
Hampir lima hari tinggal di apartemen, bibi ART juga mondar mandir antara apartemen dan rumah, Jose memutuskan untuk pergi ke Ngawi hari Jum'at nanti.
Keluarga Ardi tidak bisa ikut karena ada saudara jauh om Ari juga akan mengadakan acara resepsi pernikahan keponakannya.
Yang akan ikut hanya Yosi, tetapi Irul juga ingin ikut kesana dan minta ijin kepada Jose, Jum'at pagi Irul berkunjung ke apartemen Jose.
Setelah duduk di ruang tamu di temani Yosi berbincang, Yosi memanggil Jose, saat Jose sedang mengambil air mineral di dapur.
"Mas Jose....."
"Ada apa?,..... kalau pacaran ya pacaran aja situ, ngapain pake panggil panggil, mau pamer?" goda Jose.
"Apa sih mas, ini lo....mas Irul mau ngomong sama mas bule" jawab Yosi sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ada apa memangnya?.... apa sudah tidak tahan...mau nikah sekarang?" celoteh Jose.
"Mas ....mas bule ini kalau ngomong tidak pakai di saring dulu" protes Yosi.
Jose hanya tertawa lepas melihat kekesalan adiknya itu, sedangkan Irul hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua saudara itu berdebat.
"Ada apa Irul, apa yang mau di bicarakan?".
"Itu mas.....sore katanya mau ke Ngawi, bolehkah aku ikut?".
"Oooooo silahkan aja, tetapi tidak tahu sampai kapan pulangnya, terserah Bunbunnya Al, memang tidak apa-apa?".
Irul tersenyum senang mendengar Jose mengijinkannya untuk ikut ke Ngawi.
"Tidak apa-apa mas, aku sudah selesai kok kuliahnya, bulan depan rencananya mau nyusul Dedy Mark ke Manhattan".
"Sana pulang aja dulu, ambil ganti baju, jangan lupa bawa baju Koko, sarung dan songkok"
Karena Irul tidak faham mengapa harus bawa peralatan yang di sebutkan Jose, Irul melamun sejenak, mengerutkan keningnya.
"Kenapa harus bawa itu semua mas?".
"Sudah ikuti aja, kalau perlu agak banyak bawanya".
"Ya mas.... saya pulang dulu".
Irul berdiri ingin meninggalkan apartemen untuk mengambil baju ganti, tetapi Yosi yang datang dari dapur untuk membuat es sirup mendekati mereka.
"Mas .... Yosi ikut....tapi ini minum dulu sirupnya"
Di towelnya tangan Yosi karena Jose ingin menggoda adiknya itu.
"Katanya tidak bucin....itu lebih bucin dariku, baru ditinggal pulang ambil baju aja nempel Teruuuuuuus"
__ADS_1
"Yosi...tidak bucin wuek...mas bule tuuuuh yang bucin" kata Yosi sambil menjulurkan lidahnya.
Jose mengeluarkan kunci mobil kepada Irul dengan cepat sebelum Irul keluar dari pintu apartemen itu.
"Pakai mobil ku aja biar cepat... satu jam lagi kita berangkat, motormu nanti suruh ambil bapakmu aja" perintah Jose.
"Ya....baik mas, terima kasih"
Irul keluar dari apartemen bersama Yosi beriringan dengan bergelayut manja di tangan Irul.
Jose masuk kamar, Al masih terlelap dalam tidurnya di tempat tidur, sedangkan Fatia sedang berganti baju ingin bersiap siap, tetapi Jose memeluknya dari belakang.
"Lebih cantik tidak usah di pakai baju itu".
Jose memiringkan kepalanya memegang tangan Fatia agar tidak mengancingkan bajunya, dan memandangi gunung kembarnya dengan mata nanarnya.
"Ah..... mulai lagi, apa tidak capek... tadi malam sudah berkali-kali"
Jose tersenyum nakal, memang tidak bisa di pungkiri, libidonya sangat tinggi semenjak mengenal Fatia padahal dulu hampir lebih dari 15 tahun tertidur pulas.
"Mana bisa menahannya jika di dekatmu, rasanya jadi on terus".
Jose menciumi gunung kembar Fatia dengan rakusnya, tetapi kegiatan itu terhenti mendengar rengekan Al dari tempat tidur Al.
