
"Halo..... saya Jose.....apa kesepakatannya cepat katakan?" tanya Jose sedikit emosi.
"Kamu harus bercerai dengan istrimu jika Al ingin kami bebaskan" jawab nya dengan cepat.
"Saya menikah di Ngawi akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar jika akan mengurus hal itu?' jawab Jose bingung.
"Aku tidak perduli.... tergantung usahamu, semakin cepat kau mengurusnya semakin cepat Al akan di bebaskan".
Jose memandang Syaiful kembali, dan Syaiful memberikan kode dengan tangan agar masih tetap mengajaknya berbicara terus.
"Baiklah...tetapi boleh kah saya berbicara dengan putraku sebentar?".
"Tidak bisa..... nanti aku kirim foto saja lewat pesan singkat".
Bersamaan dengan laki-laki berbicara Syaiful memberikan kode acungan jempol kepada Jose bahwa posisi sudah di temukan.
"Tetapi.... tunggu dulu....." Jawab Jose khawatir.
"Tut.....Tut....Tut.....".
Suara telepon itu terputus, Jose hanya lemas dan terduduk di lantai ruang kantor polisi itu bersamaan dengan ada notifikasi WA dari nomor handphone yang di hubunginya tadi.
Jose kemudian membukanya, bersama dengan Syaiful dan para anggota polisi yang lainya, ada foto Al yang tertidur meringkuk sambil memeluk lututnya masih dengan memakai seragam sekolah TK nya dan ada memar di pipi serta darah yang sudah mengering di pinggir bibirnya.
Jose meneteskan air matanya tanpa di sadari melihat putranya yang sangat dicintainya itu lemah di salah satu sudut kamar.
"Lokasi di temukan, di daerah sekitar pelabuhan Tanjung perak" ucap salah satu petugas kepolisian itu.
"Kita rapat, susun strategi Sebelum melakukan pembebasan sandera, cepat...... Sekarang.....?" perintah Syaiful tegas.
"Siap..... laksanakan..." semua anggota menjawab serempak.
"Ayo Se.....ikut sekalian....tapi kamu harus sabar"
Mereka rapat menyusun strategi untuk menyelamatkan Al, karena waktu menunjukkan menjelang magrib, Syaiful memutuskan untuk sholat terlebih dahulu baru melakukan penggerebekan ke TKP.
"Semoga dengan melaksanakan sholat dan berdoa semoga nanti lancar dan Al tidak kurang suatu apapun Aamiin" kata Syaiful lagi.
"Aamiin....ya rabbal Alamin" jawab Jose.
Ada dua mobil polisi dan mobil Jose yang berangkat ke TKP tetapi mobil Jose di kemudian oleh Ardi setelah habis magrib menyusul mereka di markas kepolisian itu.
__ADS_1
Dari tempat lain Danny bersama ambulance juga menuju TKP untuk memberikan dukungan dan berjaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan disana nantinya.
Langkah pertama anggota Syaiful menghubungi rumah yang ada di sekitar kontrakan itu, untuk mengungsi sebentar selama pembebasan sandera.
Mematikan listrik dari tiga rumah yang mengelilingi rumah kontrakan itu, dan dengan segera mengepung kontrakan itu tanpa celah sedikitpun.
Posisi Jose, Ardi dan Danny ada di sebrang jalan yang menghadap ke pintu kontrakan itu tetapi tidak begitu terlihat dari sana.
Yang pertama menyadari ada yang tidak beres karena lampu tetangga mati adalah Damar, dia pura-pura keluar sebentar tanpa memberitahu kedua rekannya itu.
"Aku mau beli rokok sebentar".
Damar mengendap endap keluar dari pintu depan dengan memegang senjata pistol rakitan di tangan kanannya, perlahan menyadari ada orang yang mengawasi, Damar mengekang pistolnya dan dengan tangan yang siaga.
Karena merasa terancam Syaiful membidikkan tembakan ke arah kaki Damar, karena Damar spontan berjongkok dan menunduk peluru itu meleset terkena dada sebelah kanan.
"Dooooor.....".
Damar tumbang seketika di tempat tanpa ada gerakan sedikit pun, Syaiful mendekati tersangka dan memberikan tanda bahwa tersangka mati di tempat.
