Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 80 Takut Jarum Suntik


__ADS_3

"Eeeee teori apa itu..... mulai lagi"


Terjadi pergumulan panas lagi yang Jose ciptakan menjelang pagi itu, menciumi bibir Fatia dengan rakusnya sampai hampir kehabisan nafas.


"Masih panaskah Bun......?".


"Yang panas itu yang di dalam disini".


Tangan Fatia menunjuk ke kening Jose merasa gemas walaupun badannya panas tetapi gairahnya tidak surut juga, Jose hanya tersenyum dan bergerilya dengan nakalnya memberikan tanda kepemilikan di setiap inci bagian tubuh Fatia.


Sampai di puncak kenikmatan itu Jose mandi air hangat dengan cepat, dibantu oleh Fatia, selesai mandi berbaring lagi menunggu sholat subuh.


Sedangkan Fatia turun ke dapur membantu bibi membuat sarapan untuk seluruh anggota keluarga, sebetulnya bibi bisa mempersiapkan sarapan sendiri tetapi sudah jadi kebiasaan Fatia menyibukkan diri di dapur adalah kegiatan yang menyenangkan baginya.


Tidak beranjak dari tempat tidurnya Jose hanya bermalas-malasan, berbaring dengan selimut tebalnya.


Tidak juga berangkat ke kantor, tidak ada acara yang penting ataupun mendesak hari ini, semua di serahkan kepada Ardi yang bisa di andalkan.


Akhirnya semua menjadi khawatir dengan keadaan Jose.


"Kita ke dokter aja Se.... kalau belum turun panasnya" ajak Mark dengan khawatir.


"Tidak Ded, sudah baikan kok..... cuma masih lemas sedikit aja" jawab Jose santai.


"Mas.....apa masih takut jarum suntik, kenapa tidak mau ke dokter?" protes Yosi dengan lugunya.


"Memang masmu itu takut jarum suntik ya Yos, kok mbak Fat tidak tahu, pantas aja dari kemarin tidak mau di ajak ke dokter" tanya Fatia sambil menahan tawa.


"Iya.... mbak waktu mas Jose SMU sakit mau disuntik sama pak dokter malah lari dia.....ha....ha...ha... Mau minggat katanya" cerita Yosi sambil cengengesan.


"Yosi.....awas kau ya.... jangan bikin malu" kata Jose sambil melempar bantal ke arah Yosi.


"Ha...ha...ha...tidak kena ....Wek..." Celoteh Yosi sambil berlari keluar kamar.


"Aku tidak suka di suntik... tapi sukanya nyuntik Bunbun aja" ucap Jose nyeleneh.


"Itu teori yang tidak jelas" gantian Fatia yang protes.


"Buktinya tadi malam sudah nyuntik dua kali"


"Apa itu maksudnya, Dedy tidak faham?" tanya Mark penasaran.


"Tidak apa-apa Dedy, dia tuuuh takut lihat jarum suntik katanya" jelas Fatia kesal karena jawaban Jose yang selalu ngeres ke arah itu terus.


"Ooooo badan aja gede, jarum cuma kecil begitu takut aneh....?"ucap Mark sambil meninggalkan mereka berdua di kamar.


"Bagaimana kita ke dokter aja ya?".


"Maunya nyuntik Bunbun lagi aja deh sekarang, biar sembuh, kan katanya tinggal sedikit panasnya".


Jose mengatakan itu sambil menarik tangan Fatia dan memeluknya dengan erat.


Fatia tersenyum sambil mendorong tubuh kekar Jose dan berdiri di samping tempat tidur itu.


"Ini masih pagi.... nanti kalau ada Al datang bagaimana, dasar ngeres".

__ADS_1


Betul saja dari luar kamar ada langkah Al yang mendekati mereka dengan gembira.


"Bunbun...... Yayah...."


"Anak Bunbun yang ganteng.... sudah harum... Mandi sama bibi kah?"


"Ya..... mamam......mamam"


"Al mau makan, duduk sini dulu ya.... Bunbun ambil makannya, nanti makan berdua sama Yayah ok".


Al mengangguk senang dan duduk di samping Jose dengan anteng sambil menarik selimut Yayah nya.


Fatia menyuapi Jose dan Al bergantian dengan telaten, baru mengajak Al turun untuk bermain di ruang keluarga.


"Yayah istirahat aja ya......kami turun dulu".


"Hemmm".


