
Sore hari itu juga Damar dan putranya kembali ke Ngawi, rasa sakit hati kepada Fatia dan Triana hanya di rasakan di dalam hati Damar sendiri saja.
Naik bus patas AC dari Surabaya ke Ngawi di tempuh sekitar empat jam jika tidak melewati jalan tol.
Sementara Ardi sudah dua hari ini hampir tidak tidur dan istirahat, karena dateline yang di berikan Jose untuk mengatasi penggelapan dana yang di lakukan oleh orang yang belum di ketahui.
Baru malamnya Ardi mendapatkan titik terang siapa dalang dari penggelapan dana itu, ternyata wakil dari HRD yang di curigai oleh Ardi.
Wakil HRD itu seorang wanita dewasa yang masih singgel belum pernah berumah tangga yang tinggal di sebuah apartemen di daerah Tanjung perak Surabaya, ternyata wanita itu satu kampus dengan mereka tetapi beda dua semester di bawahnya Jose dan Ardi.
Malam itu juga Ardi mengerahkan anak buahnya untuk menyelidiki latar belakang wanita itu dan lingkungan sekitar apartemennya.
Sudah mendapatkan informasi yang akurat Ardi lari ke rumah sebelah menemui Jose yang kebetulan melihat Jose sedang bercengkerama dengan semua keluarga di ruang keluarga.
Jose mengajak Ardi ke ruang kerjanya untuk melaporkan temuannya tersebut kepada bosnya itu.
"Bagaimana sudah ada titik terang?" tanya jose setelah sampai di ruang kerja dan duduk di sofa panjang.
"Sudah bos, ini data dan laporannya" jawab Ardi sambil menyerahkan leptop yang berisi laporan dan bukti yang sudah di dapatkannya.
Jose mempelajari dengan seksama laporan dari Ardi itu dari awal sampai akhir.
"Bagus....besok kita lihat reaksinya, beristirahat lah".
"Baiklah bos terima kasih".
Malam ini juga rencana Irul bertemu dengan Mark di sebuah Kafe terkenal yang sudah di kirimkan Irul kepada Yosi kemarin.
"Selamat malam Mr Mark" ucap Irul sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat malam, Assalamualaikum panggil saja Dedy".
"Walaikum salam baiklah Dedy".
Seperti yang di pesan lewat Yosi kemarin Mark memberikan syarat yang harus dilakukan oleh Irul jika ingin melamarnya nanti.
Irul menerimanya dengan senang hati dengan syarat yang diajukan oleh Mark.
"Demi Yosi.... Semua syarat akan saya lakukan dengan baik Dedy, insyaallah".
"Baiklah....dua hari lagi saya akan kembali ke Manhattan, sebaiknya sebelum berangkat datanglah ke rumah bersama kedua orang tuamu".
__ADS_1
"Maaf Ded, ibuku sudah meninggal dunia, tinggal bapak saja".
"Tidak apa-apa, bapakmu saja tidak masalah, kami tunggu".
Pagi harinya keluarga Jose kedatangan tamu Jaseline bersama keluarga kecilnya, rencananya mereka akan ikut Mark ke Manhattan dua hari lagi.
Al, Dina dan Emely bermain dengan riang di ruang keluarga, sedangkan Fatia, Jaseline dan Yosi serta Rina bercengkerama dengan akrabnya baik tentang keluarga, kosmetik, mode pakaian dan bisnis yang di jalankan oleh keluarga.
Sementara Jose dan Ardi serta di dampingi oleh om Ari mengadakan rapat mendadak dengan semua kepala bagian di PT KURNIA.
Dalam rapat itu semua kepala bagian merasa tegang karena rapat mendadak, tetapi wakil HRD itu tidak menampakkan batang hidungnya.
"Ini siapa yang belum datang, bukan kah sudah di perintahkan untuk kepala bagian dan wakilnya, cepat panggil mereka" perintah Jose dengan nada marah.
Dengan tergopoh-gopoh mereka memanggil wakilnya masing-masing, dan kembali dengan mengajak wakilnya untuk ikut rapat.
"Semua sudah lengkap mari kita mulai" ucap Ardi dengan tegas.
