
Kini usia kehamilan sandiwara Zantisya sudah memasuki 3 bulan. Sungguh pintar dua manusia itu selalu bersandiwara mengelabuhi Laras. Demi melancarkan aksinya, terkadang Zantisya juga sok ngidam dengan ingin makan bakso, mie ayam, ikan bakar dan masih banyak lagi. Zantisya sendiri terkadang bingung dengan dirinya sendiri. ya hitung-hitung ia sedang kuliner kan.
Tak jarang juga Bima memanfaatkan Zantisya yang ingin pergi jalan-jalan hingga menginap saat bepergian, demi ia bisa bersama dengan Evita, perempuan yang telah mengandung anaknya. Perempuan yang kini perutnya sudah nampak membuncit.
Dan tak jarang juga Zantisya bertemu dengan Arjuno dengan tidak sengaja. Terkadang jika Arjuno tidak sibuk dengan pekerjaannya maka ia akan mengajak Zantisya jalan-jalan ke suatu tempat atau hanya saling sapa karena Arjuno harus mengurus dua perusahaan sekaligus. Pertemuan yang semakin sering tanpa sadar membuat mereka semakin akrab.
"Turun" perintah Bima dengan suara dinginnya.
Tanpa pikir panjang Zantisya langsung turun dari mobil suaminya. Pantaskah Bima ia sebut suami jika ia di perlakukan seperti ini. Bima langsung melajukan mobilnya begitu saja. Membiarkan Zantisya di tengah jalan dengan terik matahari yang semakin menyengat.
"Mau ngapain aku hari ini?" gumam Zantisya ia menatap matahari dengan telapak tangan berada di atas mata untuk menahan silaunya. Ia mengingat sebelum ia dan Bima keluar dari rumah, mereka pamit dengan Laras akan tidur di apartemen selama tiga malam.
Zantisya melangkah untuk meneduhkan dirinya dari terik matahari di bawah pohon yang rindang tak jauh dari tempatnya berdiri. Nafas zantisya terasa sangat berat hingga menyesakkan dada. Jika memang tidak mau menurunkan Zantisya di sebuah rumah makan atau kedai kopi setidaknya turun kan dia di bawah tempat yang rindang. Bukan di bawah terik matahari. Walau itu sudah biasa ia terima namun Zantisya tetap merasa sakit hati oleh perlakuan Bima.
Zantisya duduk di bawah pohon. Ia hanya menatap jalan yang banyak lalu lalang kendaraan. Matanya nampak meredup saat ia berfikir akan apa hari ini.
.
.
.
Zantisya duduk di atas hamparan pasir. Air laun Nampak terus bergelombang mendekat seolah ingin menyapanya. Angin terus berhembus kencang membuat jilbabnya seolah akan terbang. Zantisya terus menatap gelombang air laut yang saling berkejaran. Ia nampak menarik kedua sudut bibir mungilnya.
Sepertinya keputusannya sore ini ke pantai melihat sunset adalah keputusan yang tepat.
"Ayo om kejar Radit" teriak anak kecil meminta seseorang untuk segera mengejarnya.
Dengan cepat Radit pun tertangkap tepat tak jauh dari hadapan Zantisya. "Tangkap. Mau lari kemana tadi?" ucap lelaki dewasa yang langsung menggendong Radit.
Zantisya yang tengah memejamkan mata menikmati angin yang terus berhembus pun langsung membuka mata setelah mendengar suara yang begitu sangat ia kenali, suara yang tanpa sadar terekam dalam ingatan dan pendengarannya. "Mas Arjun" gumamnya.
Arjuno yang sekilas melihat sosok Zantisya pun kembali menoleh meyakinkan penglihatannya. Sedetik kemudian senyumnya terbit saat melihat gadis itu di hadapannya.
"Dek Kemala" panggilnya sambil melangkah mendekati Zantisya. "Dek kamu disini?" tanya Arjuno sambil mengajak duduk Radit.
"Iya mas. Kok mas juga disini?" tanya Zantisya sambil melihat bocah kecil di pangkuan Arjuno.
__ADS_1
"Aku lagi liburan sama temen-temen kerja. Radit kenalan dulu sama aunty Kema… ehm maksudnya aunty Zantisya"
Radit mengangguk dan langsung mengulurkan tangan mencium punggung tangan Zantisya. "Nama aku Radit aunty"
"Aunty Zantisya atau Radit panggil aunty Tisya ya biar nggak kepanjangan"
Tak berselang lama Rani datang dengan menggendong seorang balita. "Radit"
"Iya ma" Radit menengok mamanya tanpa beranjak dari pangkuan Arjuno.
