Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 86 Kepanikan


__ADS_3

Rina dengan tangan gemetar mencari nomor Ardi disana, karena mendengar Al yang nangis merengek mencari Bunbun nya handphone Rina terjatuh.


Handphone sudah tersambung tetapi terjatuh di lantai Rina mengambinya dengan cepat.


"Halo......halo.....sayangku.... cintaku...halo ada apa?" Ardi menjawabnya dengan cemas.


"Mas.....maaf tadi jatuh handphonenya....itu mas....itu....a..a.."


"Coba ambil nafas terlebih dahulu, baru bicara yang jelas".


Rina mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan.


"Mas .... Fatia terluka di parkiran pasar Turi sebelah kiri, cepat kesana".


"Apa...kapan?" Jawab Ardi kaget.


"Baru saja, tadi dia menghubungi aku, handphonenya Fatia rusak katanya".


"Kakak ipar menghubungi menggunakan handphone siapa ..... sayang?"


"Tadi dia menghubungi aku pinjam handphone orang pasar, tadi Fatia menghubungi mas Jose tetapi tidak diangkat" ucap Rina sambil tersengal-sengal.


"Ya sudah tenang dulu ya....., sebentar aku menghubungi bos dulu".


Ardi berada di kantor sedang mengerjakan tugas yang belum selesai, sedangkan Jose meeting dengan kepala HRD dan klien dari Kalimantan timur.


Ardi berlari menuju parkiran ingin menyusul Jose yang sedang meeting dengan klien dari Kalimantan timur di restauran samping perusahaan itu.


Tetapi ternyata Jose sudah ada di parkiran dan turun dengan membuka pintu mobil, melihat Ardi yang berlari dengan tergopoh-gopoh Jose mengerutkan keningnya.


"Ada apa Ardi?".


"Apakah tadi bos mendapatkan telepon masuk yang tidak di ketahui namanya?".


"Ya... tetapi tidak aku angkat.....memang kenapa?".


"Kakak ipar terluka di pasar Turi, cepat telepon balik nomor itu lagi bos".


Jose langsung membuka handphone dan menghubungi balik nomor itu.


"Ayo bos naik.... kita jalan kesana teleponnya di dalam mobil aja" ajak Ardi dengan tegang.


Karena berdua bingung Ardi masuk mobilnya sendiri dan Jose juga mengambil mobilnya sendiri juga.


"Bos....sini pakai satu mobil aja".


"Oya.... kok jadi nggak jelas begini" Jose ngomel sendiri.


Karena posisi mobil Ardi sudah siap berangkat sedangkan mobil Jose sudah rapi terparkir.


Jose berlari menaiki mobil Ardi dan membuka pintu duduk di depan, Ardi langsung melesat membelah jalanan menuju pasar Turi dengan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi.

__ADS_1


Jose yang dari tadi menghubungi nomor yang tidak di kenal itu sampai dua kali baru di angkat oleh nya.


"Halo....halo..." Kata Jose.


Karena yang menjawab seorang wanita Jose menyerahkan handphone itu kepada Ardi.


"Di loud speaker bos cepat".


Jose memencet tombol loud speaker dengan cepat.


"Halo...ini siapa ya?" kata ibu dari handphone nya.


"Bu saya kakaknya yang tadi telepon ke nomor ini yang katanya terluka, bagaimana sekarang keadaannya?" tanya Ardi.


"Iya pak ini masih di sini ibunya, kami sudah telepon ambulance tetapi belum datang" jawab ibu itu.


"Terima kasih Bu, saya sedang menuju kesana".


Ardi tetap fokus menyetir mobil dengan kecepatan tinggi dan mengerutkan keningnya berpikir keras sehingga teringat Syaiful.


"Bos... hubungi Syaiful".


Jose panik sehingga susah berpikir jernih, tetapi mengikuti semua perintah Ardi, membuka handphonenya lagi mencari nomor Syaiful.


"Kringgg.... kringgg.... kringgg..."


"Halo...bro..." Suara Syaiful menggema.


"Bro....... cepat ke pasar Turi istriku terluka disana, ini kami lagi otw kesana" ucap Jose.


Syaiful kebetulan ada di sekitar dua kilometer dari pasar Turi, sedang dalam perjalanan pulang dari menghadap atasannya.


