
Hampir satu jam Zantisya mendekam didalam kamar mandi. Entah ritual apa saja yang dia lakukan sampai selama itu betah berada didalam sana.
"Loh mas sudah pulang?" tanya Zantisya terkejut. Jam masih menunjukkan pukul 16.00 WIB. Lebih cepat satu jam Arjuno pulang.
"Nggak seneng ya suaminya pulang cepet?"
"Lebih lama kerja lebih banyak dapat cuan mas" jawab Zantisya sambil mengedipkan mata.
"Ya sudah besok aku pulang tengah malam" ucap Arjuno sambil merentangkan tangannya. Meminta Zantisya menghambur ke pelukannya.
"Siap-siap tidur diluar" Zantisya langsung memeluk Arjuno yang sudah bertelanjang dada. "Wangi mas" ucap Zantisya sambil mencium dada Arjuno berulang kali.
"Wangi keringat kan" tebak Arjuno.
"Bukan."
"Terus."
"Wangi duit mas hahaha" Zantisya langsung tertawa.
"Masak sih?"
"Hahaha… udah mas geli" Zantisya berusaha melepaskan diri dari dekapan Arjuno sambil terus tertawa. Arjuno sepertinya belum ingin berhenti mengerjai Zantisya.
"Mas, mama Laras sama mbak Evita tadi kesini" ucap Zantisya member tahu.
"Ngapain?"
"Bilang terimakasih buat kita karena mas sudah mencabut semua tuntutan" Arjuno mengangguk. "Sama minta maaf juga karena suami mbak Evita nggak bisa ikut datang ke rumah karena ada meeting."
"Terus…"
"Ya aku bilang aja nggak apa-apa. Toh mas juga lagi kekantor."
Arjuno mengangguk saja mendengarkan penuturan istrinya. "Mau ngapain dek?" tanya Arjuno saat melihat Zantisya menggelar sajadah.
"Solat mas" jawab Zantisya enteng. Arjuno tersenyum dan mendekati Zantisya. "Mas, mau apa?" tanya Zantisya was-was melihat senyum Arjuno yang mencurigakan.
Cup
"Maaasss…" pekik Zantisya setekah mendapat kecupan Arjuno.
"Lupa ya kalau tadi ada perempuan cantik menghambur kepelukan suaminya dan dengan nakal menciumi dada suaminya yang bau duit" jelas Arjuno mengingatkan.
"Ihhh… mas emang ya, bikin aku batal terus."
.
.
.
Setelah waktu magrib Arjuno mengajak Zantisya ke sebuah mall terbesar di kotanya. Seperti biasanya, Arjuno selalu merangkul Zantisya dan membawakan tas istrinya. Heran juga sebenarnya Zantisya dengan Arjuno yang entah kenapa suka sekali membawakan tasnya.
"Adek mau beli apa?" tanya Arjuno setelah mereka membeli sebuah jam tangan.
"Gimana kalau beli lingeri mas" ucap Zantisya jahil dengan mengedipkan salah satu mata indahnya.
"Dek, jangan menguji iman ku setiap malam ya" todong Arjuno.
__ADS_1
"Ih siapa juga yang menguji mas. Dasar mas aja yang gampang tergoda."
"Udah lah yuk pulang. Kita selesaikan urusan kita dirumah."
"Mohon maaf sayang. Malam ini tidak ada jadwal bekerja keras" bisik Zantisya mengingatkan perjanjian mereka.
Dasarnya pasangan yang ada-ada saja. Sepakat untuk melakukan hal itu satu kali dalam dua atau tiga hari. Tapi lebih sering kebablasan kalau sudah iseng.
"Nonton yuk mas" Ajak Zantisya saat mereka bingung mau ngapain lagi.
"Nggak jadi beli kain penggoda iman?"
"Nggak usah. Nggak pakai itu juga mas udah beraksi kok" cibir Zantisya.
"Tisya" panggil seseorang dari belakang.
Zantisya langsung balik badan. "Eh, mbak Evita" Zantisya langsung menghampiri Evita dan bersalaman.
"Mau nonton juga mbak?"
"Iya. Bisa double date dong kita nonton" usul Evita.
"Mbak sama suami juga?"
"Iya. Tapi Bima lagi ke toilet. Makannya aku langsung hampiri kamu."
Tak lama ponsel Evita berdering. Perempuan dengan rambut lurus dan pakaian yang lebih tertutup itu pun langsung menerima telepon yang tak lain dari suaminya, Bima.
"Maaf Tisya, aku haru pulang sekarang."
"Loh kenapa mbak?"
