Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 94 Usaha Pendekatan Lagi


__ADS_3

Bun...ada yang gawat!" ucap Jose dengan kesal.


"Apanya yang gawat?'.


Fatia membelalakkan matanya lebar karena heran, melihat Jose yang sedang khawatir.


"Ada apa sih sayang yang gawat?" diulanginya lagi pertanyaan Fatia.


"Ada Damar sedang menuju kesini sama bapak mau diajak makan malam"


Fatia hanya terpaku dengan diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun, enggan berkomentar terkait Triana membuat hatinya jengah, tiba tiba Al berteriak.


"Bunbun.......pup......pup".


Fatia berjalan mendekati Al dan membawanya ke kamar mandi dekat dapur diikuti oleh Jose dari belakang.


"Sana makan malam bareng aja, aku malas kalau ada dia, nanti kalau di tanya bapak bilang aja lagi nungguin Al pup" perintah Fatia.


"Baiklah.... jangan ke depan Sebelum aku kesini.... tidak usah ketemu dia, bikin marah aja?".


"Cemburu ya..... hayo cemburukan?".


"Ya iyalah....... istri ku cantik begini... siapa yang rela di lirik laki-laki tidak jelas itu,..cup.....cup".


Jose mencium pipi Fatia cepat dan meninggalkan kamar mandi itu menuju ruang makan


"Istrimu mana nak Jose?" tanya pak haji.


"Lagi di kamar mandi pak, nungguin Al, tidak usah nungguin dia pak, sepertinya masih lama" jawab Jose sambil duduk bergabung dengan mereka untuk makan malam bersama.


"Oya nak Jose dan nak Irul kenalkan dia Damar tetangga sebelah rumah" kata pak haji lagi.


"Sudah kenal kok pak, mantan istrinya yang menabrak ibuku sampai meninggal" celoteh Jose sedikit kesal.


Damar hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Jose yang memojokkan dirinya, dan mereka makan tanpa mengeluarkan suara menikmati hidangan yang sudah di sediakan.


Selesai makan mereka berpindah di teras depan untuk melanjutkan bercengkerama, sedangkan Jose menyusul Fatia ke kamar mandi, ternyata Al baru selesai pup dan sedang di pakaikan celana oleh Fatia.


"Sayang....ayo makan dulu" ajak Jose.


"Al kita mamam dulu yok" ucap Jose sambil menggendong Al di atas puncak dan Fatia menggangu dan menggelitiki Al dari belakang.


"Bun....deyi......deyi" celoteh Al tertawa sambil berpegangan di leher Jose.


Sampai meja makan Al duduk di kursi diikuti oleh Fatia, mengambil piring dan Al disuapi Jose sedangkan Fatia makan dengan lahapnya.

__ADS_1


Di luar teras masih ramai keluarga Fatia dan ada juga bergabung tetangga termasuk Damar di antara mereka.


Sesekali Damar melirik ke dalam rumah berharap Fatia keluar dan bergabung dengan mereka, tetapi yang diharapkan justru tidak muncul sama sekali.


Fatia masuk kamar setelah makan malam itu, tetapi Jose keluar untuk bergabung dengan keluarga dan para tetangga yang sedang mencengkeram dengan akrab.


Jose bergabung dengan Yosi dan Irul bersama mbak Mona serta Aisyah Putrinya.


"Cantik kok belum tidur.... Al aja sudah ngantuk berat kecapean karena terlalu banyak bermain dari sore tadi" tanya Jose.


"Dia memang sudah tidurnya Se" jawab mbak Mona singkat.


"Mas....coba lihat dari tadi Damar itu melirik pintu terus seperti berharap ada yang keluar dari sana" bisik Irul kepada Jose.


"Iya kah?..... modus aja dia..... " Celoteh Jose kesal.


Pukul sepuluh malam sebagian besar para tetangga pamit untuk istirahat, pak haji juga ingin istirahat sehingga semua membubarkan diri untuk istirahat.


Irul bergabung dengan para santri pak haji tidur di mes belakang masjid, sedangkan Yosi tidur di kamar tamu, dan Jose masuk kamar Fatia di ruang tengah rumah itu.


