
Sejak tadi setelah mereka pulang dari restoran, Zantisya jelas sangat irit bicara. Setelah makan malam biasanya mereka menonton film dulu dan mala mini Zantisya langsung menuju kamar dan membaca buku.
Arjuno jadi heran sendiri kenapa dengan istrinya kini. Arjuno langsung menuju kamar mandi untuk menggosok gigi dan berwudhu, memang itu kebiasaannya bersama sang istri sebelum tidur. Tak perlu lama-lama Arjuno sudah keluar dari kamar mandi.
Arjuno melangkah menuju ranjang dan langsung naik mendekati istrinya. Arjuno dengan sikap jahilnya langsung menyusupkan ke kepalanya diantara kedua tangan Zantisya yang sedang memegang buku.
"Mas." Zantisya terkejut dengan keisengan suaminya dan membuat bukunya terjatuh.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Arjuno saat dagunya mendarat diantara si kembar kesukaannya. Modus asli.
"Memangnya aku kenapa mas?" tanya Zantisya sambil membelai rambut Arjuno.
"Dari tadi irit bicara, biasanya kita nonton film sebentar dan ini nggak. Kenapa hem?" sungguh lelaki peka.
"Nggak kenapa-napa mas."
"Biasanya adek terbuka kalau ada apa-apa, apa perlu aku bukain?" modus Arjuno sambil membuka kancing piyama istrinya.
"Halah ini mah mas mau modus kan?" todong Zantisya sambil menarik kedua pipi suaminya.
"Lagian biasanya pake yang gampang dibuka kenapa sekarang rapet banget." Heran Arjuno sambil terus membuka kancing baju istrinya.
"Mas mau?" tanya Zantisya. Mau yang itu-itu ya maksudnya.
Arjuno menggelengkan kepala tapi tangannya sudah berhasil melepas piyama istrinya dan langsung terekspos lah si kembar yang memang tidak diamankan pakaian dalam.
"Aku mau tahu apa yang ada dipikiran adek saat ini." Ucapnya sambil bermain dengan pucuk si kembar.
"Tapi kan nggak kaya gini juga mas kalau mau tahu apa yang ku pikirkan."
"Sudah terlanjur dek, mubazir kalau di tutup lagi."
Zantisya menarik nafasnya yang tiba-tiba terasa berat. "Mas, dulu tahu mbak Rani suka sama mas?"
"Tahu, Kenapa dek?" tanya Arjuno santai.
"Kok mas nggak kaget aku tanya ini?"
"Adek sudah tahu ya sudah, memangnya adek mau aku gimana?"
"Mbak Rani kan cantik banget, mas nggak suka sama mbak Rani?"
Arjuno yang sejak tadi berfokus pada si kembar langsung sedikit memberikan gigitan disana sangking gemesnya sama istrinya ini.
"Mas." pekik Zantisya sambil memukul punggung Arjuno saat merasakan gigitan yang lebih kuat dari biasanya.
__ADS_1
Arjuno langsung duduk, beranjak dari atas tubuh istrinya. "Aku memang nggak suka sama Rani, maksud ku dalam hal cinta untuk Rani dek, dekat dengannya pun karena dulu aku membantu mengurus perusahaannya. Itu pun atas amanah suami Rani sebelum meninggal. Aku sama sekali nggak punya perasaan lebih sama dia. Dan alasan lainnya, aku nggak mau hidup ke depan ku nantinya masih ada bayangan masa lalu yang dulu sangat membuat aku kecewa dan terluka."
"Maaf ya mas."
"Kenapa minta maaf hem?" tanya Arjuno sambil membelai wajah Zantisya.
"Karena aku tadi sempat cemburu dan berprasangka kalau-kalau mas ada rasa sama mbak Rani."
"Itulah gunanya kita saling terbuka dek agar nggak terjadi salah paham diantara kita. Jangan diulangi lagi ya, aku nggak suka adek diamkan aku kaya tadi." Arjuno memperingati sambil membuka kaos oblongnya.
"Mas mau apa?" tanya Zantisya setelah mengangguki ucapan suaminya dan kini heran melihat suaminya yang sudah telanjang dada.
"Minta maaf dengan benar sayang." Ucap Arjuno menarik tubuh Zantisya. Membuat istrinya itu kini menimpa tubuh Arjuno. Emang suka pro Arjuno kalau berurusan dengan permodusan.
"Mas aku belum selesai bicara loh"
"Ada lagi?"
Zantisya mengangguk dan langsung duduk diatas tubuh suaminya. "Aku juga tadi denger pembicaraan mbak Rani dan mbak Sari tentang hal lain"
"Jadi ceritanya istri ku ini jadi penguping tadi?" tanya Arjuno menarik gemes pucuk si kembar. Rasanya sudah nggak tahan tapi malah masih ada yang di obrolkan.
