
Sesampainya disebuah hotel bintang lima, dimana acara undangan pesta diadakan. Zantisya menggandeng mesra tangan Arjuno. Banyak yang menatap kagum keduanya yang begitu sangat serasi. Arjuno dan Zantisya mengisi daftar tamu undangan sebelum memasuki ruang utama pesta.
Setelah memasuki ruang utama pesta seluruh tamu undang langsung bisa menikmati segala macam hidangan yang ada disana.
"Ini kita nggak duduk mas?" tanya Zantisya heran saat Arjuno mengajaknya mencicipi salah satu makanan disana dan tetap berdiri. Harap maklum karena memang ini kali pertamanya datang ke acara pesta pernikahan yang dilaksanakan disebuah hotel.
"Memang begini dek cara menikmati hidangannya. Nyicipin makanan satu dan pindah ke yang lainnya sesuai keinginan kita"
Zantisya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru tamu undangan.
"Tapi kita bisa cari tempat duduk yang nyaman kalau adek mau" usul Arjuno.
Tentu saja Zantisya menyetujui usulan suaminya. Setelah mereka mengambil dua macam menu dan dua gelas air minum, Arjuno langsung mengajak Zantisya menuju tempat duduk yang terlihat kosong. Mereka berdua dengan suka menikmati acara pesta yang terdapat hiburan dari seorang penyanyi tanah air.
"Ngabisin uang berapa ya mas pesta model kaya gini?" tanya Zantisya spontan karena rasa penasarannya.
"Bisa ratusan juta atau bahkan lebih dek"
"Sekaya apa orang ini sampai menggelontorkan uang segitu banyak untuk pesta kaya gini ya mas?"
"Aku juga mampu sayang kalau kamu mau dek" ucapan Arjuno sukses membuat Zantisya menyadari ucapannya yang mungkin saja membuat suaminya berprasangka terhadapnya.
"Aku cuma tanya lo mas"
Arjuno tersenyum menatap istrinya. "Aku tau. Lagian kenapa juga waktu kita nikah adek nggak mau ku ajak buat kaya ginian?"tanya Arjuno heran. Padahal kan dia ingin membuat Zantisya bahagia namun ternyata permintaan Zantisya sangat sederhana.
"Mau coba punya ku?" tawar Zantisya mengalihkan topik pembicaraan sambil menyuapkan makanan kearah mulut Arjuno dan dengan senang hati Arjuno melahapnya.
Arjuno menyesap minuman yang ada di depannya dan memperhatikan Zantisya yang menghabiskan makanan di depannya.
Tangan Arjuno terulur dan jari tangannya mengusap bibir Zantisya yang terlihat belepotan. "Jangan belepotan sayang" ucap Arjuno kemudian ******* jarinya sendiri yang telah mengusap bibir istrinya tadi, membuat Zantisya tercengang.
"Mas jorok tau" ucap Zantisya sambil menarik pipi suaminya gemes. Bisa-bisanya suaminya modus nggak tau tempat. Membuat Arjuno terkekeh atas perlakuan Zantisya.
"Nggak ada yang jorok apapun yang ada di istriku ini" ucap Arjuno sambil mengedipkan matanya menggoda Zantisya.
Zantisya terkekeh geli karena setiap waktu Arjuno terus menggodanya.
"Akhirnya saya ketemu juga sama pak bos" ucap Rudi yang baru datang.
"Udah kenyang?"
__ADS_1
"Bukan kenyang bos, capek mah iya"
"Mbak Nuri nya kemana pak?" tanya Zantisya celingukan tidak menemukan sosok yang dicari. Tadi sebelum berangkat ke acara Arjuno mengatakan kalau Nuri ikut hadir.
"Lagi ke toilet bu bos"
"Mas aku ke toilet dulu ya?" pamit Zantisya yang langsung berdiri sambil membawa tasnya.
"Mau aku temani?" tawar Arjuno ikut berdiri.
"Mas sama pak Rudi aja, aku bisa sendiri*
Zantisya langsung melangkah menuju toilet setelah mendapatkan arahan Rudi. Berharap disana ia bertemu dengan Nuri. Namun sayangnya saat Zantisya memasuki toilet, tempat itu nampak sangat sepi.
Tanpa berpikir apapun Zantisya langsung masuk kedalam toilet hanya beberapa menit kemudian ia berdiri didepan wastafel untuk mencuci tangan dan melihat pantulan wajahnya.
Zantisya menunduk membuka tasnya mencari lipstick. Setelah menemukan benda yang ia cari Zantisya melihat pantulan dirinya pada cermin. Dan sedetik itu juga matanya melebar kala melihat siapa yang berdiri dibelakangnya itu.
