
Kehamilan Zantisya sudah masuk usia empat bulan. Kemarin dirumahnya diadaka syukuran empat bulanan, mengundang para tetangga rumahnya untuk membantu mengirimkan doa kehamilan Zantisya. Agar mereka sehat dan selamat sampai lahiran nanti.
Rasa mual yang biasanya terjadi dini hari pada Arjuno kini berangsur hilang. Tapi semakin hari lelaki itu semakin sering mengidam. Sedangkan Zantisya masih sangat jarang merasakan ngidam. Tapi kalau soal makan jangan ditanya lagi.
Mungkin karena 3 nyawa harus Zantisya beri energy. Membuat perempuan hamil itu tidak ada berhentinya makan dan mengemil. Segala buah dan camilan ibu hamil sudah disediakan.
Dan hari ini Arjuno dan Zantisya pergi ke panti asuhan untuk menyisihkan rezeki mereka kepada yang membutuhkan.
Arjuno juga membawakan banyak kotak nasi karena disana ia juga meminta doa dari anak yatim piatu untuk kesehatan Zantisya dan calon anak mereka nanti.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Arjuno sambil mengemudikan mobilnya. Setelah acara dipanti selesai Arjuno langsung mengajak Zantisya pulang. Ia tidak ingin istrinya kelelahan.
"Seneng banget mas. Di panti banyak anak-anak kecil. Ramai" Zantisya menunduk sambil menatap perutnya yang membuncit. "Jadi nggak sabar nunggu mereka lahir." Ucap Zantisya sambil membelai perutnya.
Tangan Arjuno terulur sebentar untuk membelai perut istrinya. "Aku juga sama dek. Semoga adek selalu sehat panjang umur. Melahirkan mereka dengan selamat."
"Bukan aku mas. Tapi kita semua semoga sehat dan panjang umur."
"Iya sayang. Aamiin."
"Mas bukanya daerah sini ada pantai ya."
Dan saat ini mereka sudah berada dipantai menuruti maunya Zantisya. Awalnya Arjuno tidak setuju dan menjanjikan lain waktu baru ke pantai.
Namun karena permintaan ibu hamil yang tidak bisa dinegosiasi lagi akhirnya ia mengalah dan menuruti maunya Zantisya.
Arjuno terus menggandeng tangan Zantisya. Mereka berjalan ditepi pantai agar kaki mereka bisa terkena deburan ombak yang menepi.
Bug...
Gadis kecil tiba-tiba menabrak tubuh Arjuno. Suami Zantisya itu langsung jongkok membantu gadis kecil yang terduduk di atas pasir.
"Aurel." Gumam Arjuno.
"Aurel..." teriak Bima sambil berlari mendekat.
Semakin dekat dan seketika langkahnya terhenti saat matanya bertemu pandang dengan Arjuno. Mata Bima lalu melihat Zantisya sekilas, perempuan dengan perutnya yang jelas membuncit.
Bima ingin melangkah mundur dan langsung pergi meninggalkan pasangan yang ada di hadapannya kini. Tapi mana mungkin karena kini Aurel ada didekat mereka.
"Aurel sini nak..." terik Bima meminta Aurel agar kembali padanya tanpa ia harus melangkah semakin dekat.
Tak lama kemudian Evita datang menghampiri Bima. Dan sekarang Evita paham kenapa Bima tidak segera kembali bersama Aurel.
Evita yang paham dengan keadaan langsung mendekati Zantisya dan Arjuno yang masih duduk jengkok memegang bahu Aurel.
"Hai Tisya."
"Hai mbak" Zantisya langsung bersalaman dengan Evita dan saling cium pipi kanan dan kiri.
"Ayo nak, kita ke papa sayang" Ajak Evita.
__ADS_1
"Mas aku boleh main sebentar dengan Aurel kan mas" tanya Zantisya menatap Arjuno.
"Boleh sayang."
"Ayo aunty main air" ajak Aurel dengan semangat.
"Ayo..."
"Jalan pelan-pelan dek" pekik Arjuno khawatir karena Zantisya jalan cepat mengejar Aurel.
"Maafkan kami jika membuatmu jadi tidak nyaman." ucap Evita setelah Aurel dan Zantisya menjauh.
"Nggak masalah. Aku senang karena Aurel membuat istriku bahagia." Ucap Arjuno menatap Zantisya yang tampak tertawa senang bermain air dengan Aurel.
Evita langsung memberi kode pada Bima untuk beranjak kembali ketempat mereka tadi. Kemuadian Evita langsung menyusul Zantisya dan Aurel ikut bermain bersama.
