Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 88 Terlalu Tampan


__ADS_3

"Apakah Al akan tidur disini?" tanya Danny.


"Mau bagaimana lagi, kau tega melihat keponakanmu tidur di rumah tanpa bundanya?" kata Jose kesal.


"Tapi rumah sakit tidak mengijinkan itu...Se" Jawab Danny.


"Apa gunanya punya teman yang kerja disini, kamu yang usahakan biar bisa di ijinkan" jawab Jose sekenanya


"Ee seenak jidatnya aja ini orang kalau ngomong"


Tidak kalah sendunya Fatia memohon kepada Danny dengan menyatukan keduanya tangannya agar mengijinkan putranya tidur bersama di rumah sakit.


"Ini nich jadi tidak tega kalau kakak ipar yang memohon begini"


Danny nyelonong keluar ruangan masih menggerutu tidak jelas.


"Ya sudah..... nanti aku usahakan" kata Danny sambil mengibaskan tangannya.


Ardi yang dari tadi diam saja mengusulkan agar Al tidur bersama Dina jika memang tidak di ijinkan menginap di rumah sakit.


Tetapi Fatia tetap tidak mau jika Al tidur di rumah karena tidak tega dan juga masih ASI, dia lebih baik minta pulang saja, ingin dirawat di rumah.


"Sabar dong sayang..... nanti aku usahakan"


"Pulang saja yok...yah, sudah tidak sakit kok sekarang".


Setelah Fatia membuka selimutnya karena merasa panas, Jose baru ingat jika harus mengganti celana Fatia seperti yang di perintahkan kan Danny tadi siang.


"Ardi tolong carikan gunting" perintah Jose.


"Mau buat apa bos?".


"Kau tidak lihat celana kakak ipar mu ini aneh satu panjang dan satu pendek".


Ardi tertawa lepas melihat pemandangan yang sangat aneh menurutnya.


"Malah tertawa.... cepat sana" titah Jose sambil melempar bantal yang ada di samping Fatia.


Ardi keluar ruang rawat inap dan menuju ruangan perawat untuk meminjam gunting, kembali setelah mendapat pinjaman gunting, baru di serahkan kepada Jose.


"Sudah keluar sana....!"


"Teganya bos... aku malah di usir".


"Memang kau mau lihat yang mulus, enak aja.... lihat istrimu sendiri sana, bawa Al keluar main sebentar".


"Mau ngapain bos.... kakak ipar lagi sakit?".

__ADS_1


"Jangan ngeres pikiranmu, sana pergi?".


Ardi keluar ruangan mengajak Al, menuju kantin rumah sakit, ingin membelikan camilan buat Al agar tidak rewel di rumah sakit.


"Sini sayang di gunting dulu celananya".


Dari pinggang ke bawah Jose menggunting celana Fatia pelan pelan, sambil memandangi Fatia dengan tatapan mata yang berbinar.


"Yaaaaah.... jangan macam-macam, apa yang di bayangkan?".


"He....he... tetap saja kalau dekat denganmu aku tidak bisa menahannya".


Fatia tersenyum melihat tingkah suaminya selalu saja seperti dua tahun yang lalu saat mereka baru menikah.


"Sabar....sayang....maaf, masak tega kakiku lagi sakit?".


"Iya pasti aku bisa menahannya....tapi nanti kalau sudah sembuh jangan lupa di rapel"


Selesai memakai roknya Fatia meminta Jose untuk menghubungi ibunya di Ngawi, setidaknya ada yang bisa menjaga Al selama dia ada di rumah sakit jika beliau datang.


Kalau cuma mengandalkan Tante Tanti dan Rina akan semakin kerepotan, jika ada ibu mungkin sedikit membantu.


Jose menelepon ibu mertuanya untuk bisa datang ke Surabaya karena Fatia harus di rawat di rumah sakit selama dua Minggu.


"Apa perlu kami jemput Bu?" tanya Jose kepada ibu mertuanya saat menghubungi melalui vedio call.


"Ya Bu ....kami tunggu".


Malam hari ini Danny mengijinkan Al tidur di rumah sakit, tetapi hanya satu hari ini saja, besok sudah harus ada yang menjaganya di rumah.


