
Setelah mengambil baju ganti nya, Jose meluncur ke kos-kosan untuk mengambil baju Fatia.
Jose mulai masuk ke kamar kos-kosan Fatia, dia memeriksa satu persatu ruangan itu, ternyata sederhana sekali semua miliknya, dia hanya mengambil apa yang diperlukan, kemudian kembali ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit Jose melihat Fatia dan Yosi bercengkerama dengan akrabnya, tidak menyangka bahwa gadisnya adalah guru dan panutan dari Adiknya sendiri.
"Sudah makan dan minum obat girl?" tanya Jose sesampainya ruang rawat inap.
"Belum, dari tadi ngobrol terus sampai lupa waktu" jawab Yosi dengan jujur.
"Kau ini, kenapa malah mengajaknya ngobrol terus?" Jose jadi kesal.
"Maaf mas, jangan di marahin Yosi nya, kasihan" bela Fatia.
"Tapi harusnya tidak sampai lupa waktu juga dong dik" keluh Jose kepada Yosi.
"Maaf mas, dari tadi mbak Fat tak suruh makan bilang nanti nanti terus" Yosi membela diri sendiri.
"Ya sudah Yosi sudah makan belum, nich uang ke kantin sana, nanti kalau sakit mas lagi yang dimarahi ibu" titah Jose sambil menyodorkan uang kepada Yosi.
"Mau ngusir atau mau modus nich" Yosi meledek.
Yosi berjalan keluar dari ruang rawat inap itu dan mendorong pintu baru keluar menuju kantin.
"Dua-duanya" jawab Jose sekenanya.
"Ayo makan dulu baru nanti minum obat" titah Jose.
Jose mengambil piring yang berisi nasi, sayur dan lauknya, di pegangnya piring itu dan duduk di kursi depan nya Fatia.
"Ayo haaa" Jose menyuapi Fatia.
"Mas makan juga dong, nanti sakit kalau tidak makan" pinta Fatia kemudian.
"Iya... nich juga ikut makan, mas suka malah bisa maka sepiring berdua" Jose merayu.
"Jangan mulai modus ya" jawab Fatia sambil tersenyum.
Selesai makan Fatia minum obat, dan beristirahat membaringkan tubuhnya, di bantu oleh Jose pelan pelan.
Yosi selesai makan masuk ruangan rawat inap, untuk menemani dan menjaga untuk malam ini.
__ADS_1
Yosi juga beristirahat dan berbaring di sofa panjang di ruangan rawat inap lama kelamaan tertidur pulas
Karena adanya Yosi suasananya jadi kaku, Jose tidak bisa berbincang dengan Fatia lebih bebas, sehingga mereka lebih banyak diam, sudah menjelang Fatia memejamkan matanya perlahan, dan mulai tertidur pulas, Jose masih tetap duduk di kursi meletakkan kepalanya di samping tubuh tertidur dengan pulas juga.
Pukul tiga pagi Fatia terbangun dari tidurnya. sambil menggeliat kan badan nya tangan Fatia mengenai punggung Jose.
"Astaghfirullah, mengapa mas tidur disini?" gumam Fatia sendiri melihat Jose tidur dengan posisi duduk di kursi dan kepala di letakkan di samping kepala Fatia.
Karena merasa punggung nya tersenggol Jose langsung terbangun dan membuka matanya perlahan lahan.
"What happened girl" tanya Jose dengan suara khas bangun tidur.
"Tidak apa-apa, maaf tidak sengaja" jawab Fatia lalu ingin bangun dari tempat tidur.
"Eeee mau kemana?" tanya Jose sambil membuka mata yang masih ngantuk.
"Aku mau ke kamar mandi" jawab Fatia lagi.
"Ayo mas gendong, apa aja yang mau di bawa, pembalut sama ****** ***** kan?" tanya Jose tanpa malu-malu.
"Bagaimana mas bisa tahu, maaf jadi merepotkan?" Fatia mengangguk malu.
Jose hanya tersenyum dengan pertanyaan Fatia, padahal tadi sebelum membeli pembalut bingung bagaimana berbelanja pembalut Jose mencari di google.
