
Suka maupun duka pasti akan dirasakan bersama-sama oleh pasangan suami istri. Dibelahan dunia mana pun hal itu pasti dirasakan semua pasangan yang sudah merajut kasih dalam hubungan yang halal.
Begitu pun Arjuno dan Zantisya. Itu lah yang tengah mereka lakukan saat ini. Bekerja sama mengurus bayi ditengah malam seperti ini.
Jika beberapa minggu yang lalu Arjuno dan Zantisya hanya fokus mengurus Ruby. Kini mereka juga bertambah tugas mengurus Safir.
Sejak tadi Zantisya duduk bersandar diatas ranjang sambil mengASI Safir. Beruntung Ruby yang sudah terbiasa dengan pusat utama ASI. Kini bayi cantik itu seolah sudah mengerti dan mengalah dengan adiknya.
Ruby bahkan tidak rewel saat harus menikmati nutrisi kebutuhan satu-satunya melalui dot. Padahal biasanya, bayi cantik itu sangatlah peka. Jika Zantisya tidak tidur maka dia akan menangis kencang jika diberi asi melalui dot.
Arjuno sejak tadi menatap Zantisya yang terlihat beberapa kali menahan kantuk. Menguatkan mata untuk tetap fokus pada Safir yang sepertinya masih betah meraup cairan yang berada didalam sana.
Arjuno langsung meletakkan Ruby kedalam boknya. Bayi cantik itu sudah sangat jelas terlihat lelap setelah meneguk Asi.
"Dek..." panggil Arjuno sambil menyentuh pundak Zantisya. "Sini biar Safir sama aku. Adek tidur saja." Melihat Zantisya sejak tadi yang menahan kantuk membuat Arjuno juga tidak tega.
Sudah hampir satu minggu Safir dirumah ini. Membuat Zantisya dibuat lelah sendiri saat menjaga kedua buah hatinya. Apa lagi saat pagi hingga sore hari. Ia harus ekstra fokus menjaga putra putrinya. Namun meski begitu, Zantisya tidak pernah mengeluh karena ia sangat menikmati perannya saat ini.
Zantisya juga dibantu bi Tami dan bi Siti setelah pekerjaannya telah selesai. Bukan perkara sulit sebenarnya menjaga bayi yang masih lebih banyak tidurnya. Namun yang membuat Zantisya kurang istirahat ialah kedua bayinya itu seolah oper ship dalam hal bangun.
Jika Ruby bangun dan menangis. Safir masih terlihat tenang dan nyaman tertidur. Setelah usai mengurus Ruby yang sudah tak menangis lagi dan terlihat senang bermain dengan menggerakkan kaki dan tangannya. Tak berselang lama Safir pun bangun. Menangis untuk mengASI.
Jika kedua bayinya sudah terjaga disitulah Zantisya mengajak kedua anaknya berkomunikasi. Namun jika rasa kantuknya menyerang. Maka Zantisya akan segera tidur dan meminta tolong bi Tami atau bi Siti untuk menjaga Al terlebih dulu.
Al adalah panggilan singkat untuk memanggil Ruby dan Safir secara bersamaan.
"Mas saja yang tidur. Nantikan mas harus kerja."
"Ngantuk ku sudah hilang dek. Sini biar Safir sama aku."
Zantisya menatap lagi wajah Arjuno. Melihat mata segar sang suami yang menatapnya.
"Maaf ya mas. Aku ngantuk banget." ucap Zantisya sambil pelan-pelan melepas pucuk pusat ASI yang masih kuat Safir hisap dengan mata yang semakin terlihat cerah.
Arjuno langsung mengambil Alih Safir. "Sini Safir lanjut minum sama ayah ya."
Zantisya langsung merebahkan lagi tubuhnya. Ia langsung lelap begitu saja setelah mendarat pada bantal setelah memejam kan mata.
__ADS_1
Entah mengerti atau tidak, Tiga jam Arjuno mengajak Safir berbincang. Akhirnya Bayi laki-lakinya itu tertidur pulas setelah Arjuno menggantikan pempes dan memberi Asi.
Setelah melaksanakan solat subuh Arjuno langsung melipat sajadah secara asal. Ia ingin sekali tidur karena mau ditahan bagaimana pun ia juga memang mengantuk.
"Owek... owek..."
Baru saja tubuhnya mendarat diatas ranjang. Dan tangannya memeluk Zantisya. Kini putrinya sudah terbangun. Tak ingin sang istri terbangun karena tangisan anak mereka. Ia langsung beranjak mendekati bok Ruby.
"Yes honey. Ayah datang." Ucap Arjuno sambil mengangkat malaikat cantiknya yang menangis.
Setelah mengganti pempes dan memberikan Asi. Arjuno mengajak Ruby keluar kamar. Jalan-jalan didepan rumah sambil menghirup udara segar di pagi hari seperti ini.
Arjuno mengitari halaman depan dan belakang yang dipenuhi dengan bunga. Sambil membacakan solawat untuk sang anak.
