
Minggu ini Triana akan menjalani sidang dua kali hari Senin dan Jum'at.
Hari Senin ini akan mengajukan para saksi dari pihak penggugat dan untuk hari Jum'at saksi dari pihak tergugat.
Sidang di Minggu ini Triana juga di tanya oleh pihak pengacara penggugat dengan berbagai pertanyaan yang tidak bisa di hindarinya, pertanyaan yang terpaksa mengakui bahwa memang Triana lah yang telah membunuhnya dengan pisau kecil yang telah di buang di parit depan hotel ada sidik jari Triana.
Minggu depan adalah sidang terakhir untuk putusan berapa tahun Triana akan di penjara karena pengacara penuntut umum menuntut nya 20 tahun penjara.
Mendengar tuntutan 20 tahun penjara, Syaiful mendatangi kantor Jose, kebetulan sekalian lewat di daerah PT KURNIA.
"Hai bro... apakah kau sibuk?" Kata Syaiful saat sudah di kantor Jose.
"Hai kau di sini, tidak terlalu sibuk sih ada apa tumben mampir?".
"Aku mampir sekalian lewat".
"Kita sambil makan siang saja bersama Ardi ke kantin yok"
Jose dan Syaiful mendatangi Ardi di ruangan sebelah dan mengajaknya ke kantin bersama.
Mereka bersama menuju kantin yang berada di area perusahaan itu.
Sambil makan siang bersama setelah memesannya Syaiful memulai pembicaraan tentang kasus Triana.
"Se... Triana di tuntut hukuman 20 tahun penjara oleh pengadilan negeri Jakarta barat".
"Berat juga ya tuntutannya?". jawab Ardi enteng.
"yang berat itu cinta Triana pada mu Se....." goda Syaiful.
"Itu bukan cinta namanya...... cuma....." ucap Jose.
"Cuma apa .... cuma obsesi, itu mah.... cinta mati.... karena terjadi korban dari cinta itu". kata Syaiful lagi.
Jose hanya bernafas dengan berat, tidak menduga kejadian bisa sampai seperti ini, hanya karena cinta orang bisa melakukan apa saja termasuk mengambil nyawa orang lain.
"Tidak usah melamun bos,...... apa yang kau bayangkan..... jangan bilang kalau membayangkan saat masih kuliah dulu saat Triana tidak memakai baju".
"Idih.... ogah.... lebih asik membayangkan bunda nya Al dari pada wanita gila itu"
"Ha ha ha kalau dia tidak usah di bayangkan Se.... langsung aja dinikmati" kata Syaiful sambil tersenyum.
"Jangan bilang gila.... bos perasaan bos dulu lebih parah.... mengejar bundanya Al sampai Bali" goda Ardi dengan mengedipkan matanya.
"Tapi kau ikut juga" tambah Jose lagi.
mereka tertawa terbahak-bahak sambil tetap menikmati sisa kopi yang di pesan nya tadi.
Sementara Yosi yang ada di kampus masih sering diikuti oleh adiknya Triana yang bernama Geri, walaupun kuliahnya berbeda dia sering mencari Yosi di sana.
"Yosi....... bisa bicara sebentar?".
__ADS_1
"Mau apa lagi, aku sudah bilang tidak akan mencabut kasus kakakmu?".
"Aku cuma mau ngobrol aja" kata Geri dengan menarik tangan Yosi.
Dengan refleks Yosi menangkis tangan Geri sehingga Geri meringis kesakitan menahan tangkisan tangannya.
"Sadis banget sih nich cewek, aku cuma mau berteman aja".
Dari kejauhan ada pemuda yang memperhatikan mereka berdua, dan kemudian mendekatinya dengan cepat.
"Yosi..... ada yang bisa di bantu?".
"Eee mas Irul....tidak mas aku baik baik saja kok".
"Siapa dia, temanmu kah?"
"Bukan mas, dia bukan temanku, permisi aku mau ke perpus"
Yosi berlalu meninggalkan mereka berdua menuju ke perpustakaan yang berada di samping kampus.
"Tunggu Yosi.... bareng, aku juga mau kesana".
Yosi dan Irul berjalan beriringan menuju perpustakaan sedangkan Geri hanya memandangi mereka yang semakin jauh dari posisinya.
