
Sudah tiga hari Jose dan keluarga berlibur di Ngawi, Karena Ardi menelpon berkali kali akhirnya Jose mengajak Fatia pulang, dengan pasrah fatia mengikuti ajakan Jose untuk pulang ke Surabaya.
Sore ini Jose dan keluarga berpamitan kepada keluarga besar orang tua Fatia harus mampir sebentar ke rumah walikota Ridwan, Jose dan keluarga menginap semalam dan besok paginya akan pulang ke Surabaya.
Dari rumah Fatia ke rumah walikota Ridwan di tempuh selama satu setengah jam, sebelum berangkat Jose sudah menghubungi Ridwan kalau dia sudah otw menuju ke sana.
Tepat azan magrib Jose dan keluarga tiba di rumah walikota Ridwan, mereka sholat Maghrib berjamaah, dan makan malam bersama.
Fatia menidurkan Al dikamar yang sudah di persiapkan oleh Iis, demikian pula ibu Diniya dan Yosi beristirahat sebentar.
Habis sholat Isya mereka bercengkerama dengan hangat, walaupun baru saja berpisah mereka tetap saja ada bahan obrolan yang seru sampai jam sepuluh malam baru lah beristirahat.
Pada pagi harinya Jose dan keluarga melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya di tempuh selama lima jam perjalanan.
Dalam perjalanan Jose dan keluarga beristirahat sekali untuk makan siang dan sholat Zuhur.
Sekitar pukul dua siang mereka sampai rumah, dan langsung istirahat sampai sore hari, badan rasanya remuk redam karena menyetir hampir setengah hari.
Sore harinya Fatia memandikan Al, membangun kan Jose untuk mandi juga, baru keluar kamar dan turun tangga menuju lantai bawah untuk menemui Ardi sudah menunggu ruang keluarga.
"Ada apa mas Ardi?".
"Ini kakak ipar, undangan dari gubernur"
"Kok dari gubernur, maksudnya apa?"
"Kita di undang untuk mendapatkan penghargaan dari gubernur sayang".
Kata Jose yang baru datang dari lantai atas karena dia sudah tahu dari Ardi kemarin saat menelepon berkali-kali.
"Ini juga jadwal yang harus di hadiri setelah dari gubernur bos".
Rupanya Ardi sudah menyusun jadwal acara dari kemarin, acara itu akan dilakukan setiap hari Sabtu atau Minggu kecuali undangan dari gubernur.
Untuk undangan dari gubernur di adakan pada hari Rabu, berarti masih ada persiapan dua hari lagi karena sekarang hari Senin.
"Nanti hari Rabu aku kerja setengah hari sayang jangan khawatir, ibu dan Yosi juga sudah bersedia menemani kita"
Fatia menjadi lebih tenang jika suaminya itu bisa menemaninya.
************
__ADS_1
Di Jakarta Jaseline sedang gelisah menunggu jawaban dari Dedy nya, handphonenya dari kemarin tidak aktif.
Banu Winarno suami Jaseline melihat kegelisahan istrinya langsung mendekatinya.
"Darling... What happen?".
"My Dady...., The phone id not active, I lost contact"
Banu mencoba membantu istrinya dengan menghubungi teman baiknya Andrew yang ada di USA, untuk minta bantuannya.
Teman Banu adalah penduduk asli USA tetapi istrinya berasal dari Malaysia, tinggalnya tidak jauh dari ayah mertuanya tersebut.
"Sabar ya... Darling ini saya minta bantuan sama Andrew untuk mencari informasi tentang Dady disana"
"Thanks darling..."
Banu memeluk Jaseline dengan erat, memberikan dukungan agar tidak terlalu khawatir dengan keberadaan Dady nya disana.
Tidak lama kemudian ada kabar dari Andrew bahwa Mark Jose sedang ada masalah dengan perusahaannya, kabarnya sedang ada perebutan kekuasaan pimpinan perusahaan dengan saudara tiri Mark Jose yang ingin menguasai perusahaan itu.
