
Sepulang dari acara ulang tahun putri walikota Ridwan Jose dan group teman sejati beserta keluarga kembali beraktivitas seperti biasa.
Satu Minggu setelah acara itu walikota Ridwan juga baru bisa berbincang dengan Damar tentang hubungan cintanya dengan Triana.
Damar bercerita jika Triana tidak mau diajak untuk hidup sederhana sebagai istri seorang pegawai negeri sipil yang gajinya hanya pas-pasan.
Triana memilih pergi untuk meninggalkan suami dan putranya, untuk meniti karir sebagai model, yang saat putranya berumur tiga bulan Triana mendapatkan kontrak modeling dengan sebuah agensi.
Baru enam bulan lalu Damar di pindah tugaskan di dinas pertanian Ngawi sebagai kepala bagian lapangan.
Setali tiga uang antara Triana dan Damar memiliki sifat tempramental dan tidak ada yang mau mengalah jika memiliki keinginan, akan di kejarnya dengan segala cara.
Informasi kepribadian Damar di peroleh walikota Ridwan dari anak buah Damar di dinas pertanian.
Di sela-sela kunjungannya di dinas pertanian walikota Ridwan saat jam istirahat walikota Ridwan mengajak semua staf makan siang di sebuah warung makan dengan mentraktir mereka semua.
"Permisi pak boleh bergabung?" ucap Damar.
"Damar.....tentu silahkan duduk" jawab Ridwan singkat.
Mereka makan dengan lahap hanya sendok dan garpu yang berdenting sesaat.
"Bagaimana kabar putramu Damar?" tanya Ridwan mengawali pembicaraan.
"Baik pak....... Alhamdulillah, boleh saya bertanya pak?".
"Tentu saja...... Silahkan"
"Apakah anda kenal Fatia pak?".
"Ooooo dia sahabat karib dari istriku, apa kau mengenal juga?".
"Dulu kami bertetangga Sebelum kami pindah ke sini, orang mana suaminya pak, sepertinya bukan Indonesia asli?".
"Memang suaminya campuran Jawa USA tepatnya Manhattan New York".
"Kamu sudah menikah lagi Damar?".
"Belum pak, sebetulnya saya masih menunggu mantan istri, tetapi sepertinya tidak ada harapan lagi sekarang?".
"Mengapa sudah tidak ada harapan lagi, apakah tidak kau pejuangkan, Damar?".
"Karena dia dipenjara selama 15 tahun, belum lagi ada tuntutan dari keluarga yang ada di Surabaya" jawab Damar.
"Apakah kau tahu siapa yang menuntut di Surabaya?".
"Belum tahu pak, saya sudah tidak mau tahu, lebih baik saya konsentrasi membesarkan anakku saja".
Walikota Ridwan sengaja tidak menceritakan kepada Damar siapa yang menuntut Triana di Surabaya.
__ADS_1
Walikota Ridwan sesaat setelah berbincang dengan Damar mengirim pesan ke group teman sejati tentang informasi yang di dapat dari perbincangan antara Damar dan dirinya.
"Tenang bro..... Tuntutan itu atas nama Yosi dan Mark, sedangkan Jose dan Fatia tidak di libatkan" jawab Ardi dalam group itu.
Hari Minggu sore tersangka Triana sudah di terbangkan ke Surabaya dan dititipkan di rutan Surabaya, untuk mengawali persidangan hari Senin besok.
Hari Minggu sore ini juga Mark Jose datang dari Manhattan tanpa memberikan kabar kedatangannya.
"Assalamualaikum Dedy pulang".
Walaikum salam, Dedy kenapa tidak memberi kabar?".
Jose berlari memeluknya dengan erat, mencium punggung tangan Mark sebagai tanda bakti, diikuti oleh Fatia dan Al.
"Gempa lim muuuah" usap Al antusias.
"Cucu grandpa sudah besar" Mark menggendong Al serta menciuminya dengan gemas.
Mark bercerita jika ingin menghadiri persidangan Triana yang akan di laksanakan besok pagi pukul sepuluh pagi.
"Bagaimana dengan pekerjaan Dady, mengapa di tinggalkan?".
"Ada Hasson di sana, Sekarang dia bisa diandalkan".
