HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 21 KENANGAN BUNGA TULIP MERAH


__ADS_3

Namun langkah Rani terhenti kala melihat Arjuno menatap Zantisya. Begitu pula Zantisya yang sesaat menatap Arjuno kemudian menunduk karena Arjuno yang Acuh langsung melangkah mendekati Rani.


"Maaf nunggu lama" ucap Arjuno.


Rani langsung Ikut duduk didepan Arjuno. "Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rani hati-hati.


"Memangnya aku kenapa?" Arjuno malah balik tanya.


Rani menghembuskan nafasnya. "Jangan bilang kamu sudah Tahu" tebak Rani.


Arjuno jelas bingung dengan apa yang di maksud Rani. Karena tidak ada yang tahu perasaanya pada perempuan yang telah menjadi istri orang itu.


"Zantisya. Dia…"


"Dia sudah menikah" potong Arjuno. "Ayo kita bahas pekerjaan kita. Kasian anak-anak nanti nunggu kamu terlalu lama"


"Apa ruang VIP udah full"


"Udah" Arjuno langsung menghidupkan tablet miliknya.


"Kamu ini, bisa-bisanya pemilik nggak ke bagian ruangan VIP yang jelas lebih nyaman untuk urusan kerja" Gerutu Rani.


Zantisya dan Laras sedang berada di toko bunga tak jauh dari rumah sakit. Hari ini Laras sengaja mengajak Zantisya menjenguk temannya yang sedang sakit. Laras sedang menunggu buket bunga yang ia pesan sedangkan Zantisya sedang melihat-lihat bunga. Ia diam terpaku ketika melihat bunga yang ada dihadapannya. Buang berwarna merah yang menjadi kenangannya bersama seseorang yang sangat ia rindukan. Bunga tulip.


"Mas Arjuno" gumamnya lirih. Matanya terpejam, indra penciumannya menghirup wangi yang sangat ia kenal. "Ada apa ini"gumamnya. "Kenapa wanginya terasa sangat dekat"


Arjuno masuk ke dalam toko bunga. "Iya, ini saya sudah di depan rumah sakit. Kamu kirim ruangan anak kamu dimana ya" pinta Arjuno sambil melihat-lihat bunga yang ada disana. Mata teduhnya memaku melihat bunga tulip. Kakinya langsung melangkah mendekat mengambil setangkai bunga tulip merah. Di sampingnya ada seorang perempuan yang berdiri dan terus menunduk.


Arjuno tersenyum pedih menatap bunga dalam genggamannya. "Semoga kamu bahagia" gumam Arjuno yang terdengar jelas di telinganya.


Detak jantung Zantisya terasa bergemuruh mendengar suara khas yang sangat ia kenal. Ia langsung membuka kedua kelopak matanya dan melihat siapa yang ada disampingnya. Siapa sang pemilik suara yang sangat ia kenal.


"Mas…" lirih Zantisya membuat senyum yang ada di bibir Arjuno seketika sirna.


Bunga tulip yang tadinya sedang Arjuno cium langsung menjauh dari bibirnya. Arjuno memutuskan tatapan keduanya. Keduanya memilih diam mematung disana. Dan akhirnya tangan Arjuno mengulurkan setangkai bunga tulip pada Zantisya. Zantisya pun langsung menerimanya.


"Ayo sayang" ajak Laras. "Kamu suka bunga itu?" tanya Laras melihat Zantisya menggenggam setangkai bunga tulip.


Arjuno langsung mengambil bunga secara asal. "Terimakasih ya mbak atas sarannya"

__ADS_1


Zantisya menatap Arjuno bingung. "Pacar saya pasti suka menerima bunga ini"


Laras tersenyum kearah Arjuno. "Kekasih mu pasti akan tahu bagaimana dalamnya perasaan mu nak" ucap Laras mendekati keduanya.


"Semoga" ucap Arjuno. Tatapan Arjuno dan Zantisya bertemu sesaat. Arjuno menatap Laras dan ia pun tersenyum.


"Ayo bayar bunganya dulu" ajak Laras pada Zantisya.


"Biar sekalian dengan bunga saya bu. Biar saya yang bayar sebagai ucapan terimakasih"


"Loh jadi merepotkan" ucap Laras.


"Tidak sama sekali Bu"


"ini bisa kamu berikan Suami kamu sayang. Bima pasti suka" ucap Laras. Zantisya tersenyum menatap Laras lalu ke Arjuno. Hatinya terasa sangat perih.


"Satu tangkai bunga itu akan menjadi simbol satu cinta untuk suami mbak" ucap Arjuno.


"Betul itu sayang" ucap Laras sambil menepuk punggung Zantisya.


"Kalau begitu saya permisi bu, mbak"


"Iya terimakasih nak"


Malam ini Zantisya hanya duduk di balkon kamar. Matanya terus memandang sendu langit yang tanpa bintang. Namun rembulan nampak terang menerangi malam gelap membuatnya teringat akan sebuah kenangan. Ujung jari Zantisya menyentuh bibirnya.


"Aku tahu ini salah dan itu terasa seolah aku mengkhianati pernikahan ini. Tapi kenapa aku tidak menyesal. Maaf kan aku Tuhan" lirih Zantisya.


