
"Haaaa istri...... " jawab Andini kaget.
Andini terhuyung agak kebelakang karena dia belum duduk dari kursinya, matanya berkaca-kaca hampir tidak percaya.
Yang Andini tahu Jose adalah laki-laki yang dingin dan tidak pernah mengenal sosok seorang wanita.
Tetapi justru yang di lihat Andini sekarang laki laki bucin, dan bersikap mesra dengan istrinya, memeluknya dengan penuh cinta membuat hati Andini meradang.
Sampai rapat pemegang saham itu selesai Andini tidak berkonsentrasi karena memandangi Jose dan Fatia yang sangat mesra.
Jose, Fatia dan Yosi keluar dari ruangan rapat dengan tergesa-gesa tanpa menoleh ke belakang, tetapi Andini hanya berdiri terpaku tanpa sepatah kata pun.
"Sudah percaya kan sayang...., dia itu bukan siapa-siapa, yahnda itu hanya milik bunda seorang".
Jose masih mencoba merayu Fatia agar tidak terjadi kesalahpahaman dan rasa cemburu lagi.
"Gombal".
Fatia hanya menjawab singkat dan berjalan menuju kamar hotel, masih agak kesal melihat Andini yang dari awal pertemuan selalu memandangi Jose saja.
Di hotel sudah di tunggu oleh ibu Diniya dan baby Al yang agak rewel karena haus.
Langsung di angkatnya baby Al ke dalam pelukan Fatia dan menyusuinya sampai kenyang.
Baby Al di bobokkan di ranjang hotel, Fatia juga ikut serta disampingnya, memeluknya dengan erat.
Jose langsung ikut naik ke ranjang itu di belakang Fatia sambil miring dan memeluknya juga dengan erat.
Hanya satu malam tidak bisa tidur di sampingnya rasanya begitu menyesak di hatinya, Jose begitu merindukan sosok Fatia.
"Bun...... jangan..... lagi marah sama yahnda, masak semalam tidak di bukakan pintu kamar, terpaksa tidur di kamar Ardi"
"Bunda boleh menghukumku apa aja, asal jangan tidur terpisah please"
"Ya....ya sudah lah lagi ngantuk nich tidur sudah jangan berisik nanti Al terbangun"
Jose hanya menurut saja tidak berani mengganggunya lagi, memeluknya ikut terlelap Sampai sore.
Sore harinya semua keluarga berkumpul di restauran hotel untuk merencanakan acara selanjutnya.
Besok pagi rencana semua rombongan akan pergi ke Dufan, tetapi malam ini hanya untuk istirahat saja.
__ADS_1
Pada malam hari di kamar itu Jose selalu mengusap, merayu Fatia tanpa henti, hatinya seperti berbunga bunga karena dari kemarin Fatia masih menunjukkan rasa cemburunya.
"Sayang..... yang sudah tidak cemburu kan?"
"Masih lah, itu si centil memandangi terus tiada henti"
Jose semakin erat memeluk Fatia, tangannya mulai bergerilya, menciumi punggung dan leher Fatia dari belakang.
Mendapat perlakuan istimewa dari Jose akhirnya luluh juga, Fatia membalikkan badannya mencium bibir Jose dengan lembut, di balas Jose dengan penuh gairah yang membara.
Semakin intens Jose bergerilya, memberikan tanda kepemilikan di sana pada setiap incinya, desahan kecil Fatia membuat Jose semakin bergairah dan memicu terjadinya pergumulan panas sampai ke klimaksnya.
Jose langsung terjatuh disamping Fatia berbaring miring memeluk Fatia dengan mesra setelah adegan panas itu.
"Terima kasih sayang, I love you so much, jangan berfikir yang aneh-aneh, hati ini tidak akan berpaling darimu untuk selamanya, bunda satu satunya wanitaku".
Jose mengatakan itu sambil mencium kening Fatia, dan akhirnya terlelap Sampai menjelang pagi, karena Al yang terbangun karena haus.
