
Sore itu Fatia mulai menyesuaikan dengan kamar Jose, mengenali tempat apa saja yang ada di kamar itu.
Fatia mandi sore di bantu oleh Jose seperti biasa waktu di rumah sakit, hanya bedanya dia lebih leluasa lagi karena ada di kamarnya sendiri.
Setelah selesai mandi dan membantu memakai baju Jose heran kenapa tidak memakai pembalut lagi.
"Girl kok sudah tidak pakai itu?" kata Jose sambil menunjuk pembalut Fatia.
"Sudah selesai mas, ini Fatia habis mandi besar, nanti bisa sholat ashar" jawab Fatia.
"Berarti nanti malam kita bisa........?" ucap Jose tidak di teruskan.
"Jangan mulai lagi mas, ngeres aja pikirannya, tanganku kan masih sakit" protes Fatia.
"Yang sakit kan tangan sayang, yang lain tidak ya...ya...ya?" rayu Jose sambil memelas.
"Lihat nanti ya mas, aku tidak janji" ucap Fatia sambil berdiri mau ke meja rias.
"Jangan jalan, mas gendong aja" titah Jose.
"Mas ini, kaki ku sudah sembuh, masak di gendong terus tidak ah" Fatia meronta-ronta.
"Jangan mengurangi kesenangan mas ya, ini hukumannya" justru Jose menggendong bridal dan mencium bibir Fatia.
"Mau turun dimana, meja rias kan?" ucap Jose sambil mendudukkan Fatia di kursi.
"Sudah mas mandi sana bau" ledek Fatia sambil memegang hidupnya.
Setelah Jose masuk kamar mandi, Fatia sholat ashar, memakai make-up tipis dan turun ke lantai bawah di ruang keluarga karena semua keluarga ngumpul disana.
Fatia, Rina dan Yosi asyik bercerita, sedangkan Ardi, Om Rio ibu Diniya dan Tante Tanti juga tidak kalah serunya bercerita.
Jose yang baru datang dari lantai atas langsung bergabung dengan Fatia.
"Awas minggir" Jose duduk di dekat Fatia dan mengangkat Yosi.
"Masss... Yosi kan masih ingin ngobrol sama mbak Fat, kenapa di usir?" protes Yosi.
"Enak aja, mas kan mau duduk bersama istri mas" kata Jose tidak mau kalah.
"Mas Jose sana lo gabung sama mas Ardi" perintah Yosi.
"Iya nich mas Jose nempel aja kayak prangko" kata Rina tidak mau kalah.
__ADS_1
"Idih syirik aja paling kau ini Rin" ucap Jose.
"Sudah.... sudah ayo kita makan malam dulu, ibu sudah lapar nich" ajak ibu Diniya kepada semua.
"Bos yang banyak biar kuat, mau berapa ronde malam ini?" goda Ardi sambil tersenyum.
"Jangan macam-macam, ada anak perawan disini" protes Tante Tanti.
"Happp.....iya lupa" ucap Ardi sambil menutup tangannya.
Setelah selesai makan malam keluarga Ardi berpamitan pulang padahal hanya di sebelah saja rumahnya.
Ibu juga mengajak Yosi untuk istirahat, walaupun sebetulnya Yosi masih ingin ngobrol dengan Fatia, tapi dilarang ibu sudah malam katanya.
Tinggal Jose dan Fatia yang baru selesai makan malam, Fatia berdiri mau naik tangga buru-buru Jose menggendong bridal lagi.
"Bandel ya dibilang jangan jalan dulu" ucap Jose sambil menciumi pipi dan bibir Fatia bergantian.
Kemudian mereka sholat isya berjamaah, Jose lalu mengganti baju tidur dan tiduran di atas tempat big size nya.
"Yang..... sayang sudahkah ganti bajunya kok lama banget?" tanya Jose.
"Mana baju tidurku mas, tidak di ambilkah yang di kos-kosan dulu" tanya Fatia sambil membolak balikkan bajunya yang di lemari.
"Yang di kos-kosan sudah di bawa pulang ke Ngawi sama mbak Mona" ucap Jose dengan datar.
"Kan ada disitu baju tidur baru?" ucap Jose sambil tersenyum.