Keesokan paginya Bima baru pulang dari kantor karena semalam lembur bersama tim khususnya. Bima langsung menuju kamarnya setelah menyapa Laras. Didalam kamar ia tidak mendapati Zantisya. Bima langsung melepas pakaiannya menyisakan celana bokser kemudian menutupi tubuh kekarnya menggunakan bathrobe.


Bima langsung turun dan langsung menuju kolam renang. Bima melihat Zantisya yang tengah menyirami bunga yang ada di dekat gazebo. Ia pun langsung melepas bathrobenya dan masuk kedalam kolam renang. Sepagi ini bima memang ingin mendinginkan tubuhnya, gara-gara semalam Evita mengirimi ia foto gunung kembarnya yang semakin nampak membesar. Ingin rasanya Bima menghampiri Evita dan langsung melahapnya namun itu tidak dapat Bima lakukan karena terlalu banyak pekerjaan. Kasihan sekali.


Entah berapa kali bima berenang kesana kemari menenangkan raganya yang panas. Akhirnya Bima menepi bersandar pada pinggiran kolam renang. Matanya menangkap Zantisya yang tengah tersenyum lebar. Bercanda ria dengan pegawai kebunnya.


"Cantik" gumam Bima tanpa sadar melihat tawa lepas Zantisya. Bima langsung naik, keluar dari kolam renang dan langsung memakai bethrobenya lagi. ia duduk di kursi yang ada tak jauh dari kolam renang. Bima meminum jus apel yang ia minta tadi sebelum berenang. Matanya masih menatap lekat Zantisya yang terus melakukan aktivitasnya.


Laras yang ingin memanggil anaknya langsung terdiam seraya tersenyum saat mendapati anaknya yang tengah menatap istrinya itu. Bima masih terus melamun tanpa mengetahui kedatangan Laras yang duduk di kursi tak jauh darinya.


"Baru sadar ya kalau Tisya itu cantik" goda Laras membuat lamunan Bima bubar barisan.

__ADS_1


"Apaan sih ma" elak Bima.


"Tisya yang menanam bunga yang ada dipinggir gazebo" ucap Laras. Namun Bima masih memilih diam. "Mama bersyukur bertemu dengannya dan mama harap kalian bahagia. Apalagi sebentar lagi kalian akan memiliki seorang anak. Bayi yang akan memenuhi setiap ruangan rumah ini dengan tangisnya"


Mendengar kata 'Anak' Bima langsung menarik nafas dalam-dalam. Seketika rasa bersalah hadir didalam hatinya karena dengan bodohnya ia mengagumi Zantisya dan melupakan Evita. Wanita yang akan memberinya seorang anak untuknya. Untuk kelangsungan keturunan keluarga Sanjaya.


Sore harinya Zantisya dan Laras baru saja memasuki rumah megah keluarga Sanjaya.


"Cepat kekamar sana, kamu pasti lelah menemani mama bertemu teman-teman mama" perintah Laras.


Zantisya langsung menaiki anak tangga, dengan membawa beberapa paper bag yang di belikan Laras. Dengan sangat hati-hati Zantisya membuka pintu. Ia melihat ranjang tidak nampak keberadaan Bima disana.


Zantisya meletakkan belanjaanya di sofa lalu mengambil pakaian ganti untuk membersihkan tubuhnya.


"Aaa…" teriak Zantisya saat memasuki kamar mandi dan mendapati Bima yang baru keluar dari Bathtub dengan keadaan tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh polosnya.


Zantisya langsung keluar, lari dengan sangat cepat. Bukan hanya keluar dari dalam kamar mandi tapi juga keluar dari kamar mereka. Cari aman.


Hingga satu jam lebih Zantisya tidak melihat tanda-tanda Bima keluar dari kamarnya. Akhirmya ia memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamar.


"Heh. Nggak perlu lari seperti tadi, toh itu bukan pertama kalinya kamu melihat tubuh polos ku" sindir Bima dengan jengkel. Ia kesal saat kepergok sedang bercinta dengan Evita. Bima melihat kehadiran Zantisya dari ujung matanya saat itu. Namun ia abaikan karena pelepasannya sebentar lagi dan mencoba tetap fokus.


Zantisya diam tak ingin membahas apapun dengan Bima. Toh dia tidak punya wewenang mencampuri urusan pribadinya. Bodo amat pokoknya.


Bima kesal melihat Zantisya yang diam tak menanggapinya dan mengacuhkannya. Bima melangkah lebar mendekati Zantisya dan langsung mencekal erat lengan zantisya.


Zantisya menahan rasa sakitnya. "Kenapa kak?"


"Kamu. Beraninya kamu mengacuhkan aku" desisi Bima tak terima.


"Lalu aku harus bilang apa kak?" suara Zantisya tetap lembut. Membuat Bima terhipnotis saat wajah mereka sangat dekat. Melihat betapa cantik alaminya istrinya itu. "Kita sudah saling sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi. Itu ada di perjanjian kontrak kalau kakak lupa" Zantisya dengan cepat membahas tentang perjanjian mereka karena melihat tatapan Bima yang begitu ingin terhadapnya.


Seketika Bima menghempaskan tubuh Zantisya dengan sangat kasar. Ia bingung denga pikirannya sendiri yang tiba-tiba seolah menginginkan Zantisya. Perempuan yang telah membuat kesepakatan dengannya.


Bersambung...


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 🥰


Selamat siang dan selamat beraktifitas 💪💪💪

__ADS_1


__ADS_2