Jose menggendong Fatia dengan bridal dan di turunkan di dalam kamar mandi, menutup pintu nya perlahan.
Jose menunggu di luar kamar mandi sampai Fatia selesai berganti pembalut, kemudian kembali menggendong nya kembali ke tempat tidur.
"Girl pagi ini mas ke Ngawi ya, setelah sholat subuh mas berangkat?" kata Jose.
"Ngapain mas?" tanya Fatia singkat.
"Mau menjemput bapak mertua, agar bisa menikahkan kita hari ini" Jose berkata dengan hati yang bahagia.
Fatia kaget dengan ucapan Jose, dia hanya mengerutkan keningnya saja tanda tidak faham apa yang akan di lakukan Jose.
"Katanya Minggu depan kesananya, kenapa Maju?" tanya Fatia penasaran.
"Tidak jadi Minggu depan, mas pingin menikah hari ini" tegas Jose.
"Kok buru buru sih, emang bisa mendadak, prosesnya kan lama perijinannya apalagi ribet mas?" jelas Fatia lagi.
__ADS_1
"Nikah siri aja dulu ya" ajak Jose.
"Baru sehari merawat mu, mas sudah frustasi, tidak bisa bebas memegang mu, Faham maksud mas kan?" tanya Jose sambil mengacak rambutnya.
"Tadi malam mas sudah WA walikota Ngawi, nanti dia yang akan menemani mas melamar mu girl, bersiaplah kita menikah hari ini" jelas Jose panjang.
Fatia hanya terbengong bengong mendengar celotehan Jose, hanya melamun karena kaget, tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.
"girl.... girl kok malah melamun?" panggil Jose.
"Entahlah jadi bingung mas, aku belum sempat memberi bapak, soal permintaan ta'aruf mas kemarin" jawab Fatia jujur.
"Tidak usah bingung, percaya sama mas kan, girl please ayolah .... ya .... ya. hari ini kita menikah, mas tidak main-main dengan mu?" rengek Jose.
"Terserah mas aja deh, yang penting tidak mempermainkan aku, mas orang yang pertama ngajak Ta'aruf dan memegang dengan persamaan yang berbeda" ucap Fatia lirih sambil menunduk.
"Listen to me, you are first my only love, forever, ok" jelas Jose.
Akhirnya pagi itu Jose pamit kepada Fatia dan Bu Diniya, pergi ke Ngawi dengan helikopter perusahaan.
Sampai di Ngawi Jose di jemput oleh walikota Ridwan dan meluncur ke kediaman orang tua Fatia, tapi sebelum nya Ridwan menelfon lurah dimana wilayah orang tua Fatia tinggal.
Sesampainya rombongan di rumah orang tua Fatia, kakak perempuan Fatia yang menyambut nya.
"Mari pak silahkan masuk, ada apa ini kok bisa seorang walikota dan lurah sampai berkunjung ke gubuk kami?" tanya Mbak Mona heran.
"Apakah pak Haji ada?" tanya pak lurah.
"bapak masih di masjid biasanya jam sembilan baru turun" jawab mbak Mona.
"Siapa Mon yang datang?" tanya ibunya Fatia.
"Ini Bu tamu agung, pak walikota dan rombongan" jawab Mona sambil tersenyum.
"Cepat panggil bapakmu sana?" titah ibunya Fatia lagi.
Mona berlari kecil menuju masjid yang berada di depan rumah untuk memanggil bapaknya, saat ada seorang laki-laki paruh baya datang dengan pakaian jubah games lengkap dengan songkok dan tasbih di tangannya, mereka berdiri menyambut pak haji.
"Silahkan duduk semuanya" perintah pak Haji setelah datang dari masjid.
"Ada yang bisa di bantu bapak bapak?" tanya pak haji lagi.
__ADS_1
"Begini pak, saya mewakili teman saya Jose Kurniawan datang dari Surabaya untuk melamar putri bapak yaitu Fatia" jelas Ridwan.
"Oooo ini lamaran, kenapa Fatia tidak cerita?" jawab pak haji heran.