
Sejak selesai subuh, Zantisya membantu aktifitas bi Tami di dapur. Ia nampak cekatan mengerjakan urusan yang berkaitan dengan dapur. Sudah cukup lama ia tidak bergelut dengan peralatan masak, karena selama di rumah Laras ia tidak di perbolehkan setiap saat melakukan pekerjaan dapur, karena sudah aja asisten yang mengerjakannya.
Pukul 06.30 Arjuno baru turun ke lantai bawah. Ia langsung menuju dapur setelah mencium aroma lezat dari arah dapur. Dengan begitu saja kakinya melangkah karena seketika rasa lapar menyergapnya. Ia melihat Zantisya tengah menata makanan di meja makan.
"Bi Tami dimana dek?" tanya Arjuno mengejutkan Zantisya yang tengah mencuci piring.
"Eh mas Arjun. Bi Tami lagi jemur baju mas"
"Amel?"
"Amel bantu bi Tami" jawab Zantisya. Amel meski masih kecil tapi ia selalu membantu pekerjaan bi Tami sebisanya. Padahal bi Tami dan juga Arjuno melarangnya, namun bocah kecil itu selalu saja mengikuti apa yang di lakukan bi Tami, meski lebih banyak mengganggunya dari pada membantu.
"Kamu yang masak ini semua dek?" tanya Arjuno melihat menu yang tersaji di meja makan. Nasi goreng udang, telur mata sapi dan ayam goreng.
"Iya. Mas mau makan sekarang?"
Arjuno mengangguk dan menarik kursi untuk duduk. Saat itu juga bi Tami dan Amel masuk. "Ayo bi, mel kita sarapan dulu" ajak Arjuno. Tangannya membalik piring untuk di isi dengan nasi goreng.
"Iya mas" jawab bi Tami. Amel sendiri langsung menarik kursi dan langsung duduk.
Zantisya mengambil piring yang ada di tangan arjuno. "Biar aku ambilkan mas" untuk sejenak Arjuno terkejut ia hanya menatap Zantisya. Sudah lama ia tidak ada yang memberikan perlakuan seperti itu sejak kepergian Vina. "Lagi mas?"
"Cukup dek"
"Mau sama apa mas?"
"Sama ayam goreng aja dek"
"Telurnya?" tawar Zantisya.
__ADS_1
Arjuno menggeleng. "Cukup itu saja"
Lalu Zantisya juga mengambilkan makan untuk Amel. Kemudian ia juga menyiapkan empat gelas air mineral. Tak lama bi Tami juga ikut bergabung. Ada kehangatan yang di rasakan Arjuno pagi ini. Perasaan yang sejak lama ia impikan.
Sekitar pukul 19.00 Bima dan Zantisya baru memasuki halaman rumah. Tadi pagi Zantisya di antar pulang ke rumahnya setelah mereka mengantar Amel ke sekolah. Zantisya langsung keluar mobil setelah Bima memarkirkan mobil di garasi.
Laras yang sudah kesepian sejak kemarin langsung memeluk Zantisya, ia sangat khawatir karena sekarang mantunya itu tengah hamil muda.
"Apa kalian tidur di apartemen setelah memeriksakan kehamilan Tisya?" tanya Laras setelah merenggangkan pelukannya.
"Iya ma…" tentu saja itu yang menjawab Bima.
"Padahal mama sangat ingin tahu kesehatan calon cucu mama ini" ucap Laras sambil mengusap perut rata Zantisya.
"Cucu mama nggak mungkin ada disana. Karena cuma Evita yang akan melahirkan penerus untuk keluarga Sanjaya" ucap Bima dalam hati. Karena sangat tidak mungkin ia mengatakan semuanya begitu saja. "Kita ke atas dulu ma" ucap Bima. Langsung melangkah naik ke atas dengan merangkul pundak Zantisya sok mesra. Saat sekiranya mereka sudah tak terjangkau oleh Laras, Bima langsung mendorong Zantisya agar berjarak dari tubuhnya. Beruntung ia tidak sampai tersungkur ke lantai. "Dasar perempuan sialan"
Benci dan cinta adalah perasaan yang sangat tipis jaraknya. Jangan terlalu membenci seseorang karena saat rasa benci itu semakin memuncak maka cinta akan hadir tanpa di rasa. Jangan pula terlalu mencintai seseorang karena saat engkau terluka maka rasa benci yang berkabut di hati akan kalah dengan semua rasa cinta yang kamu punya.