.
.
.
Itu benar-benar diluar kendalinya. Padahal saat di kantor Resti yang lebih banyak menghandle pekerjaan Arjuno. karena saat dikantor Arjuno bukannya bekerja akhirnya memilih tidur karena terserang kantuk.
Akibatnya banyak pekerjaan penting yang terkendala. Bahkan sampai kliennya memarahi Resti karena Arjuno sudah beberapa kali tidak menemuinya.
Susianti. Gadis berusia 19 tahun yang kini menjadi baby sitternya. Gadis yang biasa di sapa yanti itu adalah anak tetangga bi Siti. Karena tidak menyelesaikan sekolah menengah atas. Yanti akhirnya memilih bekerja untuk membantu perekonomian keluarga.
Karena Yanti kini tinggal dirumah Arjuno dan Zantisya. Semenjak itu juga bi Tami dan bi Siti, Secara bergantian menginap disana.
Meski ada Yanti yang bekerja sebagai baby sitter Al. bukan berarti Zantisya menyerahkan kedua anaknya pada Yanti. Ia hanya akan meminta tolong jika ia butuh atau saat memerlukan istirahat.
Jadi Zantisya memberikan pesan pada Yanti agar siap kapan pun saat ia butuh bantuan. Terutama pada saat malam hari. Zantisya meminta Yanti untuk istirahat lebih awal saat malam hari.
"Dek aku berangkat dulu." Pamit Arjuno. Ia langsung mencium kening Zantisya lalu mencium Safir yang nampak asik menggerakkan mainan yang ada dalam genggaman tangannya.
"Cie bapak dan ibu romantis banget." Ucap Yanti sambil menggendong Ruby.
Arjuno menatap Yanti sejenak. Entah ekspresi apa yang tersirat dalam tatapan Arjuno pada gadi yang menggendong putrinya itu.
__ADS_1
Sedangkan Zantisya hanya tersenyum saja mendengar ucapan Yanti. Karena memang Yanti sering terdengar bersenda gurau dengan bi Tami dan bi Siti. Dipikir Zantisya mungkin Yanti hanya iseng bergurau saja.
"Ayah berangkat dulu ya nak. Salam sayang untuk kak By." Ucap Arjuno sampil mendaratkan kecupan ladi dipipi safir.
"Iya ayah. Hati-hati ya." ucap Zantisya menirukan suara anak kecil.
"Aku berangkat dek." Ucap Arjuno mengusap pipi Zantisya lalu masuk kedalam mobil. Dan langsung mengemudikannya.
Ingin sekali setiap akan pergi bekerja, Arjuno mencium istri dan kedua anaknya terlebih dahulu. Namun itu sekarang sudah tidak mungkin ia lakukan. Karena semenjah memakai tenaga baby sitter. Salah satu dari Al ada yang di gendong Yanti. Mana mungkin ia mencium anaknya yang tengah di gendong orang lain.
Bahkan kini ia sangat jarang memeluk Zantisya sebelum atau sesudah pulang kerja. Entah kenapa jadi merasa risih sendiri semenjak ada Yanti yang membantu meringankan pekerjaan Zantisya.
Padahal biasanya jika hanya berpelukan sejenak atau mencium kening istrinya. Meski ada bi Siti atau bi Tami, Arjuno tetap melancarkan tindakannya.
Sesampai di kantor. Arjuno langsung menuju ke ruangan resti terlebih dulu. "Res."
"Iya pak." Jawab Resti sigap.
"Sebaiknya sebagian pekerjaanmu segera kamu arahkan ke wakil mu Res." Sudah dua minggu ini Resti memang sering mual muntah karena tengah hamil muda.
"Bapak pecat saya?" Tanya Resti dengan wajah yang sudah mulai drama.
"Bukan saya pecat Res. Hanya saja jika ada pekerjaan diluar bukan kamu yang handle tadi wakil kamu. Saya mana mungkin tega liat kamu mondar mandir. Bisa-bisa Firman ngamuk melihat istrinya aku siksa dengan banyak pekerjaan."
"Sweet banget sih pak bos." Ucap Resti dengan wajah berbinar. tangannya mengacungkan kedua jempolnya. Merasa senang karena ternyata dia tidak dipecat.
"Drama kamu Res. Cepat antar jadwal keruangan ku."
"Siap pak bos." Resti langsung mengikuti Arjuno menuju ke ruangannya.
Jangan salah mengartikan kedekatan Arjuno dan Resti. Karena keduanya dekat hanya karena sebagai rekan kerja, antar bos dan sekretarisnya. Dan sudah dianggap saudara karena Resti istri Firman. Seseorang yang sangat berjasa membantunya dalam merintis semua yang kini ia miliki. Begitu pun Rudi.
Bersambung...
Detik-detik kalau cerita ini akan...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ๐ฅฐ kasih like dan komennya ๐ tab favorit juga ya โค๏ธ
__ADS_1