
Fatia sudah hampir satu Minggu di rumah sakit, jahitan bekas operasi dan jahitan di kaki sudah mulai mengering.
Fatia sudah mulai bisa menginjakkan kakinya untuk berjalan, tapi selama ada Jose di sisinya Fatia tetap dilarang untuk berjalan.
Jose tetap menggendongnya baik mau ke kamar mandi ataupun ingin duduk di sofa ruang rawat inap ataupun di tempat tidur.
Banyak teman teman yang membesuknya, baik teman Jose ataupun teman dari Fatia.
Saat ada dari teman Jose yang membesuk, hatinya akan tenang dan bahagia karena dia tahu bagaimana sifat dari teman temannya.
Tetapi saat ada teman Fatia yang datang, entah itu teman kampus ataupun teman dari rekan seperguruan, Jose pasti memperhatikan dengan seksama.
Terutama dari teman laki laki, hari ini ada teman yang datang membesuk dari kampusnya, ada sekitar enam orang.
Diantara teman kampusnya itu ada Adi yang memang naksir berat dengan sosok Fatia.
Mulai dari awal semester mereka sering mengerjakan tugas bersama baik berkelompok ataupun sendiri.
Fatia tidak pernah menanggapi perasaan dan perhatian Adi, tetapi memang Adi lah yang sering berharap besar.
Sudah berkali kali Adi menyatakan perasaannya, tetapi berkali kali pula Fatia dengan tegas menolak cintanya.
Saat membesuk Fatia Adi lah yang paling cari perhatian pada awalnya, mengambilkan minum, menawarkan mengupas buah buahan ataupun membantu bangun dari tempat tidur.
Hati Jose geram dan cemburu buta melihat perhatian Adi kepada Fatia, karena melihat Jose yang memandang tajam kepada Fatia akhirnya Fatia berinisiatif dan memanggil suaminya yang duduk di sofa.
"Mas.... mas Jose" panggil Fatia.
"Yes.... girl" jawab Jose sambil berjalan mendekati Fatia.
Fatia mengulurkan tangannya kepada Jose, dan Jose menggenggam tangan Fatia saling bertautan dengan erat.
"Teman teman perkenalkan ini suamiku namanya Jose" ucap Fatia.
"Haa yang bener Fat, kamu sudah menikah?" tanya salah satu teman Fatia.
"Betul kami menikah satu Minggu yang lalu" tegas Jose.
Sontak semua terheran heran karena yang notabene seorang Fatia gadis karateka susah di dekati dan belum pernah pacaran justru malah sudah menikah.
Terutama Adi, mukanya langsung pucat pasi, tatapan matanya kosong, hatinya sakit, dan langsung diam tidak banyak tingkah seperti awal dia datang.
Sepulang teman teman kampusnya kini giliran Jose mengintrogasi Fatia masalah Adi.
__ADS_1
"Sudah berapa lama mengenalnya?" tanya Jose.
"Siapa mas?" tanya Fatia singkat.
Itu si tengil itu" jawab Jose kesal.
"Namanya Adi, mas ... sabar mas" ucap Fatia lagi.
"Iya si Adi tengil itu?" tanya Jose kemudian.
"Dari awal semester mas" Fatia menerangkan.
"Sudah berapa kali menyatakan cintanya kepadamu?" selidik Jose.
"Tidak tahu mas, sudah sering sekali, tapi tidak pernah aku terima kok mas " ucap Fatia lagi.
"Mas tidak percaya sama akukah?" Fatia ganti bertanya.
"Percaya seratus persen, tapi mas tidak percaya sama si Adi itu" jelas Jose dengan kesal.
"Maksudnya apa mas?" bertanya lagi Fatia.
"Maksudnya mas itu dia akan mengejarmu terus walaupun kau tolak sampai dapat" ucap Jose sambil emosi.
"Terus kamu suka sama mas ajakan?" rayu Jose.
"Tidak, ..... tidak salah lagi, cintaku itu hanya untuk suamiku seorang, puas sekarang?" jawab Fatia sambil tersenyum dan menundukkan kepalanya.