Tuhan adalah sang pembolak balik hati manusia. Jika sekarang benci mungkin suatu saat nanti ia akan begitu sangat mencintai. Jika sekarang cinta mungkin saja ia akan pergi menjauh sejauh-jauhnya untuk melawan rasa cinta. Karena pada dasarnya lawannya cinta bukanlah kebencian, namun pergi adalah jalan yang tepat untuk mengalihkan segala perasaan cinta di hati manusia.
Bima tampak turun dengan setelan jas kantornya. Ia segera menuju ruang makan untuk sarapan terlebih dulu. Sesampainya di ruang makan terdapat Zantisya yang tengah sibuk menata menu sarapan pagi ini bersama dengan asisten rumah tangga.
"Selamat pagi kak" sapa Zantisya tersenyum ramah.
Meski bingung dengan sikap Zantisya pagi ini namun Bima tetap acuh dan tak mau ambil pusing.
"Pagi" Bima langsung mendudukkan dirinya. Tak lama Laras nampak datang dan langsung ikut bergabung sarapan.
Zantisya seperti biasanya melayani makan minum suaminya dengan lembut dan sabar. Setelah Bima selesai makan lalu minum dan mengelap mulutnya dengan tissue. Ia pun beranjak di ikuti Zantisya yang lebih dulu mengambil tas kerja Bima. Tak lupa Bima pamit undur lebih dulu pada Laras karena ada meeting penting pagi ini.
__ADS_1
"Tunggu kak"
Bima langsung berhenti dan berbalik menghadap Zantisya pada ambang pintu ruang makan. "Ada apa?"
Zantisya meletakkan tas kerja Bima di atas meja kecil dekat pintu lalu berdiri tepat di depan Bima. Ia sedikit berjinjit agar tubuhnya lebih tinggi lalu tangannya terulur membenarkan dasi suaminya.
Jarak mereka sangat dekat, meski sedikit heran karena jarak Zantisya dengan Bima yang sangat dekat ini, Bima masih sempat memperhatikan wajah istrinya itu. Bulu mata lentik milik Zantisya yang nampak beberapa kali berkedip begitu nampak cantik bak boneka. Belum lagi bibir mungil yang nampak berwarna merah muda alami. Pipi yang Nampak putih mulus tanpa make up.
Tanpa Bima sadari detak jantungnya bekerja begitu cepat. Sekelebet pikirannya ingin menarik pinggang Zantisya dan meraup bibir yang begitu menarik perhatiannya. Namun detik berikutnya ia sadar saat Zantisya memundurkan posisinya menjauhkan diri darinya.
"Sudah kak. Ayo Tisya antar ke depan" ajaknya. Ia mengambil tas kerja suaminya lalu menggandeng tangan suaminya berjalan ke depan.
"Apa yang kamu lakukan hah?" desis Bima sambil menarik tangannya menjauh dari Zantisya. Sejujurnya ia marah pada dirinya sendiri karena untuk beberapa detik terdapat rasa ketertarikan pada istri kontraknya itu.
"Acting. Apa lagi kak. Bukannya disurat perjanjian kita harus terlihat baik-baik saja di depan mama" Bima terdiam. Benar juga yang di katakana Zantisya ini.
Namun ia bingung karena sikap Zantisya begitu berbeda dari biasanya. Ia seolah sedang melayani suaminya. Tapi memang kenyataan dia suami dari gadis berbulu mata lentik itu. Maksudnya seperti pelayanan seorang istri yang begitu di cintai suaminya.
Bima menyadarkan pikiran aneh yang tiba-tiba menggelayuti otaknya. Ia menghembuskan nafas kasarnya. Ia yakin hanya Evita yang ia cintai dan yang berhak mendapatkan cintanya.
Zantisya tersenyum melihat mobil suaminya keluar dari gerbang yang menjulang tinggi. Ia juga merasa lega karena suaminya sudah berangkat kerja sehingga ia tak perlu bersandiwara lebih lama.
"Seandainya kakak belajar menerima ku mungkin aku akan mudah menerima kakak menjadi suami ku. Tapi karena kakak sudah memiliki mbak Evita maka jangan salahkan aku jika aku pun melakukan hal yang sama. Aku akan membentengi hati ku untuk tidak akan pernah menerima kakak apapun alasannya. Dan sekarang aku akan meninggalkan kenangan yang akan mengusik hidup kakak sebelum kita berpisah" janji Zantisya di dalam hati.
Bersambung...
Para reader kesayangan 😊 mohon untuk meninggalkan jejak ya 🥰 kasih like dan komennya 💋 jangan lupa klik favorit ❤️ follow akun author dan pasti bakal aku follow back 🥰
selamat pagi dan selamat beraktifitas...
__ADS_1