Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 30 Pembubaran Panitia Karang Taruna dan Bakti Sosial


__ADS_3

Pagi harinya setelah selesai resepsi para tetangga dan keluarga masih berkumpul di rumah Fatia.


Ada yang membersihkan rumah, mengumpulkan barang pecah belah, membongkar tenda, merapikan kursi dan meja.


Ada juga tetangga yang masih memasak hidangan untuk mereka yang bekerja, nanti malam ada diadakan pembubaran panitia karang taruna.


"Biasanya apa yang diberikan untuk karang taruna jika mengadakan pembubaran panitia pak?" tanya Jose kepada ayah mertua nya.


"Tergantung tuan rumahnya yang punya hajat, ada yang memberi bonus baju, amplop atau pun juga rokok" jawab pak haji ayahnya Fatia.


"Kalau membagi amplop isinya berapa pak?" tanya Jose lagi.


"Terserah saja nak tergantung kemampuan masing-masing" jawab pak Haji sambil tersenyum.


"Bagaimana kalau kita adakan bakti sosial?" usul Ridwan.


"Boleh juga tuuuh nak, kapan diadakannya?" tanya pak Haji.


"Kita bisa juga pengobatan gratis mumpung ada dokter juga nich" promosi Ardi.


"Begini saja pak, nanti malam ada pembubaran panitia karang taruna, minta tolong saja mereka, kita adakan besok saja, soalnya sore kita harus mampir kerumah walikota" jelas Jose lagi.


Setelah pembicaraan itu Jose dan Fatia ke Bank mengambil uang yang lumayan besar, untuk belanja sembako dan isi amplop.


Danny diantar oleh kakak laki-laki Fatia ke apotek untuk membeli keperluan obat yang mungkin diperlukan besok.


Walikota Ridwan menghubungi pak lurah untuk mendata orang orang sekitar lingkungan tetangga Fatia yang berhak menerima sumbangan sembako.


Ardi dan mbak Mona ditugaskan untuk berbelanja sembako yang akan di bagikan besok.


Karena adanya walikota di tempat Fatia dan ternyata mempelai prianya adalah teman masa kecilnya, banyak warga yang datang untuk menemui walikota ataupun pengantin baru itu.


Walaupun acaranya hanya dadakan banyak juga warga yang mampu ikut berpartisipasi dalam sumbangan sembako.


Pak lurah mengkoordinasikan puskesmas setempat untuk membantu Danny dalam periksaan kesehatan gratis.


Pada malam harinya, semua anggota karang taruna berkumpul untuk mengadakan pembubaran panitia, di undang juga oleh pak lurah para bapak RT yang di minta untuk membagikan kupon pembagian sembako.


Setelah selesai menyantap hidangan makan semua anggota dan pak RT mendapatkan amplop dari Jose.


Karena sebagian besar para anggota karang taruna adalah remaja yang masih sekolah, mereka sangat senang, mereka berucap.


"Sultan ma, bebas berapapun uang yang dikeluarkan tidak akan habis" celetuk salah satu pemuda karang taruna.


"Namanya juga teman walikota pasti orang kaya" celoteh gadis karang taruna lagi.


"Teman teman di harapkan besok minta bantuan lagi ya... untuk bansos dan pengobatan gratis" pinta Jose.


"Iyaaaaaa" jawab mereka kompak.


Setelah karang taruna membubarkan diri, para teman sejati ngumpul bersama untuk membuat rencana besok setelah bansos.

__ADS_1


Se... pengaturan tempat bagaimana besok" tanya Saiful.


"Tenang, sudah ada yang ngatur, para santrinya bapak mertua dan Kakak iparku yang mengatur nya"


"Sekitar ada berapa bingkisan sembakonya?" tanya Danny.


"Tadi aku hitung sekitar 500 bungkus" cerita Ardi.


"Kok banyak betul, tidak salahkah?" tanya Jose heran.


"Tidak bos, tadi ada juga yang ikut nyumbang dana termasuk pak lurah, jadi tambah banyak" Ardi menerangkan.


Fatia datang dari dapur membawa kue dan kopi untuk teman teman yang berkumpul.


"Ini kopi dan kuenya ya" ucap Fatia.


"Sayang sini" celoteh Jose sambil menarik dan memeluk Fatia.


"Mas, malu nich banyak teman mas yang lihat" protes Fatia.


