
Keluarga Jose berangkat ke kantor gubernur Jawa timur, tepatnya di aula akan diadakan pertemuannya.
Fatia akan mendapatkan penghargaan dari gubernur Jawa timur karena adegan heroiknya menolong gadis balita keturunan USA di sebuah mall kemarin.
Bersama Fatia ada sekitar sembilan orang lagi yang mendapat penghargaan juga, ada yang mendapatkan penghargaan di bidang UMKM, sosial, pendidikan, lingkungan hidup dan masih banyak lagi yang lainnya.
Fatia dan keluarga juga bertemu langsung dengan gubernur yang saat itu gubernurnya seorang wanita, gubernur itu sangat mengagumi sosok keberanian Fatia.
Sejak mendapatkan penghargaan itu sering sekali mendapat undangan dari berbagai acara, baik televisi nasional, media sosial, dunia mendidik ataupun organisasi yang lainnya.
Tidak terasa hampir empat bulan berlalu semenjak pertemuan dengan Jaseline di suatu mall di Malang, tetapi tidak ada kabar sama sekali.
Fatia dan Jose sudah hampir putus asa mencari informasi tentang keberadaan Jaseline di Jakarta.
Jose juga minta bantuan kepada Syaiful untuk mencarikan keberadaan Jaseline di Jakarta, tetapi belum ada titik terang.
Besok adalah ulang tahun Al yang pertama, hari Sabtu ibu Diniya membuatkan tumpeng untuk merayakan hari jadi cucu laki-laki nya itu yang pertama.
Hanya keluarga dekat dan group teman sejati saja yang hadir itupun tidak di hadiri oleh walikota Ridwan karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
Acara ulang tahun Al tidak ada acara meniup lilin, melainkan doa bersama, dengan membacakan doa selamat dan tolak bala, serta menyantap menu nasi tumpeng dengan lauk ayam ingkung, me goreng, bacem tahu tempe dan urap.
Tanpa disangka sangka ada tamu yang hadir saat itu, laki-laki seumuran Ibu Diniya dengan wajah bule, Jaseline Jose, Emely dan Banu Winarno yang berdiri depan pintu dengan tersenyum.
Semua saling pandang karena saking kagetnya nya, terutama ibu Diniya hanya berdiri menatap laki laki itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Jaseline langsung berlari mendekati Fatia dan memeluknya dengan erat.
"How are you Fatia? I Miss you so much".
"I am fine, I Miss you to"
Jose mendekati ibunya merangkul pundak ibu Diniya serta mengusap punggung nya dan berbisik di telinga nya.
"Bu..... Siapa dia?".
__ADS_1
"Ayahmu Se, Mark Jose".
Mark Jose juga tidak kalah kagetnyanya melihat sosok Jose yang gagah dengan muka yang mirip dengannya hanya beda umur saja.
"Halo every body.... Sorry we come not give news first, maaf saya ingin berjumpa dengan kalian"
Mark Jose mendekati ibu Diniya dan ingin memeluknya, Tetapi Ibu Diniya mundur beberapa langkah, dan kemudian Jose mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Bolehkah aku memelukmu, my Son?"
Langsung Mark Jose dan Jose berpelukan dengan erat sambil meneteskan air mata tanpa bisa di kendalikan.
"Sorry.... Sorry....my Son, aku tidak tahu kalau waktu itu ibumu hamil saat aku tinggalkan, please call me Dedy.... I want you to call me Dedy"
"Dedy..... Dedy..."
Jose memeluk Mark lagi dengan memanggil Dedy nya dengan meneteskan air mata,
"Dedy.... introduce, she is my wife Fatia, my sister Yosi, and my Son ALHAKAN, he is your grandson"
"Oooooh God, have grandson now".
Mark Jose kemudian mengalami semua tamu yang hadir saat itu, diikuti oleh Jaseline dan Banu, serta mempersilahkan menyantap hidangan yang sudah di sediakan.
