Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 20 Direpotkan Tetapi bahagia


__ADS_3

Sebelum di bawa ke ruangan rongsen Danny datang berdiri di samping Jose.


"Halo girl, kenalkan aku Danny, temannya si jomblo akut nich" ucap Danny sambil menunjuk ke Jose.


Danny melipatkan tangannya di atas dada sebagai tanda dalam kenal karena Danny tahu tangan Fatia patah.


"Jangan panggil girl, hanya Jose yang boleh memanggil itu" jawab Jose cemburu.


"Idiiiih gitu aja cemburu, aku sudah punya anak dua bro, jangan posesif" goda Danny.


Fatia hanya tersenyum saja melihat mereka berdebat dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda dalam kenal.


"Ayo kita rongsen dulu ya" perintah Danny.


Setelah sampai Danny memerintahkan Fatia pindah ketempat tidur yang disediakan untuk rongsen.


"Fatia bisa geser ke kiri sedikit demi sedikit agar lebih mudah untuk di rongsen?" tanya Danny.


Tetapi Jose langsung membopong Fatia tanpa permisi karena melihat Fatia agak meringis kesakitan.


"Kamu tidak lihat apa my girl kesakitan, bukannya kasihan malah di suruh geser" Jose sambil menggerutu.


"Itu maksud ku tak kira kamu tidak peka?" jawab Danny sambil tersenyum.


Fatia sebenarnya terasa canggung jika Jose mendekati nya, karena merasa belum boleh itu terjadi.


"Tapi tapi.... pak" ucap Fatia gugup.


"Maaf aku tidak tahan melihat mu kesakitan, tolong jangan tolak aku, rasanya sudah mau gila karena frustasi melihat mu jaga jarak dari kemarin girl" jelas Jose sambil jongkok mendekati Fatia.


"Maaf.... " jawab Fatia sendu.


Selesai rongsen kemudian Fatia langsung di antar ke ruang operasi untuk pasang pen di tangan kanan kanan dekat siku.


Operasi berjalan selama 1,5 jam, tetapi bagi Jose seperti seminggu, Fatia di pindahkan ke ruang rawat inap selesai di operasi pemasangan pen.


Jose masih menunggu sampai Fatia siuman dari pengaruh obat bius, kadang mondar-mandir dan terkadang duduk di kursi samping Fatia berbaring.


"Kenapa lama sekali belum sadar juga Dan?" tanya Jose.


"Sebentar lagi sabar" saran Danny.


Danny melihat tangan Fatia bergerak gerak, matanya mulai membuka sedikit demi sedikit.


"Naah tuuh kan sudah mulai membuka matanya" jawab Danny.


"Sudah bangun girl?" tanya Jose khawatir.


Danny mengecek denyut nadi Fatia, dan tensi dan detak jantung nya dengan teliti.


"Nah, untuk sementara Fatia tidak boleh menggerakkan tangannya minimal selama dua Minggu, karena yang patah sekitar 5cm dari siku, jadi agak rawan seandainya di gerakkan" jelas Danny panjang lebar.


"Satu lagi, untuk yang di kaki juga jangan buat berjalan dulu karena baru di jahit 18 jahitan, faham kan Fatia?" tambah keterangan Danny.

__ADS_1


"Baik dok, terimakasih" jawab Fatia singkat.


"Aku keluar dulu, Se .... jaga dia dengan baik ya" kata Danny sambil berjalan keluar ruangan.


Danny keluar ruangan itu tetapi sambil mengedipkan matanya menggoda Jose yang begitu khawatir dengan keadaan Fatia.


"Kau istirahat dulu ya girl, aku menemani mu disini" ucap Jose lagi.


"Pak, pak, maaf saya saya....." kata Fatia terbata bata.


"Girl, please don't call me pak" pinta Jose sambil melipat kedua tangannya.


Masak memanggil calon suami nya sendiri pak sih, please" ucap Jose lagi.


Fatia hanya mengerutkan keningnya dengan ucapan Jose yang menyebutkan calon suami.


"Jadi harus memanggil anda apa?" jawab Fatia.


"Panggil mas, atau sayang mungkin" goda Jose.


"Baiklah, mas boleh saya minta tolong?" pinta Fatia.


