Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 96 Emosi Jose


__ADS_3

"Yosi..... Yos....di tunggu malah ngorok" ucap Jose kesal.


Yosi membuka matanya perlahan, dan mengikat ingat sesaat, mengumpulkan nyawanya baru tersenyum sambil memandangi dua orang laki-laki yang di kenalinya itu.


"Maaf.... ketiduran...habis ngantuk banget"


"Malah cengar-cengir ayo cepat?" Protes Jose.


Irul menghampiri Yosi membantunya berdiri memeluknya dari samping, sedangkan Yosi membuka mukenanya perlahan.


"Jangan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan" kata Jose sambil mentoel hidung Yosi.


"Aaah.....dasar bule bucin".


Mereka bertiga berjalan keluar kamar, Irul mengajaknya duduk di teras untuk meminta Yosi menceritakan tentang pertemuannya dengan Damar tadi.


"Ayo ceritanya sambil berjalan aja, mbak kamu disana sendirian, nanti di dekati Damar lagi" kata Jose sambil menarik tangan keduanya.


"Betul juga.....ayo mas" jawab Irul berdiri dan mengikuti Jose berjalan ke rumah paman yang akan mengadakan acara resepsi pernikahan.


Sambil berjalan Yosi menceritakan tentang pertemuannya dengan Damar tadi siang dengan emosi dihatinya, sedangkan Irul belum begitu faham karena ada benang merah yang terputus.


Akhirnya Jose menceritakan bahwa Damar adalah orang yang menyukai Fatia sejak SMP dan menceritakan semua kejadian waktu SMP itu.


Sesampainya di rumah paman Jose mencari sosok Damar di halaman rumah paman, tetapi tidak Damar tidak ada disana, Jose menyuruh Yosi untuk mencari informasi di dalam rumah.


Yosi masuk kedalam rumah dengan terburu-buru, mencari keberadaan mbak Fatia, di dapur ternyata dia tidak ada, berlari lagi di belakang dapur karena kamar mandi berada di luar rumah, ada Fatia yang berdiri di depan kamar mandi menunggu Al sedang pup.


Ada Damar yang sedang berbincang dengan seorang Ibu yang mencuci piring tidak jauh dari Fatia berdiri, hanya sesekali Damar melirik Fatia ingin mendekatinya tetapi hatinya masih ragu.


Yosi berlari mendekati Kaka iparnya dan menatap tajam kearah Damar seakan ingin membunuhnya sangat kesal dengan tingkah Damar yang ingin mendekati kakak iparnya itu walaupun tahu bahwa yang di kejar itu sudah menikah dan mempunyai satu putra.


"Mbak.....mbak Fat " panggil Yosi khawatir.

__ADS_1


"Ada apa Yos?"


"Kami dari tadi mencari mbak Fat sampai kemana mana?".


Yosi mendekati Fatia dan menceritakan tentang pertemuannya dengan Damar dan kekhawatiran Jose serta Irul kepada Fatia.


Al sudah selesai pup, Fatia masuk kamar mandi dan membersihkan sebentar, serta ingin masuk lagi ke rumah bersama Yosi, Fatia hanya melirik Damar dengan tatapan tajamnya.


"Fatia.....boleh aku bicara berdua sebentar?" kata Damar menghadang Fatia yang akan masuk rumah.


"Maaf Damar...aku tidak bisa, kalau ingin berbicara datanglah ke rumah, minta ijin kepada suamiku" kata Fatia tegas.


"Tapi aku ingin berbicara berdua denganmu saja..... please" jawab Damar dengan penuh harap.


"Maaf...aku tidak ingin ada fitnah di masyarakat, aku sudah menikah, aku sangat mencintai suamiku, jadi sekali maaf aku tidak bisa" ucap Fatia sambil berjalan ke dalam rumah dan di ikuti Yosi yang sedang menggendong Al.


Damar terdiam membisu mendengar ucapan Fatia barusan, mengapa hatinya sangat sakit, padahal dia hanya ingin mengutarakan isi hatinya.


Tetapi Damar tidak bisa menerima kenyataan jika Fatia sudah memiliki suami dan satu putra, Damar tidak bisa melupakan sedikitpun tentang sosok Fatia yang disukainya sejak di bangku SMP.


