
Satu minggu sudah berlalu, Zantisya juga sudah terlihat lebih sehat. Ia hanya melakukan perawatan selama dua hari di rumah sakit.
Dan sejak itu pula Arjuno belum pernah pergi ke kantor atau pun melihat ke beberapa restorannya seperti yang biasa dilakukannya.
Semua berkas penting yang harus di tanda tangani selalu firman atau Rudi yang mengantarnya ke rumah. Sesekali juga Nuri datang melihat Zantisya sekaligus membawa berkas laporannya.
Tok
Tok
Tok
Arjuno langsung beranjak dari atas ranjang untuk membuka pintu. "Ada apa bi?"
"Itu mas, dibawah ada tamu."
"Siapa bi?" Tanya Arjuno. Karena memang merasa tidak ada yang memberinya kabar jika akan ada yang datang ke rumahnya.
"Bu Laras dan mbak mbak yang pernah kesini juga mas" jawab bi Tami yang lupa siapa nama Evita.
Akhirnya Zantisya dan Arjuno pun langsung turun menemui Laras dan Evita. Dan saat sampai di ruang tamu Zantisya tersenyum karena disana juga ada anak kecil yang sudah dapat dipastikan itu Aurel anak Evita. Anak kecil yang nampak aktif berlarian kesana kemari.
"Sayang jangan lari-lari nak" ucap Evita memperingati.
Namun namanya juga anak kecil, pasti akan terus bermain sesuka hatinya.
"Nggak apa-apa mbak."
"Tisya" gumam Laras.
Zantisya pun langsung bersalaman dengan Laras. Mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Lalu bersalaman dengan Evita dan cium pipi kanan dan kiri. Sedang Arjuno hanya bersalaman dengan Laras saja.
"Nak, salim dulu sama aunty dan om" perintah Evita lembut. Perempuan yang dulu nampak angkuh dan sombong kini berbeda drastis seratus delapan puluh derajat.
Walau diam tak mengatakan apapun namun Aurel mengikuti perintah Evita.
"Anak pinter" ucap Zantisya saat Aurel mencium punggung tangannya.
"Anak solehah" ucap Arjuno sambil mengusap pucuk kepala Aurel.
Tak lama bi tami mengantarkan minuman hangat dan beberapa camilan.
"Aurel mau lihat ikan?" Tanya Zantisya.
Perempuan ini sepertinya peka akan kedatangan tamu di depan mereka kini.
"Mau" bocah kecil itu sangat antusias.
"Lihat ikan sama bi Tami ya" ucap Zantisya sambil memberi tahu bi Tami.
Aurel langsung mengangguk dan langsung menggenggam tangan bi Tami yang sudah mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Di minum ma, mbak. Cicipi juga kue kering buatan tisya kemarin" ucap Zantisya mencairkan suasana.
"Terimakasih Tisya."
Laras terus menatap Zantisya dan Arjuno bergantian. Akibat kebodohan anaknya yang gelap mata kini mereka harus kehilangan calon anak mereka.
"Arjuno, Tisya. Maaf mama dan Evita baru datang melihat mu nak"
"Nggak apa-apa ma" Zantisya tersenyum menatap Laras. "Yang penting doanya. Dan Alhamdulillah sekarang Tisya sudah sehat."
"Kedatangan kami kesini juga untuk meminta maaf atas segala perbuatan Bima pada kalian nak."
Mendengar nama Bima, membuat Arjuno mulai tersulut Emosi. Zantisya yang sekilas menatap Arjuno langsung tahu wajah menyeramkan suaminya yang belum pernah ia lihat.
Zantisya langsung menggenggam tangan Arjuno kuat-kuat membuat lelaki itu menatap Zantisya.
"Tolong jangan dibahas lagi tante, saya hanya bermasalah dengan anak tante. Jadi tante tidak perlu melakukan hal ini. Biarkan hukum yang menyelesaikan semuanya."
Laras mengangguk paham. "Walau seburuk itu anak tante, tante tetap harus meminta maaf karena Bima anak tante nak dan ini…" Laras menyodorkan cek di hadapan Arjuno.
Arjuno tersenyum sinis menatap apa yang ada dihadapannya kini.
"Saya tidak menerima sogokan untuk mencabut tuntutan saya ataupun mengurangi masa hukumannya nanti" ucap Arjuno. Lelaki itu juga langsung menyodorkan kembali kearah Laras.
