
Sudah satu Minggu bapak tinggal di Surabaya, dan pulang bersama ibu, mbak Mona serta Aisyah di antar oleh helikopter perusahaan.
Bapak dan ibunya pulang, Fatia juga ingin pulang duluan bareng mereka, tetapi sayangnya Jose melarangnya.
Ada dua alasan yang di utarakan juga tidak mau istrinya itu bareng dengan orang tua, yang pertama kali Fatia belum pulih betul, dan yang kedua Jose tidak mau di tinggal walaupun cuma satu hari, rasanya tidak bisa lepas dari pelukan Istri tercintanya jika malam tiba.
"Sayang...... nanti saja kesananya..... bareng, lagian kakinya juga belum sembuh betulkan?" rayu Jose.
"Tapi yah......aku pingin kesana, kangen kampung".
Jose tetap melarang Fatia untuk pergi, demi kesehatan kaki Fatia, bapak juga menyarankan agar nanti saja ke Ngawi nya jika waktu sudah dekat.
"Jangan lupa Minggu depan harus ke Ngawi, menghadiri pernikahan anak paman?" Perintah bapak kepada Jose sesaat sebelum berangkat ke bandara.
"Ya pak.... Insyaallah".
"Kami pamit dulu ya..... semua, Assalamualaikum" pamit ibu sambil melambaikan tangannya.
"Walaikum salam....hati hati semua".
Fatia menerima keputusan Jose yang melarangnya untuk ikut berangkat ke Ngawi, demi kesehatan Fatia juga.
Jose memeluknya dari belakang diikuti Al yang memeluk kaki Fatia yang tidak mau kalah.
"Ayo.... kita masuk..... Al sana bermain lagi" kata Jose.
Al bermain mobil-mobilan di ruang tamu, sedangkan Fatia dan Jose menemani Al duduk di sofa sambil bersantai menikmati camilan kecil yang di buat oleh bibi di dapur tadi pagi.
Jose menekan remote televisi daerah Jawa timur untuk mencari berita pagi, tanpa sengaja kebetulan ada berita seorang wanita cantik yang sedang di rawat di rumah sakit jiwa kabur dari sana.
"Bun......look at that?" Ucap Jose sambil menunjuk ke televisi itu
"Ada apa yah?" tanya Fatia kaget.
Mereka berdua memperhatikan berita itu dengan seksama tanpa berkedip sedikit pun.
Karena nama yang di sebutkan itu hanya inisial saja yaitu SFT, Jose menjadi panik, takutnya inisial itu adalah Syafitri.
Buru-buru Jose menghubungi Syaiful untuk mengkonfirmasi tentang berita itu, Jose juga mengirimkan pesan kepada Ardi untuk datang ke rumah.
Ardi datang dengan berlari kecil ke rumah sebelah tanpa menunggu lama lagi.
__ADS_1
"Ada apa bos?".
"Coba kau konfirmasi tentang berita yang barusan aku lihat di televisi daerah Jawa timur, ada pasien rumah sakit jiwa yang kabur dari sana".
"Memang bos mencurigai siapa?"
"Itu tadi inisialnya SFT takutnya Syafitri".
Ardi membuka handphonenya, mulai berselancar di dunia Maya untuk mencari informasi tentang kabar itu.
Ardi mulai membuka dari berbagai sumber untuk mendukung temuannya agar tidak terjadi kekeliruan.
Ternyata benar walaupun foto itu di tampilkan kurang jelas dan Sengaja di buram kan tetapi melihat siluet dan gestur tubuhnya itu adalah Syafitri.
Jose menjadi panik karena berita itu, dia jadi menyesal, seharusnya Fatia tadi ikut pulang ke Ngawi, dari pada terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pula.
Jose kemudian meminta pertimbangan group teman sejati untuk menyelesaikan masalah ini.
Banyak sekali masukan yang di berikan kepada Jose, ada yang menyarankan sebaiknya menghindari, ada yang bilang minta pengawalan di sekitar rumah mereka, ada juga nginap di hotel untuk sementara dan banyak lagi usulan dari mereka.
"Itu usulan kok seperti melarikan diri dari masalah itu...bro" celoteh Ridwan dalam tulisan nya.