Manusia tidak luput dari kekhilafan dan dosa dari kesalahan yang diperbuat. Begitu juga Arjuno, ia juga manusia yang tidak mungkin tidak memiliki kesalahan. Hanya saja semuanya tertutup membuat orang tidak tahu dimana letak dosanya.
Jujur saja, Arjuno sebenarnya sudah memaafkan Bima. Rasa benci itu seketika sirna karena kebahagiaan yang tercipta didalam rumah tangganya.
Namun, mungkin sedikit sulit untuk menjalin kedekatan dengan masa lalu yang seperti itu. Apa lagi perasaan manusia kapan pun bisa dibolak balik jadi Arjuno tetap harus waspada dari apapun yang bisa saja terjadi.
.
.
.
Arjuno yang baru keluar dari kamar mandi langsung naik ketas ranjang. "Capek ya?" Tanya Arjuno sambil menarik kaki Zantisya. Membawa kedua kaki Zantisya berada dipangkuan Arjuno.
"Lumayan mas."
Tangan Arjuno mulai meimijit pelan kedua kaki Zantisya secara bergantian. "Seharian ini adek sama sekali nggak tidur siang. Cepat tidur biar aku pijitin kaki adek."
"Kita pijit gantian ya mas. Mas juga pasti capek ngikutin aku kemana-mana."
"Aku nggak capek sayang. Malahan aku senang kalau adek minta kemana pun."
"Jangan modus ya mas."
"Loh kok modus sih dek."
"Mas kan memang selalu seperti itu."
Tangan Arjuno langsung usil karena mendapat julukan modus malam ini. Kan dia niat baik ingin memijit kaki Zantisya.
Plak
Zantisya langsung memukul punggung tangan Arjuno yang saudah membelai pahanya. Semakin lama semakin sensual merayap.
"Mas tadi katanya mau pijit aku. Kok jadi kaya gini."
__ADS_1
"Siapa suruh tadi bilang aku modus."
"Mas kan memang kang modus. Sadar mas sadar."
"Ah sulit sadarnya dek kalau sudah begini."
"Mas beneran mau." Tanya Zantisya serius.
Arjuno langsung menghentikan kejahilannya. "Enggak sayang. Cepat tidur dek biar aku pijitin."
"Memangnya mas yakin aku bisa tidur?"
Arjuno jelas paham sekali. Zantisya selalu tidur lelap jika sudah ia peluk. Arjuno melihat jam di kamar mereka, pukul 20.00 WIB.
"Ayo kita tidur lebih awal dek." Ajak Arjuno. Ia sudah merebahkan diri dan merentangkan tangannya agar Zantisay menghambur kepelukannya.
.
.
.
Tepat adzan subuh Arjuno dan Zantisya sudah terbangun. Mereka segera mandi bersama, setelahnya mereka segera menjalankan kewajiban mereka.
"Mas aku turun duluan ya. laper banget" keluh Zantisya sambil mengusap-usap perutnya.
"Tunggu sebentar dek."
Biasanya Zantisya selalu nurut kalau Arjuno bilang sebentar. Dia sabar menunggu agar mereka turun bersama. Tapi kali ini sepertinya Zantisya tidak sabar menunggu Arjuno yang sedang berganti baju.
"Ya Allah disuruh tunggu kok aku malah ditinggalin” keluh Arjuno saat melihat Zantisya keluar lebih dulu dari kamar mereka.
Arjuno secepat kilat melepas sarung dan baju muslimnya untuk berganti dengan pakaian santai.
"Maaasss..."
Arjuno samar-samar mendengar suara Zantisya yang memanggilnya dengan suara teriakan. Antara yakin dan tidak yakin Arjuno memilih cepat keluar dari kamarnya. Dan langsung menuruni anak tangga.
"Sayaaanggg..." Teriak Arjuno.
Spontan Arjuno lari dengan sangat cepat menuruni anak tangga. Jantungnya seketika tidak baik-baik saja. Nafasnya terasa berhenti menyesakkan dadanya. Nyeri menyakitkan.
"Sakit mas..." Lirih Zantisya.
Bagaimana mungkin Arjuno baik-baik saja jika melihat istrinya tergeletak dilantai. Karena sudah dapat dipastikan Zantisya terpeleset saat menuruni anak tangga.
Dan entah dari tangga bagian mana Zantisya jatuh karena kini sudah banyak darah yang keluar dari tubuhnya.
"Sayang..." teriak Arjuno lagi. Karena kini genggaman tangan Zantisya terlepas. Artinya Zantisya kehilangan kesadarnnya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan 🥰 kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️