"Kamu harus menerimanya nak" ucap Laras menyodorkan kembali dihadapan Arjuno.
"Mas" gumam Zantisya menggenggam erat lengan suaminya. Karena sepertinya Laras belum selesai bicara.
"Ini bukan untuk meminta mu mencabut tuntutan atau pun meminta agar mengurangi masa tahanan Bima nantinya. Ini untuk mengganti rugi apa yang telah dilakukan Bima padamu nak."
Arjuno menyodorkan kembali kertas itu dihadapan Laras. Orang kaya raya sejak lahir memang beda dalam masalah uang. Mudah menuliskan nominal yang menurut Arjuno lebih dari nominal kerugiannya.
"Saya akan terima jika sudah ada keputusan dari hakim tante."
"Ini hak kalian nak."
.
.
.
Sejak tadi Arjuno diam melamun di balkon karena tidak bisa tidur. Setelah Zantisya terlelap, Arjuno memilih ke balkon karena sejak tadi pikirannya terganggu.
Jika kemarin Firman memberitahunya jika Bima ingin bertemu dengannya, tadi sebelum Laras dan Evita pulang. Laras mengatakan hal yang sama jika Bima ingin bertemu dengannya.
Arjuno menghela nafas kasar. Mempertahankan pendiriannya jika ia tidak ingin tahu menahu masalah itu. Ia hanya mempercayakan semuanya pada Firman dan pengacaranya.
"Ada apa mas?" tanya Zantisya yang menghampirinya. Istrinya sudah ganti atribut dengan pakaian tertutup.
"Eh dek. Kok bangun lagi?"
__ADS_1
Zantisya duduk di samping Arjuno. "Ada apa mas?" tanya ulang Zantisya. Ia berharap suaminya sesekali mau berbagi cerita dengannya.
"Dek..."
"Iya."
"Sebelum tante Laras yang mengatakan tadi. Sejak kemarin Firman juga mengatakan kalau Bima ingin bertemu dengan ku."
"Untuk apa mas?"
"Aku juga nggak tahu."
"Pak Firman nggak mengatakan apapun memangnya mas?"
Arjuno menggelengkan kepalanya. "Menurut mu dek, aku harus menemuinya atau nggak?"
"Sesekali menemuinya juga tidak masalah mas. Dari pada mas jadi kepikiran seperti ini."
"Tapi aku nggak berniat menemuinya lagi dek"
"Kalau begitu jangan temui dan jangan dipikirkan lagi permintaanya kalau dia ingin bertemu mas."
"Sini" perintah Arjuno sambil menepuk pahanya. Zantisya langsung menurut duduk di pangkuan suaminya. "Peluk."
"Mas inget kan. Nggak boleh modusin aku" Zantisya selalu curiga pada suaminya.
"Nggak baik dek curigaan sama suaminya kaya gitu."
"Mas ini kan memang patut dicurigai kalau sudah seperti ini."
"Perasaan adek sok tahu banget."
"Bukan sok tahu mas. Tapi memang kenyataannya itu mas memang begitu."
Ah kelamaan mendengarkan Zantisya yang mendebat akal bulusnya. Akhirnya Arjuno langsung menarik tengkuk istrinya.
Mencecap bibir yang sudah tidak pucat lagi. Akhirnya setelah beberapa hari, kini benda kenyalnya bisa beraktifitas lagi.
Arjuno langsung menggendong Zantisya masuk kedalam kamar mereka. Tangan Zantisya yang menutup pintu karena seperti biasa. Arjuno tidak akan melepaskan pagutan mereka.
Pelan-pelan Arjuno merebahkan tubuh mereka di atas ranjang. Masih terus ingin mencecap, tapi harus ia lepaskan karena paru-parunya ingin bernafas dengan normal. Arjuno mengusap bibir Zantisya yang pasti terasa kebas akibat perbuatannya.
"Kenapa mas senyum?"
"Kamu cantik dek."
"Gombal banget sih mas. Sudah tengah mala mini loh" ucap Zantisya. Padahal hatinya selalu berbunga mekar kala mendapatkan pujian dari suaminya.
"Kita harus tidur sayang. Ingat kata dokter kamu harus cukup istirahat."
"Peluk" pinta Zantisya manja setelah melepas jilbabnya. Arjuno pun langsung memeluk Zantisya agar mereka segera terlelap.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa untuk tinggalkan jejak ya sayang kesayangan ❤️ kasih like dan komennya 💋 tab favorit juga ya 🥰