
"Apa kamu sudah gila dia istriku, anda menyukai wanita yang sudah menikah?" kata Jose sambil menggebrak meja.
Damar menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Jose yang sedang terbakar emosi.
"Aku tidak bisa menahan hatiku saat melihat dia, aku sudah menyukainya sejak SMP" pengakuan jujur Damar lagi.
"Apakah anda tahu, kalau istriku tidak pernah menyukai anda?" tanya Jose lagi.
"Aku tahu...."
Damar meneteskan air matanya, terasa sakit di tolaknya berkali kali oleh Fatia padahal harapan nya, dia mau menerimanya walaupun tidak mungkin bisa memiliki Fatia.
"Aku ingin mendengarnya langsung?" jawab Damar pasrah.
Fatia berdiri sambil bertolak pinggang, sudah berkali-kali dia selalu menolaknya bahkan dari sejak SMP tetapi tidak pernah di fahami oleh Damar.
"Dengar ya.... Damar, dari dulu aku tidak pernah menyukaimu sama sekali, jadi jangan sekali kali kau mendekati aku, sekali lagi kau membuat ulah seperti waktu SMP aku tidak segan-segan mengirim kamu ke penjara" ucap Fatia kesal.
"Satu lagi Damar, pertemuan ini aku vedio kan, aku rekam ini akan aku laporkan kepada pak lurah, seandainya terjadi sesuatu dengan keluarga kecilku, kamu orang yang pertama aku kejar dan aku hajar"
Fatia berlalu meninggalkan tempat itu dengan kesal, Yosi ikut berdiri dan berlari mengikuti Fatia yang melangkah ke arah dapur.
Seketika wajah Damar pias dan pucat pasi, sedangkan Irul dan Jose mengeratkan giginya seakan ingin menghajar laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Anda sudah tahu jawabannya sekarang?" tanya Jose.
Damar masih menundukkan kepalanya dan berlinangan air matanya, terasa kelu bibirnya tanpa bisa berbuat apa-apa karena penolakan Fatia itu.
"Satu lagi ya.... saya sangat mencintai Fatia, jangan sekali kali anda merebutnya dari pelukan saya, anda faham itu" kata Jose lagi.
Jose berdiri dan ingin meninggalkan tempat itu dengan hati yang sangat marah, tetapi tiba-tiba datang pak haji dari mengisi pengajian di masjid desa sebelah.
"Assalamualaikum....ada apa ini?".
Joss tidak jadi meninggalkan tempat itu dan duduk kembali serta mencium punggung tangan pak haji.
"Walaikum salam...." jawab mereka serentak.
Dengan berapi api Jose menceritakan semua sepak terjang Damar dalam beberapa hari ini, Jose juga melihat kan vedio yang baru direkamnya barusan.
"Fatia sekarang dimana nak?" tanya pak haji.
__ADS_1
"Ada di kamar mungkin pak bersama Yosi" jawab Irul dengan hati yang kesal.
Pak haji juga ikut kesal karena sudah dua kali ini Damar membuat ulah yang tidak sesuai dengan norma masyarakat pada umumnya.
"Nak... panggil Fatia kesini?"
"Baik pak......" jawab Irul sambil berdiri dan menuju ke kamar Fatia.
Sedangkan Damar tetap diam membisu tanpa berani menatap pak haji dan mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
"Bapak memanggil aku kah?" tanya Fatia saat tiba di ruang tamu itu diikuti Irul dan Yosi di belakangnya.
"Ya....nak... duduklah, bapak ingin bicara sebentar".
Fatia duduk di samping Jose meletakkan tangan kanannya di atas paha Jose dan Jose menautkan tangan itu sehingga saling bertautan tangan mereka.
"Bapak tidak ingin peristiwa ini terjadi seperti waktu saat kalian SMP dulu, jadi sebaiknya kita selesaikan sekarang" kata pak haji tegas.
"Maksudnya gimana sih pak?" tanya Fatia tidak faham.
Pak haji merencanakan akan mengadakan sidang sekarang juga agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan suatu saat nanti.
