Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 89 Disapih


__ADS_3

Satu Minggu ini keluarga Ngawi di rumah Jose, di bantu para bibi ibu dan mbak Mona menjaga Al jika malam hari dirumah, tetapi jika siang di bawa ke rumah sakit.


Frekuensi Al untuk ASI juga mulai berkurang, hanya sesekali jika siang bertemu di rumah sakit.


Ibu juga memberikan olesan kunyit pada puncak gunung kembar Fatia agar Al takut jika minta ASI, Bunbunnya lagi sakit.


Ternyata ampuh metode sederhana dari ibu, Al jarang minta ASI kecuali jika dia ngantuk berat, dan rewel saja, tetapi jika sedang anteng kadang malah menolaknya.


"Nen Bunbun atit......" celoteh Al jika melihat ada warna kuning di puncaknya itu.


Al lebih memilih minum susu formula untuk batita dengan menggunakan gelas langsung, oleh ibu juga tidak boleh menggunakan dot, sudah besar katanya, lebih baik menggunakan gelas biar lebih mudah membuatnya dan mandiri bisa minum menggunakan tangan sendiri tanpa bantuan orang lain.


Saat awal di oleskan kunyit pertama kali, Fatia tidak menceritakan kepada Jose, di pagi hari Jose sedang membantu membersihkan badan dengan di lap menggunakan handuk basah dan akan berganti baju.


Kepala Jose sampai miring memperhatikan puncak gunung kembar Fatia yang berwarna kuning, karena tatapan mata Jose yang seakan ingin menerkamnya, Fatia langsung menutupnya dengan handuk kecil.


"Kenapa jadi warna kuning begitu Bun?".


Jose membuka handuk yang ada di dada Fatia kembali dan memperhatikan dengan teliti.


"Apa sih.....ini cuma kunyit, ibu yang mengoleskannya".


"Buat apa Bun, pakai kunyit segala?".


"Agar Al bisa di sapih, sudah besar dia waktunya berhenti minum ASI".


"Tidak akan terjadi sesuatukan Bun, jika berhenti?".


"Tidak lah...... ASI itu batasnya dua tahun"


Jose hanya tersenyum simpul mendengar jawaban Fatia itu tanpa memberi komentar apapun.


"Kenapa malah tersenyum begitu?".


"Berarti akan jadi milikku seutuhnya lagi seperti dulu sebelum ada Al?".


"Dasar suami ngeres, disapu sana biar bersih itu otak" ucap Fatia sambil memukul lengan Jose.

__ADS_1


Mulai hari Senin ini Jose mulai ngantor lagi, jika siang Fatia di temani ibu dan bergantian Jose yang menemaninya jika malam tiba.


Kaki Fatia yang retak juga sudah berangsur membaik, hanya saja belum boleh turun dari


tempat tidur, sudah boleh duduk tetapi masih di larang turun dari tempat tidur.


Semua masih di lakukan di atas tempat tidur rawat inap itu, Jose juga masih telaten merawatnya Sebelum berangkat kerja ataupun pulang kerja.


Hatinya memang sudah tidak bisa berpaling dari istri tercintanya itu, walaupun entah sampai kapan ada saja wanita wanita yang selalu mengikuti Jose tanpa dia sadari.


Jose semakin menjauhi kontak langsung dengan wanita yang terutama yang masih singel, tidak ingin menjadi fair yang tidak sehat, ataupun wanita yang mengejarnya.


Minggu ini juga Syafitri resmi di bawa ke rumah sakit jiwa dan di awasi oleh keluarganya.


Kedua orang tua Syafitri juga sempat sekali mengunjungi Fatia di rumah sakit, hanya sekedar meminta maaf atas ulah putrinya tersebut.


Jose menerima orang tua Syafitri dengan perasaan masih sedikit marah, Jose memberikan syarat agar putrinya tidak mendekati keluarganya lagi jika nanti masih mengganggu Jose akan kembali menuntutnya melalui pengadilan karena telah membuat kaki istrinya terluka.


Hati kecil Jose berharap tidak ada lagi wanita yang tergila-gila padanya, dia hanya ingin hidup bahagia selamanya dengan keluarga kecilnya tanpa ada insiden yang membuat orang terluka hanya karena dirinya.


