HUJAN, Beri Aku Cinta

HUJAN, Beri Aku Cinta
BAB 49 KEMUNGKINAN KEPERGOK


__ADS_3

Pagi ini Arjuno duduk santai diruang keluar menonton televise. Melihat berita yang tengah viral yang di tayangkan salah satu chanel DS Group. Siapa yang tidak tahu perusahaan DS Group yang menaungi empat chanel stasiun televisi itu. *(DS Group adalah perusahaan yang dipimpin Yusuf Dzuhairi Sucipto. Yang mau tau kisahnya mampir di novel NISSA).


Sedangkan Zantisya mengambil alat vakum cleaner hendak membersihkan seluruh ruangan.


"Mas nggak ke kantor?" tanya Zantisya sambil menghubungkan alat vakum pada listrik.


Arjuno melihat istrinya lalu berdiri dan menghampirinya. "Males dek. Bi Tami dimana?"


"Lagi nyetrika mas"


Arjuno merebut alat vakum dari tangan Zantisya. "Tolong buatkan jus dek"


Zantisya mengangguk. "Mau jus apa mas?"


"Ada buah apa aja dek?" tanya Arjuno sambil menghidupkan alat vakum dan mulai membersihkan ruangan.


"Apel, pir, nanas, alpukat. Mas mau yang mana?"


Arjuno nampak berfikir. "Eemm… alpukat aja dek"


Zantisya langsung menuju dapur. Dan segera membuat apa yang di minta suaminya. Tak perlu waktu lama Zantisya sudah kembali membawa segelas jus dan meletakkan diatas meja.


Perempuan berdaster dengan memakai jilbab warna biru tua itu langsung menghampiri suaminya.


"Mas, jusnya di meja. Sini biar aku teruskan" pinta Zantisya.


"Biar aku aja dek, kamu duduk sana. Toh tinggal sedikit lagi"


Zantisya tak membantah, ia langsung duduk disofa. Mau membantah pun percuma untuknya, karena suaminya memang selalu begitu kalau sedang dirumah. Apapun yang ingin di kerjakan Zantisya pasti langsung direbut. Seolah tak memperbolehkan ratunya bekerja keras. Mungkin.


Setelah selesai, Arjuno langsung menghampiri Zantisya dan duduk disebelahnya. "Alhamdulillah selesai"


"Mas pasti capek kan?"


"Enggak kok" jawab Arjuno setelah meminum setengah gelas jus yang dibuat Zantisya tadi. "Aku mau upah dek"


Zantisya mulai memandang curiga suaminya. "Upah apa mas"


"Kasih aku pelukan" ucap Arjuno sambil merentangkan tangan menanti Zantisya menghambur mendekapnya.


"Peluk aja ya mas" Zantisya memang harus curiga dengan Arjuno.


"Janji"


Zantisya langsung menghambur kepelukan suaminya dan detik itu juga Arjuno merebahkan tubuhnya membuat Zantisya menimpa tubuh Arjuno.


"Mas…"

__ADS_1


"Janji kalau aku bakal minta lebih" ucap Arjuno kemudian menarik tengkuk Zantisya melancarkan aksinya.


"Mas dirumah masih ada bi Tami" peringatan Zantisya saat Arjuno mengakhiri cecapan mereka.


"Kan bi Tami lagi nyetrika sayang" ucap Arjuno sambil menyentuh bibir Zantisya yang nampak semakin memerah. "Seksi" itulah kata yang ada di kepala Arjuno untuk menilainya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Arjuno mulai mencecap ulang sesuatu yang semakin hari semakin membuatnya candu. Tangannya yang usil sudah mulai membelai punggung Zantisya.


Baju daster rasanya seolah tidak melekat ditubuh Zantisya, membuatnya semakin terbuai. "Mas…" Zantisya merintih lirih karena terbuai namun isi kepalanya masih dapat mengingat kalau dirumah ini bukan hanya mereka berdua.


Arjuno kembali mencecap Bibir Zantisya dan tangan usilnya semakin nakal karena mulai meremas mainan yang masih tertutup daster yang Zantisya kenakan.


"Mbak Tisya…"


Samar-samar dua insane yang terbuai gelora panasnya cinta itu mendengar suara bi Tami memanggil Zantisya. Namun seolah tuli Arjuno mempererat dekapannya tidak membolehkan Zantisya yang ingin beranjak dan mengakhiri segalanya.


