
Sudah hampir tiga Minggu Fatia tinggal di rumah ibu Diniya, jahitan di kaki sudah sembuh, tinggal tangan saja yang kadang masih terasa nyeri.
Fatia masih menggunakan gips di tangannya jika beraktivitas yang lumayan menyita tenaga.
Jose sudah mulai beraktivitas seperti biasa, Fatia masih melanjutkan magangnya di perusahaan PT KURNIA, tetapi sudah berstatus istri Presdir.
Minggu depan adalah acara akad nikah Jose dan Fatia yang akan di laksanakan di Ngawi, empat hari sebelum hari H mereka berdua berangkat duluan karena harus mengikuti prosesi yang harus di ikuti.
Jose membawa mobil sendiri dari Surabaya menuju Ngawi berdua saja, yang lain akan menyusul pada hari H nanti.
Dalam perjalanan Jose selalu merayu Fatia tanpa henti, hatinya selalu teringat pada malam pertama, dalam hidupnya Jose tidak pernah membayangkan akan mengalaminya.
Mengingat apa yang terjadi pada masa lalu Jose, tidak pernah terbayangkan betapa bahagianya bisa menikmatinya bersama Fatia.
Jose sengaja berangkat sore hari, setelah sampai setengah perjalanan selama dua jam Jose membelokkan mobilnya ke hotel bintang lima.
"Mas kok belok kesini, ini baru sampai mana?" tanya Fatia heran.
"Mas capek sayang.... punggung rasanya kaku semua, kita istirahat di sini dulu ya?" pinta Jose.
"Capek kah, apa perlu gantian membawa mobilnya?" tanya Fatia lagi.
"Tidak usah.... nanti tangan mu sakit lagi, biar mas aja, ayo turun" ajak Jose sambil membukakan pintu.
"Terus jam berapa kita melanjutkan perjalanan lagi mas?" Fatia bertanya lagi.
"Sampai mas puas lah" Jawab Jose sambil mengedipkan matanya.
"Idiiiih mas ini, ternyata modus ya?" jawab Fatia sambil mencubit lengan Jose.
"Modus sama istri sendiri boleh kan?" goda Jose.
Akhirnya Jose dan Fatia menginap di hotel bintang lima itu sampai menjelang subuh, tidak cuma hanya menginap Jose manfaatnya waktu dengan berdua.
Jose tidak bisa melepaskan sedikit pun Fatia, memeluknya erat, mencium bibirnya yang lembut, dan bermanja-manja sampai bercinta sampai menjelang tengah malam.
pukul empat pagi Fatia bangun ingin ke kamar mandi, rasanya badan sakit semua, Jose tidak melepaskan sedikitpun.
"Mau kemana sayang?" tanya Jose dengan memeluk tubuh Fatia yang masih tanpa benang sehelai pun kecuali selimut tebal.
__ADS_1
"Kamar mandi mas, tapi badan ku sakit semua" keluh Fatia.
"Ayo mas gendong ke kamar mandi" kata Jose langsung menggendong Fatia ke kamar mandi.
Jose langsung meletakkannya pelan pelan ke dalam bet-up yang sudah terisi air hangat, digosoknya pelan pelan punggung Fatia dengan lembut.
Tetapi justru membuat Jose bergairah lagi dan lagi, Fatia awalnya protes kenapa harus di kamar mandi, tapi bukan Jose namanya kalau tidak bisa membuat Fatia menyerah dan mengerang dan melayang diatas awan.
Awalnya menggosok punggung, memeluknya dari belakang, meraba gunung kembar Fatia dan mencium setiap inci dari leher sampai kebawah.
Bercinta di kamar mandi menjadi sensasi tersendiri bagi Jose yang tidak bisa di lupakan olehnya.
Kemudian mereka mandi besar, menunggu sholat subuh setelah itu cek-out dari hotel dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Fatia di Ngawi.
Pukul tujuh pagi Fatia dan Jose tiba di rumah disambut oleh keluarga besar Fatia, dari orang tua, kedua kakak laki-laki dan istrinya beserta anak-anaknya juga.