Syaiful memasang alarm suara sirine di atas mobil nya dengan cepat, sendirinya mobil minggir mempersilahkan mobilnya mendahului mereka.


Hanya dalam waktu sepuluh menit Syaiful datang di TKP bersamaan dengan ambulance yang datang.


Syaiful berlari di pos satpam, disana ada empat orang yang babak belur, dan seorang wanita cantik yang sedang duduk dengan tenangnya.


"Mana yang terluka?" tanya Syaiful tegas.


"Siap pak.... ada di parkiran samping kiri pasar" kata satpam itu sambil memberi hormat.


Langsung berlari menuju parkiran samping kiri pasar dan diikuti oleh petugas ambulance dengan membawa tandu.


Ardi juga tiba di pasar Turi itu tetapi baru sampai pintu masuk Jose membuka pintu mobil Ardi tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri.


"Bro tunggu" teriak Jose kepada Syaiful.


Berdua berlari menuju orang yang berkerumun menunggu Fatia yang sedang mengeluarkan air mata menahan sakit kaki.


Dua petugas ambulance juga datang bersamaan membawa tandu lipat menuju kesana.

__ADS_1


"Permisi..... permisi.... polisi tolong beri jalan" perintah Syaiful.


"Sayang..... sayang..... apanya yang sakit".


Jose duduk jongkok mengusap air matanya dengan lembut.


"Kakiku sebelah kiri yah.... sakit sekali".


Orang orang menatap dengan sendunya, seorang laki-laki gagah berwajah bule rambut hitam, menggunakan jas hitam, tetapi rela jongkok demi istri tercintanya.


Petugas ambulance membuka tandu itu dan meletakkan di bawah kursi panjang akan mengangkat Fatia yang tergeletak di kursi panjang itu.


"Tunggu.... biar aku saja yang mengangkat istriku ke tandu".


Pelan pelan Jose mengangkat tubuh Fatia dengan posisi bridal, tangan Fatia melingkar di leher Jose, Fatia meringis dan mengeluarkan air mata menahan sakit.


"Apakah sakit sayang....?" tanya Jose sambil mengusap air matanya.


Fatia hanya menganggukkan kepalanya, Jose meletakkan perlahan di tandu lipat itu dan di angkat oleh empat orang, di depan kedua petugas itu, dan di belakang Jose dan Syaiful.


"Maaf pak itu belanjaan ibunya bagaimana?" tanya ibu paruh baya yang meminjamkan handphone itu.


"Buat ibu saja" kata Jose tetap sambil mengangkat tandu itu.


Ardi berlari mendekati mereka dan melihat keadaan Fatia yang meringis menahan sakit sambil mengeluarkan air mata terus menerus.


"Ardi hubungi Danny cepat" perintah Syaiful dengan suara lantang.


Seketika Ardi mengubungi Danny, kebetulan Danny sedang off dan bersantai di rumahnya.


"Halo bro....ada apa telepon?" tanya Danny.


"Bro.... dimana?...... cepat ke rumah sakit, kakak ipar terluka, ini kami otw kesana" kata Ardi dengan nafas yang terengah-engah.


Danny berpamitan dengan Lia istrinya dan menyambar kunci mobil melesat cepat ke arah rumah sakit membelah jalanan di Surabaya yang padat.


Selesai Ardi menghubungi Danny ada telepon masuk yaitu dari Rina istrinya sendiri.


"Mas Al nangis terus".


"Sayangku cintaku bawa Al ke rumah sakit sekarang, ajak sekalian bapak, ibu dan Dina, kami sudah otw kesana".


Fatia di masukkan ke dalam mobil ambulance dan diikuti oleh Jose yang ikut masuk ke ambulance.


Ambulance berjalan melaju dengan suara sirine yang sangat kencang seakan membelah lautan jalanan, mobil mobil minggir dengan sendirinya membiarkan ambulance merajai jalanan itu.


Syaiful berlari di pos satpam di ikuti Ardi, di pos satpam itu sudah ada petugas polisi yang sedang memborgol keempat laki-laki dan wanita seksi itu.


"Syafitri..... jadi kau yang melakukan kekacauan ini?".


Syafitri malah tersenyum seolah olah tidak bersalah melihat Ardi yang naik pitam.

__ADS_1


"Maaf pak....aku hanya mempertahankan pak Jose yang seharusnya menjadi milikku"


"Hah.......dasar wanita gila!!!!


__ADS_2