Tangan Zantisya langsung bergetar dan memasukkan lagi lipstiknya kedalam tas. Jarinya terus mencari benda yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi, sedang matanya menatap sinis pada pantulan lelaki dibelakangnya.
"Sepertinya anda salah toilet pak" ucap Zantisya setenang mungkin.
Bima tersenyum, kini ia bisa mendengar suara Zantisya lagi. "Bagaimana kabarmu Tisya?"
Bima dan Evita juga ternyata hadir disana. Dan tanpa di ketahui Arjuno dan Zantisya, tanpa disadari Evita juga jika sejak awal Bima terus memperhatikan dengan tajam bagaimana mesranya Zantisya dan Arjuno.
Melihat Zantisya yang terus tersenyum dan tertawa bersama Arjuno membuat hati Bima terasa panas mendidih.
Apalagi saat Bima melihat Zantisya menyuapkan makanan pada Arjuno, Bima spontan melihat kearah Evita yang tengah fokus ke layar ponselnya. Sungguh perbedaan yang signifikan.
Membuat seluruh penyesalannya semakin menumpuk. Membuat ia ingin sekali merebut apa yang awalnya adalah miliknya.
"Seperti yang kamu lihat"
Bima tersenyum getir mendengar ucapan sinis Zantisya. Bahkan kini perempuan yang pernah menjadi istrinya itu sepertinya enggan memanggilnya dengan sebutan kakak.
Bima melangkah mendekat inging menyentuh pundak Zantisya. Namun dengan cepat perempuan itu berbalik kearah Bima dan menodongkan sebuah pisau.
"Stop! Jangan mendekat" todong Zantisya. Sejak awal menikah dengan Arjuno, suaminya itu memang selalu meminta Zantisya untuk selalu membawa pisau yang sudah di desain khusus seperti bentuk pulpen.
Zantisya sangat bersyukur karena kini benda itu sepertinya sangat bermanfaat untuknya. Beruntung ia selalu menuruti setiap ucapan Arjuno untuk kebaikannya sendiri.
__ADS_1
"Lakukan kalau kamu berani Tisya" tantang Bima.
"Apa yang kamu mau sebenarnya?"
Bima tersenyum sinis mendengar pertanyaan Zantisya. "Aku ingin memperjelas sesuatu, apa selama kamu menikah dengan ku kamu memang sudah bermain dibelakang ku?"
"Apa maksud kamu?"
"Kamu dan suami kamu itu, kalian sudah selingkuh sejak awal kan?"
"Heh… apa pentingnya membahas ini Tuan Bima Sanjaya?"
"Apa kalian juga tidur bersama saat kamu menginap dirumahnya hah?" tanya Bima dengan suara meninggi.
Zantisya sejujurnya terkejut mendengar pertanyaan Bima, dan dari mana Bima tahu kalau ia pernah bermalam dirumah lelaki yang kini menjadi suaminya itu.
Zantisya tersenyum mengejek, meski hatinya tengah ketakutan dan berharap ada seseorang yang datang, tapi ia terus berusaha kuat. Orang seperti Bima memang harus di lawan.
"Karena ini menyangkut harga diriku dan suami ku maka anda harus dengar ini Tuan Bima Sanjaya yang terhormat. Saya dan lelaki yang kini menjadi suami saya tidak melakukan hubungan gelap seperti yang anda tuduhkan. Saya bukan wanita murahan yang mau tidur dengan lelaki yang bukan suami saya"
Ucapan Zantisya itu sukses membuat Bima ingat atas perlakuannya selama ini. Tapi nyatanya, Bima tetap gelap mata mengabaikan apa yang pernah terjadi.
"Munafik. Jangan sok suci Tisya, karena aku pun tahu kalian pernah ciuman saat berada di pantai"
Ucapan Bima barusan membuat kedua mata Zantisya membulat karena terkejut, dari mana mantan suaminya itu tahu tentang hal yang ia ketahui hanya ia dan suaminya yang tahu.
"Benarkan?" desak Bima.
"Lalu kamu mau apa dengan semua yang sudah berlalu?"
"Aku juga menuntut hal yang sama" ucap bima yang langsung mendekati Zantisya.
Zantisya sigap hendak melukai tangan Bima yang hendak mencengkeramnya namun Bima langsung menghindar.
"Kamu benar-benar berani sekarang Tisya" entah itu sebuah pujian atau ejekan untuk Zantisya.
"Apapun akan aku lakukan, karena seujung kulit ku pun tidak berhak kamu sentuh"
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya ❤️
__ADS_1
Selamat pagi dan semangat beraktivitas 💪