
Sejak peristiwa kelam itu Jose tidak berani memegang perempuan manapun termasuk ibunya sendiri, selama tiga tahun Jose duduk di bangku SMP.
Bu Diniya juga mengalami shock berat karena peristiwa itu ada janin tidak berdosa yang tumbuh di perut nya.
Awalnya sangat sulit menerima kenyataan bahwa mempunyai bayi tetapi tidak memiliki suami, hampir seluruh waktunya dihabiskan hanya dengan berdiam diri di kamar saja.
Tante Tanti selalu menghibur dan mendampingi setiap saat dan memberikan semangat untuk berjuang.
"Ayo lah.... jangan seperti ini terus, Jose sudah trauma begitu besar, kau seperti ini....apa jadinya masa depan anakmu nanti" nasehat Tante Tanti.
"Bagaimana dengan Jose sekarang?" tanya ibu Diniya.
"Sama seperti mu, hanya melamun dan menyendiri saja setiap harinya, apakah kamu tidak kasihan dengan Jose?".
"Aku harus bagaimana?".
"Bangkitlah...ayo...demi anak-anak"
Detik demi detik, menit, jam dan hari selanjutnya dilalui Bu Diniya dengan berat, dari omongan tetangga teman dan relasi bisnis memandang sebelah mata pada janin yang ada dalam kandungan nya.
Tanpa ada dukungan dari orang tua Bu Diniya yang notabene seorang janda tanpa menikah resmi membuat kondisi Bu Diniya semakin terpuruk.
Bu Diniya hanya mendapat dukungan dari sahabat kecilnya Tante Tanti dan suaminya Om Rio beserta Ardi kecil yang umurnya satu tahun lebih muda dari Jose, Om Rio yang menjalankan perusahaan properti selama Bu Diniya dalam masa sulitnya.
Dengan berlalunya waktu Bu Diniya menerima bayi yang tumbuh dalam rahimnya, setelah 9 bulan bayi perempuan kecil itu lahir ke dunia dengan di beri nama Yosi Kurniawan.
Yosi tumbuh dengan cepat, matanya yang bening, rambut lurus, pipinya merah dan bulu mata yang lentik serta menjadi anak yang ceria dan centil.
Ibu Diniya selalu memperhatikan putri kecilnya tumbuh, merawat nya dengan kasih sayang yang melimpah, sering memeluknya di depan Jose, berharap Jose bisa menerima kehadiran Yosi.
Beda dengan Bu Diniya yang bisa menyayangi Yosi kecil, Jose hanya melihat ibu dan adik nya dari kejauhan selama 3 tahun dan duduk di bangku SMP. Hanya sahabat nya Ridwan dan Ardi lah yang selalu mengerti apa yang terjadi dan ada di benak Jose.
__ADS_1
Jose, Ridwan dan Ardi duduk di kelas dan sekolah yang sama saat sekolah SMP, susah senang mereka hadapi bersama, Ridwan tinggal di sebelah rumah Jose sedangkan Ardi dan orang tua nya tinggal satu rumah bersama Jose semenjak peristiwa itu.
Ketiga sahabat itu selalu belajar bersama, jika ada yang tidak faham tentang pelajaran selalu menyelesaikan tugas bersama.
Jose yang paling menyukai matematika sering mengajari jika kedua temannya itu mengalami kesulitan.
"Bro....aku kurang faham tentang pelajaran bab sepuluh coba ajarin sebentar?" pinta Ridwan.
"Bab tentang apa bro?" kata Jose
"Perkalian bentuk akar, kenapa perasaan susah banget".
"Sini aku ajari.....ini sebetulnya mudah".
Jose menerangkan dengan teliti dan mudah di mengerti oleh Ridwan.
"Waaah terima kasih, ternyata mudah jika kau yang menerangkan, kamu aja bro yang jadi guru ku"
setelah pulang sekolah Jose dan Ardi dididik ilmu bisnis oleh orang tua Ardi di perusahaan properti. sejak saat itulah Jose mengenal bisnis di bantu oleh orang yang handal di bidangnya.
