Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 52 Rindu Berat


__ADS_3

Hari ini Jose dan Ardi akan berangkat ke Balikpapan Kalimantan Timur untuk bertemu klien penting disana selama tiga hari.


Mbak Rina sudah terbiasa di tinggal Ardi keluar kota untuk urusan bisnis, tetapi Fatia yang baru pertama kalinya di tinggal Jose merasa khawatir.


Banyak pesan yang disampaikan oleh Fatia kepada Jose, yang jangan telat makan, istirahat yang cukup, jangan lupa handphone di cas, sering telpon dan jangan genit sama cewek.


Jose hanya tersenyum saja mendengar banyak pesan dari Fatia.


"Bun, jangan khawatir Jose junior ini bisa bangun hanya pada bunda seorang".


Jose merayu Fatia sambil memeluknya dari belakang, sedang Fatia lagi packing baju Jose.


"Gombal, kemarin cium bibir wanita ganjen itu"


"Itu tidak sengaja Bun, jangan di cemburu lagi dong".


Sudah selesai packing, koper di tarik Jose turun ke lantai bawah, diikuti oleh Fatia sambil menggendong baby Al.


Ardi sudah menunggu di bawah di dampingi oleh mbak Rina dan putrinya Dina, ada juga semua anggota keluarga.


Sebelum berangkat tanpa malu-malu Jose mencium bibir Fatia dengan rakusnya, yang lain hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar bucin" kata Yosi meledek Jose.


Tetapi Jose menatap Yosi dengan datar saja, tanpa ekspresi apapun, tidak lupa mencium kening putranya Al dengan penuh kasih sayang.


"Berangkat dulu ya, Assalamualaikum..."


Semua langsung menjawab salam dengan serentak.


"Jangan lupa sampai sana telepon ya yaah".


Fatia masih memberikan pesan saat Jose dan Ardi berangkat, Jose tersenyum memandang Fatia sambil melambaikan tangannya.


Perjalanan jarak jauh baru di lakukan Jose kali ini selama menikah dengan Fatia, rasanya berat meninggalkan mereka, apalagi jika teringat putranya yang lagi lucu lucunya itu.


Pada siang harinya Jose memberikan kabar kepada Fatia melalui WA bahwa mereka sudah sampai di hotel di Kalimantan timur tepatnya di Balikpapan dengan selamat.


Pada sore harinya Fatia di ajak oleh ibu Diniya menghadiri undangan tetangga kompleks yang sedang mengadakan acara resepsi pernikahan putrinya.


Fatia menggenakan gaun panjang berwarna hitam dan membawa baby Al dengan dorongan stroller berjalan beriringan dengan mbak Rina yang menggendong Dina beserta orang tua Ardi.

__ADS_1


Sampai tempat hajatan itu banyak yang mengenali Fatia karena aksi terakhirnya yaitu melumpuhkan perampok di Jakarta Tempo hari.


"Ini mbaknya yang viral karena melumpuhkan perampok itu ya... senangnya bisa ketemu, minta foto bareng ya" ucap gadis cantik yang ada di hajatan itu.


Ada juga ibu ibu yang memeluknya dengan erat, ibu hamil yang mencubit pipinya dengan gemas serta banyak yang mengajak minta foto bareng.


"Perasaan kok seperti artis aja bundanya Al ini, banyak fansnya" celoteh mbak Rina sambil menarik tangan Fatia agar bisa keluar dari kerumunan ibu ibu dan gadis remaja.


"Maaf ya... ibu ibu, mbaknya mau menikmati hidangan dulu, Foto fotonya nanti lagi ya"


Baby Al di gendong oleh ibu Diniya dan Fatia mengambil hidangan prasmanan dua porsi yang satu untuk dirinya sendiri dan satu lagi untuk ibunya.


Malam hari ini pertama kalinya Fatia tidur sendiri tanpa suaminya Jose, mencoba mencari tempat yang nyaman agar bisa memejamkan matanya, tetapi walaupun matanya terpejam hatinya tetap gelisah, karena terbiasa tidur dalam pelukan suaminya.


Tidak lama kemudian ada suara handphone berdering, ternyata yang di Kalimantan juga sama tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.