"Aduh sayang.... " jawab Jose sambil mendekat dan mencium bibir Fatia dengan rakus.
Saat bersamaan Jose mencium bibir Fatia, dokter Danny masuk ruangan rawat inap dengan para suster tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Duh...... duh..... duh....apa apaan ini bermesraan di rumah sakit" kata Danny.
"Memang ada yang melarang bermesraan dengan istri sendiri?" jawab Jose dengan datar.
"Mas ihhh... malu tahu" ucap Fatia sambil mencubit lengan Jose.
"Paling tidak kasihanilah para suster yang masih jomblo, ngiri nanti" kata Danny sambil melihat para suster yang senyum senyum.
"Sudah lah,. .. diperiksa dahulu ya...bekas operasinya sudah kering dan jahitan kaki sudah juga, bagus semua" Danny menerangkan.
"Alhamdulillah terima kasih dok" ucap Fatia.
__ADS_1
Hari ini boleh pulang, tapi di lepas dulu nanti infusnya ya" perintah Danny kembali.
"Ok terima kasih Dan" kata Jose sambil tersenyum simpul.
"Lanjut lagi sudah yang tadi, tapi kalau kami sudah keluar dari sini ya" Danny menggoda.
"Dan, tunggu dulu boleh bicara secara pribadi sebentar" pinta Jose sambil menyusul Danny keluar ruangan.
"Suster..... persiapkan pasien selanjutnya ya saya bicara sebentar dengan dia" perintah Danny kepada susternya.
'Baik Dok, jawab para suster serentak.
"Apa Se, aku tuhhh sudah tahu apa yang akan kau tanyakan padaku, pasti arahnya kesitu, sudah tidak tahan rupanya juniormu?" ucap Danny sambil mengedipkan mata nya.
"Boleh aja kok, sebetulnya dari kemarin juga boleh, tidak ada yang melarang, yang penting kamu bisa bermain cantik aja"
"He he ok deh, tapi kan aku laki laki mengapa harus bermain cantik, harus nya bermain dengan jantan?" protes Jose tidak faham.
"Emang mau, kau bermain dengan jantan tangan kakak iparku patah lagi, yang ada batang lehermu yang aku patahkan?" jelas Danny dengan tegas.
"Baiklah aku bermain dengan cantik, jangan juga di patahkan leherku juga kali, aku kan belum pernah merasakan yang itu, tega sekali sama temen sendirilah" protes Jose.
"Kau ini pikiran ngeres terus, kemana Jose yang dulu" tanya Danny.
"Yang dulu sudah renkarnasi ha ha ha" ucap Jose sambil melangkah kembali masuk ruangan rawat inap.
"Memang Sung go kong bisa renkarnasi" kata Danny protes.
"Enak aja Sung go kong, Bambang tampan tahu, Dan" jawab Jose sekenanya.
Akhirnya menjelang sore Fatia bisa keluar dari rumah sakit, untuk sementara Fatia tinggal bersama keluarga besar Jose.
Jose sudah menyiapkan rumah baru untuk di tempati bersama Fatia, tetapi ibu Diniya belum mengijinkan karena Fatia belum pulih betul.
Sesampainya di rumah, mereka di sambut oleh ibu Diniya, Yosi, orang tua Ardi, Ardi dan Rina istrinya.
Ada tiga pembantu rumah tangga dan dua satpam juga ikut berjajar rapi menyambut kedatangan fatia dan Jose saat itu.
Saat turun dari mobil pun Fatia di larang jalan kaki oleh Jose, dia di gendong bridal seperti biasanya.
Setelah masuk rumah Fatia di dudukkan di ruang tamu dan di perkenalkan satu persatu Keluarga dan semua pembantunya.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Jose mengajak Fatia masuk ke kamar Jose yang berada di lantai dua.
__ADS_1
Kamar Jose luas didalamnya terdapat tempat tidur big size, dua lemari besar, ruang ganti, kamar mandi, meja rias dan sofa panjang di pojok bawah jendela, serta televisi berukuran besar yang berada disamping jendela.