Pagi setelah sarapan semua rombongan menuju Dufan untuk berwisata, Jose langsung membeli tiket masuknya
Di dalam area Dufan yang begitu luas semua pada bingung mau bermain yang mana dulu, Yosi lah yang paling antusias, hampir semua permainan ingin di cobanya.
Mulai dari bianglala, halilintar, kincir kincir, Turangga Rangga, sampai Arum jeram Yosi naikin.
"Bersenang-senang lah, nanti ibu yang jaga cucu laki-laki yang ganteng ini"
Ibu Diniya langsung mengulurkan tangannya mengambil baby Al dari gendongan Jose, dan duduk di bangku panjang yang dihiasi lampu yang indah.
Jose, Fatia dan Yosi naik permainan tornado, putaran yang sangat cepat membuat semua yang menaikinya berteriak kencang, tetapi dari atas tornado itu Jose melihat ibu Diniya sedang ngobrol dengan seorang wanita yang terlihat akrab, dan seperti tidak asing bagi Jose.
Jose sangat khawatir takut terjadi apa-apa dengan ibu dan putra, setelah selesai Jose langsung lari ketempat bangku panjang yang di duduki Ibu Diniya tadi di ikuti oleh Fatia dan Yosi.
"Yah....ada apa kenapa lari lari?.
Ternyata sampai di bangku itu sudah tidak di temuinya ibu Diniya dan baby Al.
"Ibu kemana kok hilang, ini hanya ada tas perlengkapan baby Al saja?"
Jose langsung berlari lagi menengok kearah kanan dan kiri disekitar jalan itu, demikian juga Fatia dan Yosi.
Fatia melihat kearah belakang ada siluet tubuh seseorang yang di kenalinya, wanita centil yang beberapa hari ini selalu mengganggunya, wanita itu sedang menggandeng ibu yang menggendong bayi.
__ADS_1
Tanpa berfikir panjang Fatia langsung ambil langkah seribu dengan kencang.
"Yaaaah disana cepat".
Fatia yang notabene seorang karateka tidak susah kalau cuma untuk berlari menyelip sana sini diantara pengunjung yang datang.
Yosi juga tidak kalah gesitnya berlarinya, hanya Jose yang agak tertinggal karena banyaknya pengunjung Dufan itu.
Sampai pada orang yang di tujunya Fatia langsung memegang tangan kiri wanita itu.
"Mau kau ajak kemana ibuku?"
Seketika Andini kaget dan gugup dengan mengeluarkan keringat yang bercucuran.
"Aku...aku mau...." Andini berkata dengan terbata bata.
"Nak, ini katanya teman suamimu Jose, katanya Jose ada dirumahnya, makanya ibu ikut"
Ibu Diniya bingung karena melihat muka Fatia yang memerah karena menahan marah, dan saat itu juga Yosi datang dan di belakang, dan datang juga Jose.
"Pklaaak......plaaak...." Fatia langsung menampar pipi Andini dua kali.
"Sayang ada apa?"
Jose terheran heran Fatia menampar pipi Andini dengan kerasnya.
"Dia mengaku teman mu, mau membawa ibu dan baby Al pergi dari sini"
Ucapan keras Fatia membuat Jose juga ikut marah kepada Andini yang gugup karena rencananya gagal.
"kamu mau macam macam dengan keluarga ku, mau aku laporkan ke kantor polisi dan para pemegang saham?".
Jose langsung menggendong baby Al dari gendongan Ibu Diniya yang terlihat kebingungan.
"Nak, ini sebenarnya apa yang terjadi kok ibu jadi bingung, siapa dia sebenarnya?" tanya Ibu Diniya bingung.
Bu..... ini bukan temanku, dia itu wanita gila yang mengejar suami orang, karena dia juga kemarin istri tercintaku itu marah".
Karena ucapan Jose itu membuat Andini tertunduk malu dan mulai mengeluarkan air mata buaya agar dikasihani.
"Ayo kita ke ruang keamanan, kita buat laporan"
__ADS_1
Fatia menarik kuat tangan Andini dan berjalan menuju ruang keamanan.
"Tidak mau lepaskan..... lepaskan" kata Andini sambil meronta ronta.