"Kringggg...... kringggg"


ada vidio call dari Jose, Fatia menggeser tanda telpon dan mengarahkan ke wajahnya.


"Assalamualaikum yah, panjang umur baru dipikirin calling".


"Sama yah...., rasanya aneh tidur sendiri"


"Bun..... buka dong bajunya sedikit biar kangennya hilang".


Fatia membuka kancing bajunya saja, mereka bercerita panjang lebar sampai hampir tengah malam dan mulai terasa mengantuk tertidur tanpa mematikan Vidio itu seolah olah tidur satu ranjang bersama.


Mbak Rina pagi hari mengajak baby Al berjalan jalan di luar mencari udara segar, berjemur memandangi matahari terbit dari ufuk timur dengan hangat, menambah vitamin D buat baby Al yang masih kecil.


Berjalan beriringan bersama mbak Rina dengan putrinya Dina di depan rumah terasa lebih segar dan hangat.


Sedangkan ternyata dalam dua hari semua bisa di selesaikan semua bisnis dengan klien di Balikpapan Kalimantan Timur.


"Ardi ada penerbangan kah malam ini, kita pulang sekarang aja kalau ada".


"Iya bos, aku juga kangen berat dengan celotehan putriku Dina, coba di cek dulu"


Ardi menghubungi pihak biro perjalanan untuk meminta memajukan penerbangannya, karena jika jaraknya di luar pulau mereka jarang menggunakan helikopter. memilih naik pesawat komersil saja.


Mendapat kabar ada pesawat terakhir yang terbang ke Surabaya pada pukul delapan malam Jose dan Ardi langsung packing dan pergi ke bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan.

__ADS_1


Di Balikpapan pukul delapan malam di Surabaya masih pukul tujuh karena memang beda satu jam, Surabaya masuk Indonesia bagian barat sedangkan Balikpapan masuk Indonesia tengah.


Pukul tujuh tiga puluh waktu Indonesia bagian barat pesawat landing di bandara internasional Juanda Surabaya, jarak dari bandara ke rumah di tempuh selama satu jam.


Sekitar jam sembilan malam akhirnya Jose tiba dirumah, ternyata rumah sudah sepi, ibu sedang istirahat di kamar, Yosi sedang belajar di kamarnya.


Fatia selesai memberikan ASI eksklusif kepada baby Al dan membaringkannya di box bayi di kamar baby Al.


Dari tadi sambil memberikan ASI Fatia mencoba menghubungi Jose tetapi handphonenya tidak aktif.


Hati Fatia mulai gelisah, mengambil handphonenya kembali setelah dari kamar baby Al ingin menghubungi Jose kembali, dan bersamaan dengan WA masuk dari jose.


"Tringgg.... tringgg... tringgg".


"Sayang... tolong bukakan pintu, aku di bawah, sudah pulang nich... kangen bunda".


Fatia langsung berlari keluar dengan cepat dan turun tangga menuju pintu dan membukanya.


Melihat sosok Jose yang berdiri di depan pintu Fatia langsung memeluknya dengan erat.


"Kangen banget ya.....?"


"Hhhmmm" Jose langsung mencium bibir Fatia dengan penuh gairah masih di depan pintu itu juga.


"Ayo kita masuk dulu"


Jose langsung menggendong Fatia dengan bridal sangking kangennya.


"Yah... tidak usah di gendong... itu kopernya kok di tinggal".


"O iya lupa, ya sudah di gandeng aja deh".


Jose langsung menarik kopernya masuk kerumah dan tidak lupa mengunci pintu dulu sebelum berjalan menuju tangga atas ke kamar nya tetap memeluk pinggang Fatia dan sesekali menciumi pipinya.


"Sudah makan kah yaaah?" bunda siapkan Dulu ya?".


"Nanti aja Bun makannya, aku tidak lapar, yang lapar Jose junior tau"


Jose langsung mencium lagi bibir Fatia kemudian turun ke leher, langsung membuka baju nya satu persatu dan dilemparkan entah kemana.


Dan membuka bajunya sendiri dengan cepat, terjadilah pergumulan panas sampai klimaks nya malam itu.

__ADS_1


__ADS_2