
Arjuno terdiam sambil melihat langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang tepat di kejadian lift tadi. Ia masih tidak habis pikir kenapa Zantisya dengan sengaja menyentuh jarinya. Kalau begini jangan salahkan Arjuno jika ia salah paham dengan perlakuan Zantisya tadi.
Arjuno mulai mengingat semua kenangan bersama Zantisya. Dari mulai pertemuan sehingga membuat mereka menjadi sangat dekat dan akhirnya kini meninggalkan rasa cinta yang tidak dapat Arjuno tahan.
"Semoga besok aku bisa menemui mu" gumam Arjuno sebelum akhirnya ia terlelap terbuai mimpi.
Keesokan paginya duda berusia 29 tahun itu sudah berpakaian kasual untuk segera pergi ke kantornya sendiri. Sudah sejak satu bulan perusahaan Rani sudah ia kendalikan sendiri. Arjuno hanya sesekali membantu jika Rani membutuhkan bantunya dan itu jika sangat urgent.
Ketika sore harinya, Arjuno langsung menuju rumah sakit. Berharap ia akan bertemu dengan Zantisya. Pucuk dicinta ulang pun tiba, Arjuno melihat Zantisya yang tengah duduk di kursi roda itu tengah di dorong oleh seorang perawat menuju taman.
Arjuno mengikuti dari belakang. Saat perawat yang mengantarkan Zantisya pergi meninggalkan perempuan itu, Arjuno langsung mendekat. Berdiri tepat di samping Zantisya. Gadis itu yang merasakan kehadiran dan mencium aroma khas Arjuno langsung menoleh kesamping sejenak menatap lelaki yang berdiri menjulang tinggi. Tak lama Zantisya kembali menundukkan wajahnya.
"Aku butuh penjelasan dek" ucap Arjuno setelah beberapa menit mereka saling diam tidak ada yang menyapa membuka percakapan diantara keduanya.
Zantisya hanya diam saja. "Apa yang kamu lakukan kemarin saat aku akan keluar lift?"
Zantisya paham dengan maksud lelaki yang tetap berdiri disampingnya itu. Namun ia tetap memilih diam.
"Kamu menyentuhku disaat aku benar-benar mencoba melupakan mu, dan sekarang Dengan perlakuan mu kemarin jangan salahkan aku jika aku berfikir kamu pun memiliki hal yang sama dengan ku dek" tutur Arjuno.
Zantisya membenarkan perkataan Arjuno hanya didalam hati. Ia tidak mungkin mengutarakan segalanya setelah fisiknya benar-benar di lecehkan oleh suaminya. Meskipun itu haknya namun Zantisya tida rela seujung kulitnya disentuh Bima.
Arjuno duduk jongkok tepat dihadapan Zantisya. Perempuan itu hanya menundukkan wajahnya tak berani menatap lelaki yang terus menatapnya lekat.
"Lihat aku dek" ucap Arjuno.
Namun Zantisya masih tetap menundukkan wajahnya. "Lihat aku dek Kemala" Zantisya langsung menatap tepat dikedua netra lelaki bermata teduh itu saat nama belakangnya disebut. Hampir 5 menit mereka hanya saling bertatap mata. Menyalurkan segala rasa yang ada pada diri keduanya.
"Aku benarkan? Jika tidak, mana mungkin kita saling melakukan hal itu dibawah sinar bulan" Zantisya paham betul apa yang dimaksud Arjuno. "Kita sama-sama sadar dan itu salah. Tapi aku pun tidak bisa menyesali apa yang sudah terjadi dek"
__ADS_1
Zantisya menundukkan wajahnya. Namun dengan cepat Arjuno menyentuh dagu Zantisya agar mereka saling bertatap lagi.
"Aku sakit melihatmu seperti ini. Nafasku terasa berat saat kita bertemu kemarin. Aku benar-benar berharap kamu bisa bahagia dengan kehidupanmu maka dari itu aku terus berdoa untukmu" Arjuno menjeda ucapannya dan terus menatap Zantisya lekat.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sehingga keadaanmu menjadi seperti ini dek" lirih Arjuno, suaranya terdengar sangat sedih matanya sudah memerah siap meluncurkan bening air mata.
"Jika apa yang aku pikirkan itu benar, dan jika apa yang terlintas di kepala ku terjadi. Tolong kembalilah pada ku saat kamu telah lepas darinya. Aku mohon carilah aku dan kembalilah pada ku dek"
Sedetik itu juga air mata Zantisya jatuh tanpa bisa ditahan. Bagaimana mungkin ia mendapatkan rasa cinta dari orang yang telah ia bohongi dan ia sakiti dengan sengaja meski kesengajaan itu bukanlah maunya.