Jose, Ardi dan Danny ikut mendekati mayat damar, sedangkan yang di dalam rumah itu mendengar ada tembakan kaget dan mencari sumber suara tembakan.
Saat melihat ada Jose di depan pintu Syafitri keluar dan merentangkan kedua tangannya dan berlari mendekati Jose.
"Sayang.....kamu datang menjemput ku?".
Jose mundur beberapa langkah, salah satu polisi menangkap Syafitri dan memborgol kedua tangannya ke belakang dengan cepat, dan dibawa polisi ke ambulance yang ada disana dan langsung dikirim ke rumah sakit jiwa.
Polisi yang dipimpin oleh Syaiful bergerak masuk melalui beberapa arah secara bersamaan dan mendapati Triana yang akan membuka pintu kamar Al dengan tangan gemetar dan memegang senjata rakitan itu, Syaiful langsung melumpuhkan dengan menembak kakinya.
"Dooooor....".
Triana terduduk dengan memegangi kakinya yang mengeluarkan darah, dan meringis kesakitan, di tarik keluar rumah oleh para polisi itu, sedangkan Syaiful berlari masuk kamar melihat ada Al yang terduduk lepas dengan air mata yang berlinang.
"Al sudah aman sekarang....ayo nak ada Yayah mu di luar"
Di peluknya Al dengan erat dan di bopong keluar kamar, menuju teras,, Jose yang melihat Al di gendongan Syaiful berlari menghampiri putranya yang terlihat lemas,
Diraihnya di peluk dengan erat dan berlari keluar.
"Danny....rumah sakit.... Ardi pulang jemput kakak ipar mu" perintah Jose.
__ADS_1
"Yayah.... Al kangen Bunbun..." ucap Al sambil memeluk Jose dan mengeluarkan air matanya.
"Ya nak... kita ketemu Bunbun".
Sesampainya di rumah sakit Danny langsung memeriksa Al di tempatkan di ruang rawat inap VVIP, tetap di peluk oleh Jose tanpa mau dilepas sedikitpun.
Fatia datang bersama rombongan dengan membawa ganti baju Al, sedangkan baby El di gendong oleh Anna.
Al yang melihat Bunbun nya, dengan cepat meraihnya memeluknya dengan erat sambil diiringi tangisan Fatia menciumi pipi Al dengan cepat.
Setelah Al tenang, dimandikan oleh Fatia di kamar mandi dengan perlahan, disuapinya dengan penuh kasih sayang, sesekali Al membelai adik cantiknya El yang berada di pangkuan Fatia sedangkan Al berada di samping Fatia memeluknya dengan erat dari samping.
Setiap ada orang asing yang masuk di ruangan itu terutama wanita dewasa yang seksi Al akan selalu memeluk Bunbun nya dengan erat, seperti ada ketakutan dan trauma yang sangat dalam di hatinya.
Hampir satu Minggu Al dirawat di rumah sakit tubuh nya sudah pulih kembali, hanya emosinya yang belum pulih, dan di bawa pulang kerumah.
Al tidak mau kembali ke sekolah TK itu lagi, sehingga Jose memutuskan untuk membawa keluarga kecilnya itu pulang ke Ngawi untuk sementara.
Triana di hukum seumur hidup oleh pengadilan Surabaya, Syafitri semakin tidak bisa di sembuhkan kan menetap di rumah sakit jiwa sedangkan Damar di makamkan di pemakaman umum di Surabaya.
Al nyaman tinggal di Ngawi sekolah di sana di bimbing oleh pak haji tentang ilmu agama, Fatia dan Jose kembali ke Surabaya setelah mendampingi Al selama tiga bulan.
Setiap satu bulan sekali Fatia pulang ke Ngawi untuk melepas rindu kepada putranya Al.
Al tumbuh menjadi pribadi yang tertutup sejak penculikan itu terutama jika bertemu dengan seorang wanita seksi seakan ada yang membatasinya hingga remaja.
Tetapi keluarga kecil itu sangat bahagia tanpa adanya wanita yang mengejar Jose lagi.
_______________TAMAT_______________
Insyaallah akan berlanjut seri ke dua
Tentang kehidupan Al dan pertemuan nya
Dengan seorang gadis yang di cintai nya.
Sampai jumpa lagi nanti.
Jangan lupa like vote dan komentar
Terima kasih I love you all.
__ADS_1