"Apakah pihak berwajib sudah menangkap Syafitri kembali saat ini?" tanya Danny.
Tidak lama ada tamu yang mengetuk pintu di depan rumah Jose.
"Tok.....tok...tok....".
Jose kaget dengan ketukan pintu itu, ada bibi yang akan membukakan pintu.
"Bibi...biar aku saja yang bukakan pintunya"
"Iya pak....... silahkan pak" jawab bibi itu.
Jose melangkah ke luar mendekati pintu depan, Jose mengintip sebentar lewat gorden samping pintu tetapi dia melihat sosok Syafitri berdiri sambil tersenyum di depan pintu sambil memegangi paper bag di tangan kanan dan kirinya.
Jose kembali ke ruang tamu untuk memanggil Ardi dan memberitahukan bahwa tamu yang di depan adalah Syafitri.
Ardi dan Fatia kaget bukan kepalang, apa yang harus di lakukan, mereka bertiga bingung.
"Telepon polisi saja lah tidak usah repot-repot, meladeni wanita gila itu!" kata Jose kesal.
__ADS_1
Ardi langsung menelpon Syaiful agar bisa datang ke rumah untuk menangani Syafitri yang ada di depan rumahnya.
Ketukan pintu itu berbunyi lagi setelah Ardi menelepon Syaiful tadi.
"Jangan di buka tunggu pihak kepolisian dan rumah sakit saja" perintah Fatia sedikit takut.
"Tidak usah khawatir sayang.... semua bisa kita atasi insyaallah" kata Jose menghibur Fatia dan memeluknya dengan erat.
Tidak lama kemudian ada suara sirine polisi dan ambulance rumah sakit jiwa tiba di rumah Jose, bersamaan dengan datangnya Syaiful yang membawa mobil pribadinya sendiri.
Sampai di depan rumah Jose, Syaiful melarang Jose untuk keluar dari pintu depan, akhirnya Jose dan Ardi keluar lewat pintu samping, dan melihat para pegawai rumah sakit dan kepolisian menangani Syafitri.
"Sedang mencari siapa Bu?" tanya salah satu suster rumah sakit jiwa.
"Saya ingin bertemu dengan kekasih ku" jawab Syafitri singkat.
"Di sini tidak ada orangnya Bu, beliau sudah pindah, ini rumah sudah kosong" kata salah satu polisi.
"Mari...... Bu, kami antar ke tempat kekasih anda?".
Kemudian Syafitri mengangguk setuju ikut mereka, dengan diapit oleh dua pegawai rumah sakit laki-laki Syafitri di bimbing naik ambulance.
Saat duduk di atas mobil ambulance Syafitri memandang luar jendela kaca mobil ambulance itu.
"Itu dia pak..... kekasihku datang menjemputku" ucap Syafitri melihat sosok Jose di pojok teras rumah nya bersama Ardi.
Jose sontak kaget melihat Syafitri memandangnya dan menunjuk ke arah Jose pula, serta meronta ronta ingin turun dari ambulans itu.
Syafitri mencoba berdiri dan ingin turun dari mobil ambulance, tetapi di tahan oleh kedua orang yang mengapitnya tadi, dan di pegang dengan erat.
"Aku ingin memeluk kekasihku pak.....awas" pinta Syafitri histeris.
Meronta ronta dengan kuat, Syafitri akhirnya di suntik dengan obat penenang dan tertidur pulas di atas brankar ambulance itu.
Ambulance berjalan melaju ke rumah sakit jiwa dengan membunyikan suara alarm yang sangat kencang.
Syaiful tidak langsung pulang, bergabung dengan Ardi dan Jose ke ruang keluarga menemui Fatia dan Al di ruang tamu.
"Ayo kita makan siang aja dulu, Sebelum melanjutkan ngobrolnya" ajak Fatia saat melihat mereka datang ke ruang tamu itu.
"Bibi.. tolong siapkan ya makan siangnya" perintah Fatia kembali.
__ADS_1
"Iya Bu..... ini sudah siap semua" jawab bibi dari dapur.
Jose mengajak Ardi dan Syaiful duduk di meja makan dan menyantap hidangan yang sudah di sediakan oleh para bibi.