"Bagaimana dengan uncle Marten, Dedy?".
"Dia sehat, selalu membantu Dedy juga".
Untuk menghadiri gosip atau berita yang negatif Jose mengikuti anjuran Ardi dan Mark, mereka akan memantau dari jauh saja.
Hari ini Jose juga ijin untuk tidak masuk kantor hanya Ardi saja yang berangkat ke kantor hari ini.
Jose dan Fatia hanya duduk santai di ruang keluarga, sedangkan Al asyik bermain mobil-mobilan di depan mereka.
Jose menyatukan tangannya dengan tangan Fatia dan sesekali mencium pundak dan bibir Fatia dengan mesra.
"Yah...... ada Al, jangan macam-macam, tidak boleh ngeres disini"
"Tidak lihat Al nya, tenang....".
"Yah.... Kita jalan ke mall yuk, lama tidak jalan jalan".
"Boleh..... ganti baju dulu sana".
Mereka memutuskan berjalan jalan ke mall, ingin mencari suasana baru agar tidak terlalu tegang memikirkan persidangan Triana hari ini.
Sesampainya di mall yang pertama mereka tuju adalah Timezone, bermain lempar bola basket, menaiki mobil-mobilan, dan banyak lagi yang mereka mainkan.
Hampir satu jam bermain, mereka mencari restauran cepat saji, untuk makan siang karena Al suka makan soup krim dan es krim yang di jual di restauran itu.
__ADS_1
Sambil makan siang Jose selalu mendapat kabar ataupun pesan dari Yosi dan Mark tentang jalannya sidang siang itu.
Ke masjid di lingkungan mall itu saat Azan Zuhur berkumandang, sholat berjamaah disana, baru melanjutkan menjelajahi mall itu, membeli baju untuk keluarga, kebutuhan sehari-hari juga sekalian mereka lakukan.
Di sana ada penjual mobil-mobilan yang bisa di naiki oleh anak balita, Al merengek minta di belikan mobil-mobilan itu,
"Yayah...... Bunbun..... tu....tu...obin betan".
"Al mau mobil-mobilan besar itu".
"Ya......ya....ya... obin betan".
"Ayo kita beli mobil besar, untuk calon pembalap kita" jawab Jose sambil menggendong Al menuju ke toko mainan itu.
Al sangat bahagia, meloncat loncat kegirangan karena mendapatkan mobil baru, serta mencium Jose dan Fatia.
"Tatih...... Yayah...... Bunbun.... Muaaaaah".
"Apa itu Bun, tatih?".
"Maksudnya itu terima kasih yah".
"Sama sama sayang". Jose mencium pipi Al dan memeluknya dengan erat.
Sudah pukul tiga sore Jose baru tiba sampai rumah, Mark dan Yosi sudah tiba di rumah satu jam yang lalu.
Al dengan gembiranya bermain mobil-mobilan di ruang keluarga di temani seluruh keluarga.
"Bagaimana jalannya persidangan tadi?".
Yosi dan Mark menceritakan persidangan itu baru awal, pembacaan berkas acara, dua hari lagi akan di hadirkan saksi dari pihak penggugat dan tergugat.
Mereka juga bercerita juga ada orang tua kandung Triana dan adik laki-laki nya Geri, tetapi Yosi juga bercerita jika Irul juga mendampinginya.
"Yosi... Are you like him" tanya Mark kepada Yosi.
"Aku......aku....." Yosi tidak berani menjawab nya.
"Kalau kau memang suka, mas tidak melarangmu Yos, yang penting kau bisa menjaga diri" tegas Jose.
Yosi hanya menunduk tanpa menjawab sepatah katapun mendengar perkataan Jose.
"Cieeeeek....cieeeek yang dapat restu" goda Fatia sambil mencolek pipi Yosi.
"Mbak Fat..... jangan godain Yosi iiiih"
"Memang sudah pacaran kah sama dia?".
"Pacaran dari mana, kita cuma temenan kok"
__ADS_1
Yosi begitu bahagia mendengar restu yang di berikan Jose, wajahnya bersemu merah berbunga bunga, walaupun belum ada kata pasti dari seorang Irul tetap saja hatinya tidak bisa di pungkiri jika sudah bersemi rasa cinta dalam hati.