Fatia dan Jose setuju karena besok orang tua dan Mbak Mona bersama Aisyah akan datang ke Surabaya di jemput menggunakan helikopter perusahaan.


Group teman sejati kecuali Ridwan, malam ini berkumpul di rumah sakit, untuk mengambil langkah selanjutnya untuk menangani Syafitri.


Syaiful bercerita jika Syafitri mengalami depresiasi berat setelah di pecat dari perusahaan kemarin.


Berhalusinasi dan tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah, di fikirannya Syafitri dia sudah bersama dengan Jose sejak waktu kuliah.


"Bro....jadi bagaimana ini, itu berarti dia bisa bebas lagi dong karena stres?" tanya Jose khawatir.


"Tidak usah khawatir Se....dia akan di masukkan ke rumah sakit jiwa" jawab Syaiful kemudian.


"Bagaimana Se..... dengan kakak ipar, masih nyerikah kakinya" tanya Danny.


"Tidak sih Dan..... apakah harus dua Minggu, belum sehari aja dia sudah minta pulang" tanya Jose lagi.


"Cuma dua Minggu Se...., masak kamu yang tidak tahan?, atau aku buat satu bulan nginep di rumah sakit?" jawab Danny.

__ADS_1


"Mana bisa tahan bro, tadi aja pas gunting celana kakak ipar, aku sama Al di suruh keluar dari kamar" cerita Ardi.


"Tega sekali kau Se, Kakak ipar lagi sakit kau kerjain juga?" tanya Syaiful.


Jose jengkel dengan tuduhan teman temannya itu, dilemparnya Syaiful dengan sepatu yang dia pakai.


"Memangnya aku sejahat itu?, cuma pingin aja saat memotong celana dan melihatnya, aku selesaikan di kamar mandi sendiri" jawab Jose jujur.


Tertawa terbahak bahak semua mendengar ucapan Jose yang jujur itu, sampai di tegur oleh pegawai rumah sakit tidak boleh berisik saat di rumah sakit.


Pagi harinya helikopter perusahaan berangkat menjemput ibu mertua Jose di Ngawi, dan akan langsung berangkat lagi ke Surabaya.


Sampai di Surabaya ibunya Fatia dan rombongan langsung pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Fatia.


Ibu yang datang dengan dengan berlinang air mata langsung memeluk Fatia, Jose langsung meraih tangannya dan mencium punggung tangan, dan pindah mbak Mona serta memeluk Aisyah.


Mbak Mona mendekati Al yang sedang asyik bermain mobil-mobilan di atas tempat tidur samping sofa, diikuti oleh Aisyah di sebelahnya, bermain bertiga dengan gembira.


Sedangkan ibu yang duduk di kursi di depan brankar Fatia berbincang dengan Jose.


"Mengapa bisa terluka kakinya, apa kau masih melatih Karate lagi?" tanya ibu dengan khawatir.


"Tidak Bu....ini, kemarin di keroyok oleh empat orang preman di pasar Turi?" Jawab Fatia.


"Sudah jadi ibu rumah tangga jangan cari masalah kenapa?" nasehat ibu.


"Aku yang salah Bu, gara-gara nya ada karyawan yang di pecat, Fatia jadi sasarannya" ucap Jose gantian


"Kenapa di pecat?"


"Itu gara-gara menantu itu di kejar kejar cewek melulu" jawab Fatia sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Maksudnya bagaimana?".


Akhirnya Jose yang menceritakan tentang penyerangan yang terjadi kemarin pagi di pasar Turi itu.


"Kamu sih...... punya suami terlalu tampan" kata ibu.


"Naaah.....tuh Bun, ibu aja ngakuin" jawab Jose jumawa.


"Di bungkus aja Fat, itu tampannya biar tidak dilirik cewek lagi" celetuk Mbak Mona sambil tersenyum.


" Ais......mau di bungkus pakai apa?......daun?" jawab Fatia lagi.


"Eeee ngawur aja.... memang aku makanan" protes Jose.


Mereka tertawa lepas, suasana jadi ramai karena kedatangan keluarga dari Ngawi, Fatia juga tidak terlalu khawatir jika Al di rumah bersama keluarga.

__ADS_1


__ADS_2