis.


Suasana tiba-tiba menghangatkan keduanya karena aktifitas sederhana mereka yang melupakan sejenak kalau mereka berada dirumah sakit.


Tok...


Tok...


Tok...


Suara ketukan pintu yang terdengar tiba-tiba membuat keduanya langsung mengakhiri aktifitas mereka. Arjuno dengan cepat mengusap bi*bir Zantisya yang terlihat memerah.


"Permisi pak, bu. Maaf saya mengganggu istirahat ibu sebentar." ucap tenaga medis sambil mendorong kursi roda.


"Tidak mengganggu Bu." Ucap Zantisya ramah.


"Saya ingin memberikan sedikit informasi bahwa anak bapak dan ibu saat ini sedang dalam perawatan intensif. karena lahir diusia kehamilan 34 Minggu dan berat badan lahir rendah ya bu, pak."


"Berat badan anak kami berapa ya Bu?" Tanya Arjuno cepat.


"Bayi pertama bapak lahir dengan berat 2000 gram. sedangkan bayi kedua bapak 1800 gram. Keduanya saat ini sedang dalam penanganan bu, pak."


Bayi normal lahir 2500 gram. Sedangkan kedua anaknya, beratnya tidak sampai berat normal lahir.


Zantisya dan Arjuno saling tatap. Sorot mata keduanya kini saling menjelaskan untuk saling menguatkan. Mereka harus positif thinking kalau kedua anaknya pasti kuat untuk melewati ini semua.


"Ibu apa ASI nya sudah keluar?" Tanyanya.


"Sedikit bu." jawab Zantisya lemah.


"Bapak sudah tahu cara pijat oksitosin?"


"Sudah bu."

__ADS_1


Arjuno memang tidak pernah absen saat menemani Zantisya datang di kelas hamil. Sungguh banyak manfaat yang di dapat Arjuno karena selalu hadir.


"Selain ibu mengonsumsi makanan sehat. Bapak juga bisa rajin memijat oksitosin pada ibu Zantisya agar produksi ASI nya semakin banyak." Arjuno mengangguk. "Apa bapak dan ibu sudah punya nama untuk adek kembarnya?"


"Sudah bu."


"Kalau sudah ada, bapak silahkan ke ruang jaga untuk memberikan nama yang sudah di siapkan untuk kedua anak bapak dan ibu, agar kami bisa membantu surat keterangan lahir untuk kedua anak bapak dan ibu. Dan ibu Zantisya sementara saya antar untuk mengASI anak pertama bapak dan ibu."


"Mereka akan baik-baik saja kan Bu?" Tanya Zantisya pelan.


"Insha Allah Bu. Kita sama-sama berdoa ya. Nanti dokter bayi yang memeriksa anak bapak dan ibu akan menjelaskan hasil pemeriksaan secara langsung."


Arjuno langsung membantu Zantisya turun dari atas ranjang untuk berpindah ke kursi roda.


Petugas medis langsung berlalu membawa Zantisya menuju ke ruang bayi. Sedang Arjuno langsung menuju ke ruang jaga untuk menyerahkan kedua nama anak kembarnya.


Zantisya sudah duduk disebuah, diruang laktasi. Menunggu perawat mengantar bayi perempuannya untuk ia berikan ASI pertama kali.


Tangan Zantisya langsung mengambil alih bayinya. setelah perawat yang mengantar anak pertamanya keluar dari sana. Zantisya langsung mengeluarkan salah satu pusat produksi Susu terbaik di dunia.


"Bismillahirrahmanirrahim" ucap Zantisya sebelum menyodorkan pucuknya pada mulut bayi mungilnya.


Dengan pintarnya, bayi perempuan dalam gendongan Zantisya langsung menghisap kuat. Seolah ingin meraup semua yang ia butuhkan saat ini.


"Aw..." lirih Zantisya menahan sakit.


Tangan Zantisya mengusap pipi bayi mungil yang terlihat bergerak karena begitu kuatnya mulut bayi mungilnya menghisap.


Zantisya langsung menghujani banyak kecupan di kepala bayinya.


"Terimakasih sudah bertahan untuk ayah dan bunda nak. Kamu harus kuat dan sehat. Kita harus sama-sama berdoa untuk adikmu sayang."


Setelah 30 menit berlalu. Bayi perempuannya sudah kembali masuk di inkubator. Sebenarnya Zantisya juga ingin memberikan ASI untuk anak keduanya namun itu semua tidak bisa ia lakukan saat ini.


Kaki Zantisya melemas. Tapi ia masih bertahan untuk berdiri. Menatap kedua anaknya dari balik kaca. Air matanya jatuh begitu saja saat melihat anak keduanya. Entah alat apa saja yang menempel pada anak laki-lakinya kini.


"Tolong kalian bertahan untuk kami nak." Lirih Zantisya sambil menghapus air matanya yang menjejaki pipi.


Bersambung...

__ADS_1


Awalnya aku berniat mengakhiri cerita ini cukup sampai disini dan lanjut ke S2. Tapi kok tiba-tiba aku belum puas sendiri πŸ˜‚ aku berusaha stok bab dulu ya biar bisa double update πŸ™


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan πŸ₯° kasih like dan komennya πŸ’‹ tab favorit juga ya ❀️


__ADS_2