Pikiran Zantisya yang sudah mulai bercabang mulai tidak fokus. Untuk saat ini beruntung bi Tami tidak melihat tubuh keduanya karena sandaran sofa yang tinggi. Tapi kalau bi Tami sampai naik ke atas menuju kamar mereka, akan ada kemungkinan aktifitas mereka kepergok, kan malu.


"Mbak…"


Dengan gerak cepat Zantisya beranjak dari atas tubuh Arjuno. "Iya bi" Zantisya sekilas menatap suaminya agar paham untuk tidak ikut beranjak. Zantisay langsung melangkah menuju bi Tami sambil membenarkan Jilbabnya.


"Mbak ketiduran?" tebak bi Tami karena Zantisya mengusap wajahnya.


"Iya bi" jawab Zantisya sambil mengulas senyuman karena meredakan suhu tubuh yang terasa panas dan nafas yang masih terasa berat.


"Iya bi. Pak totoknya sudah datang bi?"


"Nunggu di warung depan mbak"


Zantisya mengangguk paham. "Hati-hati ya bi"


.


.


.


Zantisya langsung menuju dapur untuk meneguk air dingin agar suhu tubuhnya segera turun. Dua gelas tandas, rasanya tenggorokannya kembali normal.


"Mas…"


Arjuno memeluk Zantisya dari belakang. "Yes sayang" Arjuno melepas jilbab Zantisya untuk mempermudahnya menyesapi leher istrinya yang pasti sudah tidak mulus karena banyak jejak karyanya.


Zantisya memejamkan matanya meresapi perlakukan Arjuno yang sepertinya sangat kecanduan terhadapnya. Sampai tanpa sadar dasternya sudah merosot kebawah.


Arjuno membalik tubuh istrinya. "Dek…"

__ADS_1


Zantisya langsung membuka kedua matanya dan mengangkat wajahnya agar bisa menatap wajah suaminya. "Iya mas"


"Mau coba disini?" Tanya Arjuno menunjuk kursi yang ada disana.


Zantisya tersenyum. "Dengan senang hati"


Dan akhirnya mereka pun olahraga disana.


(Udahlah capek aku sama pasangan ini😭)


.


.


.


Sore harinya Arjuno duduk di depan rumah sambil menikmati makanan ringan yang ia bawa dari dapur. Di halaman rumah ada pekerja yang selalu membersihkan halam depan dan belakang rumah setiap pagi dan sore harinya.


"Jalan yuk mas" ajak Zantisya yang baru saja menghampiri suaminya dan ikut duduk disampingnya.


"Kemana?" tanya Arjuno sambil menyuapkan makanan ke mulut Zantisya.


"Alun-alun" Zantisya langsung mengunyah suapan Arjuno tadi.


Arjuno mengangguk. "Aku ambil kunci mobil dulu sayang"


"Kita jalan kaki aja mas, deket ini"


Arjuno menuruti permintaan Zantisya. Jarak alun-alun dengan rumahnya sekitar lima belas menit jalan kaki. Lumayan romantislah jalan berdua sambil bergandeng tangan seperti ini.


Arjuno, Zantisya dan beberapa orang disana berdiri di tepi jalan menunggu lampu merah agar mereka bisa menyebrang sampai ke alun-alun kota.


Arjuno merangkul Zantisya dan langsung menyebrang kala lampu sudah berganti merah. Terlihat senyum canda tawa keduanya menyebrangi jalan hingga sesekali terlihat Arjuno menarik pipi Zantisya gemes.


Membuat seseorang yang berada didalam sebuah mobil menatap dengan gemuruh jiwa penuh kecemburuan.


Tapi pantaskah orang itu cemburu hingga rahangnya mengeras karena menahan amarah. Tapi ia harus marah pada siapa karena pusat kesalahannya ada padanya dirinya, Bima Sanjaya.


Mata Bima menatap pasangan suami istri itu hingga sampai pada sebrang jalan. Matanya merah memanas karena sampai tak berkedip. Hingga ia tidak menyadari lampu lalu lintas sudah berganti warna menjadi hijau.


Semua kendaraan dibelakang Bima ramai menekat klaksonnya karena Bima belum juga menjalankan kendaraannya. Yah lagian itukan tempat jalanan umum dan memang sudah waktunya jalan, maka wajar saja jika seperti itu.


Saat Bima sadar dari lamunannya ia langsung menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya selalu saja dipenuhi nama mantan istrinya itu.


"Dari semua yang kamu lakukan dulu pada ku, apakah tidak sedikit pun kamu menaruh hati pada ku Tisya" gumam Bima seolah berharap perasaan Zantisya ada untuknya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️


__ADS_2