Disaat anak seumuran nya yang asyik bermain dan mengenal cinta monyet, tidak dengan Jose, dia sering menginap di kantor perusahaan nya, tanpa mau mengenal lawan jenis nya.
Jose lebih nyaman tinggal di perusahaan itu dari pada bertemu dengan ibu dan adik kecilnya, trauma Jose sejak peristiwa itu selalu muncul saat ada berdekatan dengan perempuan, keringat dingin akan keluar tanpa bisa di kendalikan.
Bu Diniya sudah membawa Jose ke psikiater tapi tidak ada kemajuan juga selama tiga tahun. lebih parahnya alat fi*al Jose juga seperti mati rasa tidak pernah bangun sama sekali setelah peristiwa itu terjadi.
Untung nya Jose sudah di khitan Sebelum peristiwa itu terjadi, saat di khitan Jose duduk di kelas 4 SD, saat habis khitan sebetulnya perkembangan Jose sama seperti anak seumuran nya.
Tetapi setelah peristiwa yang menimpa Ibu Diniya itu membuat Jose seperti tertidur panjang libido dan ketertarikan nya pada lawan jenis.
Hanya Bu Diniya, Ridwan dan keluarga Ardi lah yang mengetahui keadaan Jose, waktu duduk di kelas 3 SMP ada seorang gadis yang berani terang-terangan mengatakan suka pada Jose dan menembaknya ingin jadi pacarnya.
__ADS_1
Gadis cantik dan kaya serta paling populer di sekolah nya itu bernama Atika Mariyani, menembak Jose di teras sekolah.
"Jose.... apakah kamu mau jadi pacarku?" ucap Tika sambil memberikan coklat kepada Tika.
Bukanya menerima gadis itu Jose justru mendorongnya dengan kasar.
"Aduh .....kepalaku...".
Jose malah pingsan seketika setelah tangannya menyentuh gadis itu.
Ardi dan Ridwan berlari mendekati Jose yang pingsan di lantai teras sekolah, di bopong nya ke ruang UKS.
Sejak saat itu Tika menjauhi Jose dan tidak pernah melirik sedikit pun kepada Jose, hanya saja dia masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Jose mengapa dia pingsan setelah dia menyatakan cintanya.
Trauma itu terus menerus menghantuinya, sampai Jose dewasa, peristiwa pada malam itu sangat membekas di hatinya.
Jose sebenarnya juga mencari informasi tentang laki-laki yang memiliki tanda lahir di belakang telinga sebelah kiri itu.
Jose tidak pernah menceritakan kepada ibunya jika selama ini Jose mencari orang yang pernah membuat nya trauma sampai sekarang.
Tetapi sampai sekarang belum ada titik terang mengenai orang tersebut, Jose hampir putus asa jika mengenai masalah orang itu.
Pada saat itu seorang perempuan adalah orang yang harus di hindari oleh Jose, hanya bisa melihatnya, tetapi tidak berani menyentuhnya sama sekali.
Ada Hati yang tidak rela jika dia mau memegang kulit seorang perempuan, seperti takut menyakiti nya, seperti ada batas yang tidak bisa dia tembus dengan telapak tangan nya.
Tangan nya akan bergetar hebat, keringat dingin mengucur deras jika mendekati perempuan terutama jika dekat ibu dan adiknya yang cantik dan ceria.
Saat di rumah, seringnya Jose hanya mengurung diri di kamar, jika waktunya makan ibu Diniya memanggilnya Jose akan keluar.
Komunikasi Jose dan Ibu Diniya biasa layaknya anak dan orang tua, hanya saja tidak saling memegang, ataupun sekedar memeluk putra nya, ibu Diniya tidak begitu berani mendekati jose, takut trauma Jose semakin parah.
__ADS_1
Ibu Diniya hanya pasrah saja tentang keadaan Jose yang penting dia tidak salah bergaul, mempunyai teman untuk bercerita, ataupun sekolah dengan baik tanpa ada masalah sedikitpun.