"Everything I do for you honey" janji Jose.


"Tapi saya malu" kata Fatia lagi.


Fatia menundukkan kepalanya ingin mengatakan sesuatu tetapi sedikit sungkan dan agak malu-malu.


"Saya lagi PMS, bisakah tolong belikan pembalut?" Fatia bicara sambil tertunduk.


"Ha......pembalut?" Jose kaget.


"Sama Daleman juga tapi mas, atau minta tolong perawat sajalah, kalau malu membelinya?" jelas Fatia singkat.


"Tidak usah biar aku aja yang beli, apapun kulakukan untukmu mu" jawab Jose langsung jalan kearah pintu.


Tetapi baru sampai pintu Jose kembali mendekati Fatia kembali.


Size nya apa?"


" Hhhhmmmm, size M, maaf ya mas"


Jose menuju minimarket terdekat untuk membeli yang di minta Fatia, dan tidak lupa meminta ibu dan adiknya untuk datang ke rumah sakit.


Dua puluh menit kemudian Jose kembali ke ruangan dengan membawa apa yang di minta Fatia.


"Terimakasih ya mas, saya ke toilet dulu mau ganti" kata Fatia sambil mau bangun dari tempat tidur itu.


"Kan dokter Danny tadi melarang jalan, mau kemana bangun?" larang Jose.


"Ayo aku gendong" langsung Jose mengangkat tubuh Fatia.


"Tapi mas kita belum muhrim, aku tidak mau" jelas Fatia.

__ADS_1


"Girl, dengar ya, jangan bikin aku frustasi, nanti aku antar sampai dalam kamar mandi dan di tunggu di luar ok, calon istri ku yang Soleha" rayu Jose.


Setelah selesai Fatia dari kamar mandi, Fatia di angkat lagi oleh Jose ke tempat tidur, ada menu makan siang yang dari tadi di atas nakas kecil belum di sentuh olehnya.


"Ayo makan dulu" titah Jose.


"Belum lapar mas, anda saja yang makan ya, lagian aneh kayaknya makan pakai tangan kiri" ucap Fatia.


"Ayo kita makan berdua kalau gitu ok, aku suapin haaa" kata Jose sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi dan lauk.


"Mas dari pagi anda tidak ganti baju, apakah anda sudah sholat ashar" tanya Fatia lagi.


"Belum, nanti ada ibu dan adikku yang akan kesini untuk gantian menjaga mu, sementara aku ambil ganti baju kita" Jose menjelaskan.


"Oya mana kunci kos-kosan nya, untuk ambil baju?" pinta Jose sambil mengulurkan tangannya.


"Tidak usah mas, jadi tidak enak merepotkan terus" Fatia sungkan.


"Yang di repot kan justru malah bahagia" goda Jose.


Tiba-tiba pintu terbuka datang dua wanita cantik berbeda usia setengah baya seumuran dengan ibunya.


"Assalamualaikum..." ada suara salam dari luar.


"Walaikum salam" jawab Jose dan Fatia bersamaan.


"Ibu.... perkenalkan dia Fatia yang Jose ceritakan kemarin" cerita Jose.


Fatia mengambil tangan ibu Diniya mencium punggung tangan nya dengan lembut.


"Waaaah cantik nya menantu ibu ya" puji ibu Diniya.


"Adik dimana Bu, apa tidak ikut?" tanya Jose.


"Tadi bilang mau ke toilet, paling sebentar lagi datang" jawab Bu Diniya.


'Mas Jose" panggil Yosi.


Fatia dan Yosi saling beradu pandang sejenak kemudian mereka tersenyum senang.


"Yosi........!" ucap Fatia kaget.


"Mbak Fat, jadi calon nya mas Jose...."ucap Yosi terputus.


"Kalian sudah saling kenal?" tanya ibu.


"Mbak Fatia kan guru karate Yosi.... Bu?" jelas Yosi.


"Yos, bisa temani mbak Fat malam ini?" minta Fatia.


"Dengan senang hati" jawab Yosi.


Kemudian Jose pulang sebentar mengambil baju, dan mengantarkan ibu Diniya pulang setelah beberapa lama berbincang.

__ADS_1


__ADS_2