Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 83 Lamaran Yosi


__ADS_3

"Saya tahu pak, tetapi..........?".


"Tetapi apa hah....... apa yang ada di otak kamu?".


"Saya sangat menyukainya, sampai sekarang saya belum menikah karena menunggu pak Jose saja".


"Dasar wanita aneh.... silahkan kemasi barang barang kamu sekarang juga".


Ardi meninggalkan ruang rapat itu dengan emosi yang sudah memuncak, dan membanting pintu dengan keras.


Ardi menuju kantor administrasi dan memerintahkan kepala bagian itu untuk membuatkan surat pemecatan terhadap Safitri serta mempersiapkan uang pesangon nya.


Barulah Ardi menuju ke kantor Jose, dan melihat Jose sedang duduk di sofa sambil memijat tengkuk nya yang kaku.


"Bos.......kau baik.....baik..... saja?".


"Aku hampir gila memikirkan masalah akhir akhir ini?".


"Ha.....ha....ha...." Ardi malah tertawa terbahak bahak.


"Kamu sudah gila....aku pusing malah kau tertawa kan?".


"Lucu aja bos, akhir akhir ini persoalan bos hanya berhubungan dengan wanita dan wanita aja".


"Apakah aku ini terlalu tampan hingga banyak wanita yang tergila-gila padaku?".


"Idih..... Kenapa sekarang jadi GR bos?".


"Habis aku pusing....." kata Jose sambil mengacak rambutnya.


"Yang jelas bos, jangan sekali kali mengkhianati kakak iparku".


"Tidak akan lah...... siapapun yang akan mengejarku, tidak perduli, cintaku hanya untuk Fatia seorang, aku jamin itu".


Di rumah Fatia masih mempersiapkan untuk kepulangan Dedy nya ke Manhattan, membawakan oleh-oleh untuk uncle nya Marten Jose.


Fatia juga membawakan oleh-oleh untuk Hasson teman dan atasan Jose saat di perusahaan Dedy nya itu.


Baru selesai mempersiapkan keperluan untuk Dedy nya, Jose pulang padahal baru tengah hari.


"Tumben sudah pulang, ada apa?".


"Lagi kangen aja sama Bunbun, sumpek di kantor".


"Mengapa kok sumpek?".


Jose menceritakan kejadian tadi pagi di kantor tanpa di tutup tutupi sedikit pun, Jose tidak ingin berbohong kepada istri tercinta itu.


"Jadi sekarang wanita yang bernama Safitri itu sudah keluar dari kantor?".


Jose hanya menjawab dengan anggukan kepala saja karena masih merasa jengkel dengan ulah karyawan itu.


"Bun...... jangan marah lo ya......sayang!".

__ADS_1


"Tidak yah....aku percaya kok Sayangku tercinta dan suami terbaik di dunia".


Fatia memeluk Jose dengan mesra dari belakang, Jose membalikkan badannya dan mencium bibir Fatia dengan hati yang bahagia.


"Terima kasih sayang...I love you so much".


Ciuman itu semakin menuntut dan meminta lebih semakin panas ciumannya.


"Kenapa masih siang sudah minta jatah sih?".


Jose hanya tersenyum tetapi semakin intens tangannya bergerilya, Fatia juga sudah terpancing oleh sentuhan Jose, hanya bisa mendesah kecil pada setiap sentuhannya.


Fatia membalas ciuman Jose dengan penuh gairah karena hatinya masih mengingat ada seorang wanita yang menyukai di kantor, hari ini Fatia yang banyak memegang kendali atas pergumulan panas itu.


Sampai pada klimaksnya di puncak kenikmatan yang mereka raih Jose semakin bahagia dan tersenyum puas.


"Hari ini sayangku sangat hebat, aku sangat menyukainya".


Fatia hanya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Jose karena sedikit malu, tetapi dengan begitu Fatia berharap Jose tidak pernah mengkhianatinya, selalu setia bagaimanapun juga banyak wanita yang menyukai Jose dengan kharisma yang dimilikinya.


Fatia hanya berpikir jika mendapat kepuasan di rumah Jose tidak akan tergoda oleh wanita manapun, Fatia akan mempertahankan rumah tangga dan keutuhan cintanya.


Masih dalam dekapan Jose Fatia yang melamun kaget karena ada bibi yang mengetuk pintu.


"Tok.....tok....tok...".


"Ya bibi.... ada apa?" kata Fatia sedikit berteriak.


