
"Bun...... " rayu Jose.
"Yah sabar ya, palingan tidak sampai satu Minggu lagi kok" rayu Fatia sambil mengusap pipi Jose yang sudah memerah.
"Nanti antar bunda kerumah sakit dulu untuk imunisasi baby Al dan bunda juga mau periksa dulu" jelas Fatia lagi
Jose hanya bisa pasrah dan menahan gejolak hati nya yang membara.
"Yaaaah, puasa lagi" celoteh Jose sambil turun tangga dan berjalan ke arah ruang keluarga dengan membawa map coklat tua.
Di ruang keluarga sudah menunggu Yosi dan ibu Diniya, Jose duduk di samping ibu Diniya kemudian Fatia datang langsung duduk di samping Yosi
Pertama Jose membuka map yang berwarna coklat tua itu, dibacanya dengan teliti bergantian.
"Ini yang berhak Yosi, karena dalam wasiatnya tertulis namamu, isinya gaji almarhum Purnomo selama bekerja di kampus tetapi baru beberapa bulan saja beliau bekerja" jelas Jose.
Yosi hanya menggelengkan kepalanya saja dengan tanda tidak mau menerima uang tersebut.
"Sebaiknya di serahkan pihak kampus saja untuk di sumbangkan kepada mahasiswa yang membutuhkan biaya" usul Fatia.
Semua setuju usul Fatia, dan Jose di minta mewakili Yosi untuk menyerahkannya, kemudian Jose mengambil kunci yang di serahkan almarhum Purnomo saat sebelum meninggal waktu itu.
"Ini kemungkinan sebuah dokumen atau semacamnya yang tersimpan di brankas sebuah bank swasta" kata Jose menjelaskan.
Fatia juga mengamati kunci tersebut dengan seksama.
"Iya..... yah, ini Bank swasta yang letaknya tidak jauh dari kampus Yosi" ucap Fatia.
"Kalau ini biasanya harus orang yang bersangkutan saja yang bisa membukanya, tidak boleh di wakilkan" jelas Jose.
"Begini saja, besok setelah menyerahkan hasil gaji dari almarhum Purnomo pergi ke bank minta di dampingi oleh Syaiful" nasehat ibu Diniya.
Semua sepakat atas musyawarah itu, dan kembali ke kamar masing-masing. dan beristirahat.
Keesokan harinya Jose dan Yosi pergi ke kampus pukul sembilan pagi, dan ke kantor senat kemahasiswaan dan di terima oleh Irul.
__ADS_1
Irul mempersilahkan duduk keduanya dan duduk saling berhadapan.
"Bagaimana mas, ada yang saya bantu?" tanya Irul kepada Jose.
"Ini saya mewakili Yosi menyerahkan dana ini kenapa senat kemahasiswaan agar bisa di manfaatkan oleh mahasiswa yang kurang mampu" jawab Jose sambil menyerahkan map coklat tua itu.
"Baiklah terima kasih mas, semoga bermanfaat dan keluarga mas mendapatkan balasan Yang lebih dari Allah SWT Aamiin, dan ini tanda terimanya" doa Irul sambil menerima map coklat tua itu.
"Aamiin" jawab Jose dan Yosi bersamaan.
Jose dan Yosi berpamitan kepada Irul, sebenarnya Irul ingin berbicara dari hati ke hati dengan Yosi, tetapi dari awal Yosi hanya diam dan menunduk saja, sehingga Irul tidak jadi mengajaknya bicara.
Irul hanya sesekali melirik Yosi yang tertunduk tanpa sempat bertatap mata sekalipun.
Jose dan Yosi keluar kampus dan menuju bank swasta yang letaknya tidak jauh dari kampus itu, disana sudah menunggu Syaiful, karena sebelum berangkat tadi Jose sudah menghubungi Syaiful.
Betul saja setelah sampai bank tersebut, pegawai bank itu menyebutkan bahwa yang bisa membuka brankas itu adalah seorang gadis yang bernama Yosi Kurniawan, sesuai amanat yang di pesankan oleh almarhum Purnomo.
Pihak bank meminta bukti identitas diri dari Yosi Kurniawan, kemudian Yosi menyerahkan KTP sebagai tanda bukti.
