
Setelah usai membersihkan diri lebih dulu dan berpakaian dinas. Zantisya langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Sambil menunggu suaminya keluar dari kamar mandi, Zantisya mengambil salah satu buku yang ia beli tadi.
Pikirannya melayang saat Bima menemuinya tadi. Bimbang harus mengatakan pada Arjuno atau tidak. Meskipun hanya terlibat pembicaraan yang membuatnya jengkel. Tapi tetap saja mengganjal dihatinya.
Zantisya langsung tersadar dari lamunannya saat Arjuno meniup wajahnya.
"Mas ih, jail banget sih"
"Lagian tangan pegang buku tapi malah ngelamun" ucap Arjuno sambil mengambil buku ditangan Zantisya lalu meletakkan diatas nakas. "Mikirin apa hem?" tanya Arjuno sambil membawa Zantisya kedalam pelukannya.
"Nggak mikirin apa-apa mas" Zantisya masih bimbang.
"Beneran?"
"Iya mas" Zantisya memeluk Arjuno.
"Mau kuliah?"
"Mas ngebolehin aku kuliah?" tanya Zantisya tak percaya.
"Nggak percaya dek?"
"Jelas nggak percaya lah mas" ucap Zantisya bangun untuk duduk lebih nyaman.
"Kenapa?" Arjuno heran kenapa istrinya nggak percaya.
"Mas, aku izin keluar beli bunga aja mas nggak ngizinin. Apa lagi aku kuliah yang pasti ketemu banyak orang" sindir Zantisya telak.
"Oh jadi ceritanya masih ngambek perkara tadi pagi?" tanya Arjuno ikut duduk di hadapan Zantisya.
"Aku nggak ngambek mas, Cuma ngingetin ke posesifan mas aja"
"Nanti aku Carikan sopir buat kamu dek, jadi kalau aku nggak dirumah kamu tetep bisa kemana yang bisa kamu tuju"
"Nggak usah mas, aku udah punya sopir yang lebih professional"
Arjuno mengerutkan keningnya heran. "Siapa dek?"
Dan dengan usilnya Zantisya membelai rahang Arjuno. "Suamiku lah siapa lagi"
"Semakin jail ya sekarang" ucap Arjuno sambil mencolek dagu Zantisya. "Jadi gimana dek?"
"Aku nggak mau mas. Toh ilmu nggak harus kuliah juga kan kita dapatnya, aku bisa baca buku atau kursus atau apalah yang penting aku nggak mau kuliah"
"Kenapa sayang?"
"Nanti kalau kita punya anak, aku pengen anak kita nggak kurang perhatian dari aku mas, aku mau rawat sendiri" Zantisya memikirkan dirinya kala hidup dibesarkan bapaknya seorang diri. Terkadang ia sangat iri pada teman-teman sekolahnya setiap kali ibu mereka datang ke sekolah menjemput pulang.
__ADS_1
Arjuno melihat kesedihan di mata Zantisya. Jika Zantisya kekurangan kasih sayang seorang ibu, maka ia sendiri kurang kasih sayang seorang ayah. Arjuno sadar mereka berdua dewasa dan mengerti sejak dini.
"Apapun keputusan adek, aku dukung. Katakana apapun maunya adek ok"
Zantisya mengangguk. "Terimakasih ya mas"
"Buat apa sayang?" tanya Arjuno sambil membelai wajah Zantisya dan membawa helaian rambut Zantisya kebelakang telinga.
"Karena mas sangat menyayangi aku"
"Terimakasihnya yang bener dong sayang"
Zantisya menatap horor senyum suaminya, belum lagi kedipan matanya yang selalu menggoda untuk melakukan hal-hal itu.
"Kok merinding ya mas jadinya"
Arjuno langsung membawa Zantisya berbaring, menempatkan istrinya diatas tubuhnya.
"Tuh kan modus" ucap Zantisya.
"Katanya mau punya anak" ucap Arjuno sambil menaik turunkan alisnya.
"Ih mau punya anak itu gak setiap saat juga kali mas buatnya. Katanya lebih baik itu ngelakuinnya dua atau tiga hari sekali, cukup sekali mas" ulang Zantisya memperjelas.
"Ah nanggung dek udah enak ini posisinya" ucap Arjuno sambil membelai pa*ha Zantisya.
"Mas..." panggil Zantisya sambil membelai punggung suaminya yang penuh dengan keringat. Yang masih tetap berada diatas tubuhnya seolah enggan beranjak dari sana.
"Hem..."