"Baju tipis dan kurang bahan gini di bilang baju tidur mas?" protes Fatia.
"Tidak apa-apa sayang, tapi mas malah suka" rayu Jose sambil mendekati Fatia.
"'Tidak aah, aneh aku pakai baju ini aja tidak usah ganti baju" Fatia cemberut keluar dari ruang ganti.
"Tunggu dulu sayang kok marah sih, ini mas yang belikan" ucap Jose sambil membawa baju tidur.
"Ayo lah mas mohon, jangan mengecewakan mas" Jose merayu lagi.
"Baiklah tapi mas sana dulu jangan lihat" Fatia mengalah.
"Naaah gitu dong, mas tunggu di tempat tidur ya, eeee atau di tunggu di depan pintu saja, nanti mas gendong ke tempat tidur" gombal Jose kemudian.
"Terserah mas ajalah" Fatia pasrah.
__ADS_1
Fatia menggunakan baju tidurnya yang panjang sampai mati kaki Tetapi tidak ada lengannya dan transparan.
Baju dalam terlihat dan bentuk tubuh Fatia jadi terlihat jelas, Fatia berjalan mendekati tempat tidur, tetapi sengaja memakai gips di tangannya agar tidak terlalu kelihatan nyata bentuk tubuhnya terutama gunung kembarnya.
Jose menelan ludahnya dengan kasar, melihat Fatia jalan menuju tempat tidur, hanya dengan memandangnya saja Jose sudah bergairah apalagi sekarang terlihat semuanya semakin tidak terkendali.
'"Sini dekat mas, kalau mau tidur tidak usah di pakai gips nya, biar bisa di luruskan tangannya yang sakit" titah Ken sambil membantu membukakan gips nya.
"Eeee satu lagi" ucap Jose cepat.
"Apalagi mas?" tanya Fatia kesal.
"Kan biasanya ini juga di lepas kaitannya" jawab Jose sambil membuka kaitan bra nya.
"Sudah ayo sini, berbaring dekat mas sini" pinta Jose.
"Sayang... belum ngantukkan, sayang kalau tangannya masih sakit, diam aja ya mas yang kerja, sayangku cukup merasakan dan menikmatinya saja" tanya Jose sambil mengelus rambutnya Fatia.
Fatia tidur terlentang dan meluruskan tangannya yang sakit, sementara Jose miring ke kearah Fatia, Pertama Tama Jose hanya mengelus rambut Fatia, mencium bibirnya.
Kemudian pindah ke bawah sedikit menuju gunung kembarnya, karena bersemangat Fatia kaget. "
Aaw.....aaw tangan aku sakit mas" jerit Fatia.
"Maaf.... mas terlalu bersemangat, di ulang lagi ya" ucap Jose lembut.
Jose mulai lagi mencium kedua gunung kembar Fatia, memberikan tanda di setiap inci tubuhnya.
Fatia mulai terbuai dengan irama yang di ciptakan Jose, desahan kecil Fatia membuat Jose semakin meningkatkan gerakan nya.
Satu persatu baju terlempar entah kemana, semakin intens gerakannya,
"Kalau sakit bilang ya sayang, mas akan pelan pelan, awalnya agak sakit, karena jalannya masih sempit, tapi nanti akan beda kok rasanya" ucap Jose lembut.
Jose melanjutkan aksinya kembali membuka dan memasukkan senjata nya perlahan lahan.
"Pelan pelan sakit mas" pinta Fatia.
"Hmmm sayang... sedikit lagi" lanjut Jose dengan aksinya dengan irama naik turun semakin cepat sampai pada klimaksnya.
Jose menjatuhkan tubuhnya di samping Fatia dan memeluknya dengan erat, terima kasih sayang ucapnya dengan lembut.
Jose mengulangi aksinya sampai tiga kali, Fatia tidak bisa menolaknya badan Fatia seakan remuk redam, terasa perih di bawah sana.
__ADS_1
"Mas ada noda darah di seprainya" ucap Fatia.
"Iya mas tau, itu karena semalam, berarti tandanya memang pertama kalinya kita melakukan itu" ucap Jose bahagia.