Setelah di setujui, mereka bertiga di ajak masuk ke ruangan brankas, tetapi hanya Yosi yang bisa membukanya, Jose dan Syaiful duduk di bangku panjang yang tidak jauh dari brankas itu.
Dilihatnya kedalam brankas itu, lalu Yosi mengambil dua buah kotak besi dengan ukuran yang berbeda.
Yang agak besar bertuliskan Yosi, sedang kan yang kecil bertuliskan Jose, Yosi membawa kedua kotak itu ke arah di mana Jose dan Syaiful duduk.
"Mas ada dua kotak, satu untuk Yosi, dan satu lagi untuk mas Jose" ucap Fatia.
"Baiklah kita buka satu satu, Syaiful tolong kau saja yang buka?" perintah Jose.
"Baiklah..." jawab Syaiful singkat.
Di kotak pertama yang di buka adalah kotak yang besar milik Yosi, di dalamnya berisi surat saham perusahaan ternama yang ada di ibukota Jakarta, dengan kepemilikan sekitar 35% atas mama Yosi, serta surat tulisan tangan, tetapi Yosi belum berani membacanya.
Kemudian Syaiful membuka kotak ke dua dengan ukuran yang lebih kecil, di sana berisikan foto foto kenangan lama, ada beberapa foto, ada foto laki laki bule di belakang nya tertulis "MARK JOSE",
__ADS_1
di foto kedua foto pernikahan ibu Diniya dan Mark Jose yang hampir memudar warna nya, di foto ketiga ada foto Mark Jose dan Purnomo yang sedang merangkul, serta ada kartu identitas diri dari Mark Jose serta alamat lengkap tetapi alamat itu alamat Amerika serikat.
Jose hanya terdiam memandangi foto foto itu, selama ini dia tidak pernah melihat bagaimana wajah ayah kandungnya, keberadaannya, ataupun tempat tinggalnya.
Jose seperti telah menemukan identitas dirinya yang selama ini hilang tanpa jejak, ibu Diniya pun tidak memiliki dokumen tentang ayah kandungnya Jose.
Ibu Diniya hanya menceritakan saja tentang sosok Mark Jose di mata ibu Diniya selama menjadi suaminya.
memang sudah hampir 32 tahun ini Jose belum pernah menemukan jejak dimana Mark Jose berada, sudah tiada atau belum pun Jose juga tidak tahu.
Setelah selesai mengetahui isi brankas itu mereka bertiga pulang, Jose dan Yosi pulang berdua, sedangkan Syaiful kembali ke kantor polisi tempat dia bekerja.
Sesampainya di rumah Jose duduk terdiam sambil memegangi kotak yang berisi tentang dokumen foto Mark Jose, sedangkan Yosi langsung ke kamarnya.
Ibu Diniya datang menemui Jose, Jose menyerahkan kotak kecil itu kepada ibunya.
Ibu Diniya melihat dengan seksama Fofo foto lama itu dengan teliti, selama ini Ibu Diniya tidak memiliki dokumen tersebut karena waktu itu umurnya masih belia dan tidak mempunyai kamera.
Ibu Diniya seperti baru saja mengalami peristiwa itu kembali setelah melihat foto itu.
"Dapat dari mana ini semua Se,?" tanya ibu Diniya.
"Salah satu wasiat yang ditinggalkan almarhum Purnomo Bu" jawab Jose dengan sendu.
"Apakah alamat ini masih berlaku Se? tanya Ibu Diniya lagi.
"Belum tahu Bu, nanti Jose selidiki dulu" jawab Jose kemudian.
Setelah selesai menunjuk foto kepada ibu Diniya Jose langsung naik ke lantai atas menemui istri dan putranya baby Al, tetapi Fatia masih di kamar mandi.
Jose duduk di bangku panjang dengan sedikit melamun.
"Kenapa yah, besok antar bunda kerumah sakit ya?" perintah Fatia sambil memeluk Jose.
"Apakah setelah dari rumah sakit nanti boleh sudah tidak puasa?" tanya Jose senang.
__ADS_1
" Hhhmmm ..." jawab Fatia singkat.
"Kan mulai lagi jawabannya menggantung, boleh kan..... ya ya ya? pinta Jose sambil merayu.