"Mbak Rani juga lihat kita malam itu waktu di pantai mas. Apa ada kemungkinan orang itu (Bima) tahu dari mbak Rani atau..."
"Sudah nggak perlu kita pikirkan dia tahu dari siapa sayang. Kalau Rani saja tahu tentang ciuman pertama kita" ucap Arjuno sambil mengedipkan mata menggoda Zantisya. "Ada kemungkinan juga orang lain juga melihat kita kan?"
"Lain kali jangan menguping pembicaraan orang lain lagi"
"Aku juga tadi nggak ada niat menguping mas, aku mau ambil tas ku karena ketinggalan. Eh malah jadi menguping karena nyebutin nama mas" Zantisya harus membela diri.
"Ehh... mau kemana?" tanya Arjuno sambil menahan Zantisya yang akan beranjak dari atas tubuhnya.
"Tidur lah mas. Udah malem ini"
"Kan tadi aku sudah bilang kalau adek harus minta maaf dengan benarkan?" Arjuno tersenyum membuat Zantisya bergidik ngeri.
.
.
.
Semenjak bertemu dengan Zantisya, Evita kini sudah tidak pernah lagi keluar rumah. Meski masih sangat kaku tapi kini ia lebih sering mengurus Aurel dan Bima. Meskipun diacuhkan Bima, tapi Evita sepertinya tidak ingin menyerah dengan usahanya untuk mengembalikan cinta Bima yang dulu.
Laras sendiri sangat heran dengan perubahan Evita yang sangat drastis itu. Namun dari pada keheranan, Laras lebih banyak bersyukur karena kini Amel mendapatkan perhatian dari Evita.
__ADS_1
Tok…
Tok…
Tok…
"Masuk"
Evita langsung masuk ketika Bima mempersilahkan. Bima sendiri yang sejak tadi menatapi bingkai foto Zantisya langsung segera memasukkan kedalam laci setelah mengetahui Evita yang datang.
"Ada apa?"
"Aku bawakan minuman hangat dan kue kesukaan mu sayang" terang Evita sambil meletakkan nampan diatas meja. Setelah itu Evita menghampiri Bima dan langsung memeluk Bima dari samping.
"Bersikaplah dengan cara mu biasannya Evita, aku tidak suka kau berpura-pura seperti ini"
"Apa maksudmu sayang? aku nggak sedang pura-pura loh" ucap Evita.
"Aku bukannya nggak tahu kalau kamu sedang berusaha menjadi Zantisya kan?" tebak Bima.
Akhir-akhir ini Bima menatap aneh kearah Evita karena tidak pernah terlihat keluar rumah dan tidak pernah lagi pulang larut. Bertingkah seperti apa yang pernah Zantisya lakukan dulu padanya.
Evita langsung melepaskan pelukannya, bagaimana pun ia merasa tersinggung karena dianggap meniru Zantisya.
"Aku melakukan atas keinginan ku sendiri Bim, bukan karena orang lain. Apa aku salah menjadi lebih baik untuk mu untung Aurel?"
Bima tertawa mendengar penuturan Evita. "Setelah semua akses yang aku berikan pada mu aku blokir. Setelah kamu nggak bisa lagi menghamburkan semua uang ku. Setelah kamu kehilangan semua kesenangan mu. Dan setelah semua itu terjadi, kamu baru mau berubah?"
Jelas Evita tersindir telak. Apapun yang dikatakan Bima memang benar adanya. Tapi Evita harus sabar dan mencoba menerima semua ucapan Bima dan tidak membantahnya lagi karena tidak ingin merusak usahanya yang baru mulai.
'Kenapa diam?" sinis Bima.
"Aku tahu aku salah Bim, maka dari itu aku akan berubah buat kamu"
"Buat aku atau buat semua akses yang pernah kamu nikmati?"
"Kasih aku kesempatan Bim" pinta Evita sambil menyentuh tangan Bima.
"Aku benci melihat mu melakukan semua hal yang sama seperti Zantisya. Sungguh membuat ku muak karena kau bukan dia"
Bima langsung keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Evita yang menangis. Hati Bima sungguh tersiksa setelah menyadari semua hal yang dilakukan Evita pernah dilakukan Zantisya lebih dulu.
"Kenapa kamu meninggalkan kenangan ini Tisya. Kamu benar-benar menyiksa ku dengan semua kenangan yang aku abaikan" gumam Bima sambil meremas bunga yang nampak mekar indah.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
Selamat malam dan selamat istirahat 🥰😊