"Kamu tahu dek bagaimana perasaanku, aku akan menunggu balasan itu setelah waktunya tiba" Arjuno menatap Zantisya yang kini memilih menunduk dalam tangisnya dan tetap memilih diam tanpa berucap sepatah saja. "Aku pergi" ucap Arjuno yang langsung berdiri.
"Mas" lirih Zantisya sambil menggenggam erat ujung baju Arjuno menghentikan lelaki itu yang ingin melangkah pergi. "Jangan menungguku, mas Arjun pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Kemala" Zantisya menghentikan ucapannya. Sedang Arjuno Menatap perempuan yang berbicara sambil menunduk. "Aku istri orang mas" jelas Zantisya telak. Ia hanya berharap Arjuno mendapatkan perempuan yang masih suci. Menurut Zantisya dirinya kotor karena Bima telah menjamah seluruh tubuhnya meski belum sampai ke tahap terpenting.
"Seperti kata ku waktu itu dek. Aku bukan orang yang merebut milik orang lain. Tapi kini aku berkeyakinan bahwa kamu akan menjadi milikku. Aku tidak akan merebut mu saat ini karena aku tidak punya alasan merebut walau aku ingin. Apa lagi melihat keadaan mu seperti ini. Aku juga tidak ingin kebersamaan kita menjadi jalan salah karena caranya sudah salah. Maka dari itu jika doaku akan kebahagiaanmu tidak terkabul dan itu terjadi, maka carilah aku. Aku menunggu mu dan aku pasti tetap menunggu mu"
.
.
.
Klek
Suara pintu terbuka. Zantisya langsung menolah mengira Laras lah yang datang. Namun dugaanya salah ternyata Bima yang masuk dan langsung menutup pintu. Bima berjalan mendekati brankar dimana Zantisya berbaring, membuat tubuh Zantisya bergetar takut.
Bagaimana mungkin gadis itu tidak takut dengan Bima yang telah memperlakukannya seperti itu.
"Ka… kakak mau apa kesini?" tanya Zantisya takut dengan suaranya yang terdengar bergetar.
__ADS_1
"Cih, kamu pikir aku mau apa sampai kamu setakut itu sama aku. Dasar istri durhaka" hina Bima. Sungguh tidak berkaca diri Bima ini menghardik Zantisya.
Zantisya menundukkan wajahnya dan berfikir akan hinaan Bima padanya. Benarkah ia istri durkaha seperti ucapan Bima. Zantisya membalas tatapan Bima, ia tersenyum sinis terhadap Bima membuat Bima sendiri bingung.
"Kenapa senyum mu begitu mengejek ku"
"Bagus kalau kakak sadar" entah keberanian dari mana sehingga Zantisya melawan Bima.
Bima langsung tersulut emosi hanya dengan ucapan Zantisya seperti itu. Bima langsung melangkah lebar mendekati Zantisya dan langsung mengangkat tangan kanannya. Namun perkiraanya salah, Bima kira Zantisya akan menutup matanya dan memohon padanya untuk tidak menyakitinya.
"Kenapa kakak diam. Kakak mau tampar aku kan? Silahkan" ucap Zantisya seolah menerima dengan senang hati apa yang akan Bima lakukan padanya.
Bima langsung menurunkan kembali tangannya menatap Zantisya yang sedang menatapnya penuh kebencian. "Aku kasihan padamu"
"Aku tidak butuh kakak kasihani"
"Lihat wajah cantik mu yang terlihat mengenaskan" tanpa Bima sadari ia memuji keayuan paras Zantisya. "Kalau kamu menuruti malam itu kamu tidak akan merasakan seperti ini" tanpa Bima sadari ucapannya seolah ia benar-benar menginginkan Zantisya.
"Akan lebih baik aku mati dari pada harus disentuh lelaki yang tidak pernah menghargai artinya pernikahan" hina Zantisya telak.
Bima terdiam. Ingin rasanya ia menyela yang diucapkan Zantisya untuknya namun semua memang nyata.
"Sebaiknya kakak pulang, aku nggak perlu kakak menjaga aku disini" Usir Zantisya karena sekuat apapun saat ini ia berucap namun sejujurnya ia sangat takut.
Bima langsung balik arah melangkah menuju pintu meninggalkan Zantisya sendiri disana.
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋
__ADS_1