"Ada tamu Bu......anda dipanggil Mr Mark".


Fatia bergegas mandi dengan cepat, takut di susul oleh Jose yang suka usil dan modus jika dia mengajak mandi bersama, sedangkan tamu sudah menunggu.


Selesai mandi Fatia meminta suaminya itu bergantian mandi, untung saja Al masih anteng dengan tidur siang di box ranjangnya.


Fatia turun menemui tamunya tanpa menunggu Jose keluar kamar mandi karena baju sudah disiapkannya.


"Jose mana Fatia?" tanya Mark.


"Sebentar lagi turun Ded....".


"Assalamualaikum mbak Fat, saya Irul ini ayahku Anwar dan pamanku Samsul"


"Oooooo ya, walaikum salam" jawab Fatia sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Sebelum Fatia duduk Jose datang dari lantai atas dengan sedikit berlari dan bergabung dengan mereka.


Jose juga ikut menyalami mereka satu persatu dan mengucapkan salam.


"Pak Jose Assalamualaikum, saya Samsul pak karyawan anda bagian gudang".


"Walaikum salam.... betul kah?, sudah berapa lama bapak bekerja di bagian gudang?".


"Hampir 15 tahun pak" jawab Samsul singkat

__ADS_1


Datang juga kedua orang tua kandung Ardi bergabung dengan mereka dan berjabat tangan dengan cepat.


Anwar mulai mengutarakan niat kedatangan mereka kepada keluarga Jose bahwa ingin melamar Yosi, tetapi justru Yosi belum sampai rumah.


"Ini tadi tidak bilang Yosi kalau mau kesini?" tanya Fatia kepada Irul


"Tidak mbak, Yosi sedang ujian hari ini, takut mengganggu konsentrasinya, ini mendadak soalnya takut Dedy keburu berangkat ke Manhattan".


"Kau manggil Dedy?" tanya Jose heran.


"Itu Dedy yang minta kemarin my Son" jawab Mark cepat.


Jose hanya membulatkan mulutnya dengan jawaban Dedy nya itu, kemudian mereka melanjutkan perbincangan nya, sesaat kemudian Yosi datang dari pintu depan.


"Assalamualaikum ...."


"Walaikum salam...." Jawab mereka serentak sambil menengok ke arah pintu depan.


"Ini dia yang di tunggu tunggu baru datang, come on sit down my daughter" kata Mark sambil menepuk sofa di sebelahnya.


"Ada apa Dedy?.... mas Irul kesini kok tidak bilang Yosi?".


"Maaf Yosi... ini mendadak, Dedy bilang harus kesini Sebelum beliau berangkat ke Manhattan" jawab Irul cemas.


Irul kemudian memperkenalkan Anwar ayahnya dan Samsul pamannya, Yosi mengulurkan tangannya untuk bersalaman dan mencium punggung tangan keduanya secara bergantian.


Lalu Anwar melanjutkan niatnya untuk mempersunting Yosi setelah Irul lulus nanti,


"Bagaimana Yosi dengan niat Irul yang ingin menikah dengan mu?".


"Yosi....e...e..e... menerima nya".


"Alhamdulillah....." semua mengucapkan syukur kepada Allah SWT.


Irul mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan memberikannya kepada Yosi.


"Dedy mohon ijin untuk memberikan cincin ini sebagai tanda bahwa saya serius ingin menikahi Yosi".


"Ya silahkan... pakaikan sekalian?" perintah Mark.


Selesai menyematkan cincin dijari manis Yosi, Fatia Mengajak tamu dan semua keluarga untuk makan bersama di meja makan yang sudah di siapkan oleh para Bibi.


Mereka makan dengan suasana yang akrab dan sambil bercanda, dan Jose sesekali menggoda Yosi dengan kejahilannya.


"Cie...cie...dari kemarin meledek mas bucin kan?.... sendirinya lebih dari bucin" kata Jose sambil mencolek hidung Yosi.


"Kapan Yosi bucin, tidak pernah tuuh?"


"Itu masih kecil sudah mau nikah, itu namanya bucin".


"Eeeee enak aja Yosi sudah besar tau.....".


Semua tertawa bersama-sama mendengar ucapan Jose dan Yosi yang saling meledek, dan selesai makan mereka kembali ke ruang tamu, Jose berjalan sambil memeluk Fatia dari belakang.

__ADS_1


"Tuuuh.....yang paling bucin itu mas Jose, bukan Yosi......".


__ADS_2