Jose juga di sambut oleh mbak Mona dan suami beserta putri kecilnya Aisyah.
Ada juga tetangga Fatia juga turut serta menyambutnya dengan gembira.
"Waaaah suami mu ganteng banget Fat, masih ada stokkah yang kayak dia, aku juga mau?" ucap Leni teman Fatia di kampung.
"Ayo nak, istirahat dulu nanti kalau sudah hilang capeknya baru ibu kenalkan keluarga Fatia" ucap ibu Fatia.
"Iya Bu" jawab Jose sambil membungkukkan badannya.
"Ayo mas ke kamar dulu" ajak Fatia sambil menggandeng tangan Jose.
"Aduuuh mesranya pasangan pengantin baru itu" goda mbak Mona .
"Ah .... mbak Mona bisa aja" ucap Fatia dengan malu-malu.
"Yang.... yang... sayang" panggil Jose setelah di dalam kamar Fatia.
"Kenapa mas?" jawab Fatia singkat.
"Ini kamarmu, kok tidak ada kamar mandinya, tidak ada AC nya juga" protes Jose.
"Mas disini kalau malam dingin banget melebihi AC malah" cerita Fatia kemudian.
__ADS_1
"Terus mandinya gimana dong?" tanya Jose lagi.
"Di bagian belakang rumah kamar mandinya ada banyak mas berjejer, karena ada santri juga yang belajar di masjid dan menginap di pondok samping masjid" keterangan Fatia panjang.
"Jadi kita tidak bisa mandi bareng dong" ucap Jose.
"Jangan macam-macam ya mas... malu lah disini banyak orang" kata Fatia sambil cemberut.
Saat Jose istirahat Fatia ganti baju dan ingin keluar kamar untuk menemui tetangga yang sedang membuat berbagai macam kue dan makanan untuk tamu dan keluarga yang ngumpul di rumah.
Acara resepsi di kota dan di desa sangatlah jauh berbeda, jika di desa banyak saudara dan tetangga yang membantu membuat hidangan untuk acara resepsi.
Di desa sebelum acara akad nikah di laksanakan akan diadakan rapat karang taruna yang akan mengatur jalannya resepsi, para remaja karang taruna yang bertugas menjamu para tamu.
Para tetangga dan keluarga yang memasak semua hidangan resepsi dan dilakukan secara bergotong royong.
karang taruna mengadakan acara pada siang hari, semua pemuda dan pemudi menyusun acara, dan membuat pembagian tugas masing-masing, Fatia dan Jose bergabung juga dengan mereka.
Menentukan seragam yang akan di pakai, meminjam peralatan makan sampai meja kursi para tamu semua yang mengatur para pemuda.
Semua peralatan itu disediakan tanpa menyewa hanya membayar uang kas saja untuk perawatan barang, sungguh acara yang menurut Jose antik dan menarik.
Jose memperhatikan rapat para anggota karang taruna dengan seksama, terutama pemudanya, dia akan sangat memperhatikan siapa yang suka sama Fatia sebelumnya.
Terang saja ada yang sangat mencolok dengan sikap dan perilakunya ketua karang taruna. Jose mendekatinya.
"Ada beberapa anggota karang taruna mas" tanya Jose kepada ketua karang taruna.
"Ada 35 orang mas, Oya kenalkan namaku Ahmad" ucap Ahmad sambil mengulurkan tangannya.
"Namaku Jose, ini masalah seragam biar aku yang menyediakan, berikan data nama dan ukurannya ya mas besok akan di bawa rombongan dari Surabaya" titah Jose.
"Ok siap" ucap Ahmad singkat.
"Oya mas Ahmad apakah kamu sudah menikah?' tanya Jose lagi.
"Belum mas, bulan kemarin aku melamar orang yang aku suka tapi karena umurku lebih muda sedikit aku ditolak olehnya" cerita Ahmad terus terang.
Saat itu Fatia yang duduk di samping Jose hanya tersenyum menunduk, karena Fatia lah yang di lamar Ahmad tetapi di tolaknya.
__ADS_1