Hari ini di kantor Jose sedang memeriksa dokumen yang menumpuk karena hampir di tinggalkan olehnya selama hampir seminggu tidak ngantor.


Pihak HRD mengusulkan pegawai baru untuk menggantikan posisi Syafitri yang masih kosong, kepala HRD itu mengusulkan seorang wanita untuk di jadikan wakilnya.


Hati Jose menjadi gamang karena peristiwa Syafitri, sebenarnya ingin menolaknya, tetapi terlihat kurang profesional, sehingga Jose meminta latar belakang wanita itu sebelum di angkat menjadi wakil HRD berikutnya.


Bersamaan dengan usulan HRD bagian lain juga mengusulkan permintaan pegawai baru karena pekerjaan yang semakin bertambah dengan majunya perusahaan yang semakin pesat.


"Ardi kau urus tentang penerimaan karyawan baru, kalau bisa di lihat latar belakangnya terlebih dahulu".


"Kenapa harus seketat itu bos?".


"Aku tidak mau peristiwa Syafitri terulang kembali" kata Jose.


"Jadi aku cuma menerima karyawan laki-laki saja nich?".


"Kalau perlu boleh juga".

__ADS_1


"Kalau tetap saja laki-laki juga naksir bos bagaimana?" ucap Ardi nyeleneh.


"Ihhhh najis.... Jangan macam-macam kalau bicara...geli aku, memang ada orang laki-laki suka laki-laki juga?"


"Banyak bos....di luaran sana".


Dua Minggu berlalu dengan cepat, Fatia sudah mulai di ijinkan berjalan walaupun di bantu menggunakan alat penyangga kaki yaitu tongkat kruk.


Tetapi jika ada Jose Fatia di larang untuk berjalan sering


nya di gendong saja, jika ingin ke kamar mandi ataupun ingin beraktivitas kecil.


Hari Sabtu besok Fatia sudah diijinkan pulang kerumahnya, disambut gembira oleh semua keluarga termasuk keluarga besar Ardi, semua menyambut kepulangan Fatia esok hari.


Kekhawatiran Mark saat mendengar menantunya mengalami kecelakaan sebenarnya ingin kembali ke Indonesia, tetapi karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan Mark hanya bisa melakukan vedio call.


Mark setiap hari menanyakan keadaan cucu dan menantunya tanpa melewatkan seharipun terlewati.


"Ayo aku gendong Bun" kata Jose saat mereka pulang kembali kerumahnya setelah lebih dari dua Minggu di rawat di rumah sakit.


"Aku jalan aja yah..... jangan di gendong terus" proses Fatia.


"Sudah jangan protes... ini anggap saja kita lagi nostalgia saat pengantin baru dulu, sama seperti ini masuk rumah dengan ku gendong seperti ini" kata Jose sambil mengedipkan matanya.


Fatia di gendong ala bridal oleh Jose dan tangannya melingkar di leher Jose dengan manja di letakkan di sofa tamu,


Para bibi membantu membawakan barang dan baju kotor ke dalam rumah, Al berlari mendekati bunbunnya yang dari semalam tidak di lihatnya.


"Bunbun......Bunbun.......". Al berlari kecil mendekati Fatia yang duduk di sofa ruang tamu, naik di sofa itu dan memeluknya dengan erat.


"Kangen ya nak...... kasihannya anak ganteng".


Fatia memeluk dan menciumi kening Al, sepertinya Al tidak mau terlepas dari dekapan Ibunya itu, dengan manja bergelayut manja di pelukan Fatia.


Jose juga ikut duduk di samping Fatia ikut memeluknya dengan erat.


"Nah....tuh Bu.... mulai lagi menantu ibu, tidak mau kalah sama anaknya sendiri, dasar bucin" kata Yosi melihat Jose yang memeluk Fatia.

__ADS_1


"Yeeeeh, syirik aja...... Paling ngiri dia Bu,".


Semua tertawa renyahnya dengan kehadiran keluarga dari Ngawi membuat suasana menjadi hangat seperti sebelum ibu Diniya meninggal dunia.


__ADS_2