Masuk kamar Jose melihat Fatia yang sedang bermain handphone dengan asyiknya, Jose memeluk Fatia dari belakang.


"Sayang....kok belum tidur.....belum ngantuk atau sedang nunggu nich?".


"Nunggu kedatangan suami yang paling tampan" jawab Jose jumawa.


"Mulai... narsisnya, sudah pulang semuakah para tetangga?".


"Sudah.... Bun, sepertinya Damar ingin bertemu dengan Bunbun deh?".


"Kok bisa bicara begitu?".


Jose menceritakan gerak gerik Damar saat sedang berbincang di teras tadi, dan Irul juga mencurigai Damar seperti ada yang direncanakannya.


"Sudah lah... jangan su'uzon, ayo tidur"


Fatia meletakkan handphonenya di meja kecil samping tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana, diikuti Jose dengan tangan nakalnya menyusup di balik bajunya.


"Jangan minta jatah malam ini sampai satu Minggu kedepan ya, ini baru datang tamunya".


"Ya.... Bun kenapa tamu datang tidak tepat pada waktunya sih?".


Akhirnya Jose hanya bergerilya saja, dan tertidur pulas sampai pagi sebelum Subuh terbangun karena suara azan yang berkumandang dengan merdunya.


Saat sholat subuh itupun Jose dan Irul bertemu lagi dengan Damar yang berbaur dengan jama'ah masjid lainnya.

__ADS_1


Jose hanya meliriknya sekilas saja tanpa menegurnya, saat selesai sholat dan bersalaman dengan semua jama'ah baru Jose mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan tersenyum, Irul juga ikut mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Damar dan semua anggota jama'ah.


Pagi harinya ini semua keluarga bersiap ke rumah paman untuk membantu acara resepsi pernikahan keponakan yang akan di adakan hari Minggu besok.


Semua para laki-laki bekerja bakti memasang tenda dan jamur di halaman rumah paman, Jose dan Irul pun ikut bergabung dengan mereka.


"Assalamualaikum mas Jose, apa kabar?" tanya pak lurah saat baru tiba di rumah paman.


"Walaikum salam pak lurah, Alhamdulillah sehat, bagaimana dengan Anda?".


"Sehat juga.... Alhamdulillah, jangan lupa hari Rabu gantian di rumahku ya..?" pinta Pak lurah.


"Insyaallah....pak, kalau kami belum kembali ke Surabaya" jawab Jose singkat.


"Jangan pulang dulu dong mas, aku mau mengajak bakti sosial lagi seperti dulu".


"Nanti saya bicarakan dulu dengan istri pak".


"Nanti walikota Ridwan juga jadi panitia mas, mungkin Selasa beliau sudah ke sini menyusun kepanitiaan".


"Iya kah pak?, Insyaallah kami usahakan pak".


Mereka melanjutkan lagi kerja baktinya, datang juga Damar bergabung, tetapi baru ikut mengerjakan sebentar sudah hilang lagi masuk di dalam rumah tempat acara.


Irul yang melihat Damar masuk rumah paman langsung mendekati Jose.


"Mas....itu Damar masuk dalam rumah, takutnya nanti mencari mbak Fat?".


"Sebentar....aku telepon aja mbak mu".


Jose menghubungi Fatia dengan cepat, Fatia yang sedang membantu para ibu-ibu membuat kue, mendapat telepon dari suaminya langsung menjawab nya.


Tetapi bersamaan Jose mengatakan jika Damar menuju kesana, Damar sudah ada di depan Fatia dengan senyum manisnya.


"Halo..... sayang ya.. aku kesana, tunggu sebentar".


ucap Fatia berlalu meninggalkan Damar tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadanya bahkan senyum saja tidak.


Wajah Damar seketika pias karena di tinggalkan begitu saja oleh Fatia tanpa memperdulikannya sama sekali.


"Kenapa susah sekali mendekatinya, dari dulu sampai sekarang" gimana Damar dalam hati.


Damar berbalik badan ingin memanggil Fatia tetapi sebelum mulutnya terucap ada yang memanggilnya dari pintu samping.


"Damar....... Damar....Damar!"

__ADS_1


__ADS_2