"Baik.... pak...." jawab Jose singkat.
Jose menghubungi pak lurah, yang kebetulan masih berada di rumah paman, sehingga hanya waktu lima menit sudah sampai di rumah Fatia.
"Ada apa ini....?" tanya pak lurah saat tiba di rumah Fatia sambil memandangi Damar yang menunduk dan menangis.
Pak haji menceritakan semua yang tadi di ceritakan oleh Jose dan peristiwa saat SMP itu dengan cepat.
Pak haji minta solusi kepada pak lurah agar permasalahan ini tidak berlarut-larut, dan mengakibatkan hal-hal yang tidak di inginkan akan terjadi.
Pak lurah menghubungi Pak Rt, RW, ibu kandung Damar untuk berkumpul di rumah pak Haji sekarang juga.
Pak haji juga menghubungi ibunya Fatia untuk pulang sekarang karena ada masalah di rumah.
Hampir setengah jam kemudian orang orang yang di panggil itu sudah berkumpul di masjid depan rumah pak haji.
Pak lurah bercerita kepada semua orang yang hadir saat itu permasalahan yang dihadapi oleh keluarga kecil Jose.
Ibu kandung Damar menangis sejadi jadinya karena ulah putranya itu membuat hatinya sakit, ibunya Damar menyerahkan semua persoalan itu sepenuhnya kepada pak lurah dan pak haji.
__ADS_1
Pak haji ingin menyelesaikan masalah ini dengan kekeluargaan, dengan satu syarat Damar tidak akan mendekati Fatia, Jose dan putranya Al dan tidak menggangunya sama sekali, dilarang mengajak mereka berbicara, ataupun menyentuh keluarganya sama sekali.
Jika di langgar keluarga Fatia tidak segan segan untuk melaporkan Damar ke kantor polisi dengan tuduhan pemaksaan kehendak, dan pelecehan.
Semua di buat perjanjian di atas kertas hitam diatas putih, ada saksi pak lurah, RT, RW serta masyarakat sekitar, serta bermaterai.
Semua bisa di selesaikan dengan kepala dingin, saat mereka bersalaman ingin berpamitan Damar juga ingin bersalaman dengan Fatia, tetapi Fatia sangat takut dengan spontan memeluk Jose dengan erat.
Jose melototi Damar dengan sorot mata yang sangat tajam.
"Apa kau mau aku hajar sekarang?" kata Jose dengan kesal.
Pak RT dan pak RW spontan memegangi tangan Damar dan menariknya keluar dari lingkungan masjid.
"Se..... sabar....bawa istrimu masuk" perintah pak haji.
Fatia masih memeluk tubuh suaminya dengan erat dan dengan keringat dingin yang keluar dari keningnya.
"Ayo....kita ke kamar sayang" ucap Jose sambil menggendong bridal Fatia.
Ibunya Damar menarik tangan Damar di anaknya pulang tetapi Damar tetap memandangi Jose yang sedang menggendong Fatia dengan pandangan mata yang tidak bisa di artikan.
Jose menggendong Fatia sampai kamar dan meletakkan di atas tempat tidur, Fatia tetap memeluknya dengan erat.
"Jangan sekali kali tinggalkan aku, aku tidak bisa jauh darimu" kata Fatia lembut.
"Tentu sayang...... aku sangat mencintaimu, jangan pernah ragukan itu".
Dengan peristiwa ini cinta antara keduanya semakin kokoh dan tidak tergoyahkan kan, saling menguatkan dan saling melindungi.
Saat sedang saling memeluk dengan eratnya ada ketukan pintu dengan perlahan, Jose bangun dan berdiri berjalan ke arah pintu.
"Tok......tok....tok...".
"Yayah..... Yayah..... Yayah.....endong?'.
Ternyata Yosi yang mengetuk pintu karena Al merengek menangis mencari ayah dan bundanya.
Al yang melihat bundanya berbaring dengan mata yang sedikit sembab mendatanginya dan naik di tempat tidur.
"Bunbun ....atit....yagi?" ucap Al sambil mengusap pipinya.
__ADS_1