Mark Jose memiliki adik tiri yang bernama Marten Jose, dia ingin menguasai sendiri perusahaan peninggalan dari orang tuanya yang telah lama di kelola oleh Mark Jose.
Karena kelicikan Marten Jose, untuk sementara Mark Jose diberhentikan sementara menjadi pimpinan perusahaan itu saat rapat pemegang saham kemarin.
Mark Jose di fitnah oleh Marten Jose bahwa dia telah menggelapkan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi.
Sudah beberapa hari ini handphone Mark Jose di matikan, dia menenangkan diri untuk mencari solusi yang terbaik untuk masalah ini.
Mark jose langsung teringat dengan putrinya Jaseline yang berada di Jakarta saat melamun di kamarnya, kemudian mengaktifkan handphonenya.
Mark jose melihat banyak sekali pesan dari putrinya itu, dia membuka satu persatu pesan itu.
Sampai pada tayangan kejadian Emely jatuh dari balkon sebuah mall dan wawancara Fatia dan Jose di sebuah televisi swasta nasional, tangannya bergetar hebat.
"It's true he is my son?", Benarkah dia putraku?" Gumam Mark Jose.
Walaupun sudah tiga puluh tahun berlalu Mark Jose masih mahir menggunakan bahasa Indonesia karena sering menghubungi menantunya Banu.
Mark Jose langsung menghubungi putrinya Jaseline, dia ingin mengunjungi Indonesia secepatnyanya.
Tetapi karena ada masalah yang sangat pelik tentang perusahaannya justru Mark Jose meminta Jaseline yang mengunjungi Mark Jose ke USA sekarang untuk membantu menghadapi uncle nya yang ingin menguasai perusahaannya sendiri.
__ADS_1
Hari ini juga Jaseline memesan tiket pesawat ke USA bersama putri kecilnya Emely, sedangkan Banu Winarno tidak bisa ikut karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan.
***********
Kembali di Surabaya, Fatia mencoba menghubungi Jaseline Tetapi handphonenya tidak bisa dihubungi, mencoba mengirim pesan lewat WA juga centrang satu.
Fatia sedikit menyesal mengapa kemarin tidak minta nomor handphone suami Jaseline, Banu Winarno yang notabene orang Indonesia asli.
Tetapi apa mau dikata, mereka seperti di telan bumi, tidak bisa dihubungi, mungkin belum saatnya menemukan bapak mertuanya itu gumam Fatia.
Hari ini jadwal Fatia dan suaminya Jose beserta keluarga akan menghadiri undangan gubernur yang akan di laksanakan setelah istirahat siang.
Jose paginya masih kerja sampai tengah hari, dan rencananya waktu istirahat siang akan segera pulang.
"Yah.... jam berapa pulangnya?".
"Ini baru siap siap pulang sayang,... sudah siap semua kah?".
"Ini baru mau siap siap juga, ya sudah hati hati dijalan".
Jose memanggil Ardi dan mengajaknya pulang, mereka berdua berjalan menuju parkiran mengambil mobil masing-masing dan melaju membelah jalanan kota Surabaya dengan kecepatan sedang sampai rumah.
Di rumah semua sudah siap, hanya tinggal Fatia saja yang belum mengganti baju.
Sudah siap Bun?"
"Ini baru mau ganti baju, sudah makan siang belum?".
"Sudah tadi sama Ardi di kantor".
"Sebentar jangan di tutup dulu bajunya, minta nyicil sedikit untuk nanti malam"
"Kan......kan .... mulai lagi,... nanti kalau keterusan, kita jadi terlambat lho!"
Jose hanya menciumi leher Fatia sebentar dan turun di bawah sedikit, memberikan tanda di sana.
Fatia hanya menggelengkan kepalanya karena jika sudah berdua pikiran Jose selalu tidak bisa di kondisikan.
"Sudah....sudah ....ya... nanti malam aja lagi, bukannya menolak ini sudah di tunggu oleh semua di bawah".
Jose hanya memandangi Fatia yang sedang mengancingkan baju dengan sendunya.
__ADS_1