"Awas..... Al bangun tuh".
"Ayo.... bangun sayang.... mandi kita jalan naik pesawat" rayu Fatia.
"Wawat.... Bun,.....Wawat".
"Iya nak kita naik Wawat.... ayo kita mandi".
Fatia membawa Al untuk mandi di kamar mandi, Jose mengikuti Fatia dari belakang dengan membawa handuk di pundaknya.
"Bun.....mau juga dong di mandikan seperti Al....masak hanya dia saja yang di mandikan".
"Mandi sendiri, nanti baju ku basah... sudah ganti baju nich".
Setelah satu jam semua sudah siap dengan koper masing-masing, tinggal menunggu Ardi yang akan mengantarkan mereka ke hanggar helikopter.
Terbang menuju Ngawi selama hampir satu jam perjalanan, dan di jemput oleh kakak laki-laki Fatia sampai disana.
Istirahat sampai menjelang magrib, semua keluarga terutama yang laki-laki berangkat ke masjid depan rumah, disinilah Irul mulai memahami mengapa di suruh membawa peralatan sholat lengkap.
Jama'ah masjid itu sangat penuh setiap hari nya, Irul Jose dan kakaknya Fatia ada di shaf paling depan, tetapi ketika hampir pada doa terakhir tidak sengaja Irul menengok ke belakang sebelah kiri nya, ada sosok laki-laki yang pernah di lihatnya.
Tidak begitu asing bagi Irul walaupun hanya pernah melihatnya sekali saat persidangan terakhir Triana di Surabaya kemarin, sosok laki-laki yang pernah di lihatnya bersama ibu dan adik Triana yaitu Geri.
__ADS_1
Irul sedikit bergeser mendekati Jose dan berbisik kepadanya.
"Mas coba lihat di belakang ku ada orang yang mungkin kau kenali?"
Jose seketika menengok ke belakang sebelah kiri Irul ada sosok Damar mantan suami Triana dan laki-laki yang pernah menyukai Fatia duduk di shaf kedua.
Bapak selesai membacakan doa mengucapkan Aamiin, kemudian bersalaman dengan semua jema'ah yang hadir, Jose bergerak minggir dan berbincang dengan jema'ah yang duduk disana.
"Nak Jose ..... ayo turun kita makan dulu, nanti kita sambung lagi ngobrolnya setelah sholat isya" perintah pak haji kepada Jose
"O.....injih pak .....monggo"
Tetapi Damar mendekati pak Haji mengambil punggung tangan pak haji.
"Assalamualaikum Pak haji" ucap Damar.
"Walaikum salam....kamu....?".
Pak haji mengayunkan tangannya sambil mengingat ingat seperti mengenal pemuda yang ada di depannya itu beberapa tahun yang lalu.
"Saya Damar.... yang dulu tinggal di samping rumah" jawab Damar cepat.
"Oya.....aku ingat, ayo mampir sebentar nak".
Damar mengikuti pak haji sambil melirik ke arah Jose yang dari tadi memandanginya dengan tatapan mata yang tajam, dan seperti tidak menyukainya.
Turun dari masjid pak haji masih berbincang dengan Damar dan berjalan perlahan menuju ke rumah.
Jose melangkah cepat mendahului mereka dan diikuti oleh Irul yang masih merasa bingung.
"Siapa dia mas?" tanya Irul.
"Dia mantan suami Triana, dan dia juga orang yang pernah suka sama ibunya Al" jawab Jose kesal.
"Mas cemburu?" tanya Irul lagi.
"Iya...tapi sedikit, tetapi untungnya istriku itu tidak suka pada laki-laki nggak jelas itu".
"Mas ini jujur banget orangnya" celoteh Irul.
Memasuki rumah Jose berlari kecil menuju kamar tidur mencari Fatia, tetapi ternyata tidak ada disana, kemudian menuju dapur, ternyata dia di dapur bersama ibu dan semua keluarga sedang asyik bercengkerama sambil mengawasi anak anak yang sedang bermain.
"Sayang.... come here please?" Panggil jose.
Fatia mendekati Jose sambil mendengarkan keluarganya yang meledek dan menggodanya.
"Bun....ada yang gawat!" ucap Jose sedikit kesal.
__ADS_1
"Apanya yang gawat?".