Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 85 Terluka di Pasar Turi


__ADS_3

Hampir dua Minggu ini Mark meninggalkan keluarga Jose di Surabaya, Fatia merasa sedikit kesepian hanya berdua di rumah jika pada siang hari, hanya terkadang ada celotehan Dina pada pagi atau sore hari.


Sabtu ini Jose ada pertemuan penting dengan klien dari Kalimantan timur, sehingga terpaksa harus lembur kerja.


Fatia pergi ke pasar Turi untuk belanja kebutuhan dapur yang sudah mulai menipis, dan sayuran di kulkas juga sudah habis.


Fatia jarang keluar rumah sendiri, biasanya selalu di temani oleh Jose ataupun Yosi, tetapi Yosi hari ini ada undangan temannya Irul yang menikah.


Al bermain bersama Dina saat Fatia berangkat ke pasar menggunakan mobil online.


Sampai di depan pasar, yang pertama Fatia tuju adalah los sayuran, pindah lagi di bagian bagian pasar agak belakang disana ada los ikan.


Keranjang sudah komplit dengan kebutuhan dapur saat Fatia hampir satu setengah jam di dalam pasar itu.


Dari los pasar itu Fatia keluar dari samping melewati area parkiran motor yang agak sepi, awalnya biasa saja sampai bertemu empat orang laki-laki berbadan tegap dan seorang wanita seksi yang mengawasinya dengan tajam.


Fatia mulai mencium sesuatu yang ganjil disana karena mendengar suara wanita itu.


"Kalau bisa mematahkan satu kaki aku kasih bonus. 50 juta" kata wanita seksi itu kepada keempat laki-laki berbadan tegap.


Mereka langsung menghadang Fatia sambil mengejeknya.


"Apa susahnya mematahkan kaki ibu ibu yang sedang belanja sayur, kalau perlu tangannya sekalian aku patahkan" kata salah laki-laki itu.


"Siapa kalian.... mengapa menghargai satu kakiku 50 juta?".


"Tidak tau ...kami hanya di suruh sama wanita cantik di sebelah sana!" Jawab laki-laki itu sambil menunjuk ke arah wanita seksi,


"Hai wanita gila, siapa kau? mengapa menyuruh orang orang nggak jelas ini melawan ku?, kenapa tidak kau sendiri yang melawanku?"


"Aku tidak gila, namaku Safitri, buat apa melawanmu?.... tidak ada gunanya".


"Ooooo kau yang bernama Safitri?".


Sambil berkata itu Fatia meletakkan keranjang sayur di salah satu motor yang sedang parkir, mundur sedikit memasang kuda-kuda kaki dengan kokohnya.


"Ayo kita patahkan salah satu kakinya, bisa berfoya-foya kita setelah ini" kata salah seorang pria yang bertato".


"Hah......yang ada keempat kaki kalian yang akan patah.....dasar pengecut....maju lah" kata Fatia dengan emosi.


Untungnya Fatia menggunakan celana panjang Levis dan kaos serta sepatu cat yang nyaman sehingga leluasa untuk bergerak.


Yang pertama maju adalah laki-laki yang agak kurus dan bertato, dengan sekali tendang kaki kanan laki-laki itu tersungkur di tanah.


"Hyaaaaaaat......".


"Aaaaaaargh...".


"Ayo siapa yang berani maju lagi....ini baru satu kakiku yang maju".


Hampir ketiga orang laki-laki itu ciut nyalinya, tetapi terlalu tinggi ego mereka.

__ADS_1


"Ayo kita serang bersama sama".


Fatia menendang menangkis dan menendang lagi bergantian dengan gesitnya.


"Bug....bug...hyaat....".


Suara perkelahian itu membuat banyak pengunjung pasar dan pedagang berhamburan mendatangi mereka.


Sambil tetap menyerang mereka Fatia berteriak kepada orang yang ada disana.


"Pak tangkap wanita itu, dia bosnya laki-laki pengecut yang sedang mengeroyokku sekarang ini".


Banyak yang berlari mengejar wanita yang mau melarikan diri itu, karena dia menggunakan sepatu hak tinggi dengan mudah di tangkap oleh warga.


Karena sedikit lengah Fatia melirik arah wanita yang di tangkap itu paha kaki sebelah kiri terkena tendangan dari lawannya


"Aaaauh......".