Rani melangkah mendekat, tadi niatnya menyusul Radit dan Arjuno tapi ternyata mereka sedang bersama seorang gadis. Zantisya tersenyum menatap Rani yang semakin dekat.
Rasa cemburu seketika melingkupi hati Rani. Tapi ia harus menampik agar tidak merusak segalanya. "Ayo nak mandi dulu" beruntung Radit belum mandi bisa menjadi alasannya untuk tidak melihat Arjuno dekat dengan wanita lain. Sungguh menyesakkan dadanya.
"Radit mandi dulu sana sama mama" perintah Arjuno.
"Iya om"
"Oh iya Ran, kenalin ini Zantisya"
Dengan berat hati namun pasti Rani mengulurkan tangan pada gadis berhijab yang nampak masih sangat muda. "Rani"
"Rania aunty" tentu saja yang menjawab bocah laki-laki kecil dengan suara cemprengnya. "Adek radit" tambahnya.
"Zantisya, Uno aku duluan ya" Rani tersenyum menatap keduanya. "Ayo Radit mandi dulu" ajak Rani sambil menuntun Radit menjauh dari sepasang manusia yang membuat hatinya cemburu.
Arjuno ingin berdamai dengan semua masa lalunya. Maka ia juga harusnya tidak menjauhi Rani sang pemilik perusahaan yang sedang ia pimpin itu. Maka sudah sejak satu bulan terakhir Arjuno dan Rani menjalin hubungan baik. Walau hanya di anggap teman namun Rani sudah sangat bersyukur setidaknya kini Arjuno tidak menjaga jarak darinya.
Zantisya melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan 17.35 WIB. "Mas, aku duluan ya. Takut kemalaman di jalan" hanya itu yang bisa menjadi alasannya kini. Ia nyaman berdekatan dengan Arjuno namun ia juga merasa bersalah.
"Di villa kita lagi buat acara, ikut nginep sekalian aja besok siang kita semua sudah pulang kok"
"Emangnya aku nggak ganggu mas?" sepertinya Zantisya salah berucap. Kan awalnya dia niat menghindari Arjuno.
"Ya enggak lah dek, ayo gabung aja. Besok ku antar pulang" Ajaknya tak gentar agar perempuan di depannya itu menurut.
"Tapi aku nggak ada baju ganti mas"
__ADS_1
Tentu saja arjuno tersenyum mendengar ucapan Zantisya. Ucapan yang sudah pasti mau bergabung bersamanya dan yang lain.
"Di dekat sini ada yang jual pakaian kok"
.
.
.
Setelah magrib mereka semua langsung berkumpul di samping villa yang telah di sewa Arjuno. Arjuno mengajak liburan tim marketing yang telah menjual produk empat kali lipat melebihi target.
Laki-laki bagian memanggang ikan dan ayam sedangkan bagian perempuan meracik bumbunya. Rani yang memang selaku pemilik perusahaan hanya bisa melihat pekerjaan mereka, bukan nggak mau membantu tapi ia di minta Uno untuk menjaga Radit dan Rania. Perhatian kecil yang membuat hatinya berbunga.
"Tisya tolong antar ini ke pak Uno ya" ucap Devi.
Zantisya mengangguk. "Iya mbak"
"Ini mas bumbu buat memanggangnya"
Arjuno mengambil alih bumbu yang ada di tangan Zantisya. "Nyaman kan?" pertanyaan Arjuno di angguki Zantisya. "Semua karyawan disini tidak ada yang melihat status dan perbedaan kedudukan kami saling menghormati dan professional. Yang penting ada kedekatan seperti emosional seperti keluarga sendiri” ucap Arjuno menjelaskan. Sebab tadi Zantisya merasa takut tidak di terima oleh teman-teman kerja Arjuno.
"Baru kali ini pak Uno senyum kaya gitu" ucap salah satu karyawan.
"Iya, gantengnya makin ples ples. Meresahkan" timpal yang lain.
"Aku mau jadi istrinya pak Uno Tuhan, ku mohon kabulkan" memohon sambil menadahkan tangan berdoa.
"Mimpi" timpal yang lain bersamaan.
"Saingi dulu tuh pawangnya pak Uno yang bikin senyum pak duda makin panas dingin" celetuk salah satu sambil melihat Zantisya yang sedang bersenda gurau dengan atasan mereka.
"Mundur teratur aku Tuhan, salain muda pawangnya cantik solehah. Apalah aku yang solat subuh kesiangan"
"Apa lagi aku solat isa ketiduran"
Ke recehan para karyawan itu tak luput dari pendengaran Rani. Ia juga sadar itu. Sedangkan Devi yang tahu perasaan Rani terhadap Arjuno hanya bisa menatap sendu.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 💋 kasih like dan komennya 🥰