
Setelah asar para lelaki bercengkerama kembali sambil momong para putra dan putrinya, sedangkan para wanita pergi ke mall karena ingin membeli seragam untuk acara besok.
"Kita beli batik saja ya" usul Rina sesampainya di mall.
"Memang mau menghadiri acara pernikahan tidak cocok ah" jawab Lia istri Danny.
"Sebaiknya sederhana tetapi elegan dan sesuai tema" usul Fatia.
"Naaah itu aku setuju" celoteh Anna istri Syaiful.
"Mbak Iis temanya apa acara ulang tahun besok?" tanya Rina lagi.
"Temanya princess".
Mereka memutuskan untuk membeli kaos berwarna putih dan bergambar princess untuk semua baik suami dan anak anak mereka.
Belanja untuk anggota sudah selesai, baru sebagian ada yang membeli keperluan pribadi, Fatia membeli satu pasang jam tangan yang terbuat dari bahan kayu jati Belanda.
Di dalam toko jam itu Fatia memperhatikan seorang laki-laki yang seumuran dengan nya sedang memilih jam tangan juga.
"Sepertinya dia tidak asing mukanya?" Bisik Fatia ditelinga Rina
"Kau kenal dia?" Tanya Rina lagi.
Laki-laki itu menoleh ke arah Fatia dan Rina dan memandangi wajah nya
"Fatia.......kau Fatia kan?" Laki-laki itu bertanya.
"Ya ..... betul..... saya Fatia, kau..........?.
"Saya Damar teman SMP dulu".
"Oooooo kamu yang dulu pernah nembak aku tetapi aku hajar sampai babak belur?".
"Ya..... tepat sekali..... ternyata kau masih ingat".
"Maafkan saya saat itu, Oya perkenalkan dia kakak iparku namanya mbak Rina?"
"Halo... Aku Damar" laki-laki itu mengulurkan tangannya kepada Rina.
"Rina.... salam kenal".
Fatia merasa tidak nyaman dengan tatapan mata damar yang tidak bisa di artikan itu.
"Maaf Damar kami permisi dulu ya, ayo mbak Rina".
"Tunggu Fatia..... apakah kamu sudah menikah?"
"Sudah.... Saya sudah punya anak satu, permisi dulu kami buru-buru".
Fatia menarik tangan mbak Rina keluar toko jam tangan itu dan bergabung dengan rombongan yang lain yang berada di toko emas.
"Beli kalung kah mbak Iis?" tanya Fatia ikut melihat lihat Emas yang berjejer rapi.
"Iya ..... sudah kok tinggal bayar".
__ADS_1
"Ayo sudah sore kita pulang" ajak Mbak Lia.
Menjelang magrib rombongan para wanita baru tiba, ternyata anak-anak sudah pada ganteng dan cantik di mandikan oleh para ayah masing-masing.
Fatia langsung membersihkan diri di kamar mandi dan sholat Maghrib di kamar, sementara Jose ke masjid bersama yang lain.
Pulang dari masjid Al sudah tertidur pulas karena siang tidak berhenti bermain-main, kaki kecil nya tidak pernah berhenti berlari kesana-kemari.
Fatia duduk di samping Tempat tidur dan meluruskan kakinya sedikit pegal karena berjalan berkeliling di mall tadi sore.
"Assalamualaikum..... Bun".
"Walaikum salam......".
"Sayang..... Aku kangen banget, dari tadi pagi ketemu di bully Terus sama teman teman jadi tidak bisa peluk kamu".
Jose memeluk Fatia dengan eratnya, mencium bibir nya dengan penuh gairah, mengulum dan menghisap lidah, mengabsen setiap gigi didalam nya.
"Bernafas Bun".
"Kau yang buat aku kehabisan nafas iiih".
Jose tersenyum, mengulangi mencium bibir Fatia, dan tangannya mulai bergerilya di balik bajunya.
"Yaaah...... Sebentar lagi sholat isya.... Bersambung nanti lagi yaaaaa".
"Tanggung Bun, nanti kalau mau sholat mandi lagi aja, gampang to?".
Jose kembali bergerilya dan membuka bajunya sendiri dengan cepat, membuka bajunya Fatia, sudah satu Minggu tidak merasakan hangatnya cinta Fatia membuat Jose semakin bergairah dan menggila tanpa bisa di tunda lagi.