Mereka langsung menuju meja makan dan menikmati hidangan itu dengan bercengkerama dengan penuh keakraban seperti sudah lama saling mengenal.
Sebetulnya nya saat Mark Jose kembali ke USA belum pernah ada kata talaq di antara keduanya, hanya saja mereka menikah siri saja dan tidak memiliki surat resmi dari pemerintah.
Ibu Diniya tidak tahu apa statusnya saat ini dengan orang yang baru datang kembali dalam hidupnya saat ini.
Sudah menjelang sore para undangan ulang tahun Al itu berpamitan pulang, dari tadi Mark ingin berbicara secara pribadi dengan ibu Diniya dan Jose tetapi belum ada kesempatan.
"Dini....boleh aku bicara sebentar?"
"Masalah apa, jika masa lalu, itu sudah tidak perlu di bahas lagi?".
__ADS_1
"Harus lah.... karena kita mempunyai seorang putra yang sangat gagah"
Mark Jose bercerita panjang lebar tentang kehidupannya di USA, memang suatu kesalahan besar yang dilakukan Mark saat muda meninggalkan Diniya saat hamil yang tidak di ketahuinya sama sekali.
Mark jose juga ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dia lakukan saat masih muda dulu, dia minta kesempatan kedua untuk bisa memperbaikinya.
Mark juga bercerita panjang lebar kepada Jose putranya tentang perusahaan yang ada di USA, dan minta bantuan untuk mengatasi masalahnya karena hampir empat bulan ini tidak bisa menyelesaikannya.
Fatia dan Jaseline juga tidak kalah akrabnya bercerita tentang keseharian ataupun soal masalah Dedy nya.
Selama tiga hari tamu itu menginap di rumah Jose, semua sangat bahagia Mark yang Bertemu dengan istri dan putranya Jose yang menemukan adik tiri nya yang lain serta bertemu dengan ayah kandungnya.
Mark memohon kepada ibu Diniya ingin kembali menjadi suami istri, minta ijin kepada anak anak nya tidak terkecuali kepada Yosi juga.
Ibu Diniya masih belum bisa menjawabnya, banyak pertimbangan yang harus dia lakukan, disamping sudah berumur juga banyak lagi yang harus dia pikirkan.
Anak anaknya menyerahkan keputusan kepada ibunya, tetapi khususnya Jaseline mengharapkan mereka bisa bersatu kembali, karena Jaseline selama ini tidak pernah merasakan bagaimana hangatnya dekapan seorang Ibu.
Setelah tiga hari mereka berpamitan kepada keluarga Jose karena keluarga Banu akan mengadakan acara pernikahan, adik perempuan kandung Banu akan menikah di Jakarta Minggu depan.
Saat acara pernikahan adik Banu selesai, Mark Jose akan kembali ke Surabaya, dan akan membicarakan tentang strategi untuk menghadapi uncle nya yang ada di USA.
Banu juga mengundang keluarga barunya itu untuk menghadiri pernikahan Adiknya Minggu depan.
Keluarga Jose belum memberikan jawaban atas undangan itu, karena melihat ibu Diniya yang sedikit syok karena kedatangan Mark yang tiba tiba, dan ajakan dia untuk kembali.
Ibu Diniya sering melamun, dalam lubuk hatinya memang tidak pernah hilang bayangan suami sirinya itu, tetapi situasinya sudah berbeda sekarang, disamping agama yang berbeda juga karena umur yang sudah menua.
Saat semua keluarga berkumpul di ruang keluarga ibu Diniya meminta pertimbangan anak dan menantunya.
"Ibu harus bagaimana, jadi bingung?"
"Yosi... terserah ibu saja, ya mas ..."
"Semua keputusan yang akan ibu ambil pasti kami dukung 100% ".
__ADS_1
"Sebaiknya ibu sholat istikharah untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT Bu".
Usul Fatia di dukung oleh semua anggota keluarga karena itu merupakan jalan yang paling tepat.