"Oh… ya sudah mbak hati-hati ya" ucap Zantisya. Evita mengangguk dan langsung pergi dari sana.
"Mau nonton apa dek?"
"Apa ya…"
.
.
.
Mobil Bima sudah memasuki halaman rumah mereka. Evita langsung keluar dan mengikuti langkah Bima yang keluar dari mobil lebih dulu.
Evita sekarang heran karena diruang tidak ada tamu yang menunggu Bima. Sedangkan suami Evita kini sudah menuju ke kamar mereka.
"Maaf telah merusak rencana nonton kita" ucap Bima saat Evita sudah masuk ke kamar mereka.
"Nggak apa-apa" ucap Evita pelan.
Evita memahami jika Bima menghindari Zantisya dan Arjuno. Apa lagi perasaan Bima yang belum utuh kembali padanya. Menurut Evita.
"Aku tidak ingin kamu salah paham Ev" ucap Bima melihat mata sayu Evita.
"Aku ngerti kok" Evita tersenyum menatap Bima.
"Aku mengikuti apa maunya Arjuno. Bukan hal lain seperti dugaan mu."
__ADS_1
"Kamu sudah bertemu Arjuno?" tanya Evita sambil melangkah mendekati Bima. Evita ikut duduk disamping Bima ditepi ranjang.
Bima mengangguk. "Saat kamu dan mama kerumahnya. Aku datang menemui Arjuno di kantornya."
"Syukurlah. Setidaknya kita sudah berterimakasih atas kebaikan hati mereka."
"Bagaimana kalau kita ganti jadwal nonton dengan hal lain."
"Dengan apa?"
"Buatin adik untuk Aurel"
Perlahan namun pasti. Bima mengubur nama Zantisya dengan hal-hal romantis yang ia lakukan bersama Evita.
Walau tidak mudah, tapi Bima tidak ingin bertingkah bodoh lagi hingga merugikan orang lain dan dirinya sendiri.
Bima dan Evita sampai sepakat mengubah tatanan kamar, mengganti cat dan mengganti barang-barang yang ada didalam sana yang pernah digunakan Zantisya juga.
Jika dulu Bima tidak perduli dengan itu semua saat awal menikahi Evita. Namun kini Bima harus melakukan itu semua agar ia dan Evita mempunyai kenangan yang lain dan lebih indah lagi.
.
.
.
Setelah membersihkan diri, Arjuno dan Zantisya langsung naik keatas ranjang. Lelah juga sepertinya mereka iseng-iseng mengitari mall tanpa membeli apapun. Menuruti Zantisya memang harus siap lelah untuk Arjuno.
"Dek…"
'Iya mas" Zantisya langsung merubah posisi dari terlentang menjadi miring. Menghadap suaminya.
"Kalau seandainya adek bertemu dengan suami Evita tanpa ada aku. Apa yang akan adek lakukan?"
"Aku nggak mungkin bertemu dengannya seorang diri mas. Bukannya aku keluar kemanapun selalu dengan mas."
Benar juga yang dikatakan Zantisya. Kini Arjuno merasa kalau dirinya terlalu mengekang Zantisya.
"Apa aku terlalu posesif sama adek?" tanya Arjuno sambil membelai pucuk kepala Zantisya.
"Nggak juga mas. Aku memang merasa nyaman dan aman dengan mas yang seperti ini."
"Jadi bagaimana?"
"Kalau aku bertemu dengannya tanpa mas secara tidak sengaja. Mungkin aku hanya akan mengangguk menyapanya dan langsung berlalu mas."
"Adek sudah tidak takut dengannya lagi?"
"Takut juga masih ada mas. Was-was juga sudah pasti. Tapi nggak ada salahnya kita mempercayainya kalau dia tidak mungkin melakukan hal buruk lagi. Aku rasa dia sudah berubah sekarang mas."
"Kenapa adek bisa seyakin itu?"
"Karena tadi aku melihat kebahagiaan di mata mbak Evita mas. Bahkan dia sudah lebih nampak gemuk dari terakhir kali kami bertemu" Zantisya tersenyum menatap Arjuno. Tangannya terulur membelai Wajah suaminya yang terus menatapnya. "Terimakasih. karna mas selalu mengkhawatirkan aku dan selalu menjaga ku."
"Itu sudah tugas ku dek" Arjuno juga mulai membelai wajah Zantisya. "Jadi sekarang lakukan tugas mu sayang” Bisik Arjuno setelah membawa tubuh Zantisya agar lebih dekat lagi padanya.
Bersambung…
Tugas apa ya yang harus dilakukan Zantisya… menghoror emang mas Arjun ini 😂😂😂
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️