Jose dan Ardi menatap satu persatu dari mereka yang hadir dalam rapat tersebut, gestur tubuh dari wakil HRD yang bernama Safitri itu sudah mulai gelisah.
"Baiklah kita mulai.....coba bacaan laporan pada setiap bagiannya kepadaku" perintah Jose kepada
Awalnya kepala HRD membacakan laporan dengan lancar, tetapi sampai pertengahan laporan, mata dari kepala HRD itu terbuka lebar setelah melihat perbedaan laporan yang di bacakan olehnya.
"Kenapa berhenti pak?".
"Ini ...... ini mengapa berbeda dengan laporan yang saya buat.... sebentar bos" ucap kepala HRD itu.
"Safitri kau yang membuat laporannya bukan, coba kamu bacakan lanjutkannya" ucap kepala HRD itu lagi.
Keringat dingin mengucur deras di kening Safitri, dengan gugup dia meraih kertas laporan itu.
"Cukup tidak usah di teruskan, yang lain silahkan kembali ke bagian masing-masing, kecuali bagian HRD" titah Ardi.
"Maaf pak saya percayakan laporan tentang ini kepada Safitri tetapi justru di rubah olehnya, ini laporan yang saya buat dari awalnya Pak" keterangan kepala HDR itu membela diri sambil menunjukkan leptopnya.
Jose menerima laporan versi kepala HRD dengan laporan yang dibuat oleh Safitri, sehingga Jose dan Ardi menyimpulkan bahwa kepala HRD itu tidak terlibat dalam masalah ini.
"Baiklah bapak boleh kembali sekarang, biarkan Safitri disini mempertanggung jawabkan semua yang di lakukannya" titah Jose.
Safitri tertunduk dalam diam, tidak berani menatap bos dan asistennya yang menatapnya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Sekarang silahkan lanjutkan bacakan laporan yang kau buat?" Perintah Ardi kemudian.
"Maaf memang...aku...aku yang menggelapkan dana itu, semuanya masih utuh di rekening bank ini" kata Safitri terbata-bata dan menyenangkan buku tabungan.
"Apa sebetulnya maksudnya ini Safitri?" tanya Ardi penasaran.
"Saya hanya ingin perhatian dari pak Jose saja, saya sudah bekerja disini selama empat tahun, tetapi anda tidak pernah melirik sedikit pun pada saya" jelas Safitri.
"Maksudmu?"
"Saya menyukai anda sejak......sejak masih kita kuliah pak Jose".
Safitri tertunduk saat mengatakan isi hatinya tanpa malu-malu.
Seketika Jose memukul meja dengan keras sampai Safitri dan Ardi kaget dan bangun dari tempat duduknya.
"Gila kamu .....ya".
Ardi hanya terbengong bengong mendengar celotehan Safitri, Jose berdiri meninggalkan mereka dengan mendorong kursi depan keras.
"Ardi....pecat dia.... suruh dia keluar dari perusahaan saat ini juga, aku tidak sudi melihat mukanya lagi"
"Siap bos...... segera...".
Air mata Safitri mengalir deras, dan tangan bergetar hebat mendengar ucapan bos yang dia sukai itu memecatnya.
"Kau dengar itu Safitri.... sebaiknya kau kemasi barang barangmu segera, aku akan mempersiapkan gaji terakhir dan pesangon mu" ucap Ardi.
"Uang sudah saya kembalikan, tidak saya pakai sepeserpun, apakah tidak ada kesempatan kedua pak?".
"Maaf Safitri jika bos sudah memutuskan, saya tidak bisa berbuat apa-apa".
"Tetapi pak...".
"Satu lagi Safitri, jangan coba-coba kau mendekati kami terutama bos Jose, jika berani kau akan berakhir di dalam penjara karena bukti bukti penggelapan dana masih saya simpan".
"Tujuan awal saya hanya ingin mendapatkan sedikit perhatiannya saja pak, tidak lebih dari itu".
"Kau seharusnya tahu.... bahwa bos sudah menikah dan mempunyai seorang putra?, apakah kau tidak punya otak?" kata Ardi naik pitam.
"Saya tahu pak, tetapi..........".
__ADS_1