Ikat Pinggang Cinta

Ikat Pinggang Cinta
Bab 71 Pesan Ibu


__ADS_3

Jose menemui Yosi dan Mark di depan ICU yang sedang berdiri mematung memandangi ibu Diniya dari luar kaca.


"Bagaimana keadaan ibu?".


"Eeee mas Jose, tadi ibu menggerakkan tangannya sebentar, sebaiknya mas temui mas Danny saja".


"Baiklah,.... Yosi sebaiknya pulang aja... Kasihan Al dan bundnya sendiri di rumah".


"Ya mas.... ajak Dedy pulang, biar mas yang nunggu Ibu".


Dedy.... Ayo pulang bareng Yosi, Dedy istirahatlah sebentar dan membersihkan badan".


"No.... Dedy di sini saja".


"Dedy... Dengar Jose.... Dedy perlu istirahat sebentar, dari kemarin Dedy juga belum mandi, nanti bisa kesini lagi kalau sudah istirahat sebentar".


"Ok ... Dedy pulang dulu"


"Ini kunci mobil nya" kata Jose sambil memberikan kunci mobil.


Mark dan Yosi pulang berdua dengan menggunakan mobil Jose, kemudian Jose menemui Danny di ruangannya.


Sebelum Jose menemui Danny, Syaiful menghubungi Jose menanyakan dimana keberadaannya sekarang, setelah mengetahui ada di rumah sakit, Syaiful menyusul Jose di sana.


"Tunggu aku, kita menemui Danny bareng".


Itu pesan Syaiful Sebelum melajukan mobilnya ke rumah sakit, barulah mereka menuju ruangan Danny setelah Jose dan Syaiful bertemu di depan ICU.


Mereka duduk bertiga di ruang dokter itu setelah Danny mempersilahkan duduk.


Danny berterus-terang kepada Jose tentang keadaan ibu Diniya, bahwa kemungkinan selamat hanya 20% karena parahnya benturan keras di kepalanya.


Tetapi Danny tetap akan berusaha sekuat tenaganya untuk menyelamatkan nyawa ibu Diniya.


Syaiful juga menceritakan tentang kemungkinan besar bahwa tabrakan itu di sengaja dan di lakukan oleh Triana ataupun orang suruhannya, hanya saja belum cukup bukti untuk menyeretnya ke pengadilan.


Jadi tepatnya Triana kemungkinan akan menghadapi dua tuduhan sekaligus satu di Jakarta sebagai pembunuhan Arnold Smith dan kedua di Surabaya sebagai tersangka tabrak lari Ibu Diniya.


Selesai pertemuan bertiga itu, Mark datang menghampiri mereka, mengabarkan bahwa jenazah Arnold sudah sampai di Manhattan dan sudah di makamkan dengan layak oleh keluarganya di Manhattan.


Kemudian Mark juga menanyakan perkembangan tentang kasus Arnold kepada Syaiful.


"Sudah sampai mana perkembangan kasus Arnold yang ada di Jakarta?" tanya Mark.


"Bukti sudah di dapatkan oleh pihak kepolisian, Triana sudah ditetapkan sebagai tersangka saat ini?" Jawab Syaiful singkat.


"Apakah sudah ditangkap tersangkanya?" tanya Mark lagi.

__ADS_1


"Belum ada kabar lagi tentang itu Dedy, sabar" Jose menjawab kekhawatiran Dedy nya itu.


Sudah larut malam Syaiful pamit pulang dan Danny juga harus pulang karena jam kerjanya berakhir.


"Kami pulang dulu, nanti jika terjadi apa-apa kabari kami, kami siap membantu".


"Ok bro terima kasih".


Jose dan Mark duduk di kursi panjang depan ruang ICU menunggu ibu Diniya sampai pagi, mereka berdua tidur bergantian, tidak melewatkan sedikitpun perkembangan yang terjadi pada orang yang sangat di cintainya itu.


Pada pagi hari saat Danny memeriksa ibu Diniya, tepat saat itu Ibu sadar dari komanya, semua keluarga juga berkumpul di sana, termasuk keluarga Ardi lengkap.


Rencana dua hari kedepan ibu akan di operasi untuk mengurangi pendarahan di otaknya.


Ibu dipindahkan di ruangan rawat inap, sehingga lebih mudah untuk mengawasinya lebih dekat, tidak seperti di ICU hanya bisa mengawasinya dari jauh tanpa bisa menjaganya dari dekat.