"Tadi waktu mas ke toilet, orang itu nemuin aku lagi"
Spontan Arjuno mengangkat wajahnya menatap Zantisya. "Bima?" Zantisya langsung mengangguk. "Kamu nggak diapa-apain kan sayang?" tanya Arjuno mendadak khawatir.
"Mas nggak pengen tahu kenapa dia nemuin aku?"
"Aku lebih mengkhawatirkan kamu dek dari pada tahu alasannya" sejujurnya Arjuno peka kenapa Bima mengejar Zantisya kembali.
"Mas percaya sama aku kan?" tanya Zantisya setelah menceritakan semua perkataan Bima padanya. Kecuali tentang perasaannya yang tumbuh sejak awal bertemu dengan suaminya kala itu. Jujur, malu juga Zantisya bisa-bisanya tertarik dengan orang yang sedang berduka.
"Aku percaya sayang" ucap Arjuno langsung turun dan langsung menggendong tubuh Zantisya.
"Mau kemana?"
"Mandi dek. Biar seger badan kita nanti tidur juga nyenyak"
"Mandi aja ya mas" Zantisya mulai berfikir kearah lain melihat seringai senyum suaminya yang mencurigakan.
__ADS_1
"Aku akan kasih bonus servis ples ples karena adek sudah selalu terbuka tentang apapun sama aku"
Sungguh tidak patut dipercaya ucapan Arjuno. Tinggal jujur saja kalau mau nambah apa susahnya.
.
.
.
Sedangkan ditempat lain nampak seorang pria tengah mengendarai mobil dengan keadaan setengah mabuk. Melaju kencang menerjang jalanan yang sudah mulai sepi. Beruntung lelaki itu selamat sampai mobilnya memasuki rumah megah itu.
Bima langsung keluar dari mobil dan menutup pintu mobil dengan cara dibanting karena menahan amarahnya sendiri. Setelah itu Bima melangkah lebar menuju taman belakang. Lelaki itu menatap sinis bunga yang nampak indah subur karena Laras dengan telaten merawat setiap pagi dan sore hari.
"Kenapa kamu menyiksaku dengan kenangan Tisya? Kenapaaa….?" Bima sampai berteriak meluapkan emosinya.
Bima mengingat semua sikap manis Zantisya kala berada di hadapan Laras. Perlakuan yang nampak tulus dalam ingatan Bima. Kini ia pun mulai menyadari jika ia pernah mengabaikan perasaannya terhadap mantan istrinya itu.
"Jika dulu aku tidak abai dengan ketertarikan ku pada mu apakah kamu akan menerima ku Tisya, mencintai ku seperti kamu mencintai dia, tersenyum tulus dengan canda tawa mu Tisya"
"Zantisya..." teriak Bima sambil mengangkat satu pot bunga dan membantingnya.
Brak...
"Bimaaa..." teriak Laras yang baru memasuki taman belakang. Laras terbangun karena bu Ati yang hendak ke dapur dan mendapati Bima yang sedang mengamuk.
"Apa-apaan ini Bima? Kenapa kamu hancurkan bunga kesayangan mama?"
"Kenapa ma? Kenapa Tisya tega menyiksa Bima dengan ini semua?" ucap Bima menunjuk seluruh bunga yang mengelilingi gazebo.
"Tisya yang selama ini tersiksa bersama kita Bima. Dia sudah melakukan hal yang terbaik untuk mu meski ia sendiri tak ingin. Jadi jangan salahkan Zantisya lagi"
"Nggak ma... Zantisya sengaja melakukan ini. Zantisya sengaja menyiksa Bima ma... Kenapa ma, kenapa Bima jatuh cinta saat Bima kehilangan semuanya?"
Ucapan Bima membuat hati Laras terenyuh, tapi biar bagaimana pun Laras tidak bisa menyangkal karena memang Bima sendiri yang membuatnya pergi.
"Bima harus dapatkan Tisya lagi ma"
"Jangan melakukan hal bodoh Bima. Jangankan mendapatkan Tisya kembali, kamu sendiri pasti akan sulit menerima maaf darinya. Dan ingat satu hal ini, Zantisya sudah menikah dan dia sudah sangat bahagia jangan rusak itu semua"
"Nggak bisa ma. Mereka menikah juga sebelumnya berhubungan dengan lelaki itu dibelakang Bima"
Laras semakin geram dengan mendengar ucapan anak satu-satunya yang sangat cerdas namun sangat lah bodoh dalam hal cinta. "Yang bermain dibelakang itu kamu Bima, jadi jangan mencari alasan untuk membenarkan segala perbuatan mu yang sejak awal sudah jelas salah"
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1
Selamat pagi dan semangat beraktivitas 💪