Fatia dan Al bermain dengan gembira, suara tawa yang terkadang terdengar membuat Jose ikut turun dan bergabung dengan mereka.


"Kok malah turun.... istirahat aja..yah".


Jose duduk dengan malas di samping Fatia sambil menyenderkan kepalanya di bahu Fatia.


"Kenapa masih lemaskah, istirahat aja sana".


"Sebetulnya aku itu pingin..... pingin..." Kata Jose sambil tersenyum menyeringai.


"Pingin apa yaaah?".


"Eeeee mulai lagi dianya.... Kalau siang itu di suntik bukan nyuntik" jawab Fatia sambil mencubit pinggang Jose kesal.


"Auw......auw...auw.... sakit Bun".


Jose memeluk Fatia dengan erat dan menciumi pipi juga tengkuknya, Yosi datang dari kamarnya ikut duduk di depan Jose dan Fatia yang sedang bermesraan.


"Mas... Yosi boleh bicara sebentar?" kata Yosi sambil duduk di depan mereka.


"Hemmmm". Jawab Jose.


"Mas......mas bule.....".


"Apa sih Yos, mengganggu aja".


"Idih..... dasar bucin.....mas bucin...".


"Apa sih Yosi, ngomong aja sama Mbak Fat, masmu lagi aneh" jawab Fatia.


Datang juga Mark dari kamarnya yang dulu kamar ibu Diniya, duduk disamping Yosi.


"Ada apa sih, kok ribut banget?" tanya Mark.


"Itu Ded, mas Jose jadi orang bucin banget" protes Yosi kesal.


"Apa itu bucin Yosi?" tanya Mark penasaran.

__ADS_1


"Ah Dedy nich....kudet" jawab Yosi lagi.


"Apa lagi tuuuh kudet, bahasamu susah di mengerti Yos, Dedy bingung".


"Bucin itu budak cinta Dedy, bahasanya anak muda sekarang" keterangan Fatia.


"Kalau kudet apa?" gantian Jose bertanya.


"Kalau kudet itu kurang update" jawab Yosi singkat.


Mark hanya membulatkan mulutnya ber-o ria dengan jawaban mereka.


"Yosi mau ngomong kok malah jadi ngelantur sih".


"Ngomong tinggal ngomong Yos....kau aja yang sewot" jawab Jose sambil mengeratkan pelukannya pada Fatia.


"Itu tuh Ded, yang buat Yosi tidak konsen".


Yosi menunjuk ke Jose yang sedang memeluk Fatia dengan erat dan manja, dan Mark tertawa lepas dengan kelakuan kakak beradik itu.


"Ngomong sudah Yos....kami akan mendengarkan" titah Fatia.


"Begini.... kemarin mas Irul.....mas Irul....".


"Kenapa Yos, nembak kamu?" tanya Jose tidak sabar.


"Bukan cuma nembak mas, malah ngelamar" jawab Yosi takut.


"Melamar...... Kalian masih kuliah, emang mau langsung nikah?" tanya Jose penasaran.


"Katanya satu tahun lagi setelah mas Irul lulus kuliah, tidak mau pacaran".


"Terus Yosi jawab apa?" tanya Fatia lagi.


Yosi hanya menaikkan kedua bahunya, sambil menggelengkan kepalanya, sehingga membuat yang mendengarnya saling menatap mata saja.


"kau menyukainya juga Yosi?" tanya Jose.


Yosi hanya menganggukkan kepalanya saja tetapi tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Boleh Dedy yang mengambil alih?"


"Memang seharusnya Dedy yang memutuskan karena sebagai orang tua kami" jawab Fatia bijak.


Mark meminta beberapa garis besar yang harus di penuhi oleh Irul yang ingin menjadi suami Yosi kelak.


Yang pertama Irul harus mau magang di perusahaannya di Manhattan, Mark ingin langsung bisa menilai kepribadiannya.


Yang kedua Irul harus siap memimpin salah satu perusahaan yang di kelola oleh keluarga, entah yang di Manhattan ataupun di Jakarta.


Setelah sidang Triana selesai Mark juga meminta Irul menemuinya secara empat mata.


Mark juga berpesan kepada Yosi harus mulai siap dari sekarang karena satu tahun itu waktu yang tidak terlalu lama jika memang Irul benar benar mengajaknya berumah tangga kelak.


"Baiklah Ded, nanti Yosi sampaikan kepada mas Irul" jawab Yosi singkat.

__ADS_1


__ADS_2