Saat semua di kamar rawat inap itu ibu Diniya mulai bisa berbicara pelan pelan, saat Jose dan Yosi berada di sampingnya, ibu tersenyum dan berbincang.


"Jose, Yosi ibu sangat menyayangi kalian, harus saling menjaga ya"


"Iya Bu, ibu jangan khawatir, kami juga sangat sayang ibu, kami juga masih membutuhkan ibu untuk menjaga kami".


"Iya nak... Mana mantu dan cucu Ibu?".


"Kami disini Bu?"jawab Fatia.


"Titip Jose ya nak, hanya kau yang bisa membuatnya bahagia, titip Yosi juga".


"Ibu ini ngomong apa, tentu saja Bu, tidak usah berpikir macam macam kita akan melewati semua ini bersama sama Bu?"


Ibu Diniya tersenyum mendengar jawaban Fatia sambil mengusap lembut pipi Al.


"Sudah ibu istirahat dulu ya kami semua menyayangi ibu" titah Jose.


Karena melihat ibu Diniya sudah sadar dan berencana untuk operasi semua keluarga merasa sedikit lega.


Sebelum beristirahat orang tua Ardi, Rina dan putrinya berpamitan kepada ibu Diniya untuk pulang, besok mereka akan datang lagi pada pagi hari.


"Rio, Tanti aku titip anak-anak ku ya, tolong jaga mereka seperti anak mu sendiri".


"Sudahlah jangan berpikiran macam-macam, mereka sudah seperti anakku sendiri jangan khawatir, nanti kita jaga bersama seperti yang sudah sudah yang penting kau sembuh terlebih dahulu" kata om Rio.


"Bu... Saya dan Al pulang juga ya insyaallah sore kesini lagi".


"Iya nak hati-hati".


Keluarga Ardi dan Fatia pamit pulang, ibu Diniya tertidur di peluk oleh Yosi di sampingnya.

__ADS_1


Jose mengantarkan Fatia sampai ke parkiran sekalian akan mencarikan makan siang untuk Dedy nya dan Yosi.


Karena Yosi semalaman tidak bisa tidur memikirkan ibunya, langsung terlelap saat mendekap ibunya.


Ibu Diniya membuka matanya dan menatap sendu kepada merk yang terpaku berdiri di samping tempat tidur.


"Sini duduk lah sebentar, aku mau bicara"


"Yes baby....".


"Maaf aku bisa mengabulkan harapanmu, tolong jaga anak-anakku, dan cucu kesayangan ku, kau bisa kan?".


"Of course.... Jangan khawatir... Cepatlah sembuh...aku akan selalu menunggumu".


"Maaf sekali, jangan tinggalkan Jose dan Yosi, aku ingin kau menyayangi Yosi seperti Jaseline".


"Tentu.... jangan khawatir soal itu, aku hanya ingin kau sembuh, kita jaga bersama sama seperti dulu lagi"


"Terima kasih, aku ngantuk"


"Ya istirahat lah, nice dream baby".


Ibu Diniya memejamkan matanya, sambil memeluk Yosi putri kesayangannya, Mark masih duduk di samping brankar itu memandangi wajah ibu Diniya dan Yosi yang mulai tertidur pulas.


Jose datang dan membawa kotak nasi untuk makan siang.


"Ded, ayo makanlah dulu"


"Yes thanks my Son".


Yosi terbangun, turun dari tempat tidur ibu Diniya dan berjalan menuju kamar mandi, gantian Jose mendekati ibu ingin memeluknya.


"Cepat sehat Bu...... jangan berpikiran macam-macam, kami selalu sayang sama ibu".


Ibu Diniya membelai rambut Jose, tersenyum tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kemudian terlelap lagi sampai menjelang sore.


waktu menunjukkan pukul lima sore saat Dany datang untuk meriksa Ibu Diniya, masih ada Mark, Jose dan Yosi duduk di sofa di dalam ruang rawat inap itu membiarkan ibunya istirahat.


Danny memeriksa denyut nadi ibu Diniya, memegang tangan dan keningnya.


"Jam berapa terakhir ibu ngobrol dengan kalian?"


"Jam tiga sore tadi bro, aku masih memeluk nya, dan ibu tersenyum juga kepadaku" jawab Jose.


Yosi langsung berjalan mendekati Danny ikut berdiri di samping Jose.


"Ada apa dengan ibu mas?" tanya Yosi khawatir.

__ADS_1


__ADS_2