"Kena kau....".


Fatia Menahan sakit kakinya dan menendang lagi kearah senjata diantara dua ************ laki-laki yang menendang nya tadi dengan keras.


"Hyaaaaaaat...."


"Pecah ....pecah situ punya telur" ucap Fatia menyeringai.


"Bang.......sat, aduuuuuh sakit sekali" kata laki-laki itu sambil menunduk memegangi juniornya.


Ada juga tulang parkir dan satpam pasar yang datang ingin melerai perkelahian itu.


"Kalian mau menyerahkan atau babak belur aku hajar, kalian sudah terjepit karena sudah ada banyak yang datang" ucap Fatia sambil memasang kuda-kuda lagi dengan gagahnya.


Kedua laki-laki yang masih bisa berdiri itu sebetulnya juga sudah banyak luka dari pinggir bibir yang robek, pipi yang memar siku yang robek terkena aspal saat terjatuh di tendang Fatia.


"Baiklah aku menyerahkan....".


"Aku juga.....".


Kedua tangannya di angkat tinggi tinggi tanda menyerah, dan di pegang oleh satpam dan tukang parkir.


Fatia sebetulnya menahan sakit di paha kaki sebelah kiri yang bengkak akibat di tendang oleh laki-laki itu, ada juga luka memar di pelipis dan lutut Fatia yang cukup lebar.


Fatia terduduk lemas di saat itu juga menahan sakit dan perih.


"Bu..kami antar ke klinik terdekat ya?" ucap salah seorang pedagang yang mendekati Fatia.


"Sebentar saya telepon suami terlebih dahulu".


Fatia mengeluarkan handphonenya yang ada di saku depan, tetapi ternyata handphonenya mati karena retak terkena tendangan laki-laki itu.


"Handphoneku mati.....pak?".

__ADS_1


"Apakah hafal nomor handphone suaminya, pakai handphone saya Bu?" ada Ibu paruh baya yang menawarkan handphone nya.


"Terima kasih Bu....?


Fatia mengambil handphone itu dan menekan nomor Jose dengan cepat, tetapi handphone itu tidak menjawab.


Akhirnya Fatia menghubungi Rina dengan tetap menggunakan handphone ibu paruh baya itu.


"Mbak......mbak Rina.....ini Fatia".


"Ini nomor handphone siapa?.... kenapa lama ke pasar nya Al sudah mulai rewel nich".


Rina mencerca pertanyaan yang banyak kepada Fatia.


"Mbak nanti aku ceritakan, tolong hubungi mas Ardi atau mas Jose"


"Ada apa.... coba yang jelas ngomong nya?".


"Aku terluka mbak di parkiran pasar Turi sebelah kiri pasar"


"Waduh.... sebentar....aku...aku jadi bingung, bagaimana ini....."


Rina justru menjadi bingung, tidak bisa berpikir jernih apa yang harus dilakukannya.


"Mbak tenang....aku tadi sudah menghubungi mas Jose tetapi tidak di angkat, mbak Rina saja yang menghubungi mas Ardi ok".


"Ya....ya... Aku matikan handphonenya ya.....".


Setelah handphone itu mati Fatia mengembalikan ke ibu paruh baya itu.


"Terima kasih Bu, ini handphonenya aku kembalikan".


"Sama sama, bagaimana mau ke klinik atau ke mana?"


"Kita ke pos satpam pasar aja Bu, bisa tolong bawakan belanjaan sayur saya yang di sana itu"


Fatia mencoba berdiri dari tempat itu tetapi kaki kanannya tidak sanggup menopang berat badannya karena merasa sakit yang amat sangat pada paha kaki sebelah kiri.


"Bu.... jika tidak bisa berjalan akan kami akan membopong anda ke depan".


"Eeeee tida usah pak...bu......aku tunggu disini saja, boleh minta di angkatkan kursi panjang itu untuk rebahan sebentar"


"Ayo....kita angkat kasihan ibunya.... dingin di bawah" perintah salah seorang dari mereka.


"Aku sudah telepon ambulance rumah sakit, kasihan ibunya kesakitan" ada seorang pengunjung pasar itu membantu.


____________________


Sobat,........ terima kasih sudah baca novel ku


jangan lupa like vote dan komentar nya

__ADS_1


I love you all


__ADS_2