Al yang sedikit rewel karena mengantuk, akhirnya Fatia berinisiatif untuk pulang agar Al bisa tidur siang.


Jose langsung menggendong Al dan menggandeng Fatia pulang ke rumah bertiga, Damar yang baru saja keluar dari rumah melihat mereka pulang hanya tertegun sejenak tetapi matanya mengikuti mereka sampai tidak terlihat dari pandangan matanya.


Sudah sampai di kamar Al sudah terlelap dalam mimpi, diletakkan pelan pelan, Fatia ingin keluar kamar sebentar tetapi belum sempat beranjak dari situ di tarik oleh Jose direbahkan di samping Al dan didekapnya dengan erat seakan tidak ingin di lepaskan lagi.


"Sayang..... jangan pernah tinggalkan aku, aku takut....dari kemarin Damar mengejar dirimu terus".


Fatia membalas pelukan Jose tidak kalah eratnya, memandangi wajah tampannya yang sedikit khawatir, sehingga membuat Fatia tersenyum.


"Sayang.....dari awal aku sudah bilang, tidak sama sekali menyukai laki-laki spikopat itu, aku sangat mencintaimu".


Jose semakin mengeratkan pelukannya dan tangannya mulai menyusup di balik baju tanpa di komando.

__ADS_1


"Tetapi jangan macam-macam juga, belum boleh buka puasa....masih lima hari lagi" ucap Fatia sambil menarik tangan Jose yang hampir sampai tempat favorit Jose yaitu gunung kembar yang ada di balik baju itu.


"Cuma memegang aja....tidak lebih... please, sisanya nanti aku tahan".


"Mana bisa begitu...aku yang jadi tidak tahan, kau tau itu" jawab Fatia jujur.


Jose tertawa lepas mendengar kejujuran Fatia, dia tidak jadi mendaki gunung itu hanya memeluk dan menciumi bibir Fatia dengan rakus.


Tertidur sampai azan asar berdua sambil berpelukan di kamar itu, terbangun karena Al yang menyusup di tengah pelukan itu sehingga pelukan mereka terlepas.


Fatia dan Jose hanya tersenyum melihat tingkah putranya itu seakan dia cemburu tidak di ajak berpelukan, sehingga berdua memeluk Al dengan erat dan menggelitikinya sampai Al terkekeh geli karenanya.


Jose bergegas mandi karena tidak mau tertinggal sholat asar berjamaah, mandi dan membersihkan badan sebentar dan bergegas keluar ke masjid yang sudah di tunggu oleh Irul dan jama'ah masjid lainnya.


Di masjid Jose melihat sosok Damar saat sholat asar, hatinya sedikit kesal memandang orang yang selalu mengincar istri tercintanya tanpa henti.


Habis sholat asar semua keluarga kembali ke rumah paman, tetapi Fatia, Jose, Irul dan Yosi memutuskan untuk tidak kesana, setelah sholat isya saja saat acara pengajian dan pembacaan Al-Berjanji mereka akan kesana.


Saat turun dari masjid Jose langsung memanggil Damar tanpa basa-basi lagi dan dengan tegas, mengajaknya masuk rumah dan duduk di ruang tamu.


Damar sangat gugup saat Jose dengan tegasnya memanggil Damar tanpa bisa menolak bisa ajakan Jose.


Berlima duduk di ruang tamu sambil berhadapan, Jose menatap tajam ke arah Damar dengan hati yang sedikit marah.


"Katanya anda ingin bertemu dengan istri saya mas Damar?" tanya Jose mengawali pembicaraan.


"Iya....pak.... maaf tapi saya ingin bertemu empat mata saja" jawab Jose jujur.


"Kenapa harus bicara empat mata, apakah anda tidak tahu jika dia sudah mempunyai suami?" tanya Jose lagi.


"Saya tahu....tetapi ini masalah hati" jawab Damar dengan menundukkan kepalanya.


Hati Jose semakin geram karena tingkah Damar yang tidak tahu malu mengatakan isi hatinya kepada orang yang kurang tepat.

__ADS_1


"Apa kamu sudah gila dia istriku, anda menyukai wanita yang sudah menikah?" kata Jose sambil menggebrak meja.


__ADS_2