Satu jam di perpustakaan Yosi mendapatkan kabar jika salah satu mata kuliah tidak jadi di adakan hari ini, Yosi langsung pulang menggunakan mobil online menuju rumahnya.
"pulang dari kampus muka kok di tekuk begitu to Yos, ada apa?" tanya Fatia saat melihat adik iparnya itu datang dengan muka masam.
"Kesel sama siapa, pacar?".
"Tidak mbak, Yosi belum punya pacar.... enak aja"
"Terus......".
"Itu adiknya model gila tuuuh, masih ngikutin Yosi terus".
"Memang masih minta di cabut kasusnya?".
"Tidak juga sih".
"Cuekin aja, tidak usah di ladeni, paling capek sendiri?".
Yosi berjalan masuk kamar dan menengok kanan kiri di rumah nya sendiri.
"Mbak Fat.....ibu mana kok tidak ada?......aduh aku pula, ibu sudah tidak ada".
"Sabar Yos....".
"Hemmm".
Rupanya anak kesayangan ibu itu jarang berpisah dengan ibunya, sehingga masih terbayang bayang ibunya terus.
__ADS_1
Datang dari luar Jose dengan berjalan mendekati Fatia sambil tersenyum simpul.
"Aku pulang..."
"Sudah pulang yah".
Fatia tersenyum mengambil tas Jose dan mengikuti Jose ke kamar tidur lantai atas.
"Dimana Al Bun, kok tidak ada?".
"Habis mandi tadi langsung bermain sama Dina".
Fatia membukakan dasi dan jas suaminya dan meletakkan sepatu di tempatnya.
"Bersihkan diri dulu nanti baru cari Al".
"Heemmmm".
Fatia menyiapkan baju Jose sementara dia mandi, baru kembali turun ke bawah menuju dapur untuk membuatkan kopi dan mempersiapkan hidangan makan malam nanti, mumpung Al lagi anteng bermain.
Semenjak ibu pergi di panggil oleh yang maha kuasa, dapur di menjadi tugas Fatia hanya sesekali saja Yosi membantunya jika libur saja.
Di sela sela kegiatan Fatia di rumah, Fatia masih rutin berlatih karate dan sering di temani oleh Yosi, terkadang berdua mengadu kekuatan masing masing untuk duel.
Si kecil Al tak pernah ketinggalan jika bunda dan tantenya itu berlatih, ikut serta berlatih, Fatia juga sering melatihnya sesuai dengan kemampuan yang Al miliki.
"Yahhhh itut......tini......" Al mengajak ayahanda nya berlatih juga.
"Tidak Al ...Yayah capek ".
Jose hanya memandangi putra kecilnya itu mengikuti gerakan bunda ataupun tantenya dengan antusias.
Terkadang seperti berjoget saat Al mengikuti gerakan karatenya, Jose hanya senyum senyum melihatnya.
Sudah satu jam mereka berlatih, keringat bercucuran dari tubuhnya termasuk juga Al.
"Ayo Al mandi dulu" perintah Jose
Al langsung berlari ke kamar mandi mengikuti bunda yang sudah berjalan duluan kesana.
Jose masuk ke ruang kerja untuk memeriksa email yang sudah di tunggu dari kemarin dari Dedy nya di Manhattan.
Jose masih sering membantu pekerjaan Dedy nya walaupun jarak yang sangat jauh, kecanggihan teknologi informasi membuat pekerjaan memang menjadi semakin mudah.
Setelah sholat magrib keluarga kecil yang sekarang tanda di dampingi ibunya makan malam bersama dengan penuh kasih.
Sesekali Yosi menggoda Al yang sedang makan sendiri di kursi khususnya, tetapi terkadang Yosi makan sambil meneteskan air mata jika teringat ibunya saat makan makanan kesukaan ibunya yang di hidangkan oleh Fatia.
"Banyak berdoa buat Ibu ya Yos...... jangan menangis terus.... kasihan ibu di sana kalau kau belum ikhlas".
"Iya mbak Fat, tetapi ibu seperti sedang jalan jalan aja, nanti kembali pulang".
__ADS_1
Fatia hanya bisa memeluknya dengan erat sambil mengusap punggung Yosi, dan merasa tenang jika ada orang yang mendukungnya.