"Biarkan aja paling mereka iri" jawab Jose datar.


"Jose, kamu ini bikin malu aja, bermesraan depan kita kita" goda Ridwan.


"Kalau ngiri sana peluk istrimu sendiri" Jose berceloteh sambil menciumi tangan Fatia.


"Se.... Se... bucin nya kok parah banget" ledek Syaiful.


"Aku jadi ragu Se, kau kuat berapa ronde semalam?" Danny berucap.


"Aaaihh, apaan sih yang di bahas?" protes Fatia sambil mencubit lengan Jose.


"Ha.... ha...ha kakak ipar santai saja, begitulah kalau kita sudah berkumpul, ngomongnya pada tidak di saring dulu" bela Ardi kepada teman temannya.


"Iya pikirannya tidak ada yang beres, ngeres semua" ucap Jose sambil merangkul pinggang Fatia.


"Terutama kamu Se, lihat kelakuanmu dari tadi bergerilya melulu, nempel aja kayak perangko" jawab Danny gerah.


"Kalau aku kan ngeresnya belum lama, kalian tuuuh.....yang dari dulu ngeres" protes Jose lagi.


"Besok jam berapa kita berangkat ke rumahmu Ridwan?" tanya Syaiful.


"Habis asar aja, kita berangkat" jawab Ridwan.


"Ok ayo kita istirahat, besok masih ada banyak pekerjaan" ajak Jose.


"Mau istirahat apa mau yang lain?" goda Ardi.


"Mau dua duanya" celoteh Jose sambil menarik tangan Fatia.


"Ayo....... yang, kita masuk kamar" rayu Jose kepada Fatia.

__ADS_1


"Mas.... idih mulai lagi Deh" jawab Fatia sambil tersenyum.


Pada pagi harinya, ibu Diniya, Rina, Om Rio, Tante Tanti dan Yosi pamit pulang duluan di jemput oleh helikopter perusahaan.


Tepat pukul delapan pagi, semua sudah siap pada tugas masing-masing dalam bansos, masyarakat satu persatu datang dengan membawa kupon untuk pembagian sembako.


Ada juga yang membawa kupon untuk amplop yang di khususkan untuk manula, serta ada juga yang datang untuk berobat.


Jose mengecek satu persatu pekerjaan teman temannya, setelah beres Jose bergabung dengan Fatia.


"Masih banyak amplopnya ... yang?" tanya Jose.


"Masih mas" jawab Fatia singkat.


"Se.... Se.. kamu sini, bantuin bagi sembako aja, jangan nempel terus, enak sendiri saja" protes Syaiful.


"Enggak ah... sama kamu tidak asyik, mending disini, ada yang bening" jawab Jose sambil memandangi Fatia.


"Emangnya kaca bening bos" celoteh Ardi sambil menggelengkan kepalanya.


Semua masyarakat sangat antusias dengan acara dadakan itu, banyak yang mendoakan semoga bahagia, semoga samawa atau semoga cepat mendapat momongan


"Yang.... mau yang itu?" pinta Jose kepada Fatia.


"Apa sih mas?" jawab Fatia.


"Itu momongan, mas mau sebelas ya?" goda Jose sambil mengedipkan matanya.


"Memangnya mau buat group kesebelasan sepak bola?" ucap Fatia sambil memegang tangan Jose.


"Kalau perlu dua group kesebelasan" celoteh Jose lagi.


"Sembarangan aja sih mas ini"


Sampai waktu Zuhur acara baru selesai, setelah sholat, makan bersama dan istirahat sebentar.


Setelah sholat asar semua rombongan pamit kepada keluarga Fatia, mengucapkan terima kasih dan lain waktu berkunjung lagi.


Rombongan kemudian berangkat ke rumah walikota Ridwan konvoi menggunakan mobil sendiri sendiri beserta istrinya kecuali Ardi karena Rina hamil besar dan pulang duluan.


Ardi ikut mobil Danny bersama dengan istri dan kedua anak kembar nya, di minta untuk ikut Jose Ardi menolak nya karena takut mengganggu katanya.


Rombongan sampai di rumah Ridwan pukul empat sore di sambut oleh mertua Ridwan.


_________________________


Haiiii guys......


mampir ke novel yang lain yaa


judulnya "Dia Adikku Bukan Anakku"

__ADS_1


terimakasih atas dukungan like, vote dan


komentar nya jangan lupa


__ADS_2