Setelah puas dengan adegan panas itu Jose langsung menggendong Fatia menuju kamar mandi, dan mandi bersama.
"Sudah mau Isya yah..... cepat, nanti ketinggalan".
"He...he.... Mau ronde ke dua dong".
"Nanti aja yaaa.... Sholat isya dulu.... please, hutang dulu deh....ya".
"Baiklah..... Janji lho...... hutang.... tapi bayar dobel ya plus dengan bunganya?".
"Kayak tukang kredit aja.....ada bunganya segala".
"Kalau tidak mau........" kata Jose usil akan mengulangi lagi menggoda Fatia.
"Iya....iya.... Dobel boleh".
Tersenyum penuh kemenangan Jose bersemangat mandi dengan cepat dan bersiap-siap untuk sholat isya.
Sholat isya berjamaah dengan penduduk setempat dan teman sejati baru mereka makan malam bersama dengan seluruh keluarga dan tamu dengan hangat.
Rencana Jose setalah sholat isya masuk kamar mau menyambung kemesraan yang terputus tadi, justru tidak bisa di realisasikan.
Jose di seret oleh teman temannya untuk membuat dekor dadakan untuk acara ulang tahun besok.
"Se....awas jangan ngamar dulu... Bantu kita dekor" pinta Ridwan.
__ADS_1
"Bro........ kasihan.... sudah satu Minggu tidak setor dia....." Ledek Ardi dengan senyum senyum.
"Siapa bilang, ayo aku bantu"
Jose bergabung dengan para teman sejati ditambah dengan keluarga Ridwan dan tetangga sekitar membuat dekor untuk acara besok.
"Se.....masih tahan nich... tidak setor" goda Syaiful.
Jose hanya tersenyum simpul tidak menjawab ledekan Syaiful dan teman temannya, dia malah membayangkan adegan panas yang baru Jose lakukan dengan Fatia.
"Eeee malah senyum-senyum dia,..... atau jangan-jangan dia tadi....." Celoteh Danny penasaran.
Jose melempar janur kepada Danny dan mengenai kepalanya.
"Jangan mulai ngeres......, Nanti istriku lagi malah yang kau bayangkan" protes Jose.
"Aduhhh........ Jose kena kepala nich....." Kata Danny sambil mengusap kepalanya.
Fatia dan Iis datang membawa kopi dan camilan untuk bisa di nikmati di sela-sela gorong-gorong mereka.
"Naaah nich... tersangkanya datang....kakak ipar" kata Syaiful menggoda Fatia.
"Kok aku... yang jadi tersangka, memang salahku apa?".
"Kakak ipar... Apakah tadi Jose sudah setor?" tanya Ridwan gantian.
"Setor apa, kalian ini mulai ngeres lagi yaaa?".
Semua tertawa bersama-sama, saling melempar janur dan saling mengedipkan matanya berhasil membully Jose yang sudah satu Minggu tidak bertemu dengan istri tercintanya.
Pukul sebelas malam selesai mengekornya, dan beristirahat di kamar masing-masing.
"Bun..... sudah tidur kah..... kok malah melamun?".
"Sini duduk, mau cerita tentang kejadian tadi sore di mall".
"Ada apa sih Bun?".
Fatia menceritakan tentang pertemuan tidak sengaja dengan teman SMP nya yang bernama Damar.
Saat kelas dua SMP waktu itu Damar menembaknya untuk menjadi pacarnya di belakang sekolah, tetapi karena agak memaksa Fatia malah menghajarnya.
Hampir di keluarkan dari sekolah karena Fatia menghajar Damar, tetapi setelah Fatia berkata jujur jika dia memaksa harus menerima menjadi pacarnya, Fatia tidak jadi di keluarkan.
Fatia dan Damar mendapatkan surat peringatan dari sekolah jika mengulangi lagi keduanya akan di keluarkan dari sekolah.
"Tadi melihat dari sorot matanya, sepertinya dia masih tidak terima dengan peristiwa itu yah.."
"Sudahlah tidak usah di pikirkan".
"Tapi jadi kepikiran...... dia tuhhh terkenal tempramental saat SMP".
"Tidak usah di pikirkan, lebih baik bayar hutang saja, harus dobel ya.....plus bunganya juga".
"Idih..... maaf sudah lupa tuh".
__ADS_1